
Saat akan mengetuk pintu ruangan, Lela di kejutkan dengan pemandangan yang tak biasa.
Lyra terus memeluk tubuh Zul, sesekali mengecup bibir pria muda itu.
Sheeer ...
"Lyra!!"
Zul menoleh kearah pintu, masih memeluk Lyra yang masih bersedih, "Masuklah Mba ..." Dia sedikit merenggangkan pelukannya, memberi ruang pada Lela juga Lyra.
Pria gagah itu membuka satu pack kotak yang dia beli di salah satu toko kue, untuk menemani sang istri bekerja.
"Sayang ... Aku ke mobil dulu sebentar, yah? Kopi late ku tertinggal," jelas Zul menatap Lyra.
Lyra mengangguk, dia menatap Lela juga Zul bergantian. Dia dapat merasakan pertanyaan Lela yang akan bertubi-tubi padanya karena melihat kebahagiaan yang terpancar dari raut wajah sahabat terbaiknya.
Saat mata Lela melihat Zul melenggang meninggalkan ruangan Lyra, dengan wajah penasaran dia menghujami wanita berwajah sembab itu dengan berbagai pertanyaan.
"Setahu aku, kamu belum berpisah resmi! Jangan buat dosa, karena masih dalam proses, kan?" tanya Lela memasukkan makanan kedalam mulutnya.
Lyra menaikkan kedua alisnya, menghela nafas panjang, "Aku sudah menikah sirih dengan Zul. Setelah sebulan ketok palu pengadilan. Makanya mau meresmikan pernikahan ini butuh proses. Aku sudah melampirkan surat cerai ku ke pusat. Bahwasanya aku sudah berpisah dari Dony, talak tiga," jelasnya.
Lela ternganga mendengar penuturan Lyra, "Talak tiga ...?" ucapnya pelan.
Lyra mengangguk, "Aku telah mengizinkan Dony untuk tetap stay dirumah yang aku beli itu, juga mobil sedan yang selama ini dia gunakan untuk ke toko. Tapi dia malah minta surat-suratnya. Dari sertifikat rumah dan BPKB mobil. Aku pengen tenang, dan tidak ingin berurusan dengan Dony juga keluarganya yang brengsek itu!" sesalnya.
Lela semakin banyak bertanya, dari masa idah yang dia ketahui selama empat bulan, sehingga kekesalannya terhadap mantan suami sahabatnya tersebut.
__ADS_1
Lyra hanya menjelaskan secara garis besar saja, "Menurut orang yang mendengar kisah ku, setelah kami pertanyakan dengan para petua keluarga, semua menganggap aku sudah berpisah dari Dony dua tahun lalu. Karena ketidak ikhlasan aku menerima semua ini. Makanya aku menutupi pernikahan kami dari rekan kantor sampai kami benar-benar melaksanakan pesta pernikahan dan resmi dalam hukum negara," jelasnya panjang lebar.
Lela yang mendengar cerita tentang perilaku Dony yang tidak pernah memberikan nafkah lahir dan batin dua tahun lamanya turut kesal dan prihatin pada sahabatnya selama ini.
"Kenapa kamu enggak cerita sama aku, sayang? Kenapa kamu menyimpan semua kekejaman Dony ini sendiri? Dua tahun itu waktu yang lama ... Bukan sebentar, Lyra. Aku yakin talak tiga hal yang paling seimbang agar kalian tidak bisa kembali walau dengan alasan Kesy!" geram Lela membayangkan bagaimana wajah Dony.
Lyra hanya tersenyum tipis, "Aku juga tidak menyangka rumah tangga ku akan berakhir seperti ini. Aku bingung mau cerita sama siapa selama ini ... Karena aku hanya bisa menutupi aib Dony saat itu," isaknya kembali menangis.
Tak selang berapa lama, Zul muncul dihadapan dua wanita tersebut, melihat istrinya kembali bersedih. Sedikit mengerenyitkan keningnya menatap kearah Lela.
"Sayang ... Apa kamu baik-baik saja?" bisik Zul mengusap lembut bahu sang istri.
Lyra mengusap lembut punggung tangan Zul, "Enggak apa-apa, hun ... Aku hanya menceritakan tentang mantan suami ku pada Lela."
Zul menarik nafas dalam, dia tidak ingin menggangu privasi istrinya, "Kalau gitu aku kembali ke rumah sakit dulu yah? Tindakan selesai dari rumah sakit, aku ada pertemuan dengan mahasiswa di rumah sakit umum. Kamu baik-baik, yah? Kesy nanti aku yang jemput. Oya, nanti malam kita nginap di rumah Papa Boy, yah? Karena Bang Bima akan berangkat besok malam."
Tentu pemandangan itu menjadi pemandangan yang indah untuk Lela. Melihat sahabatnya yang dulu tampak murung, kini lebih bergairah.
Lyra menutup pintu ruangan kembali duduk disamping Lela menikmati hidangan yang dibawa Zul suaminya.
"Hmm ... So sweet baby ... Kamu memang orang paling beruntung. Oya, kemaren ada surat yang masuk tentang keikutsertaan mu untuk ujian dikirim ke Berlin untuk ujian di Jakarta minggu depan. Apakah Mama mertua kamu yang mengurus semuanya?" tanya Lela sedikit berbisik.
Lyra mengangguk membenarkan ucapan Lela sahabatnya, "Aku mengajukan semua atas permintaan Zul, tapi aku mikirin Kesy ...!" Dia kembali menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.
Lela mengusap lembut bahu Lyra, "Jujur sama Zul, beib ... Aku yakin dia selalu suport kamu. Pasti kamu mikirin Kesy akan jauh sama Pak tua itu, kan?" sesalnya.
Lyra mengangguk, "Jujur aku enggak bisa pisahkan Kesy terlalu lama sama Papa-nya. Bagaimanapun Dony itu Papa kandung untuk anak ku. Aku dilema ..." tangisnya kembali pecah saat membayangkan nasib putrinya.
__ADS_1
Lela memeluk sahabatnya, "Beib ... Dengarkan aku," dia melepas pelukannya. "Dony memang Papa Kesy. Tapi apakah kamu dan Kesy tidak berhak bahagia? Justru kamu berhak mendapatkannya Lyra. Zul baik ..."
"Sangat baik ..." tambah Lyra pelan.
Lela melanjutkan nasehatnya, "Naaah ... Pasti Zul sudah memikirkan semua tentang Kesy dan perasaan kamu. Apalagi Dony. Jujur sama aku, Lyra ...! Atas saran Zul juga kah kamu mengizinkan Dony untuk kembali kerumah yang kalian ributkan tadi? Dari pada dia terus lontang-lantung diluar sana dan mengganggu mu, ya kan baby?"
Lyra membenarkan.
Lela mengusap dadanya, "Zul itu benar-benar suami yang baik Lyra. Jangan pernah terpikir untuk menghabiskan sisa waktu mu memikirkan Dony ... Keluarganya, dan yang lain. Kesy juga bahagia sama Zul kan, Lyra?"
Lyra mengangguk lagi.
Lela menarik nafas dalam, "Jujur ... Jika waktu bisa diputar, aku ingin kamu tidak usah menikah dengan Dony. Laki-laki yang enggak ada gunanya, malah sering membuat kamu menangis, dan menderita. Beneran kesel banget aku sama mantan suami mu yang enggak punya harga diri itu!" geramnya.
Lyra tersenyum tipis, "Makasih yah? Kamu memang sahabat aku paling baik dan ngertiin aku. Aku juga mikir, bagaimana jika kita berjauhan? Kita pasti saling merindukan. Enggak bisa hangout lagi sama anak-anak kita. Aku juga sudah lama tidak bertemu Sisi ... Hanya kalian berdua sahabat ku. Semoga saja setelah aku meninggalkan kota ini, kita bisa ketemu lagi."
Lyra membenamkan tubuhnya ke sofa, melihat jam dinding yang begitu lama berdetak di ruangannya. Dia mengusap wajahnya lembut, "Kita kerja dulu yuuk ... Kita makan siang di restoran Aldo, kan?"
Lela mengangguk, "Sama Pak Sardi juga, semua rekan kantor. Kenapa?" tanyanya pelan.
Lyra hanya mendehem, "Hari ini aku yang traktir, hitung-hitung sebagai undangan pernikahan ku. Jadi kita makan sepuasnya ...!"
Lela menarik lengan sahabatnya, "Aaaagh, beneran? Kebetulan Mas Ferdy tadi enggak ngasih aku uang. Aaaagh ... Rejeki istri sholehah itu memang nyata," tawanya menggoda sahabatnya.
Lyra menggelengkan kepalanya, memberi kabar pada Zul tentang niatnya untuk mentraktir rekan kerjanya.
Tentu hal itu menjadi kebanggaan dan kebahagiaan untuk Zul. Pria muda itu langsung mentransfer uang dengan jumlah yang besar pada sang istri. Membuat Lyra semakin bingung bagaimana cara membahagiakan pria seperti Zul.
__ADS_1
"Aaaagh ... Zul! Aku bingung mau berbuat apa ..."