
Dua insan yang tengah menikmati keindahan malam dengan nuansa berbeda. Kali ini Zul baru selesai membersihkan diri, melihat wajah Lyra istrinya yang cantik dan menggemaskan di balut lingerie berwarna merah muda yang di ambil Zul kala itu di kantor Lela.
Lyra menatap kearah luar jendela menikmati keindahan cahaya malam, belum menyadari sang suami tercinta berada di belakangnya.
"Hei ..."
Zul memeluk tubuh Lyra yang masih terlihat ramping dari belakang, tanpa menggunakan penyangga, hanya underwear untuk menutup lembah surga milik istrinya.
"Hmm ..."
Zul yang tidak menggunakan baju kaos, dengan lilitan handuk masih berada di pinggangnya.
Lyra menyambut tangan suami tercinta yang mendekap mesra tubuhnya, tengah menciumi leher indah yang beraroma khas parfum wanita yang sensual.
"Jadi ini yang kamu beli sama sahabat kamu, sayang?"
Lyra membalikkan tubuhnya, mendekap tubuh tegap suami tercinta. Menciumi aroma maskulin dan mint yang sangat khas dengan manja.
Jantung Zul berdegup kencang, bahkan nafas serasa berada tepat di puncak kepalanya.
"Iya ... Aku suka kamar ini, hun ... Kita di sini dulu yah?" pinta Lyra lembut.
Zul hanya mendehem, jakun turun naik membuat dia terlihat gugup seperti akan melakukan hal itu untuk pertama kali.
Zul masih mengusap lembut bahu Lyra yang terbuka lebar, sesekali menyelusup kedalam menyentuh bagian kenyal yang sudah berapa hari tidak tersentuh.
"Bagaimana kondisi badan kamu, sayang? Setelah mengkonsumsi vitamin yang di berikan, Papa?"
Lyra menjawab manja pertanyaan Zul yang masih mendekapnya, "Hmm ... Kan sudah enakan ... Kalau enggak mana mau aku ngajakin kamu untuk berkencan di sini sampai cuti berakhir ..."
Zul tertawa kecil untuk menghilangkan rasa gugupnya, yang sangat berbeda kali ini. Debaran jantungnya semakin kencang, begitu juga Lyra.
'Apa yang terjadi ...? Kenapa kali ini rasanya berbeda?' kedua-nya memiliki pemikiran yang sama.
Lyra mendongakkan kepalanya, agar Zul mengecup lembut bibir yang mungil tanpa polesan, namun masih terlihat berwarna kemerahan.
Tanpa menunggu lama, Zul mencium bibir yang menjadi candunya selama ini, mellumat dalam dengan menopang tengkuk belakang sang istri dengan lembut dan penuh perasaan bahagia.
Zul melepaskan ciumannya, setelah melihat Lyra sulit untuk bernafas, mengeluarkan sedikit dessahan.
"I love you, sayang ..."
"I love you too, hun ..."
Zul menggendong tubuh ramping Lyra ala bridal, kembali mellumat bibir ranum untuk segera ke sofa yang tidak begitu jauh dari ranjang peraduan mereka. Mawar merah yang menghiasi kamar itu, seketika memberi kesan akan menjadi malam panjang bagi kedua insan yang saling mendessah.
"Hmmfh ..."
Lyra masih enggan melepas tangannya dari leher kekar sang suami, sesekali mengusap lembut wajah tampan itu dengan telapak halusnya.
__ADS_1
"Aaaagh ..."
Dessahan kembali keluar dari bibir Lyra saat Zul menyentuh bagian kenyal miliknya, yang terasa semakin kencang dan lebih besar dari biasa.
Entah kenapa, saat ini gairah Lyra semakin meningkat setelah mengetahui kehamilannya. Hasrat yang semakin meningkat membuat dia enggan menyelesaikan dalam waktu yang sebentar.
"Hmm sayang, kalau kamu merasa tidak nyaman kasih tahu aku, yah? Aku tidak ingin terjadi sesuatu pada bayi kita ..."
Lyra mengangguk, wajah cantiknya seketika memerah karena merasa di perhatikan oleh Zul saat akan mereguk indahnya surga.
"Hunhh ..."
"Hmm ..."
"Aku pengen lama ..."
"Apanya sayang ...?"
"Hunhh ... Hmmfh ..."
Bibir kedua insan itu saling mendecaap, mellumat tanpa mau melepas.
Tangan Zul kembali bermain-main di puncak kenyal yang sangat menggemaskan, dan terlihat kencang.
Sekali lagi Zul kembali menatap istrinya yang sangat bergairah, hingga tak kuasa menahan hasrat yang semakin terlihat di raut wajah yang memerah.
"Hunhh ... Jangan bercanda lagi ... Do it honeyhh ..."
"Now ..."
"Hunhh ..."
Lyra mendorong dada Zul, karena tak kuasa menahan rasa yang semakin lama, semakin membuat berkerut di bawah sana.
Lyra menyandarkan tubuh suaminya di sofa dengan posisi duduk. Wanita yang tengah dilanda hasrat liar itu, seketika naik keatas pangkuan Zul. Pria yang sangat menyukai jika istrinya lebih agresif itu terlihat tersenyum sumringah, menatap wajah dan bagian kenyal yang masih tertutup benang tipis menyapa Zul agar segera mellumat puncak yang masih bersembunyi.
"Hmmfh ..."
Kepala Lyra mendongak keatas, saat Zul merremas, sambil membuka perlahan lingerie yang istrinya kenakan.
"Aaaaagh ... Hunhh ..."
Lyra menggesekkan pelan bagian bawah yang masih terhalang oleh pemisah itu sedikit menekan agar Zul semakin mengeksplorasi kan wajahnya pada tubuh yang menggeliat di atas pangkuannya.
"Oooogh sayang ... Kamu benar-benar membuat aku menggila ..."
Zul mengangkat tubuh itu untuk melanjutkannya di ranjang, dengan posisi meletakkan tubuh indah itu di tepian ranjang, membuka paha mulus yang terawat itu, setelah melepaskan penghalang disana.
Tanpa menunggu lama, Zul bermain di bawah sana, agar suara dessahan wanitanya kembali terdengar dan memohon agar segera melakukan penetrasi.
__ADS_1
"Hunhh ..." Lyra kembali melenguh panjang. Dessahan yang seakan tertahan kembali keluar dari geliat tubuh indah itu yang tangan kanan mencengkram erat rambut Zul di bawah sana.
Kepala yang mendongak keatas, menggigit bibir bawahnya, sementara tangan kiri meremas kuat seprei putih yang menjadi saksi percintaan dahsyat mereka.
"AAAGH ... AAAAGH ... HMMFH ..."
Lyra mengerang panjang, matanya tertutup rapat, saat mencapai pelepasan surganya setelah Zul bermain menikmati aroma khas milik Lyra dibawah sana.
Dada Lyra turun naik, matanya berair kembali menatap kearah suami tercinta, kembali melakukan penetrasi yang sempurna agar terbang bersama tanpa ada keraguan dalam hati keduanya.
Zul mengusap-usap laras panjangnya di milik Lyra yang sudah basah karena hasrat saat orral, kini kembali mencari keberadaan surga dunia di lebah yang hangat bahkan menjadi candu bagi pria muda dan tampan itu.
Sekali lagi terdengar rintihan Lyra yang membuat Zul semakin bahagia, saat melihat wajah cantik itu mellenguh pasrah, ketika pinggulnya bergerak liar di bawah sana.
"Hunhh ..."
Lyra meremaas kuat lengan suaminya, dengan tatapan sayu dan memohon agar menghentakkan lebih kencang sehingga dessahan saling bersahutan di kamar hotel yang hanya terdengar suara music romantis, sesuai program yang mereka pilih.
Keringat bercucuran membasahi tubuh dua insan yang masih dilanda gairah malam nuansa pengantin yang haus akan hal itu, tanpa mau mengakhiri lebih cepat karena Lyra terus memohon untuk terus memompa miliknya di bawah sana.
Zul meminta istrinya untuk membalikkan tubuhnya, masih bersandar di tepian ranjang, yang di topang dengan bantal, agar Lyra tetap nyaman saat melanjutkan malam panjang mereka.
Lagi-lagi Lyra mellenguh, saat milik Zul kembali menyelusup masuk dibawah sana, seperti tengah mengguncang seisi dunia surga dengan ritme permainan lambat dan sangat menggairahkan untuk melepaskan sebuah hasrat yang sempurna.
Jemari Zul tak tinggal diam, tangan kanannya bermain di bagian kenyal yang bergoyang, sementara yang kiri memberikan sensasi yang berbeda di bagian kecil yang bersembunyi di bawah sana.
"Oooogh ... Hunhh ... Hmmfh! Ak-ak-aku sam ..."
Erang Lyra saat mencapai puncak kebahagiaannya, untuk kesekian kalinya.
Zul yang mengetahui istrinya sudah mencapai puncak kebahagiaan dari dessahan panjangnya, meminta istrinya agar naik keatas, dengan posisi menelentang.
Zul menciumi kaki jenjang Lyra yang mulus, meletakkan di pundaknya, dan kembali berkunjung di bagian milik istrinya hingga memompa lebih kencang, dengan mengatur tempo ritme permainan untuk terakhir kalinya dalam mencapai pelepasan surganya.
"Oooogh sayang ..."
Errangan panjang Zul keluar dari bibirnya, kembali menggema menghiasi malam indah mereka.
Keringat ke-duanya saling menyapa, dengan nafas yang masih tersengal-sengal membuat Lyra kembali mellumat bibir milik Zul, tanpa mau melepas penyatuan mereka, dengan kedua kaki masih mendekap di pinggang itu dengan sangat kencang.
"Biarin dulu di dalam ... Aku masih mau ..."
"Hmm ..." Zul membalikkan posisi tubuh mereka, agar Lyra dapat lebih santai saat bermain di atasnya.
Lyra kembali memperdalam ciuman mereka. Perlahan tapi pasti, Zul kembali melengkapi hasrat istrinya tanpa ada kata lelah.
Baginya, membahagiakan wanita yang sudah lama berpuasa itu lebih baik dari pada di lihat-lihat saja.
"Kamu ternyata lebih menggairahkan, yah sayang? Aku suka melihat kamu buka puasanya berkali-kali ..."
__ADS_1