
Sudah lebih dari tiga hari Lyra berada dirumah sakit. Hari minggu yang dia harapkan bertemu Kesy, namun kini putri kesayangannya berada di ruang ICU rumah sakit ibu dan anak yang terletak di tengah kota kecil tempat Lyra merintis karirnya.
Sudah lebih dari tiga hari juga Zul tidak memberi kabar pada Lyra, setelah terakhir menghubungi wanita dewasa itu untuk memberi penghiburan melalui panggilan video call.
Lyra duduk di kursi panjang, memijat pelipisnya tanpa mau menjalin komunikasi dengan siapapun termasuk Lela. Rekan kantornya yang tidak mengetahui kondisi Kesy. Dia hanya menunggu kedatangan Lince untuk bergantian menjaga putri kesayangannya, sementara dia kembali ke rumah untuk membersihkan diri menggunakan taksi online seperti biasa.
Dokter Kris menghampiri Lyra, memberitahu kondisi putrinya yang belum siuman dan sudah memberikan suntikan.
"Ibu tenang saja yah....! Semoga Kesy segera pulih, dia mengalami tekanan dan ini sangat serius. Saya yakin, Kesy anak yang kuat.... sama seperti Mama nya." Senyum Dokter Kris menenangkan Lyra.
Lyra mengangguk, hanya mengusap wajahnya berkali-kali, menatap ke langit-langit rumah sakit memohon pada Tuhan untuk kesembuhan putri kesayangannya.
Lyra menoleh kearah security yang datang mendekatinya, sedikit menunduk kemudian berbisik, "Bu, ada tamu ingin bertemu dengan Ibu di kamar VVIP."
Lyra menautkan kedua alisnya, menatap kearah security tampak kebingungan, "Siapa Pak? Kamar VVIP yang saya pesan belum saya tempati, karena anak saya masih belum sadar. Tadi malam saya juga tidur disini!" jawabnya bingung.
Security yang bernama Tanto tersebut, hanya memberi ruang pada Lyra agar segera mengikuti langkahnya.
Lyra mengikuti semua perintah Tanto, dia mengikuti langkah security menuju kamar yang dia terima saat suster memberikan card sebagai kunci kamar atas perintah Zul, yang tidak jauh dari ruang ICU tempat Kesy di rawat selama tiga hari.
Saat melewati ruang koridor, Lyra menautkan kedua alisnya, tampak bingung karena semua suster tersenyum kearahnya menyiratkan rona bahagia dan ramah. Dia menggelengkan kepala, membuang pandangannya kearah lain, melihat beberapa suster mengacungkan jempol pada wanita dewasa tersebut.
Lyra menghela nafas panjang, membiarkan security membukakan kamar untuknya.
Saat pintu kamar terbuka lebar, terlihat balon-balon berwarna pink dan merah berterbangan di langit-langit kamar, terlihat sebuah ruangan yang indah bahkan sangat mengejutkan bagi Lyra.
Bagaimana mungkin, Lyra masih tampak khawatir dengan kondisi Kesy, dikejutkan dengan hal-hal romantis seperti di drama Korea.
Lyra menutup bibir yang ternganga dengan kedua telapak tangannya, melihat sosok pemuda tampan yang sangat mengejutkan berdiri tegap menggunakan jas berwarna abu-abu, dibalut baju kaos putih dan celana jeans. Berdiri tegak menatap Lyra dengan tatapan penuh harapan.
__ADS_1
Wajah yang selama beberapa bulan ini Lyra lihat lewat panggilan telepon, bahkan baru akhir-akhir ini mereka melakukan video call yang lebih intens, kini hadir dihadapan nya.
"Zul....!!" Lyra menangis sejadi-jadinya membuat tubuh ramping itu bergetar, dia berdiri mematung di depan pintu kamar, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Kali ini Lyra kalah, wajahnya kembali memerah, dia tak sanggup menghadapi semua ini sendiri tanpa bahu seorang pria. Air matanya terus mengalir deras membasahi wajah dan telapak tangannya, dia mengusap lembut wajahnya, menatap wajah Zul yang semakin mendekat padanya, "What are you doing here....!?" (Apa yang kamu lakukan disini?) tanyanya sambil menangis.
Zul tersenyum, tanpa menyentuh wanita cantik yang tidak menggunakan make up itu dengan tatapan penuh perasaan sayang, "Aku khawatir dengan kamu sayang, begitu juga Kesy. Jika Kesy belum siuman, kita akan membawanya ke Singapura hari ini juga!"
Lyra menggelengkan kepalanya, tidak menyangka bahwa laki-laki tampan yang dia kenal dari salah sambung, kini nyata berada di hadapannya, "Zul.... boleh aku memeluk mu...!?" tanyanya masih menangis.
Zul mengangguk, dia membuka tangannya untuk seorang Lyra yang telah membuatnya benar-benar khawatir, bahkan sangat prihatin setelah mendapatkan kabar dari Aldo sahabat karibnya.
Lyra memeluk erat tubuh kekar Zul, pria yang beberapa waktu lalu dia lihat layar handphone, kini berdiri tegap dengan segala kehangatan dan ketampanan yang dia miliki. Dia kembali menangis didada Zul, dada pria yang selama ini selalu menghiburnya, selalu memberikan harapan-harapan yang dia anggap palsu, ternyata hari ini pria muda dan tampan itu hadir begitu nyata.
Zul hanya menepuk-nepuk pundak Lyra dengan sangat kaku. Baru kali ini ada wanita yang meminta izin untuk memeluk tubuh tegap itu.
Zul pria yang sangat dingin bahkan kaku, jika berhadapan dengan wanita. Kali ini jantungnya berdetak dua kali lebih cepat, walau wajahnya tampak santai, namun dia juga merasakan kenyamanan yang berbeda saat tubuhnya didekap erat oleh wanita dewasa yang tampak sangat terpukul saat ini.
Lyra terdiam, dia merasakan kenyamanan yang sangat luar biasa. Kenyamanan berbeda saat dulu dia memeluk Dony, dan Bara. Kali ini dia memeluk tubuh seorang perjaka yang hangat bahkan penuh perasaan walau hanya ditepuk dengan kaku.
Zul yang menyadari Lyra hanya selehernya, sedikit menunduk, mencium puncak kepala wanita dewasa yang ada di hadapannya, "Bagaimana keadaan Kesy? Apa kita bisa melihat kondisi nya?"
Lyra yang masih terhanyut mendengar detak jantung pria tampan itu, masih terbuai dalam lamunannya.
"Lyra....!" terdengar suara berat Zul, memanggil wanita dewasa itu dengan wajah tersenyum sumringah.
Lyra tersadar, melepaskan pelukannya karena perasaan malu, "Hmm.... ya-ya-ya, itu.... eeee.... ta-ta-tadi Dokter Kris sudah masuk, dan memberikan suntikan. Aku bingung mau ngapain! Karena aku enggak nyangka kamu ada di sini," jawabnya dengan pipi merah merona.
Zul tersenyum tipis, terlihat sangat manis, dengan bibir merah, gigi bersih dan alis menyatu, hidung mancung leher putih dan bersih.
__ADS_1
Lyra melihat, kalung emas putih dibalut liontin inisial L yang menghiasi leher pria muda dengan sangat gagah. Dia menelan salivanya, melihat jakun pria muda di hadapannya yang turun naik.
Sejenak pikiran Lyra terfokus pada kehadiran Zul yang mendadak bahkan sangat mengejutkan.
Bagaimana jika kedua orang tuanya melihat kemesraannya dengan anak pemilik rumah sakit sebesar ini! Memberikan fasilitas yang sangat mengejutkan untuk Lyra, bahkan Zul melarang bagian administrasi untuk meminta apapun dari wanitanya. Tugas Dokter dan perawat cukup memberikan yang terbaik untuk Kesy diruang ICU.
"Zul....!" panggil Lyra dengan suara lembut.
"Hmm....!" Zul menjawab tanpa menoleh.
"Hmm.... eee.... anu.... eee....!!"
Zul menatap wajah cantik wanita yang sangat bersih dihadapan nya, "Jangan gugup gini dong! Kita ke ruang ICU sekarang? Aku membawakan sesuatu buat Kesy, karena aku yakin anak kita sangat menyukai beruang madu ini."
Zul menunjukkan pada boneka beruang madu yang sangat besar, bahkan sangat lembut jika dipeluk, dia membawa boneka itu dengan tangan kanannya, sementara tangan kiri menggandeng tangan Lyra keluar dari kamar VVIP berjalan menuju ruang ICU rumah sakit.
Semua perawat tersenyum melihat Dokter muda Zul penerus rumah sakit ibu dan anak 'Maeta', menggandeng seorang wanita yang berstatus janda dengan penuh perasaan bahagia dan keyakinan. Terlihat dari senyuman yang terpancar dari raut wajahnya, genggaman tangan yang erat.
Lyra tak mampu membendung air matanya, dia tidak sanggup untuk berkata-kata, dia dicampakkan oleh seorang Dony, tapi di sambut oleh pria kaya seperti Zul yang ada di sampingnya untuk menghadapi semua tantangan diluar sana.
Bagai bintang di surga......
Dan seluruh warna.....
Dan kasih yang setia.....
Mencoba menyapa....
__________
__ADS_1
Misi-misi.... ini sedikit hiburan sebagai soundtrack saat Zul membawa Lyra keluar kamar rumah sakit, yah.... jalannya slow motion gitu, menuju ruang ICU.... indahnya....❤️🎉🥰