
Nafas masih memburu layaknya insan yang tengah berpacu kencang dengan keringat bercucuran membasahi tubuh dua insan yang saling berpagutan, mencumbu dan saling memuaskan hasrat hanya untuk menebus satu kesalahan.
Lyra yang sangat menyukai sentuhan jemari tangan suaminya, Zul ... terus memompa diatas tubuh gagah pria muda yang sangat menyukai wanita cantik itu berada diatasnya.
"Maafkan aku, hun ..." bisik Lyra lembut saat mencapai puncak kebahagiaannya sebagai seorang istri.
Sudah lebih dari 60 menit mereka saling bercerita dengan cara yang berbeda dalam menikmati keindahan siang itu.
Lyra menyibakkan rambut panjangnya yang berkilau, menyeka wajah suami tercinta dengan penuh kasih sayang.
"Jangan pernah sebut nama pria itu lagi, sayang. Berjanjilah pada ku agar kamu tidak pernah membahas atau bertemu dengannya. Demi aku, demi Kesy, demi keluarga kecil kita," ucap Zul mengusap lembut punggung telanjang Lyra.
Lyra hanya memeluk tubuh suaminya, dengan penuh perasaan bersalah, menutup matanya pelan.
'Bagaimana mungkin aku tidak akan menemuinya, sementara Kesy masih ingin bertemu dengan Papa-nya.'
Zul mengecup lembut kening istrinya, "Apa yang kamu pikirkan, sayang?" tanyanya pelan, mendekap tubuh ramping itu saat melepas penyatuan mereka.
Lyra menatap wajah tampan itu, "Hun ... Aku menghargai semua keputusan mu. Tapi aku ingin Kesy tetap mendapatkan perhatian dari Dony Papa-nya. Dia masih butuh kasih sayang dari Dony, hun."
Zul melepas pelukannya, dia tidak ingin berdebat panjang dengan istrinya, hanya untuk membahas seorang mantan.
Zul bertanya, "Sayang, aku sangat mengerti bagaimana Kesy. Dia hanya butuh teman untuk berlindung yang ceria, sama halnya dengan anak-anak seusianya. Saat ini aku ingin meminta kejujuran kamu, apa kamu belum bisa melupakan Dony?"
Seketika tenggorokan Lyra tercekat, dia sulit untuk membedakan antara mantan suami dan perasaan suaminya sendiri.
"Kenapa pertanyaan kamu seperti ini? Kamu tahu aku sudah berpisah dari Dony. Talak tiga! Tidak mungkin aku bisa kembali dengannya, ditambah hubungan kita sudah menjadi pasangan suami istri yang sah secara agama," jelas Lyra menutupi perasaannya saat ini.
"Lyra yang aku tanyakan adalah, apakah kamu tidak bisa melupakan Dony? Jangan jadikan Kesy sebagai alasan, sayang. Dengar Lyra, jika kamu benar-benar tidak dapat melupakan Dony, jujur saja padaku. Mungkin ini adalah kesalahan aku karena terlalu cepat menikahi mu, yang ternyata aku juga tidak siap dengan semua masa lalu mu! Aku cemburu Lyra, jujur aku cemburu. Hati ku terasa perih saat kamu mengakui dihadapan banyak orang, kalau kamu masih mencintainya!" tegas Zul menatap lekat wajah istrinya yang masih berbaring di ranjang peraduan mereka.
__ADS_1
"Hun ..."
"Cukup Lyra ... Aku sudah mendengar semua kejujuran hati mu. Semua masih terngiang dan butuh waktu untuk aku melupakannya. Aku ada tindakan sore ini. Jadi tidak sempat untuk menjemput Kesy. Tadi Papa bilang, mereka berdua yang akan menjemput Kesy kesekolah. Mobil kamu nanti diantar oleh sopir rumah sakit. Tolong pikirkan perasaan ku sebagai suami mu. Aku hanya ingin kita sama-sama mengerti, karena aku tidak pernah membahas tentang mantan saat bersama mu!" ucap Zul berlalu meninggalkan Lyra untuk membersihkan diri di kamar mandi.
Lyra terdiam, nafasnya terasa sangat sesak mendengar penuturan Zul setelah penyatuan hangat dua insan yang masih baru saling mengenal.
'Haaah ... Zul. Kamu kenapa jadi begini? Sejujurnya aku belum bisa melupakan sepenuhnya tentang Dony, delapan tahun kami bersama dan aku belum dapat melupakannya. Maafkan aku, hun ...'
Lyra menangisi nasibnya yang terasa sangat berat untuk dia jalani. Saat ini dia tak mampu untuk memungkiri, bahwa dirinya membutuhkan suami seperti Zul. Namun, tidak mudah untuk melupakan pria yang telah memberikan seorang putri untuknya, walau Dony dan keluarganya sudah memperlakukannya dengan tidak baik.
Lyra bukanlah wanita yang bisa terbuka dengan pasangan. Dia tipe wanita yang banyak rahasia untuk menyimpan semua perasaannya. Dia juga mampu mengubur semua impiannya demi membahagiakan orang yang di cintainya.
Mungkin beberapa sahabatnya selalu mengatakan bahwa Lyra adalah wanita yang sulit untuk ditebak. Dia wanita yang gampang terbuai oleh semua rayuan gombal dari bibir Dony. Hanya Dony yang bisa dia percaya, walau berkali-kali telah berbuat curang padanya.
Saat ini dia hanya ingin bahagia dengan pernikahannya bersama Zul, tapi dengan Dony mengatakan bahwa akan memulai semua dari awal, Lyra semakin tidak kuasa membendung rasa inginnya untuk terus mempertahankan rumah tangganya demi Kesy.
Lyra terus menangis, menutupi tubuhnya dengan selimut tebal.
Tak selang berapa lama, Zul keluar dari kamar mandi, mengenakan baju kaos dan celana jeans untuk melanjutkan tugasnya sebagai seorang Dokter kandungan. Dia mendengar suara isak tangis dari balik selimut.
"Sayang ..." Zul mendekati Lyra yang masih bergelumun menutupi wajahnya.
"Hmm ..." usap Lyra pada matanya yang sembab.
"Hmm ... Kamu masih memikirkan omongan aku? Kamu bersih-bersih dulu. Aku tunggu, kita makan dibawah. Sepertinya orang tua kamu ada dibawah, sayang. Sudahlah ... Aku minta maaf, aku akan berusaha untuk mengerti kamu, tapi tolong ... Kamu juga harus mengerti bagaimana aku dan perasaan ku." Kecup Zul pada kepala istrinya.
Lyra duduk, seketika menyelusup ke pelukan Zul yang duduk dipinggir ranjang.
"Aku akan berusaha, Zul. Aku mohon jangan pernah ungkit lagi masalah Dony. Aku akan berusaha membuat mu bahagia. Oya, mungkin satu minggu lagi aku akan ke Jakarta mengikuti ujian. Dan dua hari lagi aku ke kantor bagian perceraian untuk memberikan surat cerai dan membuat surat pernyataan. Mungkin aku pergi sama Mama," jelas Lyra panjang lebar.
__ADS_1
Zul tersenyum sumringah, menata rambut panjang istrinya yang sangat wangi dan masih terlihat indah berkilau.
Dengan usapan lembut tangan seorang suami berkata suara lembut, "Berarti kita sudah bisa meresmikan pernikahan dan mengadakan pesta besar. Semoga setelah ini kamu mengandung anakku, sayang."
"Hun ... Jangan terlalu banyak berharap dulu. Tidak secepat itu!" rengek Lyra manja di lengan pria yang sangat baik padanya dan keluarga tercinta.
Saat bibir kembali saling mellumat, terdengar suara ketukan pintu dari arah luar.
"Ma, Mama!" panggil Kesy dari balik pintu paviliun kamar mereka.
Zul melepaskan ciuman hangat bersama istri tercinta, "Aku tindakan dulu yah? Kamu ditemani Kesy dulu," kecupnya, beranjak menuju salah satu laci, mengambilkan baju daster tali satu milik istrinya.
"Selesai tindakan kita makan malam diluar yah," tambah Zul penuh kasih sayang.
Lyra mengangguk setuju, menatap punggung suaminya yang bergegas membuka pintu kamar, melihat Kesy sudah memajukan bibirnya yang lucu.
"Lama banget siih?" sesal Kesy mendongakkan kepalanya menatap Zul.
Zul mengecup kepala Kesy, mengusap lembut punggung putri kecil yang menjadi anak terbaiknya, "Temanin Mama yah? Papi tindakan dulu ..." bisiknya.
"Bye Papi ... I love you!"
"Love you too ..."
Kesy masuk ke kamar sang Mama yang tengah mengumpulkan pakaian kerjanya yang berserakan dilantai kamar.
Kesy gadis kecil yang peka terhadap keadaan yang sudah terbiasa terjadi, saat masih bersama Dony, sedikit penasaran.
Tampak perubahan Lyra, karena Kesy melihat mata yang sembab dan sedikit murung sang Mama, seraya bertanya, "Kok, Mama sembab banget? Mama habis nangis? Habis ribut sama Papi yah?"
__ADS_1