
Lyra menanti kehadiran Zul, yang berjanji akan menjemputnya di kantor. Seperti biasa, karena Kesy sudah di nyatakan pulih. Lyra memberikan ruang pada putri kecilnya untuk melanjutkan pendidikannya di sekolah seperti layaknya anak seusia Kesy.
Beberapa kali Lyra menitipkan Kesy, pada pihak sekolah agar tidak seorangpun yang bisa menjemput selain dirinya.
Lyra masih berada diruang kerjanya, menikmati sarapan yang telah dipersiapkan Lince, sembari menunggu Zul. Kali ini, Lyra hanya ingin menjalin hubungan yang baik, sebelum membicarakan tentang pernikahan.
Suara ketukan pintu perlahan terdengar dari arah luar, Lyra hanya menjawab dengan suara tegas, karena berfikir itu adalah office boy yang akan membawakan makanan dan minuman seperti biasanya, "Masuk....!"
Mata Lyra menoleh kearah pintu yang terbuka, melihat sosok gadis muda yang sudah berdiri dengan angkuhnya didepan pintu.
Lyra yang tidak mengenal wanita itu, menautkan kedua alisnya, kemudian bertanya seperti biasa, "Ada yang bisa saya bantu, Nona? Jika Anda ingin melakukan pembayaran atau apapun, silahkan di bagian depan. Karena kami tidak menerima pembayaran apapun disini," tegasnya.
Wanita itu tak menghiraukan, dia memilih masuk ke ruangan tanpa menutup pintu ruangan Lyra dengan rapat. Memilih duduk disofa, menyilang kan kaki jenjangnya, menatap sinis kearah Lyra dan melihat-lihat seisi ruang kerja wanita dewasa itu dengan sangat angkuh.
"Hmm, ternyata hanya seorang keuangan? Bisa-bisanya kamu merebut hati seorang, Zul! Sudah berapa kali kamu tidur dengannya? Setahu aku selera Zul tidak serendah ini....!?" ucapnya lantang dan sangat menyebalkan pendengaran Lyra.
Lyra menautkan kedua alisnya, menatap penuh selidik, "Kamu siapa, Nona? Jika kamu tidak ada urusan masalah pekerjaan, silahkan pergi. Karena ini kantor.....! Jika kamu ingin membahas masalah Zul, kita bisa bicara di luar," tegasnya.
Gadis itu tersenyum tipis, menyunggingkan senyumannya, menatap wajah Lyra, "Aku Luna, wanita yang akan dinikahi Zul. Jangan ngimpi.... kamu akan menjadi wanita sempurna menikahi seorang perjaka kaya. Apalagi kamu itu janda...! Jadi saya sarankan, kamu cari duda tua atau kembali saja dengan mantan suamimu....! Toh, kalian sama-sama miskin....!!"
Lyra menghela nafas panjang, menggelengkan kepala, memijat pelan pelipis, menyandarkan tubuhnya di kursi kebanggaannya, "Ooogh, ya-ya-ya.... Zul sudah menceritakan tentang kamu pada saya. Lebih baik kamu introspeksi diri, jika ada urusan mu yang belum selesai dengan Zul.... silahkan bertemu dan bicarakan baik-baik."
__ADS_1
Lyra berbicara selayaknya wanita dewasa, namun tidak untuk Luna, gadis cantik itu justru menatap wanita yang terpaut jauh darinya itu dengan perkataan yang sangat menghina.
"Hmm.... sepertinya Zul lebih menyukai janda seperti mu yang memiliki masa lalu bersama beberapa pria. Aku yakin Zul akan mengetahui siapa selingkuhan mu selama proses perceraian!" ucap Luna mengarang cerita.
Lyra mendengus kesal, "Oogh.... apakah Anda sengaja mengikuti langkah saya, Nona?" Dia berlalu menuju pintu ruangan, "Silahkan tinggalkan ruangan saya, sebelum security mengangkat Anda secara paksa! Urusan saya sangat banyak, bahkan tidak ingin mengurus urusan sampah seperti ini...!"
Luna menatap lekat kearah Lyra, dia melihat dengan tatapan benci bahkan jijik.
Namun, saat Luna akan mendekati Lyra yang sudah berdiri disamping pintu. Ke-duanya di kejutkan dengan kehadiran Zul, sontak gadis itu bersandiwara seolah-olah Lyra telah menyakiti dengan menghinanya.
"Zul....!!" tangis kepura-puraan Luna memeluk tubuh Zul yang ada dihadapan mereka berdua. "Wanita ini telah menghina ku, Zul. Janda ini mengatakan bahwa aku tidak pantas dengan mu!"
Zul melepas pelukan Luna dari tubuhnya, mendorong gadis itu dengan sangat kasar agar segera meninggalkan ruangan Lyra calon istrinya, "Apa-apaan kamu? Jika Lyra menghina mu, itu lebih baik daripada kamu terus menerus menjalin hubungan dengan suami orang....! Dengar Luna, Lyra calon istriku, tidak ada seorangpun yang bisa menghalangi aku untuk menikah dengannya. Termasuk kamu!" tunjuknya kasar.
Mendengar penuturan Zul semakin semena-mena padanya, Luna menatap nanar pada Lyra, "Kamu tidak tahu saja dia bagaimana...! Dia bahkan telah tidur dengan hakim ketua pengadilan agama, untuk mendapatkan keuntungan dari proses perceraiannya. Kamu cari tahu saja Bara.... Bara Adriansyah...!!"
Tentu saja Lyra tidak terima atas semua fitnah yang di ucapkan gadis itu padanya, "Ooogh.... apakah kamu mengenal Bara? Dia adalah orang terbodoh yang pernah aku kenal, sekarang juga silahkan tinggalkan ruangan ku, wanita laknat....! Aku tidak mengenal mu, bahkan tidak ingin mengenal mu....!!"
"Security..... security....!!" teriak Lyra sehingga membuat kantor semakin riuh pagi itu.
Zul hanya melihat Lyra dibantu security untuk mengusir Luna dari hadapan mereka, dengan senyum bahagia menyeringai lebar, melihat Luna di tarik paksa oleh security, ditambah Lela membantu untuk mengusir gadis yang terus berteriak seperti orang stress bahkan tampak frustasi.
__ADS_1
Lyra menggigit bibir bawahnya, tampak salah tingkah saat mereka saling menatap, "See.... siapa yang gila? Apa yang dia lakukan untuk merebut kamu kembali? Sehingga dia tampak seperti wanita bodoh yang tidak berpendidikan."
Zul tertawa memeluk tubuh Lyra, "Dengar, apapun yang dia rencanakan saat ini, aku sudah yakin dia pasti melakukannya, sehingga membuat kamu tidak nyaman. Percayalah, semua ini akan berakhir dengan kita menikah Lyra," kecupnya pada puncak kepala wanita dewasa yang mampu membius mata hatinya.
"Kita jalan sekarang? Kebetulan di mobil ada Om Iqbal! Sorry aku terlambat, karena menjemput Om ke bandara," Zul berucap lembut, menatap wajah cantik Lyra.
Lyra mengangguk, dia mengambil tasnya, untuk menghadiri sidang perceraiannya. Tentu ini merupakan hari terberatnya, untuk menyandang status janda.
"Semoga saja, setelah aku menanda tangani semua berkas beberapa waktu lalu, akan menjadi keputusan final bagi ku! Agar dapat bernafas lega, dan melanjutkan hidupku sebagai seorang wanita single parents," batinnya sebelum menerima tangan Zul yang sudah sejak tadi menanti tangannya.
Lyra tersenyum tipis, menyambut tangan Zul, berlalu meninggalkan ruangan, dan beberapa rekan kerjanya yang masih berbisik-bisik melihat kearah pasangan perjaka dan janda tersebut.
Lela mengacungkan jempol, saat sahabatnya melewati ruangan menoleh dengan kedipan mata genitnya Lyra.
Saat tiba di loby kantor, Iqbal yang merupakan sahabatnya muncul turun dari mobil milik Zul, "Lyra....!?"
Lyra yang tidak menyangka akan dipertemukan dengan situasi seperti ini, juga semakin kaget, "Iqbal....? Zul, kamu kenal dengan temanku? Dia ini pengacara beberapa perusahaan disini. Apakah dia termasuk pengacara keluarga kalian?" tanyanya penuh selidik karena tidak menyangka akan dipertemukan dengan situasi seperti ini.
Zul mengangguk, "Ya.... Om Iqbal pengacara Papa untuk mengatasi kebun sawit dan PKS yang ada. Beberapa lahan, dan untuk sekarang Mama yang meminta Om Iqbal mengurus perceraian kamu sampai selesai. Mudah-mudahan ini keputusan akhir, dan kita bisa melangkah untuk masa depan Kesy.
Lyra terdiam, "Bagaimana dengan Aryo? Apakah dia akan tersinggung? Tapi kenapa dia sepertinya ingin membantu Dony? Bukan aku?"
__ADS_1