
Begitu banyak problematika yang di hadapi Lyra juga Zul saat ini. Tekanan keluarga, kejujuran Laura, membuat mereka sulit untuk dapat berpikir jernih saat ini.
Hani menarik tangan Lyra agar masuk ke supermarket apartemen, tanpa mau mendengarkan suara penolakan dari sang Mama ...
"Ich möchte ein paar Snacks kaufen, Mama! Früher, als wir von der Schule nach Hause kamen, kamen wir nur hierher, um etwas zu kaufen, und es wurde bereits von Haris gegessen," rengeknya, membuat Lyra mengikuti langkah Hani yang memang sangat manja di bandingkan Hana.
(Aku ingin membeli beberapa makanan kecil, Ma! Tadi saat pulang sekolah, kami kesini hanya membeli beberapa dan sudah habis di makan Haris ...)
"Ja ... Ja ..." (Ya ... Ya ...)
Lyra hanya mengikuti langkah putri kesayangannya, yang membawa troli belanjaan setelah Zul memasukkan uang lima euro di dalam tempat yang tersedia, agar troli terlepas dari kunci pengamanan secara otomatis.
Mereka masuk kedalam supermarket, memilih beberapa makanan, dan beberapa kebutuhan anak-anak yang menjadi kebiasaan bagi ketiga buah hati kembarnya.
Entah mengapa, Lyra lagi-lagi di kejutkan dengan kehadiran orang-orang yang berniat untuk menyakiti keluarganya sejak dulu.
Setelah bertemu dengan Laura yang tidak di sengaja, kini dia harus di hadapkan dengan Kanza yang mendekati Hana dan Hani dengan satu pack ice cream kesukaan anak-anak Lyra juga Zul.
Zul menarik nafas dalam-dalam, kali ini dia enggan untuk beramah-tamah dengan siapapun. Memikirkan kedua orangtuanya saja kepala terasa berdenyut, di tambah dengan kehadiran Kanza saat ini tengah mencoba mendekati ketiga buah hatinya.
Lyra menoleh kearah Zul yang berdiri di sudut rak kebutuhan rumah tangga, sementara ketiga buah hatinya berjarak delapan meter dari mereka.
"Hun ... Itukan Kanza, salah satu penggemar kamu," bisiknya pura-pura mencari sesuatu di tempat Zul berdiri.
Zul menoleh kearah Lyra yang sok sibuk, tidak memperhatikan ketiga buah hati mereka.
Tanpa berpikir panjang, Zul mendekati ketiga buah hatinya, menoleh kearah Kanza sambil tersenyum.
"Maaf Nona Kanza, apakah kamu mengikuti langkah saya sejak kita berpisah di rumah sakit! Tolong, jangan mempersulit suasana karena saya masih menghargai mu sebagai seorang wanita!" tegas Zul di hadapan ketiga buah hatinya.
__ADS_1
Anak-anak yang memang tidak mengerti bahasa Indonesia, hanya menatap mimik wajah Zul dengan seksama, dan menoleh kearah Kanza yang berdiri menatap pria di hadapannya yang merupakan Papa mereka bertiga.
Kanza tersenyum sumringah, "Ini sudah dua kali kamu menolak permintaan aku, Zul. Aku hanya ingin menjadi Ibu juga untuk ketiga buah hati kamu! Jika kamu tidak bisa menjadikan aku yang kedua, aku siap menjadi Ibu untuk anak-anak kita."
Lyra yang berdiri tidak jauh dari tempat mereka berdiri, hanya bisa mengerenyit keningnya karena mendengar penuturan wanita di hadapan suaminya.
Secepat kilat, Lyra mendekati Zul dan Kanza yang masih bertatapan.
Lembut Lyra mengusap lengan Zul, menoleh kearah Kanza, hanya bisa berkata, "Maaf Nona, saya sudah mendengar penjelasan Anda. Terimakasih karena telah mengagumi suami saya, tapi tidak untuk menjadi madu!"
Lyra berbalik, membawa Zul juga anak-anaknya yang masih melongo melihat dan mendengar orangtuanya, menerima genggaman tangan dari Mama juga Papi-nya.
Akan tetapi, saat mereka berbalik kala itu juga Kanza berteriak keras memanggil Zul ...
"Aku mencintaimu Zul! Aku hanya ingin menjemput mu kesini untuk menghabiskan waktu bersama mu satu malam saja. Tidak lebih, karena aku benar-benar mencintai mu!" ucap Kanza dengan sadar, membuat langkah kaki Lyra dan Zul berhenti seketika.
Lyra membalikkan badannya, tersenyum sumringah mendengar kejujuran seorang wanita yang benar-benar rela merendahkan martabat diri sendiri sebagai seorang wanita yang bergelar Doktor spesialis.
Kanza tersenyum tipis, dia menganggap bahwa Lyra akan cemburu, dan dia berhasil membuat wanita dewasa itu sadar diri, bahwa wanita tua itu tidak pantas untuk pendamping pria bernama Zulmaeta.
Lyra berjalan pelan mendekati Kanza, tersenyum sumringah menatap iris mata wanita muda juga energik yang sejak dulu berusaha merebut hati suaminya.
Sementara ketiga buah hati Zul, kembali bingung, karena lagi-lagi tidak mengerti apa yang di bicarakan ketiga orang dewasa yang berada di hadapannya.
"Pi, wer ist diese Frau? Kennen wir uns? Warum hat er uns so viel Eis gegeben?" tanya Haris mendongakkan kepalanya menatap wajah Zul.
(Pi, siapa wanita itu? Apakah kita saling mengenal? Kenapa dia memberikan kami ice cream sebanyak ini ...?)
Zul hanya mengusap lembut kepala putra-putri kesayangannya, hanya bisa menjawab, "Er hat nur nach der Adresse von jemand anderem gefragt, die er von deiner Mama nicht kannte ..."
__ADS_1
(Dia hanya menanyakan alamat orang lain, yang tidak diketahui nya pada Mama kalian ...)
Ketiganya mengangguk mengerti, kecemasan di dalam hati ketiga anak kembar itu buyar seketika, mereka kembali memasukkan ice cream ke troli, kembali mencari makanan kecil, meninggalkan ketiga orang dewasa yang cukup menarik perhatian seorang gadis seperti Hani.
Hani berdiri di balik rak, hanya untuk mendengarkan apa yang di bicarakan Lyra, walau sejujurnya dia tidak mengerti.
Benar saja, Lyra tersenyum tipis mendekati Kanza ... Hanya bisa menahan rasa cemburu yang selalu di rasakannya jika sudah berurusan dengan wanita yang tengah berdiri di hadapannya.
Lyra menoleh kearah Zul yang semakin mendekat, kemudian mengalihkan pandangannya hanya untuk menasehati gadis yang berada di hadapannya.
"Aku pikir pelakor itu hanya ada di Indo saja! Ternyata, aku salah ... Bahkan selama aku berada di sini, sudah sering sekali aku mendengar para wanita di luar gedung ini untuk melayani hasrat suamiku! Maaf sayang, mungkin jika suami ku tidak pernah di khianati kala itu, atau jika dia memang tipe pria hidung belang, bisa jadi dia akan tergoda oleh pesona mu! Tapi sayang, dia hanya tergoda pada wanita dewasa seperti ku! Apa kamu mengerti Dokter Kanza SpOG yang terhormat?" senyumnya menyeringai lebar, menatap lekat iris mata gadis yang memerah menantangnya.
Kanza tampak tak bergeming, hatinya sangat yakin bahwa Zul memiliki perasaan yang sama dengan nya.
Perlahan Kanza menggelengkan kepalanya, tertawa kecil, "Hmm ... Mungkin ya, Zul sangat setia pada mu, Nyonya. Tapi sayang, hanya jemari ku yang tahu di mana letak titik kelemahannya ..."
Lyra mengangguk, jujur hatinya sedikit perih mendengar ucapan wanita murahan di hadapannya itu berdiri. Dia hanya membalikkan badannya, enggan untuk berdebat dengan wanita gila menurut nya ...
"Enggak ada guna aku menghabiskan waktu, hanya untuk melayani wanita gila seperti dia, hun ..." bisik Lyra mulai terbakar api cemburu.
Kanza tersenyum puas, di mengedipkan sebelah matanya, memberi kecupan seksi dari bibirnya yang tipis kearah Zul ...
"Ich liebe dich, Zul ... Bis wann immer ich dich weiter jagen werde, bis du zu mir kommst! Und knie vor mir nieder!" teriaknya bak orang gila, dapat di dengar oleh orang yang berada di antara mereka ...
(Aku mencintaimu Zul ... Sampai kapanpun aku akan terus mengejar mu, hingga kamu datang pada ku! Dan bertekuk lutut dihadapan ku!)
Hani yang mendengar dari balik rak supermarket, hanya bisa menutup bibir mungil itu dengan kedua jemari kecilnya.
"Oh Gott ... Ist sie die Frau, die Papi von Mama schnappen wird ...?"
__ADS_1
(Ooogh Tuhan ... Apakah dia wanita yang akan merebut Papi dari Mama ...?)