Perjaka Untuk Janda

Perjaka Untuk Janda
Zulmaeta


__ADS_3

Malam semakin dingin, Lyra kini sudah sah menjadi istri Zulmaeta. Dibawah cahaya rembulan di kelilingi lampion yang terpatri dilangit restoran apartemen, saling menggenggam erat jemari lentik mereka berdua dalam kilauan dua cincin nikah yang telah disematkan kejari manis.


"Terimakasih sayang! Mulai malam ini, aku akan selalu membahagiakan mu!" kecup Zul pada bibir basah Lyra dihadapan para keluarga.


Lyra membalas kecupan manis dari Zul seraya berucap, "Bersediakah kamu serahkan perjaka mu untuk seorang janda?"


Zul memeluk tubuh ramping istrinya, "Dari awal, aku ingin memiliki mu. Tapi saat pertama kita salah sambung, kamu bilang status menikah aku jadi bingung. Menurut Mama kamu tidak membawa suami ke kantornya kala itu."


Lyra menautkan kedua alisnya, "Maksudnya ...?" tanyanya pelan.


Zul menarik tangan Lyra untuk duduk di salah satu kursi, yang tersedia disudut restoran untuk berpisah dari keluarga yang tengah menikmati hidangan makan malam yang sangat lezat.


Kesy sengaja tidak mengganggu kedua orang tuanya yang tengah berbahagia, begitu juga Lince dan Boy.


Kini mereka dapat bernafas lega, karena putri kesayangan sudah ada yang melindungi, sebagaimana seorang suami yang baik.


Zul mendekap tubuh ramping Lyra dengan menarik tangan wanita itu untuk duduk dipangkuan nya. Tanpa ada perasaan sungkan atau memikirkan kata keluarga terhadap mereka berdua. Kini pria itu memantapkan, bahwa Lyra adalah milik Zul seutuhnya.


Zul mencium punggung tangan Lyra berkali-kali, "Saat kamu membeli rumah itu, Mama Eni mengatakan pada ku ... bahwa yang membeli rumah ku adalah seorang janda. Aku berfikir, bagaimana jika aku menikah dengan janda? Mama menjawab 'why not' ... Aku rasa jika berkenalan dengan wanita setelah perpisahan ku dengan Luna, akan mendapatkan penolakan dari Mama. Ternyata, Mama menyukai mu sejak awal kalian bertemu. Aku jadi penasaran dan bersemangat untuk mendekati mu! Ternyata kamu masih istri Dony saat itu. Yaah, kita berteman saja," ceritanya panjang lebar.


Lyra ternganga, mendengar rumah yang dia beli merupakan rumah Zul. Zulmaeta masih berusia 22 tahun kala itu sudah memiliki aset seharga 1,5 milyar.


"Haah ... kamu serius! Jadi yang aku beli itu rumah kamu? Sejak kapan kamu memiliki aset sebanyak itu, Zul? Aku saja, bekerja 12 tahun asetnya masih senilai 800 juta. Oooogh ... ternyata aku salah menilai mu! Yang beli rumah itu Papa Boy, Zul. Buat tabungan Kesy karena cucunya perempuan. Maka dari itu dibuat atas nama aku. Sementara Bang Bima, Mama yang beliin di Denpasar dari uang pensiun. Pokoknya bagi-bagi harta saat Papa sama Mama mengakhiri masa dinas mereka," Lyra bertanya sekaligus berkata jujur.


Zul tersenyum, mengusap lembut punggung yang masih terbalut baju kebaya putih yang sangat anggun dikenakannya.


"Jadi malam ini kamu akan aku buat melayang tinggi atau ...!" bisik Zul ketelinga kanan Lyra, namun tiba-tiba telinga ke-duanya dikejutkan oleh suara batuk suara pria.


"Eheem ...!"

__ADS_1


Bara berdiri dibelakang mereka berdua.


Sontak suara itu membuat Lyra dan Zul seketika terlonjak kaget. Bagaimana mungkin, mereka tidak mengundang pria itu, ternyata dia hadir karena Kak Kenny membawa adiknya bersama ke acara pernikahan adik perempuan Bima.


"Bar-r-a ...!" bisik Lyra pelan.


Bara menyunggingkan senyumnya, mengucapkan selamat namun tidak rela. Dia sengaja memancing amarah Lyra yang tengah berbahagia.


"Hmm ... semoga pernikahan mu dari hasil jual diri dengan pengusaha ingusan ini langgeng hingga tua! Semoga saja dia enggak selingkuh suatu hari nanti. Karena, usia kalian terpaut sangat jauh. Lebih baik, Lyra ini kamu jadikan Tante bukan istri!" tawa Bara.


Bima yang melihat adik iparnya degan sengaja masih mengganggu Lyra adiknya, tentu dia tidak terima.


Bima mendekati Bara, seketika ...


BHUUUUG ...!


BHUUUUG ...!


Bima yang tahu bagaimana sifat Bara selama ini, dari rekan kerjanya yang sama-sama menjadi hakim ketua di Pengadilan Agama, memberi pukulan keras pada pria brengsek itu.


"Jangan pernah kamu ganggu Lyra adikku! Kamu pikir aku tidak tahu apa yang kamu lakukan diluar sana Bara! Apa maksud mu? Berselingkuh dari Rusti! Dia istri mu!" geram Bima kembali akan memukul, namun ditahan oleh Zul.


Zul menatap tenang kearah Bara yang sudah terjatuh dilantai, "Anda tahu pintu keluar dari gedung ini, Tuan? Silahkan tinggalkan gedung ini, sebelum tangan saya yang membuang Anda dari gedung berlantai 39, dan menjadi tontonan banyak orang. Aku jamin tak satupun orang akan mengenali siapa anda."


Bima bergidik ngeri, tak menyangka bahwa adik iparnya tersebut lebih berani dari dirinya.


Keluarga mereka memilih duduk sedikit jauh, karena disibukkan dengan cerita kedua keluarga yang menjadi satu. Jadi mereka tidak melihat kejadian baku hantam anak, menantu, ipar tersebut.


Bara yang mendengar ucapan Zul seperti itu, memilih berdiri, walau meringis menahan sakit, berlalu meninggalkan gedung apartemen, membawa serta istri dan kedua anak perempuannya yang masih kecil-kecil.

__ADS_1


Lyra yang melihat dua anak perempuan, menoleh kearah Bima bertanya karena penasaran, "Bukannya anak Bara baru satu, Bang? Kok sekarang dua?" Seperti seusia gitu."


Zul menggelengkan kepalanya, "Jangan urusin orang seperti itu. Itu bukan anak dia dengan istrinya. Melainkan anak dari selingkuhannya!"


Lyra tersenyum tipis, sedikit berfikir, 'Benarkah itu bukan anak Rusti? Jika bukan kasihan sekali nasib Rusti, selalu dikhianati oleh Bara. Padahal apa kurangnya dia, memiliki butik dan mempunyai dunia bisnis sendiri. Wajah juga tidak jelek' ... Pikirnya saat mengikuti langkah kaki Zul.


Boy dan Ahmad sudah berada diatas panggung untuk menyanyikan sebuah lagu ...


Mama Eni dan Mama Lince tengah asyik mengabadikan foto, sebagai momen terindah dua keluarga yang sangat hangat dan sederhana.


Entah pikiran apa yang ada dibenak Boy dan Ahmad saat ini. Yang pasti mereka berdua bahagia dengan pernikahan kedua anak itu, tanpa perasaan bersalah atau menyesal.


Boy bersemangat memetik gitar, sementara Ahmad mulai dengan dentingan piano yang sengaja disediakan pihak restoran apartemen.


Apartemen yang berlantai 39 tersebut, berdiri kokoh ditengah kota kecil tersebut merupakan aset keluarga Ahmad Maeta dan putranya Zul. Tapi mereka tidak pernah memberitahukan bahwa mereka merupakan orang terhebat disana. Bagi keluarga Mama Eni, semua ini adalah titipan sang Ilahi untuk saling membantu sesama manusia dalam konteks yang berbeda.


Boy meminta kepada Lyra dan Zul untuk berdansa dihadapan keluarga, ditemani Kesy dan Bima selaku om terbaik yang pernah dibuang oleh keluarga Lyra karena kesalahannya.


Menghamili Kenny istrinya kala itu lebih dulu, membuat mereka harus kehilangan anak pertama kala itu, karena obat-obatan yang dikonsumsi Kenny agar anak yang dia kandung keluar. Sehingga Bara dan Lyra harus mengakhiri hubungan percintaan mereka berdua ...


Murka kedua orang tua Bima, membuat Lyra harus kehilangan Bara dan menikah dengan Dony.


Istilah pepatah kala itu, 'berganti cigak sama beruk' ... memiliki kemiripan yang sama, walau nama jenis hewan tersebut berbeda.


Zul mendekap Lyra lebih erat, sedikit berbisik kecuping kanan sang istri, "Kita malam ini enggak pulang yah? Aku udah siapkan tempat untuk kita menikmati malam. Dengan catatan, mata kamu harus tertutup."


Lyra menatap iris mata Zul, hidung keduanya saling menyapa, bertanya penasaran, "Apakah kamu akan menyakiti aku?"


Zul menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Tepat pukul 00.00, Mama dan Papa juga mungkin akan menginap disini. Tapi Kesy dibawa Bang Bima dulu. Sepertinya aku telah mengatur banyak hal, untuk membuat kamu bahagia, tanpa kamu ketahui," kecup Zul pada bibir basah Lyra dihadapan keluarga tanpa perasaan sungkan.


Lyra menautkan bibir basah mereka, dia wanita dewasa tak kuasa jika menerima perlakuan hangat yang benar-benar dirindukan saat ini, "I love you, Zul ... honey ..."


__ADS_2