
Siang menjelang, matahari bersinar terang menerangi kota kecil tempat Lyra meniti karir sebagai seorang wanita yang berprofesi menjadi bagian keuangan di salah satu instansi pemerintahan.
Lyra dan Kesy tengah menyantap makan siang yang mereka pesan melalui aplikasi. Menu makan siang masakan rumahan yang sangat lezat karena disukai oleh putri kesayangannya.
Kesy, gadis kecil yang tumbuh menjadi lebih pendiam, setelah menjalani kehidupan dengan semua tekanan yang timbul dari kedua orang tuanya, dan keluarga Dony. Dia mendengar pertikaian Lyra setiap hari, hingga selalu membuatnya takut karena keluarga sang Papa berubah menjadi monster setelah perceraian kedua orang tuanya.
Kesy menatap kearah Lyra, tersenyum tipis sambil menyuapkan sesendok makanan kedalam mulut sang Mama.
"Ma, Kesy pindah sekolah yah? Kesy enggak mau sekolah disana. Teman-teman selalu mengejek ku. Memangnya Kesy yang minta dilahir kan ke dunia ini? Sehingga harus menanggung beban dari ejekan teman-teman di sekolah. Kesy malu, Ma. Masak setiap hari mendengar ejekan 'Mama Kesy jallang.... Mama Kesy jallang...' begitu. Emang jallang itu apa siih, Ma?" cerita putri kecil Lyra seraya bertanya.
Lyra terdiam, wajahnya seketika berubah menjadi garang. Seperti akan menerkam siapa saja yang akan menyerang nya saat ini. Hingga dia bergumam dalam hati dan berjanji, "Akan aku balas semua perbuatan kalian! Siapa yang jallang? Jika aku jallang, mungkin aku tidak akan berada disini saat ini, dan tidak akan menikahi pria yang tidak memiliki apa-apa. Apa yang Dony berikan pada ku! Hanya 'sebatang' pohon yang enggan bertempur, bahkan loyo sebelum mencapai puncak. Dasar keluarga brengsek! Kenapa mereka selalu menjatuhkan aku? Apa mau mereka padaku?" geramnya.
Lyra kembali tersadar, mengusap lembut kepala Kesy dengan satu senyuman, "Ya.... kamu akan pindah ke sekolah baru. Oma dan Opa akan tiba nanti malam. Mungkin hari ini kita akan tinggal di rumah pemberian Opa," jelasnya.
Kesy tampak bahagia. Membayangkan rumah yang luas, yang tidak ada apa-apanya di bandingkan kediaman mereka saat ini. Rumah ternyaman yang sengaja Lyra jadikan untuk mencari uang tambahan jika ada rekan kantor dari luar kota berkunjung kesana.
Lyra selalu menjadi dambaan setiap pria yang mengenalnya dengan baik. Dia tidak hanya kaya, namun juga memiliki otak yang cerdas. Kali ini dia kalah, karena mengingat rasa sayang yang dia miliki pada Dony demi tumbuh kembang seorang Kesy.
Lyra membereskan beberapa pekerjaan rumah, menjemur pakaian, mencuci perkakas yang kotor, dan merapikan kedua kamar mereka. Tidak lupa dia mempersiapkan pakaian yang akan dibawa kerumah ke-duanya untuk menenangkan pikiran.
Perlahan Lyra mengintip kearah luar, menyesiasati situasi, agar terhindar dari Dony yang seakan-akan menjadi orang yang dia takuti saat ini. Perasaan was-was yang tertanam untuk melindungi Kesy dari kehadiran sang mantan suami.
Dia membuka perlahan pintu rumah, membuka kunci pagar, dan memanaskan mesin mobil. Meminta Kesy untuk segera masuk ke mobil lebih dulu. Dengan langkah cepat Lyra mengunci pintu utama, dan bergegas akan memasuki mobil.
__ADS_1
Namun, Lyra kembali di kejutkan dengan kehadiran seorang wanita dewasa, yang merupakan tetangga sebelah rumahnya, datang seperti hantu yang mengejutkan.
Nela berdiri di belakang Lyra seperti akan segera menerkam wanita yang akan memasuki city car berwarna merah.
"Hei wanita jallang....!! Kenapa kau mengatakan aku sebagai wanita murahan? Aku tidak ada masalah dengan mu. Tapi aku mendengar kau menghina ku tadi malam, saat ribut dengan suami mu!! Kalau kau memiliki masalah dengan suami mu, silahkan selesaikan baik-baik dong! Jangan membawa-bawa orang lain.... karena akan menjadi fitnah di sekitar sini," ucap Nela dengan penuh amarah seakan-akan dia yang terzolimi.
Lyra menautkan kedua alisnya, sedikit tertawa kecil, melihat tingkah wanita yang telah menjadi pilihan Dony untuk berselingkuh.
"Sorry.... bisa ulangi sekali lagi?" tanya Lyra sengaja.
Nela tidak mampu menahan rasa kesal di hatinya, akan melayangkan satu tamparan ke wajah Lyra, namun dapat di tahan oleh wanita cantik yang telah berpakaian rapi tersebut.
Lyra meremas kuat pergelangan tangan Nela, menantang mata wanita yang berpenampilan seperti badut dihadapan nya, "Jangan pernah menyentuh ku wanita murahan. Kalau kau tidak murahan, kenapa menggoda suami ku? Tapi, ambil saja oleh mu.... karena kalian memang pantas di perlakukan seperti sebagai seorang selingkuhan yang tidak akan pernah di nikahi, melainkan hanya di tiduri, kemudian di campakkan begitu saja. Ingat Nyonya, aku akan melaporkan mu karena kau juga seorang istri Panglima."
Lyra tampak terlihat kebingungan, saat melihat mobil Dony terparkir di depan pagar rumahnya.
Dengan sigap Dony dan beberapa warga menghampiri kediaman Lyra, "Ada apa ini? Apa yang kamu lakukan padanya, Lyra!?"
Lyra tampak seperti orang yang bersalah dalam kasus ini, "Dia yang datang ke kediaman ku! Menyerang ku! Kenapa sepertinya aku yang telah menyakiti dia?" ucapnya lantang.
Dony tampak lebih membela Nela dihadapan Lyra dan warga yang berdiri di luar pagar kediamannya.
"Minta maaf dengan Nela, Lyra.... cepat minta maaf....!!" teriak Dony masih merangkul bahu Nela dihadapan Lyra.
__ADS_1
Nafas Lyra terasa terhenti, jika di ikut kan hati, ingin sekali dia meremas kuat wajah wanita yang menggunakan suntik silikon pada puncak hidungnya yang tinggi menjulang. Dadanya yang membusung keluar, seakan-akan tumpah bahkan terlihat sangat menjijikkan karena terlihat tidak sekencang milik Lyra.
Dalam hati Lyra berfikir sejenak, "Aku yakin, mata hati Dony telah terpikat oleh dadanya yang lemes jika penyangga terbuka. Bodoh sekali mantan suamiku. Lebih tergiur dengan wanita ini di bandingkan aku, aaaagh....!!" kesalnya karena perasaan cemburu sebagai istri yang tidak pernah mendapatkan perhatian seperti itu dari Dony.
Dony kembali membentak Lyra, "Cepat minta maaf, atau aku ambil Kesy dan membawanya jauh darimu!" ancamnya.
Mendengar Dony menjadikan Kesy sebagai alat, Lyra kembali menatap jijik kearah Nela yang masih memegang pergelangan tangannya.
"Maaf...!!"
Lyra memilih masuk kedalam mobil, tidak memperdulikan ibu-ibu yang masih berdiri didepan pagar rumahnya. Karena hari ini dia memutuskan untuk tidak kembali ke kediaman itu, tanpa sepengetahuan Dony.
Lyra mengeluarkan mobil dan kembali turun untuk menutup pagar rumahnya, "Silahkan kalian pergi, karena aku akan mengunci kediaman ku," tegasnya.
Dony menautkan kedua alisnya, "Mana kunci rumah! Aku akan mengambil beberapa pakaian ku, Lyra!" teriaknya.
Lyra tetap menutup pagar, tanpa memperdulikan ucapan Dony, dan kembali menguncinya.
"Kau....!!!" geram Dony kembali berteriak.
"Silahkan kalian panjat pagar seperti yang kalian lakukan malam itu. Kalian kan sama seperti maling yang tidak tahu malu. Maling kok teriak maling...!!" ucap Lyra lirih memilih meninggalkan kediamannya.
Sementara Dony berusaha mengejar Lyra, namun tidak bisa dia lakukan karena pagar lebih dulu di kunci oleh mantan istrinya.
__ADS_1
"Lyra.... Lyra.... Lyra....! Wanita brengsek....!!"