Perjaka Untuk Janda

Perjaka Untuk Janda
Will you marry me ...!?


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul 16.00 waktu setempat, bel berbunyi memberikan tanda bahwa siswa SD segera keluar dari ruang kelas masing-masing menuju gerbang utama sekolah swasta tersebut.


Dony menunggu kehadiran Kesy, dengan wajah berbinar-binar menanti kehadiran putri kesayangannya. Sudah cukup lama dia tidak menemui putri kesayangannya, yang sengaja dia hindari atas permintaan Lyra sang mantan istri saat di persidangan akhir.


Lyra melihat putri kesayangannya, yang berjalan berlari kecil mengejar dua pria tampan tengah menunggunya sejak tadi.


Betapa pilunya hati seorang Papa saat melihat Kesy lebih dulu memeluk Zul, tanpa menoleh kearah Dony.


Dony melihat wajah Kesy sangat berbeda saat menatap Zul, tapi pria muda tersebut masih mau mendekatkan gadis kecil itu pada sang Papa kandung.


"Salam dong Papa-nya. Oya, Papa baru pulang dari luar kota ... dan akan mengajak kita makan bersama," bisik Zul ketelinga Kesy.


Kesy menoleh kearah Dony, meminta jawaban pasti atas ucapan Zul, "Benar begitu, Pa? Bukannya Papa selalu bilang kalau toko sepi?" tanyanya meyakinkan.


Dony terdiam sejenak, matanya berembun. Ingin rasanya dia memeluk tubuh mungil itu dengan pelukan hangat yang memiliki kerinduan teramat sangat, sehingga menorehkan luka dalam hati seorang anak perempuan.


"Bagaimana aku akan membawa mereka untuk makan bersama? Sementara aku sendiri tidak memiliki uang sebanyak itu, aaagh ....!" sesalnya dalam hati.


Kesy berjalan menuju Dony yang tidak jauh dari keberadaan mereka berdua. Matanya menatap penuh cinta pada sang Papa. Pria yang merupakan cinta pertamanya, walau kini sudah menjadi mantan bagi sang Mama, namun tidak dalam hati Kesy.


"Pa ... Maaf, kali ini Kesy tidak bisa mengajak Papa untuk makan malam bersama. Karena kami punya rencana lain," jelas Kesy pada Dony.


Dony melirik kearah Zul, menelan salivanya seraya memohon kepada pria muda itu agar mengizinkan dia untuk bisa menghabiskan waktu bersama putri tercinta.


Semua itu hanyalah rencana Kesy dengan Opa Boy dan Opa Ahmad. Untuk mengetahui keseriusan hati sang Mama dengan Papi Zul, tanpa sepengetahuan Lyra.


Zul hanya tersenyum, tak mampu untuk memaksa kehendak Kesy. Baginya, kali ini Kesy berhak untuk menentukan sikap demi menjaga perasaan sang anak.


"Guys .... kita jalan sekarang? Sudah sore. Kasihan Papa, Kesy," panggil Zul pada gadis kecil itu dan Dony.


Kesy menoleh pada Dony, meminta izin pada sang Papa untuk segera berpisah ...


Tapi Zul mengajak Dony, agar segera masuk ke dalam mobil, dan mengantarkan pria berumur tersebut kembali ke kediaman Lyra yang bersebelahan dengan sang kekasih Nela.

__ADS_1


Kesy terdiam, saat mendengar penjelasan Zul. Dia berpikir sejenak, kenapa Papa bisa bareng sama Mama? Apakah Papi dan Mama sudah membahas tentang hubungan mereka? Tapi kenapa Opa malah ingin mengadakan acara kecil untuk melamar Mama malam ini ...?


Didalam mobil yang mewah tersebut, Zul masih terus menggenggam erat jemari Lyra, tanpa perasaan sungkan. Dia melajukan kendaraannya menuju kediaman Lyra yang sudah diberikan kepada Dony.


Setibanya mereka dikediaman yang tampak sepi tersebut, Lyra melihat sosok Sakul yang menyaksikan kepulangan Dony kesana. Bergegas laki-laki itu memilih masuk kedalam rumah, setelah menguras habis-habisan isi tabungannya oleh pengacara Zul sebesar 500 juta.


Lyra tersenyum tipis, mengingat kejadian tadi, saat diparkiran kala berada didalam mobil sendirian, Iqbal memberitahu bahwa semua perkara dengan Sakul dan Nela telah selesai. Dana sebesar 500 juga sudah masuk kerekening wanita yang sudah berstatus janda muda tersebut.


Lyra tersenyum puas, tanpa memikirkan perasaan Dony yang benar-benar tampak down hingga membuat langkah kaki pria itu tak mampu untuk keluar dari mobil.


Kesy kembali mendekati Dony, memeluk tubuh kurus itu dengan penuh kasih sayang, "Sampai jumpa yah, Papa! Aku mencintaimu ....!" bisiknya sambil mengecup pipi sang Papa.


Dony menghela nafas panjang, mengusap lembut punggung Kesy, "Kamu hati-hati yah," kecupnya pelan.


Suasana seperti inilah yang paling tidak disukai Kesy sebagai korban perceraian. Salah dalam mengambil sikap akan menyakiti hati Lyra sang Mama. Tapi dia masih sangat menyayangi Dony sebagai Papa kandungnya.


Zul menoleh ke belakang, memberikan satu amplop tebal berisikan uang sebanyak 20 juta untuk Dony bisa melanjutkan kembali kehidupannya.


"Terimalah ini, Bang. Setidaknya uang ini bisa melanjutkan usaha Abang, tanpa harus meminta pada Lyra ataupun Keluarga Abang," jelas Zul.


Dony menghela nafas panjang, rasanya dia ingin sekali bunuh diri dan mati. Andai saja dia tidak mendengar omongan Rita yang membawa petaka bagi rumah tangganya, mungkin saat ini dia masih berstatuskan suami wanita cantik tersebut.


Mata Dony memerah, tak mampu membendung air matanya yang kembali mengalir deras membasahi wajahnya, "Terimakasih Zul. Sa-sa-saya tidak tahu harus bagaimana, tapi setidaknya uang ini dapat mengembangkan usaha yang sudah hampir bangkrut."


Zul tersenyum tipis, dia dapat bernafas lega. Tapi jangan berharap akan bisa kembali seperti hari ini keesokan harinya, karena semua akan dirubah oleh Zul untuk kebahagiaan Lyra dan Kesy.


Zul mengangguk, membiarkan pria tua itu keluar dari mobil. Melihat situasi rumah Lyra sebelumnya yang tampak kumuh. Hanya terparkir mobil pemberian Lyra di carport depan.


Zul menatap Lyra dan Kesy bergantian, karena kedua wanita itu menahan air mata yang akan mengalir deras melihat Dony yang akan mereka tinggalkan.


"Kita jalan sekarang ....?" bisik Zul saat menatap dua wanita yang masih memandang kearah luar.


Lyra menoleh kearah Zul, kemudian berkata, "Ya, kita jalan sekarang!"

__ADS_1


Kesy kembali membuka kaca mobil, melambaikan tangannya pada Dony, mengucapkan selamat tinggal pada sang Papa, "Bye Papa .... selamat tinggal! Sampai bertemu lagi lain waktu. Kalau Papa ada uang, datanglah kesekolah Kesy! I love you, Papa!!" teriaknya dengan suara serak bahkan menangis.


Lyra menunduk membendung air matanya. Sebagai seorang mantan istri, yang pernah hidup bersama dengan Dony harus mendengar penuturan seperti itu dari bibir putri kesayangannya.


Zul mendekap tubuh Lyra, mengecup kening sang kekasih. Hanya mampu mengusap sambil fokus pada stir kemudi. Sementara Kesy hanya menangis karena merasakan takkan pernah bisa bertemu lagi dengan Dony.


Lyra melepas pelukan Zul, merasa segan didepan putrinya, hanya bisa bertanya pada pria muda yang baik hati tersebut, "Apakah uang mu tidak berseri? Sampai kamu menghabiskan uang sebanyak itu untuk seorang Dony!" sesalnya dengan suara parau.


Zul menoleh kearah Lyra, melirik Kesy yang masih dirundung kesedihan, "Jika kita tidak membantunya, siapa lagi yang akan menjadi malaikat untuknya, sayang. Setidaknya dengan uang itu, dia bisa memberi uang jajan untuk Kesy, dan menjadi pria yang bertanggung jawab. Tidak menggangu kekasih ku lagi!" jelasnya.


Lyra menarik nafas dalam-dalam. Mengangguk mengerti apa maksud Zul sebenarnya, "Terkadang niat baik itu tidak selamanya diterima dengan baik, Zul. Aku tidak ingin dia memanfaatkan keadaan."


Zul tersenyum meyakinkan Lyra, "Kali ini Dony akan berpihak pada kita. Dia tidak akan pernah mengganggu kehidupan kamu, dan dia akan selalu memenuhi kebutuhan Kesy."


Lyra membenarkan ucapan Zul. Kali ini dia hanya bisa pasrah pada keadaan dan semua keputusan Zul.


Mobil mereka terparkir didepan rumah Boy. Zul sengaja menahan tangan Lyra agar tidak keluar mobil lebih dulu.


"Lyra, will you marry me ...!?"


Kesy yang akan keluar dari mobil seketika ternganga mendengar kalimat yang diucapkan Zul pada sang Mama tercinta.


"Yes, I wan't ...!"


____


Salam cinta dan hangat dari Author ...


"Bagaimana seeh, perasaan Dony saat melihat Zul dan Lyra? Cemburu nggak dia?"


Satu lagi ... kasih masukan dong, 'Untuk apa uang yang diberikan Zul pada Dony? Benar untuk mengembangkan usahanya, atau bahkan menghabiskannya dengan berfoya-foya?'


Besok pengumuman untuk para reader yang menjadi 'Top fans yah' ...!

__ADS_1


Terimakasih...


__ADS_2