
Sudah lebih dari seminggu mereka di arungi kebahagiaan yang tak dapat di ungkapkan dengan kata-kata. Pernikahan kedua Lyra, yang menjadi pusat perhatian banyak orang di luar sana, karena di persunting oleh perjaka muda yang berasal dari keluarga kaya raya dan bersahaja. Menjadi bahan omongan yang seminggu ini terdengar di telinga Eni dan Ahmad.
Ahmad tengah asyik memetik gitar, di ruang keluarga menjelang makan malam, menantikan anak menantunya di hampiri oleh Eni sang istri tercinta.
"Papa sudah dengar cerita keluarga Luna yang memberikan Zul dan Lyra mobil Ferrari seri terbaru itu?" tanyanya.
Ahmad mengangguk-angguk sambil mendendangkan sebuah lagu cinta yang dia ciptakan.
"Mama, jadi kesal dengarnya. Masak mereka bilang Lyra yang minta sama Luna. Padahal Luna sendiri yang memberikan mobil itu sebagai kado pernikahan. Aneh saja, sepertinya mereka iri dengan pernikahan mewah yang kita selenggarakan ..." dengusnya kesal.
Ahmad hanya tersenyum tipis, mendengar celotehan istrinya selaku wanita sabar dan tenang, mesti stress mendengarkan semua omongan di luar sana.
"Pa ..."
"Hmm ..."
"Mama ikut yah? Ke Berlin?"
Ahmad menggelengkan kepalanya, "Bulan depan saja. Papa ada ada seminar di Jepang. Rencana mau bawa Boy juga sekalian. Anak-anak biarkan saja. Mereka sudah mandiri. Tinggal Adi yang harus kita arahkan, menjadi pria yang bertanggung jawab untuk masa depan darinya sendiri. Kasihan dia, Ibunya meninggal saat melahirkannya. Ayahnya mati di tabrak mobil, kan? Makanya kita harus menjadikan Adi sebagai anak kita tanpa membedakan dari keluarga mana dia berasal."
Eni mengerenyitkan keningnya, "Mama pikir, waktu itu Adi anak Papa dari selingkuhan Pap--!"
Disaat Eni akan melanjutkan ceritanya, sesaat itu juga Adi dan Kesy muncul di hadapan mereka sambil tertawa bahagia.
"Ma, mana Kak Lyra dan Abang? Kayaknya semenjak mereka menikah, sudah jarang kumpul sama kita," sungut Adi.
Eni melirik kearah Ahmad, meminta putra kesayangan untuk duduk di samping nya. Walau Adi bukan darah daging keluarga ini, mereka sangat menyayangi pria berusia 18 tahun itu seperti anak kandung sendiri.
"Sini duduk dekat Mama, sayang. Kamu dari mana hmm?" tanya Eni mengusap lembut punggung Adi, mencium pipi anak laki-laki kesayangannya dihadapan Kesy.
__ADS_1
Kesy di sambut seperti cucu kesayangan mereka tanpa ada perbedaan.
"Mama mana, sayang?" Eni melirik kearah Kesy yang duduk di sampingnya.
Kesy menunjuk paviliun yang terlihat dari ruang keluarga, "Tuh, Mama terlalu sibuk sama Papi. Melupakan Kesy ..." sungutnya.
Eni memeluk tubuh mungil itu, mengendus kepala Tuan Putri yang selalu ngambek karena Mama terlalu sibuk dengan kehamilan dan Zul.
"Mama itu lagi mengurus pekerjaannya sayang. Lagian dua hari lagi kalian mau berangkat. Jadi Mama harus menyelesaikan pekerjaan, di tambah lagi hamil muda. Kesy sabar yah? Kan, ada Bang Adi. Bisa jalan-jalan kemana Kesy suka. Besok Bang Adi yang antar sekolah yah?" ucap Eni lembut.
Kesy mengangguk, melirik malu-malu kearah Adi yang tampak cuek karena sibuk dengan handphone pintarnya.
Tak lama mereka menunggu, Lyra dan Zul hadir untuk makan bersama.
"Maaf Ma, Pa. Zul baru selesai bantuin Ibu hamil menyelesaikan semua tanggung jawabnya. Karena besok serah terima, dan besok terakhir masuk kantor," jelasnya.
Lyra membukakan kursi untuk Kesy agar duduk di dekatnya, sambil bertanya pada Mama mertua, "Hmm, ini lezat banget Ma. Siapa yang masak? Ada gurami rica. Sepertinya ini Mama Lince yang masak?"
Eni mengangguk membenarkan, "Mama Lince bilang, kamu sangat menyukai gurami rica. Ya sudah, kami ke pasar tradisional sama Kenny dan Bima. Mereka kayaknya masih di rumah. Mungkin kalian berangkat barengan sama Bima," jelasnya.
Lyra hanya membulatkan bibir mungil yang selalu basah dan menjadi candu bagi Zul, di hadapan suaminya.
Cup ...
Zul mengecup lembut bibir maju sang istri dihadapan keluarga, membuat wanita itu tersipu malu.
"Hunhh ... Ada Mama dan Papa. Ada anak kecil juga," geramnya pada sang suami.
Adi menggeleng-gelengkan kepalanya, "Sudah biasa Kak. Di Eropa sangat biasa bahkan."
__ADS_1
Lyra menoleh, membulatkan kedua bola matanya, menggeleng, "No! Kita orang timur, harus menjaga etika di hadapan orang tua. Kecuali, ada momen yang harus kita tunjukkan kemesraan kita!"
Ahmad mengangguk-angguk, menantikan Eni mengambilkan nasi dan ikan yang menjadi bahan pembicaraan mereka sejak pagi.
Makan malam yang hangat, sebagai keluarga yang kompak, tidak ada perbedaan status, bahkan terlihat akrab walau sesungguhnya Zul tidak mengetahui siapa Adi sebenarnya.
Lyra tersenyum bahagia, sesekali menyuapkan suaminya, karena permintaan sang pujaan hati yang tampak manja setelah meresmikan pernikahan mereka berdua.
Kesy yang tak mau kalah, merebut tangan Lyra agar segera menyuapkan makanan ke dalam mulut gadis kecil tersebut, tanpa perasaan bersalah pada Zul.
Zul tertawa terbahak-bahak, melihat putri kesayangannya merasa cemburu, melihat perhatian Lyra yang terbagi.
"Zul, kamu bisa makan sendiri. Kasihan Lyra, lagi hamil. Jadi harus banyak-banyak makan. Oya Lyra, Mama tadi beliin kamu pepaya. Sudah Mama potong-potong dan kasih santan juga susu. Itu bagus untuk janin kamu yang akan berkembang. Benar kan, Pa?" tanya Eni meminta jawaban.
Ahmad mengangguk meng'iya'kan, "Sangat sehat, dan bisa kamu bawa resepnya untuk kamu konsumsi selama di Berlin. Apalagi Eropa juga sudah banyak makanan Asia, jadi sangat mudah untuk mendapatkan rempah-rempah disana. Ingat, kamu jangan terlalu lelah. Di sana tidak ada pembantu, tapi jika kalian mau bisa minta maid sekali seminggu untuk membersihkan apartemen."
Lyra tersenyum tipis, mengusap lembut kepala putrinya, "Kita bisa kerja sama kok, Pa. Kan ada Kesy, juga Zul. Adi juga ada, kan?"
Adi menggeleng-gelengkan kepalanya, "Aku di Munich, Kak. Bukan di Berlin. Tapi sekali sebulan aku akan mengunjungi kalian. Biar ada teman juga Kesy-nya. Tapi setahu aku, disana ada hari anak untuk makan bersama. Semoga Ade kecil kita betah yah di Berlin."
Adi yang duduk bersebelahan dengan Kesy, mengusap lembut kepalanya dan mencium gemas puncak kepala gadis mungil tersebut.
Tentu pemandangan ini menjadi kebahagiaan yang luar biasa bagi Eni dan Ahmad.
"Yang pasti, kalian baik-baik di negara orang. Adi, ingat pesan Mama dan Papa! Jangan suka menjalin hubungan dengan gadis yang tidak jelas. Mama tidak suka kamu gonta-ganti pacar seperti ganti baju. Ingat, Mama mau kamu menjadi Angkatan Udara, bukan pilot komersil. Kamu mengerti?" tegas Eni.
Adi mengangguk-angguk, melirik kearah Ahmad yang hanya senyam-senyum mendengar celotehan sang istri tercinta.
Lyra dan Zul saling bertatapan, hanya bisa berucap pelan, "Terimakasih hun ..."
__ADS_1