
Hingga dini hari menjelang, Zul masih sibuk mengurus semua laporan keuangan rumah sakit yang ternyata ada selisih lebih kurang empat milyar, sejak empat bulan lalu.
Lyra yang merupakan team audit keuangan perusahaan swasta, ikut membantu Zul dalam menghitung ulang dari selisih tersebut.
"Sayang ini empat milyar! Bukan satu atau dua milyar ...! Buat apa uang sebanyak ini Mama ambil selama empat bulan berturut-turut, tanpa sepengetahuan Papa? Aku khawatir Adi sengaja melakukan ini, agar aku tidak mendapatkan apapun dari pembagian saham rumah sakit. Bulan lalu saja, aku hanya menerima 389 juta. Kenapa angkanya ganjil? Biasanya 400 sampai 450 juta. Bahkan aku pernah mendapatkan 600 juta, yang aku berikan padamu separohnya. Ada apa dengan rumah sakit ku? Aaagh ..." sesalnya menghempaskan tubuhnya di sofa kamar mereka.
Lyra membenarkan ucapan suaminya, tapi dia tidak ingin ikut campur, karena bukan wewenang dirinya walau status sudah menjadi istri Zul.
Seketika Lyra teringat akan Desti yang menjadi bagian keuangan rumah sakit keluarganya, pernah mengirim pesan hanya untuk meminta rumus penghitungan yang menggunakan metode sistem manual.
Namun karena wanita dewasa itu masih memiliki masalah yang lumayan serius kala itu, ia mengacuhkan pertanyaan Desti.
Lyra mengusap lembut paha Zul, kemudian berkata, "Hun ... Lebih baik besok pagi, kamu bawa semua yang sudah aku kerjakan ini untuk bertemu Desti. Nah, jika Desti salah-salah dalam menjelaskan ... Kamu bisa mengambil keputusan untuk mengancam memberi surat peringatan satu atau dua dan terancam pemecatan. Sepertinya itu lebih baik, karena ini sudah tidak wajar. Management di buat berantakan karena pihak ketiga dan melibatkan Mama!"
Zul mengangguk membenarkan ucapan istrinya, dia membenamkan kepalanya dipelukan sang istri, mengusap wajahnya kasar.
"Kamu temanin aku, yah? Aku malas berhadapan dengan wanita. Selesai dari ruangan Desti kita cari Mama juga Adi. Aku akan menyelesaikan urusan ku dengan anak yang tidak tahu diri itu!" geramnya dengan rahang mengeras.
Lyra yang belum tahu apa-apa tentang permasalahan Kesy dan Adi sebenarnya, hanya bisa pasrah jika suaminya tidak mau membicarakan semua ini. Baginya, saat ini lebih baik mendengarkan dan mengikuti semua keinginan Zul sebagai suami sekaligus kepala keluarga untuk anak-anaknya.
Saat mereka tengah menikmati keindahan sebagai pasangan suami istri, karena tingkat stress dan tuntutan semakin meningkat, membuat mereka bergelut di sofa kamar hanya untuk melampiaskan sebuah hasrat.
Namun, ketika tengah asik mengayuh dalam kenikmatan dunia, terdengar suara ketukan pintu dari arah luar ...
Saat bibir yang menaaut saling mendecaap mesra, kembali saling menatap, pertanyaan kedua-nya sama, "Siapa ...?"
Lyra meminta Zul agar melepas penyatuan mereka, namun pria yang masih dalam keadaan tanggung di atas sana bergegas memompa untuk menyelesaikan hasratnya ...
__ADS_1
"Hunhh ... Harishh ... Aaagh ..."
Zul memompa lebih cepat karena merasakan denyutan dari dalam milik Lyra yang semakin mencengkram kuat miliknya di dalam sana.
Lagi-lagi terdengar suara ketukan pintu, dan menyusul suara panggilan Hana juga Hani ...
"Ma ... Papi ..."
Zul yang berada di ujung tanduk tak memperdulikan panggilan ketiga akan kembarnya, kali ini dia ingin menyelesaikan semua hasrat yang sudah membuncah di kepala, dengan kecepatan penuh ia menghentakkan pinggulnya dua kali, dan kembali merasakan denyutan bahkan dessahan Lyra saat mencapai pelepasan surga mereka berdua ...
"Ahh ..."
Zul yang masih setengah sadar, mengecup lembut kening istrinya, melepas penyatuan mereka, dan langsung beranjak ke kamar mandi.
Lyra mengikat rambutnya tinggi, beranjak memperbaiki posisi pakaiannya, menuju pintu kamar ...
Haris menunjuk kearah kamar Kesy yang terbuka lebar, dan bertanya pada sang Mama, "Sis Kesy ist nicht in ihrem Zimmer, es sieht so aus, als hätte Bang Adi sie mitgenommen. Weil wir die Reisetasche von Kak Kesy nicht mehr im Zimmer gefunden haben."
(Kak Kesy tidak ada di kamarnya, sepertinya Bang Adi membawanya pergi. Karena kami tidak menemukan travel bag Kak Kesy lagi di dalam kamar ...)
Lyra yang masih berada diambang batas kesadaran, dia terlonjak seketika mendengar ucapan Haris yang tampak kebingungan, "Was? Sis Kesy ist nicht im Zimmer?"
(Apa? Kak Kesy tidak ada di kamar?)
Haris mengangguk dan menggelengkan kepalanya, kemudian menatap kedua kembarannya, karena merasa bersalah melihat kecemasan diraut wajah sang Mama.
Lyra berlari ke kamar Kesy, mencari keberadaan putrinya, namun tidak menemukan apa-apa yang berarti. Semua barang-barang Kesy juga tidak ada didalam kamar itu.
__ADS_1
Lyra menggeram, "Sial! Aku yakin Adi membujuk putri ku, dan membawanya kembali ke Berlin ..." geramnya.
Bergegas Lyra kembali ke kamarnya, meminta ketiga buah hatinya untuk menghubungi Bima untuk menemani mereka di rumah hari ini.
Lyra menjelaskan pada ketiga buah hatinya, "Heute fahren wir zurück nach Berlin, ihr nennt Onkel Bima, und Mama kümmert sich zuerst um Sis Kesy, okay?"
(Hari ini kita akan kembali ke Berlin, kalian hubungi Om Bima, karena Mama mau mengurus Kak Kesy dulu, yah?)
Ketiganya mengangguk mengerti, dan kembali ke kamar karena waktu masih menunjukkan pukul 04.00 dini hari waktu Indonesia.
Lyra menutup pintu kamar rapat dan menguncinya, kemudian menyusul Zul yang masih berada di kamar mandi.
"Hun, Kesy pergi meninggalkan rumah. Aku rasa Adi membawanya untuk meninggalkan kita. Saat ini, kita tidak memiliki waktu banyak," jelasnya dengan wajah kesal, atas perbuatan sang putri.
Zul yang tengah menyeka tubuhnya, sedikit kaget, namun hatinya semakin yakin dengan perbuatan Adi yang akan menyiksa Kesy kali ini.
"Brengsek anak itu! Cepat bersiap-siap, kita selesaikan semuanya. Hubungi keluarga kamu, kita titipkan anak-anak dulu sama mereka. Karena aku akan menyelesaikan semu ini sama Mama. Ini karena campur tangan Mama, telah mengajarkan Adi hal yang tidak benar. Mama pikir Adi itu jujur selama ini? Aku tidak tahu apa yang dikatakan Adi pada Mama, sehingga membuat orangtuaku berubah drastis sama kita. Ceroboh sekali Mama ..." sesalnya menggeram.
Lyra tak ingin bertanya. Kali ini Adi sudah berlaku kurang ajar pada keluarga kecilnya, karena mengajarkan sang putri kesayangan menjadi anak yang tidak memiliki sopan santun.
Lyra tidak mempermasalahkan apartemen, atau apapun yang di minta Eni kali ini. Tapi dia mempermasalahkan etika Adi yang merupakan pilot ternama, namun memiliki etitude tidak baik dalam membimbing seorang istri.
"Aku akan membuka semua kedok Adi dan Laura selama ini. Aku yakin, uang yang dia ambil tanpa sepengetahuan Papa dan Zul selama ini hanya untuk hidup foya-foya bersama pramugari murahan itu. Dasar wanita sial, jika terjadi sesuatu pada putri ku, aku akan menghukum mu, laki-laki brengsek!" umpat Lyra di bawah guyuran shower dini hari tersebut.
Kali ini Zul dan Lyra harus bisa berfikir jernih, untuk membuka kedok Adi selama ini yang mereka tutupi dari sang Mama, agar tidak menjadi beban pikiran orang tua mereka. Namun Adi benar-benar telah membuat murka Zul serta Lyra selama menjadi menantu mereka.
"Anak angkat jahannam ..."
__ADS_1