
Setelah melalui proses wawancara yang cukup melelahkan, sepeninggal Clive, Kesy meninggalkan ruangan pria muda tersebut dengan hati riang gembira.
Walau terasa sangat memusingkan, namun sangat memuaskan, karena dia akan menerima gaji 4500 euro atau setara dengan 77 juta jika dirupiahkan.
Tentu menjadi angka yang sangat mengejutkan bagi wanita seperti dia. Faktor keberuntungan, hanya itu yang ada dalam benak Kesy saat akan menekan tombol lift yang sebentar lagi akan terbuka dihadapannya.
Kesy hanya tersenyum sendiri, menunggu pintu lift terbuka saat mendengar suara 'ting'.
Benar saja Clive tengah bersama Adi yang mengenakan masker, serta topi, karena tidak menyangka akan berada di lift yang sama dengan mantan istrinya.
Tentu Adi susah payah bersembunyi di belakang Clive, agar Kesy tidak menatap kearahnya, dan menaruh curiga dan akan menimbulkan perasaan takut pada wanita itu.
Dua tahun Adi menahan diri, untuk tidak menjalin hubungan dengan wanita manapun, karena dia mengalami trauma yang sama setelah kakinya diamputasi.
"Ke-s-sy ..."
Hanya kalimat itu yang keluar dari sudut bibir Adi, saat melihat janda cantik itu memasuki lift, kemudian menundukkan kepalanya pada Clive dengan pipi memerah malu.
Clive tersenyum manis, saat melihat wajah cantik Kesy, tanpa menghiraukan Adi yang juga mengagumi sang mantan istri.
Kedua pria itu benar-benar melihat dengan seksama, rambut hitam yang tergerai, bulu mata lentik dan iris mata kecoklatan, mampu membius hati Clive, dan mampu membuat dada Adi mendesir hebat.
"Aaagh ... Andai saja, aku tidak seceroboh itu, pasti aku masih akan terus bersama mu gadis kecil ..."
Hanya perandaian itulah yang menari-nari di kepala Adi saat ini, jika dia mengingat semua kemewahan, dan kebahagiaan yang ia dapatkan dari keluarga Ahmad Maeta, mungkin itulah menjadi penyesalan yang harus dia telan bulat-bulat semasa hidupnya.
Kesy menunggu pintu lift terbuka, saat ia menyadari bahwa sudah berada di loby.
Kesy tidak menatap lagi kearah dua pria tersebut, dia memilih berlalu tanpa mau menyapa atau bahkan menunduk seperti awal tadi.
Clive menoleh kearah Adi, "Sombong sekali gadis itu. Dia tidak melihat aku merupakan owner di perusahaan ini? Tampaknya gadis itu sangat menarik untuk aku jadikan istri. Dia cerdas, kaya serta menarik. Just it ..."
Adi menyela pembicaraan Clive, bagaimana mungkin pria muda itu akan menjadikan Kesy sebagai kekasih bahkan istrinya.
__ADS_1
"Tidak, kamu tidak boleh mengganggunya. Dia milikku, hanya aku yang boleh mendekati wanita Asia itu!" tegasnya.
Pernyataan tegas Adi, semakin membuat Clive penasaran, "Woowh ... Apakah kau mengenal dia? Atau jangan-jangan kau menutupi wajah mu, dan mengganti nama mu Owen, karena tidak ingin dia mengetahui bahwa kau merupakan mantannya? Ooogh boy, aku tidak akan memberikan celah padamu! Aku akan merebut wanita itu, jika kau berani bersaing dengan ku, berarti kau mengetahui bagaimana konsekwensinya," tawanya menyeringai kecil.
Tentu Adi tidak akan punya nyali, bersaing dengan orang yang telah memberi dia hidup selama berada di Berlin.
"Brengsek Clive, ternyata dia serius untuk mendekati Kesy? Aaaagh ..." geramnya dalam hati.
Selama berada di Berlin, Adi mendapatkan tempat tinggal yang layak, ditambah dengan kaki palsu yang di pesankan oleh Clive selaku dewa penolongnya saat itu.
Kini Adi harus berjuang mati-matian untuk mendapatkan simpati Kesy, dan menjalin komunikasi yang baik, dengan wanita yang sudah menjadi janda karena ulahnya.
Akan tetapi sangat berbeda dengan Kesy saat ini ...
Claire yang turun lebih dulu melalui lift yang berbeda, kini sudah berada diparkiran. Tentu ingin melihat mobil sport milik Kesy, dengan niat mendekati karyawan barunya.
"Hey girl ..." sapa Claire.
Kesy menoleh kearah suara yang menyapanya, karena menyadari bahwa hanya ada dirinya di parkiran tersebut, saat mengetahui kondisi saat ini masih jam kerja.
Claire mendekati Kesy, sambil tersenyum sumringah, "Hmm it turns out you are a tough woman who can drive her own car. Do you have time for us to have lunch? Just to get to know each other, and from tomorrow we will have a solid time, doing work together. Are you interested?"
(Hmm ternyata kamu wanita tangguh yang bisa menyetir mobil sendiri. Apakah kamu ada waktu untuk kita makan siang? Hanya untuk saling mengenal, dan mulai besok kita akan memiliki waktu yang padat, melakukan pekerjaan bersama. Apa kamu tertarik)
Kesy mengkerut kan keningnya, bagaimana mungkin dia akan menolak, "Hmm... Wait a minute, I have to tell the parents."
(Hmm ... Sebentar, saya harus memberi kabar pada orang tua)
Claire mengangguk setuju, dia menunggu Kesy menghubungi Lyra, sambil duduk dikap depan mobil gadis kecil itu, hanya untuk sekedar mencari kelebihan gadis yang tengah mondar-mandir dihadapannya.
Kesy menutup telfonnya, dia menoleh kearah Claire yang masih menatapnya, "Maaf Tuan, apakah Anda bisa menggunakan bahasa Indonesia?"
Claire mengerenyitkan keningnya, mengerjabkan kedua bola mata elang yang ia miliki, menatap kearah Kesy.
__ADS_1
"Why? Apa ada yang salah?"
Kesy tersenyum sumringah, "Benar, berarti Mama ku tidak salah tentang kalian merupakan orang Asia. Bukan bule yang seperti ada di pikiran ku. Oke, kita jalan sekarang? Tapi aku tidak suka menggunakan mobil orang lain. Aku suka mengendarai mobil ku sendiri. Apa kamu ingin ikut bersama ku? Atau hmm ..."
"Aku bawa mobil sendiri saja!" tegasnya berlalu menuju kendaraannya yang tidak begitu jauh dari parkiran mobil Kesy.
Claire tersenyum tipis, menggelengkan kepalanya, "Ternyata keluarganya mengenal siapa kami. Berarti anak ini bukan orang sembarangan. Tenang Nona, tidak akan ku biarkan Clive merebut mu! Aku akan terus mengawasi dan menjaga mu ..."
Mereka menuju salah satu restoran, yang cukup jauh dari kantor. Tentu dengan kendaraan yang berbeda. Walau sesungguhnya Claire tidak pernah diperlakukan oleh wanita seperti ini, tapi kali ini Kesy sangat unik dan menarik, sesuai dengan namanya.
Kesy masuk kedalam restoran, dengan perasaan sedikit gugup. Bagaimana tidak, semenjak berpisah dari Adi, baru kali ini dia makan berdua dengan seorang pria.
Claire memilih duduk di kursi yang agak tersembunyi, karena dia mengetahui bahwa di restoran itu Clive dan Adi sering menghabiskan waktu bersama, jika dihadapkan dengan berbagai macam kendala dalam pekerjaan mereka.
Tanpa sungkan Claire memberikan buku menu untuk Kesy, dan memilih beberapa makanan yang sangat ia sukai di restoran tersebut.
Kesy hanya mengangguk setuju, kali ini dia hanya ingin mencoba propesional menjalin relationship dengan Claire, karena pria yang ada dihadapannya akan menjadi atasannya.
Claire memberanikan diri untuk bertanya pada wanita dihadapannya, "Bagaimana keseharian mu, Kes?"
Kesy hanya tersenyum tipis, mengalihkan pandangannya kearah lain, karena tidak ingin membahas tentang masalah pribadi, pada orang lain.
"Aku menghabiskan waktu hanya sebagai wanita rumahan, membantu Mama dan mengurus keempat adik ku," jawabnya polos.
Mendengar empat adik yang Kesy sebutkan, membuat Claire tersedak, bahkan dia seperti akan tertawa. Namun enggan ia lakukan, karena merasa sungkan dan menghargai perasaan Kesy ...
"Apakah ibumu tidak mengikuti program keluarga berencana, Nona?"
Kesy menautkan kedua alisnya, "Apakah ada yang salah? Apakah dengan memiliki bayi kembar harus mengikuti program keluarga berencana? Come on, ini Jerman Tuan, bukan Indo," ejeknya.
Claire mengangguk-angguk sambil tersenyum, mengagumi sosok Kesy, yang ternyata sangat pintar.
"Aku menyukai cara mu, Nona."
__ADS_1
"What ...?"