
Sebuah tindakan medis masih di lakukan atas diri Lyra. Riwayat yang dia milik, ternyata tidak semudah pemikiran Ahmad selaku dokter spesialis terbaik. Pendarahan dengan kulit yang semakin memerah masih terus terjadi.
Tubuh Lyra benar-benar dingin bak mayat hidup, tanpa berdarah.
"Berapa hb nya?" tanya Ahmad pada suster tengah mengambil sampel darah yang telah mencair tanpa ada darah kental yang mensupport di dalam tubuh menantunya.
"Mendekati tiga, Dok!"
"Siapkan sebelas kantong darah, dan beri dia suntikan untuk menghentikan pendarahannya. Selesai ini kita lakukan tindakan. Sepertinya rahim Lyra terinfeksi ..." jelas Ahmad pelan.
Mendengar penuturan Ahmad, asisten suster yang selalu menemani dokter spesialis terbaik itu terdiam. Ini merupakan petaka bagi keluarga Ahmad, karena jika terinfeksi dan rahim di angkat, itu akan menjadi penyakit dalam rumah tangga Zul dan Lyra karena tidak bisa mendapatkan keturunan lagi.
Lyra yang masih dalam tahap pengaruh obat-obatan untuk penghilang rasa nyeri di bagian perut, juga, hanya bisa tertidur namun dengan mata yang masih basah karena menangis.
Ahmad menghubungi Zul, meminta putra kesayangannya untuk kembali ke rumah sakit. Karena bagaimanapun Zul harus mengetahui kondisi Lyra.
Bagi Ahmad pertikaian Zul dan Lyra tidak dapat dia mengerti, karena anak menantunya tidak pernah terbuka kepada kedua orang tuanya.
Ahmad sengaja tidak memberitahu pada Eni sang istri, karena dia tidak ingin istrinya kembali bersedih, melihat kondisi putra kesayangannya akan sama dengan nasib rumah tangga mereka.
Walau pada konteks yang berbeda. Namun Eni dan Ahmad sudah memiliki Zulmaeta putra mereka satu-satunya sebagai pewaris kekayaan keluarga tersebut.
Zul yang merupakan anak baik, dia pria yang tidak suka drama ataupun terlalu banyak basa-basi, memarkirkan mobil di halaman depan rumah sakit, agar tidak di ketahui oleh Kesy.
Bergegas Zul menaiki anak tangga, sebelumnya meminta pada security agar memindahkan kendaraannya ke parkiran samping gedung, agar tidak menghalangi keluar masuk pengunjung.
Kini Zul sudah berada di ruangan Ahmad yang masih menikmati sepotong kue dan kopi susu kaleng seperti biasa di sediakan oleh pihak rumah sakit untuknya.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan Lyra, Pa?" tanya Zul saat memasuki ruangan Ahmad tanpa menggedor pintu lebih dulu.
Ahmad tersenyum tipis, menjelaskan sekaligus bertanya, "Saat ini Lyra masih dalam pengaruh obat-obatan. Sebelum Papa menjelaskan, bisa ceritakan apa permasalahan kalian? Ada apa, Zul?"
Zul menghempas kan tubuhnya di sofa. Dia menatap lekat langit-langit ruangan yang bernuansa biru langit tersebut.
"Ternyata menikah itu tidak mudah! Aku seperti orang bodoh yang tidak di hargai sama sekali oleh seorang wanita. Padahal dia tahu, aku sangat mencintai nya!" sesalnya.
Ahmad hanya menarik nafas panjang, "Rahim Lyra infeksi. Kini tubuhnya melemah, karena dua jam dia mengalami pendarahan hebat. Dan ini berdampak pada kesehatan dan keselamatannya. Papa akan melakukan tindakan, dan kemungkinan besar akan membuang rahim istri kamu. Tapi kita lihat lagi setelah dia menjalani transfusi darah ..." jelasnya pelan.
Zul memejamkan matanya, rasa sakit dan kehancuran untuk memiliki buah hati pupus sudah, "Pa ... Bantu Lyra! Jangan biarkan kami tidak bisa memiliki anak. Aku ingin memiliki anak dari darah ku, Pa ...!"
Ahmad sangat memahami bagaimana kondisi Zul, dia juga sebagai dokter, harus memahami kondisi menantu.
"Papa minta, rahasiakan semua ini dari Lyra dan Mama. Jangan sampai Mama mengetahui kondisi Lyra, karena Mama sangat mengharapkan anak dari kamu, Zul!" jelas Ahmad.
BHUUUUG ...!
BHUUUUG ...!
Zul memukul-mukul sofa yang ada di ruangan Ahmad.
"Aku besok berangkat ke Berlin membawa Kesy. Untuk sementara waktu, urusan Lyra aku serahkan pada Papa. Keselamatan Kesy paling utama bagiku, dari pada wanita yang tidak memiliki perasaan seperti Lyra!" tegasnya.
Ahmad yang mendengar keputusan Zul, sedikit kaget, "Jangan lakukan ini Zul! Bagaimana pun semua sudah terjadi dan tak bisa di putar lagi. Jangan lakukan itu pada Lyra. Dia wanita baik, hanya saja dia punya alasan tersendiri mungkin! Kamu belum mendengar alasan dari Lyra, kan?"
Zul tertawa kecil, "Alasan apa lagi, Pa! Dia wanita yang keras kepala! Saat ini, aku benar-benar muak dengan sikapnya. Egois, mau menang sendiri, terlalu banyak rahasia, benar saja mantan suaminya menceraikan nya! Ternyata dia egois tidak pernah memikirkan perasaan orang lain! Dia benar-benar egois, Pa!"
__ADS_1
"Zul! Jaga ucapan mu! Papa akan berusaha untuk mengangkat yang terinfeksi saja! Agar kalian bisa memiliki keturunan. Tapi butuh waktu untuk kalian bisa memiliki anak! Jangan bertindak ceroboh, Zul!" tegasnya.
Zul semakin mempertahankan egonya sendiri, "Zul ceroboh? Bagaimana dengan Lyra? Bagaimana dengan perasaan Zul! Sama sekali dia tidak memikirkan perasaan Zul sebagai suami yang selalu menjaganya, melindunginya! Kalau Zul bilang, Lyra itu wanita jahat yang tega membunuh darah dagingnya sendiri! Kita saja dokter, berpikir bagaimana memberi obat kepada pasien! Dia justru secara sadar, memalsukan tanda tangan, serta mencuri obat di apotik! Picik istri seperti itu, Pa! Picik!!"
Zul menutup wajahnya, dia menangis, setelah memuntahkan semua uneg-uneg yang ada di kepalanya. Dalam hati, dia sangat mencintai Lyra, tapi dengan kejadian ini, dia sendiri yang bertanya, apakah ini cinta? Atau sebuah dendam masa lalu yang tidak terbalas kan?
Ahmad menepuk pundak Zul, "Pulanglah, Kesy menunggu mu di rumah. Jika kamu tetap ingin berangkat besok, Papa tidak melarang. Tapi ada baiknya kamu membawa Lyra bersama, dan mengeluarkan semua isi kepala mu di sana, agar dia tidak tahu kemana harus pergi! Semua ada hikmahnya Zul. Jika kalian tidak bisa memiliki anak, kamu bisa mengangkat derajat anak orang lain. Tapi Papa akan melakukan apapun hari ini demi kamu, Nak! Tenanglah ... Temani Kesy. Karena dia tadi tertidur! Takutnya dia mencari kamu atau Lyra."
Zul mengangguk, dia mengusap wajah tampannya yang terlihat sangat letih, pikirannya hanya berkutat pada Lyra, Lyra dan Lyra.
Harapan, kebencian, kesedihan, kecewa bercampur aduk jadi satu, bahkan sangat menyakitkan hati dan perasaan Zul saat ini sebagai suami yang tidak pernah di hargai.
Cinta yang tumbuh dan berkembang atas dasar perasaan sayang, kini terkikis hanya karena satu kesalahan dan dendam. Dendam Lyra yang tak berkesudahan, hingga berdampak pada psikologis orang-orang tersayang Zul seperti Kesy ...
Zul menghabiskan waktu di dalam kamar sang Mama, dia memeluk tubuh yang tak muda itu dengan penuh kerinduan.
"Ma, mungkin Zul besok akan ke Berlin bersama Kesy juga Adi ..." ungkapnya pelan.
Eni mengusap lembut punggung putranya, yang tengah berbaring setelah mendengar cerita dari Ahmad melalui sambungan telepon rumah yang tertuju di kamarnya, bukan mengenai kondisi Lyra yang kehilangan janinnya, melainkan permasalahan lain agar Eni tidak merasakan kesedihan seperti yang di rasakannya.
"Kok? Kenapa tidak menunggu Lyra? Jangan begitu Zul ... Maafkan Lyra, dia hanya khilaf ..."
"Sepertinya menghindar lebih baik, dari pada harus berdebat, Ma!"
Eni memperbaiki posisi duduknya, "Jika permasalahan rumah tangga hanya di hindari, tidak di selesaikan walau dengan berdebat, mungkin sudah banyak perpisahan, perselingkuhan. Ingat, menikah itu hanya sekali Zul. Sabar!
Zul menggeleng, "Kali ini Zul tidak bisa sabar, Ma! Lyra sudah keterlaluan dan terlalu menyakitkan bagi Zul! Kesy yang bermasalah, anak Zul yang jadi korban! Apa itu yang harus Zul terima?"
__ADS_1
Percakapan antara Zul dan Eni, terdengar sangat jelas, sehingga telinga seseorang mendengar dari balik pintu kamar Oma Eni yang sedikit terbuka.