Perjaka Untuk Janda

Perjaka Untuk Janda
Status janda


__ADS_3

Lyra menatap tenang kearah Sakul, ingin mendengar langsung apa yang diinginkan oleh pria berusia matang tersebut.


Sakul menghela nafas panjang, "Bagaimana jika kamu menjadi istri kedua saya, Nyonya ....? Saya akan memberikan semua fasilitas diatas Nela, asal Anda mau mengandung anak saya ...!" ucapannya sontak membuat Lyra mendobrak meja karena merasa terhina untuk kesekian kalinya.


Sakul yang awalnya tampak santai sedikit kaget dan semakin penasaran pada wanita yang sudah resmi menyandang status janda muda tersebut.


Lyra menatap tajam kearah Sakul, "Jangan meremehkan saya ....! Walau status janda, saya tidak akan pernah menukar kebahagiaan pribadi untuk menjadi istri kedua. Sopan kalau bicara dengan seorang wanita, Tuan ....!"


Sakul tertawa kecil mendengar suara lantang Lyra yang sangat lucu, "Hei .... Nyonya, jika kamu berharap seorang pria tampan yang akan menjadi pendamping hidup, itu tidak akan pernah terjadi .... karena status mu seorang janda. Daripada menikahi janda lebih baik mereka menikah dengan seorang gadis," tegasnya.


Seketika penghinaan yang terdengar sangat jelas dari arah luar ruang kerja Lyra .... Zul dengan sangat gagah menepis penuturan Sakul yang terdengar menghina calon istrinya.


"Saya yang akan menikahi wanita janda yang tengah duduk dihadapan Anda, Tuan ....!" tegas Zul, mendekati Lyra yang tengah menoleh kearahnya.


"Zul ....!" bisik Lyra pelan tersenyum bahagia.


Bagaimana tidak, harga dirinya sebagai seorang wanita yang sedang di injak-injak oleh seorang pria hidung belang, menjadi lebih tersanjung bahkan lebih mulia dimata pria muda seperti Zul.


Zul memeluk tubuh ramping calon istrinya dihadapan Sakul yang semakin tampak salah tingkah, karena telah berani mengucapkan hal itu pada seorang wanita yang merupakan kepala bagian keuangan saat ini.


Zul menoleh kearah Sakul, "Siapa Anda, Tuan ....? Ada perlu apa Anda kesini ....? Jika Anda kesini untuk menghina seorang wanita, lebih baik tinggalkan ruangan ini, dan jangan pernah datang lagi kesini. Saya tegaskan sekali saja, jangan pernah datang keruangan ini ...!" tegasnya.


Sakul yang menganggap Zul merupakan pria muda yang tidak mengetahui apapun, dia hanya tertawa remeh menatap kearah pria muda tersebut.

__ADS_1


"Jangan ikut campur anak muda ....! Karena kamu tidak tahu apa permasalahan kami. Kamu datang hanya untuk melindungi kekasih mu. Ternyata selera mu daun tua ....! Sayang sekali dengan usiamu, yang seharusnya bisa mendapatkan wanita lebih muda dan masih di segel ....! Hanya mengemis pada seorang janda," tawa Sakul menyeringai seolah-olah Zul tidak pantas untuk menjadi pendamping Lyra.


Zul tersenyum manis, menjentikkan jarinya agar Iqbal masuk kedalam ruangan membawa dua ajudan sekaligus.


"Om .... bereskan dia! Aku akan membawa Lyra ke penjara untuk menjamin mantan suami kekasih ku. Lakukan semua sesuai pembicaraan kita tadi. Uang tunai 500 juta agar istrinya tidak mendekam di penjara," jelas Zul sombong.


Mendengar penuturan Zul, tentu Sakul bergidik ngeri. Bagaimana mungkin dia harus mencairkan uang 500 juta dalam waktu singkat. Hanya untuk menutupi kelakuan bejat istrinya.


Iqbal yang merupakan pengacara handal, yang memiliki jam terbang tinggi, tidak pernah takut dengan pangkat bahkan jabatan seorang Sakul yang menurutnya, hanya seorang pria hidung belang dengan menggunakan pakaian dinas, membuat dia segera melakukan tugasnya sesuai perintah Zul sebelum mereka tiba di kantor Lyra.


Zul menggandeng tangan Lyra, namun sebelum meninggalkan ruangan itu, pria muda tersebut meminta tanda tangan pada Sakul untuk mencabut semua tuntutan yang mereka layangkan pada Dony mantan suami Lyra.


"Dengar Tuan, aku menghargai mu sebagai seorang panglima. Walau sesungguhnya, sikapmu tidak mencerminkan kepribadian seorang panglima. Aku harap, setelah Anda memberikan uang tunai pada pengacara ku, kita tidak akan pernah bertemu lagi. Selamat siang ....!" Zul menarik kertas yang baru ditanda tangani Sakul, dengan wajah angkuh dan dingin.


Pria muda itu melirik kearah Lyra, "Tenang sayang, karena istrinya yang mencelakai putri kesayangan kita, dia harus membayar semua biaya perawatan Kesy, jika tidak ingin istrinya mendekam di hotel prodeo hingga 10 tahun lamanya," ucapnya lirih.


Lyra mendekati Iqbal, sedikit berbisik hanya mengingatkan untuk menutup ruangannya, karena tidak ingin terdengar oleh rekan kerjanya.


Iqbal mengangguk mengerti, dia menuruti semua perintah Lyra yang berlalu meninggalkan ruangannya bersama Zul.


Lyra yang sedikit merasa tidak nyaman, karena diruangan nya ada pihak ketiga tanpa dirinya, menitip pesan pada Lela. Bagaimanapun, dia hanya sebagai pekerja dengan alasan ingin menjemput Kesy kesekolah.


Lela mengangguk mengerti, bersedia membantu sahabatnya selagi dia mampu.

__ADS_1


Sementara diruangan itu masih duduk Iqbal dan Sakul, didampingi dua orang ajudan untuk menjadi saksi percakapan mereka berdua.


Perdebatan panjang, penolakan Sakul terdengar sangat jelas karena merupakan satu pemerasan baginya.


Namun, Iqbal menunjukkan semua bukti yang dia miliki pada Sakul. Jika dibawa kejalur hukum, maka Nela akan mendekam seumur hidupnya dipenjara.


Sakul terdiam, wajahnya tampak merah padam, mau menolak tidak mungkin. Jika dilanjutkan atas tuntutan dan diselesaikan secara kekeluargaan, tentu akan memberatkan baginya selaku seorang suami.


Sakul membenamkan tubuhnya di sofa ruangan Lyra yang terasa sejuk, namun panas ditubuhnya. Memijat pelipisnya sesekali melirik kearah Iqbal yang tengah sibuk membacakan sebuah perjanjian perdamaian untuk kedua belah pihak.


"Apa ada yang akan Anda pertanyakan lagi ....? Sebelum kita melanjutkan untuk mencairkan dananya," tegas Iqbal menyodorkan perjanjian mereka, dan pulpen bertinta hitam.


Sakul mengusap wajahnya berkali-kali, keringat dinginnya keluar, membayangkan bagaimana asetnya di masa mendatang karena kecerobohan seorang Nela. Istri yang tidak pernah bersyukur dan selalu bersikap kasar padanya.


"Hmm .... Apakah tidak bisa aku membayar dengan cara mencicil ....? Karena Anda tahu sendiri bagaimana seorang angkatan. Saya tahu, ini merupakan satu kesalahan fatal dan berdampak pada karir saya. Tapi beri saya waktu untuk segera mencarikan sisanya. Karena tabungan saya tidak sampai angka segitu," mohon Sakul pada Iqbal dan kedua ajudannya.


Tentu ini satu kemenangan bagi Iqbal, namun enggan untuk bernegosiasi, "Maaf Tuan, saya sedang tidak berjualan apalagi ini mengenai keselamatan jiwa seorang anak perempuan yang merupakan putri sahabat saya sendiri."


Sakul terdiam, menatap langit-langit ruangan, berfikir keras untuk menghindari pembayaran tersebut.


Jika waktu bisa diputar kembali, tentu dia tidak ingin menghabiskan dana pribadinya hanya untuk membebaskan Nela. Namun apalah daya, dia lebih memilih menyelamatkan nama baik keluarganya, demi karir yang tengah meroket.


"Baik .... kita ke Bank sekarang ....! Tapi saya akan mengirimkan uang ini langsung ke rekening Bu Lyra. Bukan kerekening pemuda yang tidak jelas itu," tegas Sakul memberi perintah agar segera meninggalkan kantor wanita cantik tersebut.

__ADS_1


"Siap ....!" jawab Iqbal tersenyum sumringah menunjukkan kemenangan.


Namun Sakul terus menggerutu, "Aku akan merebut wanita itu."


__ADS_2