Perjaka Untuk Janda

Perjaka Untuk Janda
Merencanakan sesuatu ...


__ADS_3

Mereka tiba dikediaman Lyra saat bersamaan dengan ambulans yang masih menyala. Semua warga melayat untuk memberikan penghormatan terakhir pada Dony, dan memberi kekuatan pada Kesy yang masih menangisi sang Papa.


Wajah Lyra masih terlihat sembab, menyambut beberapa kerabatnya yang datang silih berganti. Tentu di dampingi Zul yang senantiasa berdiri disamping sang istri untuk menemani nya.


Namun Lyra melepas dekapan Zul dari bahunya, karena perasaan marah yang masih menyisakan sedikit kekesalan pada pria yang berstatus suaminya kini.


Zul hanya menggelengkan kepalanya, beranjak mencari tempat duduk agar tidak memperkeruh suasana yang masih berduka atas saran sang Mama.


Namun, saat Lyra menoleh kearah Zul yang tengah berbincang-bincang dengan warga perumahannya, merasa bersalah dalam hatinya. Bagaimanapun dia membenci pria muda itu, tapi ada benarnya yang dilakukan Zul padanya untuk menghindari kesedihannya.


Malam semakin larut, suasana masih tampak ramai. Rekan kerja, pihak rumah sakit, dan orang-orang yang mengenal Lyra datang silih berganti untuk memberi penghiburan pada Kesy sang putri kesayangan dua orang yang telah berpisah dalam perceraian.


Kini Lyra dan Dony benar-benar berpisah untuk selamanya, tanpa harus berdebat panjang lagi untuk memperebutkan hak asuh juga harta.


Lyra tengah duduk di sudut ruangan memeluk Kesy selayaknya janda yang kematian suami.


Zul yang melihat pemandangan tersebut, menggendong tubuh Kesy agar segera beristirahat di kamar Lyra, yang sudah lama tidak dia tempati, tentu di ikuti dengan langkah istrinya dari belakang.


Satu pemandangan yang menakjubkan bagi Lyra, melihat seisi kamar tampak rapi, tanpa merubah posisi sebelumnya. Seprei kamar yang tercium aroma wangi pelembut pakaian, membuat wanita cantik itu semakin terpukul.


Lyra meringkuk di pinggir ranjang, menangis sejadi-jadinya.


"Lebih baik aku berpisah hidup dengannya, namun dapat melihat keberadaannya, daripada berpisah mati seperti ini! Aku tidak akan pernah melihatnya lagi!" tangis Lyra dapat di dengar jelas oleh Zul.


Zul yang mendengar penuturan istrinya, memilih duduk disamping Lyra.


"Jika kamu terus begini, bagaimana Kesy akan kuat. Aku tahu kamu kehilangan Dony, Lyra! Tapi hargai aku! Aku suami mu, Dony hanya mantan! Ikhlaskan kepergian dia, ini sudah jalannya," ucap Zul mengusap lembut punggung istrinya, mendekapnya erat.


Lyra masih menangisi kepergian Dony yang secara tiba-tiba. Bahkan dia melihat lantai kamar yang tampak bersih tanpa debu yang menempel.


"Bagaimanapun dia, sangat sulit bagiku untuk melupakannya, Zul!" tangis Lyra kembali terdengar.

__ADS_1


Zul menarik nafas panjang, "Aku boleh jujur?" tanyanya pelan.


Lyra mengangguk.


"Aku seperti tidak dihargai saat ini. Seolah-olah penyebab kematian Dony itu karena aku. Padahal aku hanya ingin berbuat baik pada mu dan masa lalu mu, sayang. Please ... Hargai aku. Kuatlah demi Kesy! Dony sudah tenang, dia sudah jelas dan kita tahu dimana kuburnya. Hanya kita yang masih hidup, belum tahu dimana kematian akan menjemput. Aku mencintaimu, Lyra! Sekarang kamu istirahat, aku akan menyambut tamu lainnya. Ingat Lyra, yang kita lakukan saat ini adalah sebagai umat manusia yang harus menyelamatkan jenazah layaknya ajaran agama kita," jelas Zul panjang lebar.


Lyra mengangguk, mengusap lembut dada suaminya, beranjak naik keatas ranjang untuk menemani Kesy sang putri satu-satunya.


Bagaimana mungkin seorang mantan masih berharap untuk kembali disaat telah berpisah talak tiga, dari seorang suami yang tidak pernah menghargai perasaan seorang istri.


Zul menyelimuti istri juga Kesy, mengecup lembut kepala wanita itu, dan berlalu keluar dari kamar yang tak begitu besar.


Zul melakukan tugasnya sebagai seorang pria yang bertanggung jawab hingga pagi menjelang. Suasana sepi, hanya ada keluarga inti yang masih menemani jasad Dony untuk melakukan pemakaman pagi itu.


Suasana duka kembali terasa saat Kesy, keluar dari kamar menggunakan pakaian hitam dan selendang hitam mendekati jenazah sang Papa.


Kesy duduk di samping jenazah Dony, memandangi wajah pucat yang tertutup kapas di seputar hidung, dia mengusap tubuh yang terasa dingin sebelum ditutup kain kapan.


"Pa ... Hari ini Kesy merupakan hari terakhir melihat wajah Papa. Walau Papa sudah di ambil Tuhan, Kesy akan selalu membawa Papa sampai ke Berlin. Mungkin bulan depan kami akan pindah ke luar negeri meninggalkan Papa. Kesy janji akan selalu berziarah ke makam Papa jika kembali kesini. Datanglah terus ke dalam mimpi Kesy setiap malam, Pa ... Untuk mengobati rasa rindu Kesy suatu hari nanti," tangis Kesy dengan deraian air mata.


Kesy memeluk tubuh Dony yang sudah tertutup kain kafan, sebelum keluarga menutup jenazah Dony dengan beberapa ritual yang akan mereka lakukan tepat pukul 08.00 waktu setempat.


Riche dan Rita tak kuasa membendung air mata kesedihan mereka, tanpa mau menyapa Lyra yang ikut duduk disamping Kesy.


Pihak keluarga menutup wajah Dony, setelah mendapatkan ciuman terakhir dari Kesy atas izin Lyra dan Zul.


Air mata tak kunjung mengering dari gadis berusia tujuh tahun tersebut yang sudah mengerti dunia dewasa karena sering mendengar keributan dari sang Mama selama ini.


Lyra memeluk erat tubuh Kesy yang melihat orang yang mereka cintai untuk terakhir kalinya.


Ambulance telah menanti di kediaman Lyra, untuk membawa jasad Dony ke tempat peristirahatan terakhirnya.

__ADS_1


Suasana duka semakin terasa, saat Nela menahan lengan Lyra sebelum wanita cantik itu memasuki mobil yang tengah di kendarai Zul suaminya.


Nela hanya bisa berucap, "Maafkan aku, Lyra! Sekali lagi aku minta maaf!"


Lyra melihat kearah Sakul yang berdiri dibelakang istrinya, "Terimakasih ..." ucapnya memasuki mobil tanpa mau berbasa-basi.


Semua warga perumahan hanya mampu berucap turut berdukacita dan menyampaikan kata maaf pada Lyra. Yang hanya di jawab singkat boleh wanita cantik tersebut, 'terimakasih' tanpa ada kalimat lain.


Mereka berlalu meninggalkan kediaman Lyra, menuju pemakaman. Tentu dengan berusaha tegar wanita yang senantiasa di dampingi suami barunya itu hanya bisa melihat proses pemakaman Dony.


Air mata masih mengalir membasahi wajah Lyra dan Kesy, saat tanah kuning itu menutup tubuh kurus itu untuk selamanya.


Kesy meletakkan bunga mawar pertama kali di batu nisan bertuliskan nama sang Papa 'Dony'.


"Tidur yang nyenyak yah, Pa! Tuhan, jaga Papa buat Kesy! Jujur Kesy rindu sama Papa hanya untuk sekedar makan siang bersama," tangis Kesy kembali terdengar saat Oma Eni dan Oma Lince mendekatinya.


"Sudah sayang ..." peluk Lince pada cucu kesayangannya.


Sementara Boy dan Ahmad turut andil saat para kerabat yang ikut mengantarkan jenazah Dony.


Namun, tidak untuk Rita dan Riche yang tengah merencanakan sesuatu untuk melakukan tindakan untuk membalaskan sakit hati mereka pada mantan adik iparnya, Lyra.


"Kita harus bisa merebut rumah itu ke tangan kita, karena aku dengar wanita jallang itu akan pindah ke Berlin. Aaaagh ... Semakin kaya lah dia, brengsek ...!" geram Rita saat berbisik pada Riche, yang akan kembali ke sel tahanan atas kasus pembunuhan berencana.


Riche mendengus, melirik kearah Lyra dengan tatapan tajam, "Tenang saja, Kak! Aku akan melakukan sesuatu ..." jawabnya.


_____


Hai hai hai


Sambil menunggu update Lyra dan Zul, mampir ke cerita baru Author Pemes yah ...

__ADS_1


Kutukan Janda Leluhur ...



__ADS_2