Perjaka Untuk Janda

Perjaka Untuk Janda
Zulfikar, Zulkifli atau Zulkarnain...!?


__ADS_3

Kebencian yang tidak beralasan membuat Lyra semakin membenci Dony sekeluarga.


Cinta yang besar, dapat terkikis dari perkataan kasar yang sangat menyakitkan setiap harinya.


_____


Lyra keluar dari kamar mandi, mengenakan lilitan handuk ditubuhnya. Masih terdengar dari luar rumah suara Dony yang memohon agar segera dibukakan pintu rumah.


Lyra menuju kamar Kesy, mengambil piyama tidur untuk putri kesayangan. Wajah cantik yang alami, masih terlihat lelah karena serangan keluarga Dony tadi siang.


Mengapa ini terjadi dalam hidupku? Apa ini satu kesalahan telah menikah dengan pria yang tidak memiliki pekerjaan tetap? Tidak-tidak-tidak, Dony berubah karena hasutan keluarga, bukan karena aku, batinnya.


Lyra masuk ke kamar, tidak lupa dia membawa sekaleng kripik kentang yang dia beli dari salah satu sahabatnya di kantor. Dia mengenakan piyama lengan panjang, dan mulai mengganti pakaian Kesy masih terlelap.


Lyra mengambil handphone yang terletak dimeja rias, mengirim pesan pada Zul.


["Maafkan aku, Zul. Selamat malam, dan selamat beristirahat."]


Hanya pesan singkat itu yang Lyra kirim untuk Zul diseberang sana melalui whatsApp.


Lyra meluruskan kaki, merebahkan tubuh disamping putri kesayangan, saat dia tengah menikmati cemilan sambil menonton acara televisi, handphone miliknya kembali berdering.


Lyra tersenyum tipis, melihat nama yang tertera dilayar handphone, "Zul...." bisiknya menyeringai.


["Halo.....!"]


["Kamu kemana saja? Kenapa telpon ku dan pesanku tidak pernah kamu jawab. Ada apa dengan kamu? Aku khawatir, Lyra!"]


Lyra tersenyum sumringah, matanya seketika berembun, menahan tangis tak biasa. Dia menggigit bibir bawahnya, merasakan kekhawatiran Zul terlalu berlebihan menurut-nya.

__ADS_1


["Lyra....!!"]


Terdengar suara Zul diseberang sana memanggil namanya sekali lagi membuat Lyra tersadar.


["Hmm.... aku baik-baik saja. Hanya ada masalah sedikit."]


["Masalah? Apa kamu tidak mau berbagi dengan ku? Kenapa? Coba cerita..... kali saja aku bisa membantu mu!"]


Lyra menarik nafas panjang, mengusap lembut kepala putrinya yang masih terlelap.


["Aku bercerai dengan suamiku, Zul. Aku malu mau menceritakannya pada mu. Karena bagiku kamu belum pernah menikah, tentu tidak akan tahu bagaimana menghadapi polemik rumah tangga."]


Mendengar penuturan Lyra dari seberang, tentu membuat Zul sedikit kesal.


["Hmm.... pikiranmu terlalu jahat sayang! Walau aku belum menikah, setidaknya aku bisa memberi penghiburan padamu. Maaf, mungkin aku sedikit terkejut. Jujur aku kesal padamu, karena kamu tidak menjawab pesan ku. Aku khawatir, ternyata benar feeling ku, sayang."]


Lyra menangis, kali ini dia benar-benar menangis pada Zul. Entah mesti pada siapa dia bercerita selain dengan Tuhan. Dia hanya seorang wanita yang butuh perlindungan. Jauh dari keluarga membuat dia seperti sebatang kara di sebuah kota yang tidak pernah bersahabat dengannya.


["Ya, Lyra sayang.... kamu boleh menganggap aku sebagai pria muda yang tidak memiliki pengalaman dalam rumah tangga. Tapi aku tahu, beberapa temanku juga sering bercerita dengan ku. Yaaah.... aku akan melakukan apapun agar kamu selalu tersenyum. Aku berjanji Lyra. Walau belum pernah bertemu dengan mu, aku yakin suatu saat nanti kita akan bersama."]


["Zul.... stop.....! Jangan pernah memberi harapan pada wanita yang akan menyandang status janda. Janda anak satu, Zul. Apa kamu seyakin itu padaku? Kita akan bersama? Kuliah kamu saja masih koas. Aku tidak ingin kamu di tentang keluarga hanya karena menikah dengan seorang janda. Kamu calon dokter, masa depan kamu masih panjang. Jarak usia kita terlalu jauh, 10 tahun Zul."]


Lyra menepis semua angannya untuk bersama pria yang tengah menyelesaikan kuliah kedokteran disuatu kota besar daerah seberang.


Zul terus menerus meyakinkan Lyra yang terdengar masih terpukul dengan semua kejadian sangat menyeramkan menurut pria muda diseberang sana.


["Dengar Lyra, walau kita memiliki usia yang terbilang jauh, keluarga ku juga belum tentu merestui hubungan kita, namun aku tidak akan pernah melepaskan mu. Aku khawatir karena aku peduli. Aku benar-benar peduli padamu, Lyra."]


Lyra menautkan kedua alisnya.

__ADS_1


["Sebentar.... kamu menganggap kita memiliki hubungan? Kita baru saja saling mengenal, Zul! Kita belum pernah bertemu sebelumnya. Kenapa kamu sangat yakin aku akan menjadi pendamping hidup mu suatu saat nanti? Kita pun mengenal karena salah sambung! Kali saja kamu mau menghubungi kekasih mu, tapi kamu pura-pura menanyakan sales farmasi padaku. Mana ada yang kebetulan, Zul. Aku bukan anak kecil. Ingat baik-baik, aku wanita dewasa yang sangat mengetahui bagaimana jahatnya seorang pria. Satu lagi, aku sudah tidak percaya dengan pernikahan."]


Zul tertawa terbahak-bahak mendengar celotehan Lyra diseberang sana.


["Apa aku harus memohon pada mu? Apa aku harus datang ke kota mu untuk menyembah? Lyra, selama hidupku belum pernah menjalin komunikasi seintens ini dengan seorang wanita. Aku mendengar suara mu sangat baik ditelinga ku. Aku bisa menilai dari cara bicara mu, tutur bahasa yang kamu gunakan, membuat aku sangat nyaman. Kamu wanita hebat Lyra. Kamu wanita yang bertanggung jawab untuk hidupmu sendiri dan anak gadismu. Aku senang bisa berkenalan dengan mu. Makanya aku menganggap kamu mulai saat ini adalah kekasih ku. Suka atau tidak suka, kamu tetap kekasih ku."]


Lyra semakin terhibur dengan celotehan dan rayuan Zul yang sangat dewasa baginya. Wajahnya sesekali terlihat lebih sering tersenyum, karena Zul mampu menghibur kesepian hatinya. Entahlah..... ini menjadi awal yang baru baginya untuk kembali bangkit.


["Tapi kita terlalu di pisahkan oleh jarak Zul. Tidak mungkin aku akan terus menunggumu disini."]


["Kok jadi pesimis siih? Koas ku akan selesai beberapa bulan lagi, dan mungkin setelah wisuda aku akan mendaftar CPNS di kotamu. Agar kita bisa hidup bersama setelah kamu resmi berpisah dari suami."]


Lyra tersedak, bahkan dia tertawa mendengar rencana Zul yang tidak masuk akal baginya.


["Terserah deh, emang kamu mau menikahi wanita yang hanya bekerja disebuah instansi pemerintah? Janda pula statusnya. Bisa cemburu para gadis karena kamu menikahi aku, Zul," tawanya.]


Zul juga tertawa diseberang sana, setidaknya keyakinan pria muda berusia 22 tahun itu mampu menghibur hati Lyra yang kesepian.


["Sudah malam, Zul! Kita istirahat yah! Besok kamu harus kuliah dan bekerja, aku harus bekerja."]


["Hmm, kamu baik-baik yah? Jaga kesehatan kamu, jangan sampai kamu stress. Bye Lyra!"]


["Bye Zul....."]


Lyra menutup telfonnya setelah dua jam menghabiskan waktu untuk menjalin komunikasi dengan pria yang dia kenal dari salah sambung.


"Ternyata Zul orangnya ceria, tapi siapa nama kepanjangan Zul? Apakah Zulkifli, Zulfikar atau Zulkarnain? Oooogh.... masak jaman sekarang masih ada nama seperti itu? Pasti dia berasal dari orang berada dan terpandang. Hmm.... Lyra, jangan pernah mengharapkan seorang dokter muda untuk menjadi suamimu!" gumamnya dalam hayalan.


Malam semakin larut, namun Lyra sudah tidak mendengar lagi suara Dony dari luar rumahnya. Sedikit penasaran dan ada perasaan iba, dia melangkah keluar kamar, mengintip dari balik gorden.

__ADS_1


"Ya Tuhan....!!!"


__ADS_2