Perjaka Untuk Janda

Perjaka Untuk Janda
Terkenal di kota ini


__ADS_3

Kedua-nya terhanyut dalam rayuan antara dua insan yang tidak memiliki hubungan dengan siapapun saat ini. Lyra yang berstatus janda mulai menerima rayuan pulau kelapa Zul yang terus menerus menggodanya selama video call.


["Zul.... please, aku masih di kantor. Jangan begini, nanti ada yang mendengarnya di kira aku lagi ngapain, coba!?"]


Terdengar suara Lyra semakin manja, saat Zul mengakui kecantikannya di seberang sana.


Lyra juga memperlihatkan baju seragam yang iya kenakan hari ini, sangat memukau pemandangan Zul sebagai pria muda yang normal.


["Hmm, kamu sangat sempurna. Oya, teman ku baru buka restoran disana. Namanya Aldo, aku suruh driver mereka mengantarkan makan siang untuk mu, yah? Kesy pulang sekolah jam berapa, sayang?"]


Pertanyaan-pertanyaan kecil Zul, dan perhatian pria muda tersebut mampu memberikan kenyamanan dan rasa percaya diri Lyra timbul kembali. Wajahnya memerah karena malu, tak kuasa menahan rasa senang dan bahagia saat Zul memperhatikan dirinya agar tetap tersenyum.


["Boleh deh, asal enggak ngerepotin. Yang penting aku jemput Kesy pukul 16.00, time pulang kantor."]


Lyra menjelaskan dengan suara manja dan lembut.


["Oke, sebentar lagi dia akan mengantarkan paper bag orderan ku. Semoga enak dan kamu bisa rekomendasi dengan temanmu yang lain."]


Lyra mengangguk senang, tersenyum sumringah, karena hari ini dia dapat bercerita panjang lebar tentang semua masalah yang dia miliki.


Zul pria yang sangat berwawasan luas, bahkan mau mengalah untuk menang di kemudian hari.


Aaaagh Zul, jika kamu berada didekat ku, mungkin aku akan terus memeluk mu, bisik Lyra dalam hati.


Mereka mengakhiri panggilan telepon, karena harus menyelesaikan beberapa pekerjaan yang harus Lyra selesaikan.


Berbeda dengan Zul, perbedaan waktu membuat pria muda tersebut hanya sibuk membahagiakan Lyra yang sudah dapat tersenyum bahagia dan tertawa lepas.


Lyra melanjutkan pekerjaannya, menyelesaikan semua tanggung jawab sebagai seorang karyawan sejati di kantor yang nyaman dan sejuk. Sesekali mata indahnya melirik di jam dinding yang berdetak menunjukkan pukul 11.30. Dia menyandarkan tubuhnya di kursi kebanggaannya, memijat pelan pelipisnya.


Lebih dari dua jam Lyra dan Zul menghabiskan waktu untuk saling mengenal, namun tidak ada sedikitpun pria muda tersebut menceritakan siapa dia dan siapa keluarga nya.


Sangat berbeda dengan keluarga Dony yang selalu membanggakan harta yang mereka miliki, bahkan saat baru bertemu dengan Lyra, sudah menceritakan bahwa mereka adalah orang paling kaya masa dulu.


Berbeda dengan Zul, dia hanya menceritakan tentang kesibukannya sebagai mahasiswa sekaligus asisten dosen dengan bayaran pas-pasan.

__ADS_1


Apakah perbedaan orang yang benar-benar kaya itu seperti Zul? Atau seperti keluarga Dony? Yang mengatakan mereka selalu jalan-jalan keluar negeri, namun tinggal saja di sebuah ruko yang dia sewa dari keluarga mantan suami Rita.


Entahlah, terkadang kita hanya bisa berdiam diri, siapa diri kita sebenarnya. Tidak penting seberapa kaya dirimu dulu, jika hidup masih terus zholim pada keluarga sendiri.


Menghina Lyra yang sebagai wanita jallang, sementara adiknya Riche tidak pernah menikah, namun sudah tidak suci lagi. Siapa yang jallang? Apakah memang ada keluarga seperti itu?


Ya.... keluarga itulah yang Lyra hadapi selama ini, jika membutuhkan pertolongan dari wanita yang mereka hina ini, justru merendah bahkan memuji hingga bersujud agar Lyra sudi membantu.


Setelah di berikan pertolongan, Lyra kembali menelan hinaan agar uang yang mereka pakai tidak di kembalikan.


Suatu keuntungan buat Lyra saat ini telah berpisah dari Dony, membayangkan mereka tidak akan mengganggu Lyra lagi. Uang tidak habis, bahkan semua yang Lyra miliki menjadi kepunyaan sendiri dan juga hak Kesy.


Lyra tengah sibuk dengan semua lamunannya, hingga membuat dia tertidur sebentar. Namun, terdengar suara ketukan pintu dari arah luar.


Lyra bergumam dalam hati, "Sepertinya aku tidak memiliki janji dengan siapapun saat ini. Aaagh....!!"


Lyra menggeliatkan tubuhnya, meregangkan otot-otot yang terasa sangat melelahkan setelah beberapa jam memandang laptop yang ada di hadapannya.


Sedikit tegas Lyra mengeluarkan suara, "Ya.... masuk...!!"


Pintu ruangan terbuka lebar, terlihat sosok pria tampan dan tegas berdiri tegap di depan pintu ruangan Lyra.


Pria muda itu tampak sedikit menunduk hormat, memperlihatkan paper bag yang ada dalam genggamannya, membuat Lyra tersadar dengan nama pria muda tersebut.


"Aldo....!?" ucap Lyra pelan.


Lyra berdiri menyambut kehadiran Aldo, yang di akui Zul adalah rekannya.


"Ya Kak. Aku di minta mengantarkan makan siang oleh Zul. Jika terlambat dia tidak akan membayar orderannya, dan harus sampai di tangan Kakak," jelas Aldo memberikan paper bag tersebut ke tangan Lyra.


Lyra menggelengkan kepalanya, menerima paper bag meletakkan di meja, tersipu malu karena mendapatkan perhatian khusus dari seorang pria muda yang sangat lucu menurutnya.


"Silahkan masuk, saya akan membayar kamu. Tidak usah takut, karena saya juga tidak mau merepotkan sahabat kamu. Dia itu terlalu berlebihan," tawa Lyra memberi ruang pada Aldo untuk masuk ke dalam ruangannya, dan mencari keberadaan dompet yang berada didalam tas.


Mempersilahkan anak muda itu duduk, yang jelas-jelas bukan orang sembarangan, karena terlihat dari kulit putih dan sangat bersih. Namun, dia mau mengantarkan makanan demi mendapatkan bayaran.

__ADS_1


Tentu Aldo menolak uang pemberian dari Lyra, karena Zul hanya memberi perintah agar melihat wanita dewasa yang sangat menarik perhatiannya selama ini, apakah sesuai dengan yang diharapkan pria di seberang sana, atau hanya wanita yang hanya memanfaatkan keadaan meminta belas kasih dari pria muda yang kaya.


Aldo sedikit penasaran karena kejujuran Zul, telah berani jatuh hati dengan wanita berstatus janda. Apakah karena sahabatnya tersebut pernah mengalami rasa kecewa yang sangat luar biasa dengan seorang gadis, entahlah.


Aldo menolak uang pemberian Lyra yang ada di hadapannya. Beberapa lembar uang pecahan 50 ribu di berikan Lyra dengan wajah tersenyum ramah.


Aldo menolak sembari berkata, "Enggak usah Kak, aku di minta Zul hanya mengantarkan saja. Bukan untuk menerima bayaran. Semoga Kakak suka dengan masakan restoran ku, dan mau membawa teman-teman kantor untuk makan siang disana," jelasnya ramah.


Lyra mengangguk setuju, "Baik, terimakasih. Sampaikan sama sahabat kamu yang aneh itu. Aku belum kenal dengan dia, ketemu juga belum, tapi sudah sangat berlebihan. Aku rasa dia salah orang!" tawanya.


Aldo mengangguk sambil tertawa kecil, membernarkan perkataan Lyra yang telah menilai sahabatnya, Zul.


"Hmm, aku permisi yah, Kak. Karena mau mengantarkan beberapa pesanan untuk di rumah sakit," jelas Aldo bangkit dari duduknya.


Lyra tak henti-hentinya mengucapkan terimakasih, "Ini suatu penghargaan bagi saya. Karena telah berani memberi perintah pada kalian yang ternyata kalian adalah owner nya. Saya jadi malu." Wajahnya tampak memerah.


Aldo sedikit mengakrabkan diri, "Saya baru merintis Kak. Baru buka restoran satu bulan, jadi harus maksimal memanjakan costumer seperti Kakak," godanya.


Lyra tertawa, "Sekali lagi terimakasih. Jika Zul tidak membayar mu, kasih tahu saya!" geram Lyra.


Aldo hanya tertawa dan berlalu meninggalkan ruangan Lyra.


Tentu pemandangan seorang brondong muda yang hadir diruangan Lyra, menjadi pusat perhatian Lela rekan kantornya.


Lela melenggak-lenggok mendekati sahabatnya, yang hendak menutup pintu ruangan, "Hayoo.... siapa tuh?" tanyanya penasaran.


Lyra sedikit mengusap dadanya, karena kaget, "Iiighs.... teman aku," jawabannya.


Lela menerobos masuk kedalam ruangan Lyra, melihat paper bag yang terletak di meja ruangan sahabatnya sembari berkata seraya mengejek, "Ini apaan?" tunjuknya pada bingkisan tersebut, "Ooogh my God, Lyra..... kamu dekat dengan pemilik restoran ini?" tanyanya berteriak keras.


Lyra menautkan kedua alisnya, tidak mengerti apa yang dimaksud oleh sahabatnya, malah balik bertanya, "Emang siapa?"


Lela berkacak pinggang menatap lekat wajah Lyra yang benar-benar polos dan bego menurutnya, "Dengar yah sis.... pria muda yang tampan tadi itu adalah anak pemilik hotel bintang lima, yang baru membuka restoran yang beberapa waktu lalu, dan kita pernah makan kesana. Masak kamu lupa siih? Pria tadi itu pemilik restoran. Mereka kan sahabat atau keluarga gitu sama rumah sakit tempat kamu melahirkan Kesy. Dokter apa tuh? Hmm, aku lupa.... yang penting mereka ini orang super kaya, bahkan super baik banget!"


Lela menjelaskan dengan wajah penuh semangat, bahkan berapi-api saat menyebut nama anak pertama Dokter pemilik rumah sakit tersebut.

__ADS_1


Lyra hanya terdiam, tidak ingin menjelaskan tentang kedekatannya dengan pria yang disebut-sebut Lela.


"Zul..... kenapa kamu sangat terkenal di kota ini!?" bisiknya dalam hati dengan perasaan berbunga-bunga.


__ADS_2