
Kesy masih berada di restoran hotel, dengan wajah yang menekuk dan menangis. Kali ini dia benar-benar kecewa oleh perbuatan Adi yang membuat dia semakin frustasi.
Wajah cantik itu, hanya menangis tersedu-sedu, tanpa menghiraukan beberapa pasang mata yang melihatnya duduk sendiri di sudut restoran.
Tak selang berapa lama, Adi mencari keberadaan Kesy, setelah mendapatkan amukan dari Zulmaeta di seberang sana melalui telepon.
Seketika perasaan pria bertubuh tegap itu semakin kesal dengan perlakuan Kesy, yang selalu mengadu pada kedua orangtuanya.
Adi yang melihat istri kecilnya, masih meringkuk dimeja, bergegas menghampiri Kesy ...
"Apa yang kamu lakukan di sini? Jangan pernah membuat masalah semakin besar, apalagi sampai mengadu pada Mama dan Papi mu! Abang ini suami kamu!" tegasnya, membuat Kesy sedikit ketakutan mendengar Adi menghardiknya.
Adi menarik paksa lengan gadis kecil itu dengan sangat kasar, membuat Kesy meringis kesakitan ...
"Lepas!"
Adi menoleh kearah Kesy, menggeram kesal karena istrinya ternyata memiliki watak yang kera. Membuatnya tersulut emosi, "Berani melawan sekarang hmm!"
Adi yang akan melayangkan tangannya, untuk menyakiti fisik Kesy, seketika tangan kekar seorang pemuda menahannya.
Adi menoleh kearah samping, matanya menatap nanar pada pria yang berani ikut campur dalam urusan rumah tangganya, menantang pria itu dengan amarah semakin membuncah.
"Kau siapa? Kenapa ikut campur dalam urusan rumah tangga ku! Dia ini istriku!" tunjuknya pada Kesy yang semakin menangis, dengan menutup wajah cantiknya menggunakan kedua tangan kecil itu.
Pria itu menggeleng, seolah-olah mengejek pria yang mengaku sebagai suami.
"Oya, suami?! Suami seperti apa maksudmu?" tawanya menyeringai kecil semakin mengejek Adi yang semakin lama semakin tak kuasa menahan amarahnya.
"Sial ..." geramnya akan melayangkan satu pukulan pada pemuda itu, namun dapat dielakkan oleh pria tersebut.
BRAAAK ...!
Adi terjerembab jatuh kemeja restoran, membuat dia semakin berang.
"Siapa kau! Brengsek!!" sesalnya, kembali menarik lengan istrinya yang masih berdiri dengan wajah tertutup dan menangis.
Namun, lagi-lagi pemuda itu menghalangi Adi yang akan menarik tangan Kesy, justru pria itu lebih dulu yang membawa gadis itu berlari kencang untuk meninggalkan restoran.
__ADS_1
"Cepat ...! Jangan takut, aku akan melindungi mu dari pria laknat itu!"
Kesy yang masih diselimuti perasaan benci terhadap Adi, mengikuti langkah pemuda itu yang membawanya berlari kencang meninggalkan restoran tersebut.
Tentu Adi dengan sigap mengejar mereka berdua, untuk merebut Kesy dari tangan pria yang tidak ia kenal sama sekali.
"Brengsek! Kemana dia melarikan istriku ...!" geramnya, saat Adi tak melihat lagi Kesy dan pemuda itu berada di sana.
Tentu, ini merupakan ancaman bagi Adi. Karena akan mendapatkan makian bahkan pukulan dari Zul yang telah memaki nya sejak tadi.
"Sial ...! Akan ku balas kau, jika menyakiti atau melakukan hal yang tidak baik pada istriku!"
Adi mencari tahu keberadaan Kesy, yang tidak tahu kemana arah mereka berlari, sehingga melaporkan pada pihak kepolisian setempat.
.
Sementara pemuda tampan yang berusia 23 tahun itu, membawa Kesy kekediaman nya yang berada tidak jauh dari hotel tempat gadis itu menginap.
Pemuda itu hanya menyelamatkan Kesy, yang tengah dirundung kesedihan, namun mendapatkan perlakuan kasar dari pria yang mengaku sebagai suaminya.
Pria itu menghulurkan tangannya, "Kenalkan namaku Jack Smith. Keluarga Smith, tapi bukan Will Smith ..." ucapnya pelan.
Kesy terdiam, bibirnya terkunci menyesiasati sekelilingnya, melihat hotel tempat ia menginap tidak jauh dari rumah mewah pria itu.
Kesy bertanya, karena perasaan takut, "Apakah kamu mengikuti aku?"
Jack menggelengkan kepalanya, "Tenang saja, jika dia mencari-cari keberadaan mu, atau melaporkan aku, tidak masalah. Yang penting kamu baik-baik saja!"
Kesy masih diam tak bergeming, matanya sangat awas, jantungnya berdegup kencang, karena menyadari bahwa ia merupakan seorang istri.
Perlahan Kesy mundur selangkah kebelakang, dia tidak ingin tertipu oleh pria muda yang memiliki tubuh gagah, bahkan rumah mewah, yang dikawal beberapa orang menggunakan senjata.
Jack tersenyum sumringah, "Maaf ... Jika kamu merasa tidak nyaman, aku akan mengantarkan mu kembali ke hotel. Tapi aku menunggu keluargamu datang, agar kamu aman dari pria arogan itu!"
Kesy kembali menundukkan kepalanya, lagi-lagi dia hanya bisa menelan ludahnya sendiri dengan susah payah.
Kesy memberanikan diri, mendongakkan kepalanya, menatap lekat mata pria yang sangat menarik perhatiannya, "Apakah kamu anak mafia? Kenapa rumah mu di jaga ketat dengan orang bersenjata?"
__ADS_1
Jack menoleh kearah tunjuk Kesy, kembali tertawa kecil, karena melihat sosok gadis kecil yang sangat lugu.
"Tenang saja Nona, Daddy ku seorang Dokter militer, dan Mami ku juga seorang dokter, mereka ada di dalam. Aku biasa menghabiskan waktu di restoran hotel tempat kamu menginap, untuk menyelesaikan kuliah ku musim ini. Jadi tenang saja ... Aku tidak akan menyakiti mu!"
Kesy mengangguk kembali, mengikuti langkah pemuda itu masuk kekediaman mewah milik keluarga Jack, karena tidak ingin berdebat panjang dengan Adi, jika mereka bertemu.
"Pasti Abang akan menyakiti aku, jika aku kembali saat ini ke kamar ..." tunduknya pelan, bergumam dalam hati.
Saat mereka masuk ke mansion Keluarga Smith, kedua orang tua Jack menyapa putranya.
"Hai baby! Siapa yang kamu bawa? Apakah dia kekasih, mu?"
Kesy yang mendengar pertanyaan itu dari wanita pemilik rumah mewah tersebut, melayangkan tangannya ke udara, sebagai kode bahwa dirinya bukan kekasih putra mereka.
Jack mendekati sang Mami, mencium wajah cantik itu dengan penuh kehangatan.
"Tidak Mami, aku menemukan gadis ini, tengah menangis terisak-isak karena perlakuan kasar pria yang mengaku sebagai suaminya. Jadi lebih baik aku bawa dia ke sini, daripada menjadi bulan-bulanan pria seperti itu," jelasnya.
Caroline tersenyum sumringah, berdiri mendekati Kesy dengan pelukan hangat ... "Apakah kamu sudah menikah gadis kecil? Benarkah pria itu suami kamu? Hmm ... Sepertinya kamu juga bukan orang sini. Karena wajahmu terlihat jauh berbeda ..."
Kesy yang mendengar suara wanita yang sangat lembut, berusaha tenang dan tersenyum menatap wajah cantik Mami-nya Jack.
Kesy menganggukkan kepalanya, "Benar Nyonya, pria itu suamiku. Dan kami memiliki masalah yang cukup serius. Aku sedang menunggu kedatangan Papi ku yang akan menjemput kesini ..." ucapnya pelan.
Caroline merasa iba pada gadis kecil yang sangat polos dan lugu tersebut. Dia memeluk tubuh ramping Kesy, membawa gadis cantik itu agar duduk di ruang keluarga bersamanya.
"Ooogh baby ... Syukurlah, kalau kamu tidak kenapa-kenapa. Mungkin suamimu sedang mendapatkan tekanan dari pihak luar, atau siapapun itu, sehingga sedikit kasar padamu. Tenang yah sayang? Kamu mau makan apa? Apakah kamu warga Asia? Atau hmm ..."
Kesy tersenyum tipis, menjawab pertanyaan dengan anggukan pelan, mendengar sambutan lembut dari wanita dewasa itu membuat dirinya sedikit tenang.
"Hmm ... Saya dari Indonesia, tapi kami telah lama tinggal di Berlin," jelasnya.
Caroline tersenyum, menoleh kearah Jack, agar membawakan beberapa makanan kecil untuk Kesy, tanpa meninggalkan gadis itu sendirian.
"Kamu tenang yah? Tidak seorangpun yang bisa menyakiti wanita yang sudah menjadi istri, tidak sama sekali. Saya akan bicara pada keluarga mu, jika mereka datang menjemput ..." tegasnya.
Lagi-lagi air mata Kesy jatuh tak tertahankan, membuat Caroline mendekap tubuh ramping Kesy yang kembali menunduk.
__ADS_1