Perjaka Untuk Janda

Perjaka Untuk Janda
Berlin


__ADS_3

Sepanjang perjalanan Zul hanya di sibukkan dengan beberapa pekerjaannya, dan melihat istrinya terlelap dengan nyenyak. Mereka yang duduk di kelas bisnis, untuk membuat istrinya terasa nyaman menikmati perjalanan lebih kurang 16 jam.


Zul mengusap lembut kepala Kesy yang duduk di sebelah kanannya, sementara Lyra berada di sisi kirinya.


Kanza yang duduk di belakang mereka, memilih berdiri dari tempat duduknya, menghampiri sang dosen agar bisa menghabiskan malam bersama.


Zul yang merasa dirinya belum merasa mengantuk, memilih mengikuti gadis muda itu, untuk dapat berbincang-bincang seputar mata kuliah gadis muda tersebut. Mereka bercerita selayaknya teman biasa.


Namun saat Lyra terjaga, tidak mendapatkan sang suami ada di sebelahnya, sedikit kebingungan mencari keberadaan Zul.


"Hun ..." panggilnya dengan suara serak.


Akan tetapi dia merasa sedikit tidak nyaman, karena melihat gadis yang duduk di belakang mereka, juga tidak ada di tempatnya.


Sontak membuat Lyra tampak khawatir dan merasa cemburu. Bagaimana mungkin pria yang sangat dia cintai itu pergi tanpa berkata apa-apa padanya.


Lyra berjalan kearah belakang, mencari keberadaan Zul. Pemandangan gelap, karena pencahayaan yang gelap, membuat wanita dewasa itu melihat gerakan Kanza yang tengah mendekati wajah suaminya, dengan posisi tampak seperti tengah berciuman.


"Hun!" panggil Lyra dilanda amarah.


Suara Lyra sedikit mengejutkan Zul, namun tidak untuk Kanza yang sangat agresif pada suaminya.


"Ya sayang, sini duduk ... Bergabung dengan kami ..." tepuk Zul pada kursi yang kosong.


Namun Lyra yang tampak tidak suka dengan kehadiran gadis itu sejak awal, mendengus kesal, "Aku mencari mu! Ternyata kamu di sini, hun! Aku di sana saja. Takut kalau-kalau Kesy bangun dari tidurnya!"


Lyra berbalik menuju tempat duduknya, meminta pada pramugari agar memberinya beberapa cemilan makan malam, karena merasa lapar sejak bangun tidur dan melihat adegan Zul bersama wanita aneh itu.

__ADS_1


Lyra kembali menengok kebelakang, melihat Zul mendekatinya dan duduk di tempat semula.


"Apakah seperti itu dosen dan mahasiswi? Hun, kamu seharusnya menjaga jarak dengan wanita lain! Aku cemburu, hun ..." akunya kesal.


Zul mengusap lembut punggung istrinya, dia sangat memahami Lyra. Namun sama sekali dia tidak ingin di anggap tengah bermesraan.


"Kami hanya ngobrol biasa. Karena dia sedang ada riset dan aku hanya membantunya. Please Lyra ... Cemburu boleh, tapi jangan cemburu buta. Yang tadi kamu lihat itu tidak seperti yang ada di bayangan kamu. Aku masih baik-baik saja ..."


Lyra mengangguk pasrah. Dia tidak ingin menekan Zul saat ini, rasa takut kehilangan semakin besar karena dia merasa tidak nyaman saat gadis itu berani mengusap lembut lengan suaminya.


Zul yang masih muda, energik dan tampan, membuat wanita muda ingin mengenalnya lebih dekat.


Lyra berpindah ke posisi agar dapat berdekatan dengan Zul, kali ini di ingin mendapatkan pelukan hangat dari pria yang selalu sabar menghadapinya selaku wanita yang sangat egois.


"Hun ..." peluknya sambil menatap mata indah suaminya.


Zul melirik kearah istrinya yang sudah meringkuk di dadanya, "Hmm, kenapa lagi?"


Zul menutup kedua matanya, menghela nafas panjang, "Jika aku boleh jujur, ingin sekali aku mencampakkan wanita seperti mu Lyra! Mencari wanita lebih baik di luar sana! Jujur saja aku masih kecewa sama kamu. Ego mu, keras kepalamu, membuat aku merasa lelah! Aku rasa kita terlalu cepat menikah dan kita tidak mengenal satu sama lain."


Mendengar itu wajah Lyra berubah merah padam, hatinya seperti teriris tipis oleh ucapan suami yang akan mencampakkan nya.


"Apakah tidak ada kata maaf di hati kamu untuk aku? Aku memikirkan Kesy, hun!" sesalnya.


Zul tersenyum, menggeser kan sedikit tubuhnya agar mereka lebih leluasa untuk berbicara, "Begini Lyra, aku tahu kamu khawatir dengan Kesy. Kamu pikir, aku tidak khawatir dengan anak kamu? Kamu bisa lihat pengorbanan aku selama ini padamu! Aku mengorbankan segalanya untuk mu, waktuku dari Berlin ke Indo hanya untuk kalian? Hanya untuk menikah dengan mu! Menjemput mu! Sehingga kita bisa hidup bersama di Berlin. Tapi apa yang kamu lakukan pada ku? Kamu membunuh anak kita, anak kita Lyra. Asal kamu minta maaf, hati ku masih terasa sakit! Sakit sekali! Aku manusia biasa, bukan malaikat! Jika aku terus mengalah, memahami mu, bahkan kamu seenaknya pada ku seperti beberapa waktu lalu! Jangan salahkan aku jatuh hati pada wanita lain, atau menjalin hubungan terlarang dengan gadis manapun. Aku tidak peduli dengan mu ataupun juga anak mu! Berubah lah Lyra, demi aku! Demi Kesy dan juga anak kita kelak. Jangan ikutkan hati marah mu yang meledak-ledak, karena aku juga bisa melakukan hal itu!" tegasnya panjang lebar.


Kedua bola mata Lyra seketika berembun, mendengar penuturan Zul yang sangat mengancam dirinya, "Bagaimana mungkin aku akan diam, Zul! Sementara aku benar-benar cemburu melihatmu begitu mesra dengan gadis itu. Aku tahu aku salah, please aku akan berubah demi kamu juga Kesy," kecupnya kecil pada leher pria yang ada dalam dekapannya.

__ADS_1


Zul hanya mengusap lembut kepala Lyra, mengecup kening istrinya dengan penuh perasaan sayang.   


.


Berlin, keindahan kota besar yang menjadi pusat perhatian dunia selama ini adalah tembok Berlin. Tembok pembatas antara Jerman Timur dan Jerman Barat di negara panser tersebut.


Lyra menduduki jabatan dibagian keuangan sebuah instansi perwakilan yang duduk di kedutaan Indonesia.


Sudah lebih dari dua tahun mereka menetap di sana, tentu dengan polemik dan drama Kesy yang semakin menjadi-jadi semenjak menginjak usianya 10 tahun.


Gadis kecil yang masih duduk di primary school salah satu sekolah khusus untuk pendatang bagi orang tua yang bertugas di sana. Tentu dengan tinjauan Zul, dalam mengembalikan psikologis Kesy untuk kembali seperti semula.


Pagi yang sejuk, seperti biasa cuaca minus lima, membuat Lyra masih enggan membuka mata karena pertempuran dahsyatnya tadi malam dengan suami tercinta.


Akhir-akhir ini, pertemuan keduanya lebih sering di luar karena kesibukan pekerjaan mereka masing-masing.


Zul mengecup punggung telanjang Lyra, "Sayang, bangunlah! Apakah kamu mengambil cuti hari ini?"


Lyra membuka matanya perlahan, menoleh kearah jam dinding yang ada di kamar apartemen mereka, kembali merangkul Zul.


"Hmm, hari ini aku berangkat pukul 11.00, karena ada rapat di kedutaan. Mungkin pulangnya agak sore, lebih kurang jam 19.00. nanti kamu jemput Kesy ke sekolah yah, hun ..." ucapnya lembut ingin melanjutkan tidurnya.


Zul masih membelai punggung istrinya. Kali ini dia sangat bahagia melihat perubahan Lyra yang sudah mau lebih terbuka pada nya.


Pengertian yang dia berikan sangat menyenangkan, setelah mendapatkan wejangan dari Dokter Teddy Zurk, yang merupakan sahabat Ahmad Maeta.


"Hun, kok aku ngerasa enggak enak badan yah? Hmm, sedikit mual dan bumi terasa berputar-putar ..." rengeknya masih mendekap tubuh suaminya yang masih sibuk membalas pesan dari beberapa rekan kerjanya.

__ADS_1


Zul mengingat, kapan terakhir istrinya periode. Tapi dia tidak mau berharap ...


"Hmm, kamu masuk angin kali sayang ..." kecupnya.


__ADS_2