
Acara sakral akhirnya terlaksana, Zulmaeta selaku orang tua sambung untuk Kesy telah menikah kan putri kesayangannya dengan Adi Maeta yang merupakan Bin Riswandi.
Sambutan tangan Adi mantab 'menerima nikah dan kawinnya Kesy binti Dony dengan mas kawin 100 gram emas mulia di bayar tunai' ...
"Sah ... Sah ... Sah ..."
Suasana haru semakin terasa, saat Kesy menyalami kedua orang tuanya atas permintaan pak penghulu, dan menyalami punggung tangan suami yang akan menyerahkan mas kawin kepada istri tercinta.
Berlin, dikota ini tempat mereka akan tumbuh selama masih berada dalam pengawasan Lyra juga Zul.
Ahmad dan Boy hanya bisa pasrah, menerima hujatan dari keluarga dekat atau bahkan rekan bisnis lainnya. Toh dalam agama, Kesy dan Adi bisa menikah karena bukan sedarah. Namun, entahlah ... Semua akan berbeda jika menikahkan dua insan ini di Indo.
Kota kecil yang selalu saja menghujat apalagi jika melakukan hal-hal yang tidak masuk akal seperti ini.
Mereka saling berbahagia, bercengkrama bersama keluarga, setelah prosesi akad nikah yang cukup sederhana.
Bagi Lyra serta Zul, pernikahan putrinya yang pertama ini, harus di tutupi dari keluarga Dony. Agar tidak menjadi bahan gunjingan bagi mulut mereka selaku keluarga yang tidak bertanggung jawab.
Sangat berbeda dengan Kesy, gadis kecil itu menghubungi Rey melalui video call, yang tengah berada di rumah kala itu.
["Hai Bang ..."]
["Hai ... Kamu cantik sekali Kesy, sudah wisuda?"]
Kesy mengerenyitkan keningnya, memperlihatkan keindahan jari manisnya yang melingkar cincin kawin bertahtakan berlian yang indah.
["What? Kamu menikah, sama siapa? Siapa pria beruntung itu! Apakah dia lebih tampan dari aku?"]
["Of course ... Dia lebih tampan dari kamu. Dia Abang kesayangan aku dari kecil. Aku rasa Abang juga tahu siapa dia ..."]
Kesy tertawa penuh perasaan bahagia, tanpa memikirkan perasaan Rey yang berada di seberang sana.
["Are you serius? Apakah kamu menikahi Bang Adi ...? Pria yang selalu ada buat kamu? Wait ... Wait ... Bukankah Adi kata Oma Eni sudah punya tunangan? Cina Singapura? Kenapa kamu merebutnya?"]
["Iiighs ... Kan boleh tunangan sama siapa saja. Nikahnya tetap sama aku ..."]
Rey mengangguk-angguk sambil tersenyum bahagia melihat kebahagiaan adik kecilnya yang sudah tumbuh dewasa.
__ADS_1
Saat mereka tengah berbincang-bincang, Kesy melihat sosok wanita yang berada di belakang Rey. Kondisi kedua-nya sama-sama tanpa busana.
["Bang ... Kamu sudah menikah?"]
["Hmm ... Aku menikahi wanita yang sangat baik, walau dia sudah pernah melanglang buana entah kemana-mana, tapi akhirnya aku menikah dengannya."]
["Siapa?"]
Kesy sedikit penasaran ...
Rey menyalakan lampu kamar, memperlihatkan sosok wanita lebih dewasa tidur dengan posisi meringkuk di samping sepupunya itu.
["Ante Lu-na ...??"]
Kesy terdiam, bibirnya terkunci rapat. Dia mencoba untuk mengingat terakhir kali bertemu Luna di acara pernikahan sang Mama 12 tahun lalu.
["Ooogh ... Sampaikan salam ku pada keluarga yah Bang ..."]
Kesy menutup telfonnya, meletakkan handphone diatas meja ruang keluarga, kembali mendekati Adi sang pria yang kini sudah menjadi suaminya.
Kesy menarik lengan Lyra yang duduk di sebelah Zul, agar menjauh dari keluarganya. Gadis itu benar-benar penasaran akan kisah cinta Rey.
Lyra mengangkat bahunya, sedikit bingung, karena mertuanya sama sekali tidak pernah menceritakan bagaimana perkembangan Rey selama bekerja dengan mereka.
"Mama enggak tahu, emang dia menikah sama siapa? Oya, apakah kamu sudah memberitahu pada keluarga Papa? Sekurang-kurangnya yah, Rey!"
Kesy mengangguk, "Sudah ... Bukan itu yang mau Kesy tanyakan sama Mama. Tapi kenapa Rey menikah dengan Ante Luna? Bukankah Ante Luna dulu menikah dengan Om Aldo teman Papi? Kok ...???"
Rasa penasaran Lyra semakin menjadi. Mana mungkin keponakannya yang sangat baik, bisa takluk pada wanita seperti Luna. Yang pernah menghabiskan waktu bersama Dony almarhum suaminya.
Lyra menggelengkan kepalanya, tersenyum tipis melihat putri kesayangannya yang telah menjadi istri.
"Sudah ... Biarkan saja dia mau menikah dengan siapa. Yang pasti, mereka tidak menggangu kita lagi, dan toko punya almarhum Papa juga sudah sepenuhnya Mama serahkan pada Rey. Mama tidak ingin ada hubungan lagi sama mereka ..."
Kesy mengangguk setuju, dia memeluk Lyra dengan erat.
"Sekali lagi terimakasih yah, Ma ... Dengan Kesy menikahi Bang Adi, Mama sudah bisa tenang meninggalkan aku di rumah tanpa pengawasan Betris lagi ..."
__ADS_1
Lyra menautkan kedua alisnya, tersenyum kecil, menggelengkan kepalanya.
Mereka kembali bergabung dengan keluarga, ketiga buah hati Lyra dan Zul tengah asyik bermain dengan Bima yang sangat menyukai anak-anak. Begitu juga Kenny sang kakak ipar yang penyabar bahkan penyayang pada keponakannya.
Berbeda dengan Ahmad dan Boy, mereka justru tengah sibuk berbincang-bincang masalah music yang tak pernah ada habisnya sejak dulu hingga kini. Bahkan mereka berencana untuk menghabiskan waktu bersama, mengelilingi negara panser tersebut hanya untuk ngamen selayaknya pria paruh baya yang bahagia bersama Dokter Teddy.
Zul kembali di kejutkan dengan panggilan dari pihak rumah sakit ...
["Ya halo ..."]
["Dokter ... Ada pasien mengalami keguguran, dua jam lalu. Pasien mengalami pendarahan setelah mengkonsumsi obat penenang. Saya rasa pasien depresi dokter ..."]
Zul mengerenyitkan keningnya, dia membayangkan wanita yang di sebutkan oleh salah satu perawat di seberang sana merupakan 'Laura' ...
["Hmm, saat ini saya masih ada acara keluarga. Lebih baik kamu menghubungi Dokter Kanza, karena dia mengetahui bagaimana menangani pasien yang mengkonsumsi obat-obatan itu!"]
["Baik Dok. Saya hubungi Dokter Kanza."]
Zul menutup telfonnya, kembali mencari keberadaan istrinya Lyra.
Namun, saat ini dia melihat Lyra hanya di sibukkan dengan anak gadisnya yang sangat manja dalam pelukan seorang Mama. Di tambah dengan rasa cemburu Hana juga Hani yang berlari kearah Lyra.
Zul mendekati Adi, memberitahu bahwa jangan meninggalkan apartemennya.
"Kamu di sini dulu, yah? Takutnya ada yang menjebak kamu diluar sana, dengan hal-hal yang tidak di inginkan. Aku baru mendapatkan telepon dari rumah sakit, bahwa ada pasien yang keguguran karena mengkonsumsi obat penenang. Feeling ku mengatakan bahwa wanita itu adalah Laura ..." bisiknya pelan di telinga Adi.
Adi terdiam, dia mencari keberadaan Kesy yang sejak tadi memilih menjauh darinya.
"Ya sudah ... Aku ke kamar dulu yah? Aku harus meyakinkan Kesy. Aku takut dia mendapat teror habis-habisan dari orang suruhan wanita itu, atau apalah ..."
Zul mengangguk setuju. Bagaimanapun dia tidak ingin kebahagiaan adik dan putri kesayangannya terganggu dengan keadaan.
Adi yang melihat istrinya, saling berbagi bahagia bersama sang Mama dan ketiga adik kembarnya, menarik tangan gadis yang telah sah dia persunting. Tentu saja meminta izin, walau agak sungkan akan disaksikan beberapa pasang mata yang melihat kearah mereka berdua.
Lyra hanya bisa tersenyum, menghela nafas panjang, saat melepaskan tangan putrinya yang di genggam Adi sang menantu.
"Selamat berbahagia untuk kalian berdua ..."
__ADS_1
Hanya kalimat itu yang dapat keluar dari bibir tipisnya.