Perjaka Untuk Janda

Perjaka Untuk Janda
Kejutan Boy dan Lince


__ADS_3

Air mata Lyra semakin mengalir deras membasahi wajah cantiknya, membuat keluarga terpandang itu tampak bingung.


"Nak, kamu baik-baik saja?"


Eni menghampiri Lyra membawanya dalam dekapan hangat sebagai seorang Ibu, "Tenanglah.... semua akan baik-baik saja. Semoga Kesy segera siuman," ucapnya lembut.


Lyra mengusap lembut wajah cantiknya, menatap Zul yang tengah mendekati Kesy, menggenggam erat jemari mungil yang dianggap seperti anak kandungnya sendiri.


Eni menoleh kearah pintu masuk ruangan ICU, terlihat Papa Boy dan Mama Lince yang tampak kebingungan melihat Lyra memeluk wanita yang sejuk dipandang mata. Tanpa riasan dan perhiasan, namun bersahaja menyambut kedua orang tua wanita yang ada dalam pelukannya.


"Selamat siang, Pak....! Kenalkan saya Eni, dan ini suami saya Dokter Ahmad," tunjuk Eni pada Ahmad yang berdiri sejak kedatangan orang tua Lyra.


Boy dan Lince tampak kebingungan, menatap Lyra seolah-olah penuh pertanyaan karena penasaran.


Zul menghampiri kedua orang tua Lyra, mencium punggung tangan Boy dan Lince dengan perasaan hormat, "Saya Zulmaeta, putra dari Dokter Ahmad dan Bu Eni."


Boy tersenyum garing, wajahnya masih terlihat bodoh dan semakin bingung karena belum mendapatkan jawaban dari Lyra yang tengah mengusap lembut wajahnya.


Lyra berdiri, mendekati kedua orang tuanya, "Hmm.... mereka ini, eeee.... hmm.... pe-pe-pe...."


Eni memotong pembicaraan Lyra yng tampak sangat gugup tidak mampu untuk menjelaskan siapa keluarga yang ada di hadapannya, "Saya yang mengurus jual beli rumah beberapa waktu lalu, Pak! Lyra pernah datang ke kantor saya. Kalau enggak salah, Bapak juga ada, kan?" tanyanya sambil tersenyum.


Boy mengangguk, mencoba mengingat siapa yang berdiri di hadapannya dengan wajah yang masih kebingungan, "Maaf, Bu.... saya ini semenjak pensiun agak lupa ingatan. Hanya kunci gitar saja yang saya ingat....!" tawanya menghibur diri sendiri yang masih tampak kebingungan.


Bagaimana tidak, dia dihadapkan dengan sosok yang asing, bahkan bisa dikatakan tidak pernah bertemu, namun kehadiran mereka seperti keluarga yang mudah akrab.


Lince menarik tangan Lyra, meminta penjelasan siapa Keluarga Zul, dia berbisik tanpa menghiraukan keluarga terpandang itu karena memang tidak mengenal mereka selama ini, "Siapa Keluarga ini, Lyra? Apakah kamu berselingkuh dengan anaknya?" bola matanya menatap nanar kearah putri kesayangan.


Lyra mendengus kesal, mengangkat ujung bibirnya, "Siapa yang selingkuh, Ma! Aku baru mengenal Zul beberapa bulan lalu. Tapi kami tidak pernah bertemu, dia kuliah di Berlin, Ma!" jelasnya.

__ADS_1


Sontak Lince semakin terkejut mendengar bahwa Lyra dekat dengan seorang mahasiswa. Dia meremas kuat tangan Lyra menatap geram, "Denger yah....! Kalau mau nambah itu sama nasi hangat, jangan nasi dingin, apalagi nasi basi...!!"


Lyra meringis menahan rasa sakit karena Lince meremas kuat tangannya, "Apaan siih, Mama! Dia yang punya rumah sakit ini. Dia juga yang menanggung biaya Kesy. Kita mana ada uang sebanyak itu, Ma! Untuk membeli obat saja harganya delapan jutaan," jawabnya masih meringis.


"Lyra..... Lyra.... Lyra.... ini enggak mimpi kan, Nak? Mama enggak berhalusinasi, kan? Ini, beneran dia yang punya rumah sakit? Ooogh Tuhan..... malu kali Mama, Lyra....!! Mama ke toilet dulu yah! Jantung Mama mau rontok. Kamu temanin Mama, cepaaat....!!" geram Lince berbisik menarik tangan Lyra untuk segera meninggalkan ruang ICU untuk menarik nafas panjang.


Zul, menautkan kedua alisnya, saat menyaksikan adegan Ibu dan anak tersebut, mengangguk pada Lyra saat wanitanya menatap dengan langkah tergopoh-gopoh. Matanya tidak pernah lepas dari wanita dewasa itu, "Aku akan membuat kamu selalu bahagia, sayang!" batinnya.


Saat Zul menoleh kearah Kesy, gadis kecil itu menyebut satu kalimat.


"Ampun, Pa....! Ampun....!!" Bibir Kesy, terbuka, dan menangis sekencang-kencangnya.


Dengan sigap Zul memeluk tubuh Kesy, membisikkan kata-kata, untuk menenangkan gadis kecil yang masih mengalami shock, "Tenang sayang.... Papi ada disini, kamu tenang yah....!" usapnya lembut pada kening Kesy.


Sambil memberi kode pada suster yang mendekat, "Hubungi Dokter Kris segera! Pasien siuman, dan masih mengalami shock, cepaaat....!"


Ahmad memeriksa kondisi Kesy, melihat bagian tubuh yang memar, dengan seksama, "Zul.... kasih suntikan itu cukup dua ampul...! Jangan lupa beri obat penenang, untuk segera kita larikan ke Singapura malam ini. Kesy mengalami goncangan hebat, alat kita tidak begitu lengkap. Kalau disana, kita bisa langsung bertemu sama Dokter ahli psikolog."


Zul menggeleng, "Kita tunggu Dokter Kris dulu, Pa! Jika memang perlu, setelah siuman aku bawa mereka dulu ke Berlin."


Boy yang mendengar pembicaraan dua orang pria yang tidak menganggap kehadirannya, bertanya dengan wajah polos dan bodoh, "Siapa yang akan dibawa ke Singapura, Pak? Dan yang akan dibawa ke Berlin? Apa saya melewatkan sesuatu? Kita baru mengenal, dan saya Opa dari Kesy. Kenapa kalian seperti akan melarikan cucu dan anak saya?"


Eni yang mendengar celotehan calon besannya, tersenyum sumringah, "Nanti kita bicarakan, Pak. Saat ini yang kita fokuskan untuk kesadaran cucu kita. Harapan kami juga sama, mengembalikan semangat, dan kebahagiaan Kesy, Pak!"


"Ya Bu...!!" jawab Boy menggerutu dalam hati mencari keberadaan Lince dan Lyra yang terlalu lama meninggalkannya.


Ahmad membawa Boy untuk berbicara dengan santai di luar ruangan, memberikan ruang pada Zul untuk mengatasi Kesy yang mendekati siuman.


Sementara Eni mengusap lembut punggung Zul, yang berusaha keras membuat Kesy untuk terus berusaha.

__ADS_1


Suara-suara kecil itu terdengar sangat memilukan dihati Zul dan Eni yang mendengar secara langsung celotehan Kesy.


"Mama....! Mama....!"


Air mata Eni mengalir, mendengar jeritan hati seorang putri yang dapat dia rasakan. Dia memberi perintah pada suster agar menyusul Lyra segera, "Panggil Ibu Lyra segera! Katakan Kesy siuman!"


Begitu suster akan membuka pintu, Lyra dan Lince muncul dihadapan mereka.


Lyra melihat Kesy siuman, segera menghampiri putri kesayangannya, "Sayang.... Mama disini, Nak!" tangisnya.


Kesy membuka matanya perlahan, menatap kearah Zul, dan Lyra yang ada di sampingnya, hanya mampu menyebut, "Mama....!!" untuk kesekian kalinya.


Lyra tersenyum bahagia, memandang kearah Zul, hanya bisa berucap tanpa suara, "Terimakasih....!" tunduknya.


Zul tersenyum sumringah kearah Lyra, mengusap lembut kepala wanita dewasa yang ada di hadapannya. Dia menghela nafas panjang, menoleh kearah Lince dan Eni menatap kedua Mama paruh baya tersebut dengan senyum manis dan bahagia.


"Berhasil Ma....!" Zul mendekati sang Mama, memeluk Eni membuat air mata Lince yang berdiri di dekat mereka juga ikut menangis haru.


Lince sudah mendengar penjelasan dari Lyra, namun putrinya masih belum percaya diri untuk masuk ke keluarga orang terpandang tersebut.


Sementara Boy sibuk menceritakan semua jenis music yang dia sukai pada Ahmad. Ke-duanya memiliki hoby yang sama, karena hanya music lah obat dari segala obat untuk orang yang tidak memiliki waktu luang tersebut.


.


Berbeda dengan Dony yang masih meringkuk di jeruji besi, selama beberapa hari. Namun dia dikejutkan dengan kehadiran seseorang yang tidak asing baginya.


"Selamat siang menjelang sore, Bang Dony....! Masih ingat saya...!?" sapa seorang pria dari tahanan kepolisian.


Dony mendekati pria tersebut, menatap penuh kejutan.

__ADS_1


__ADS_2