Perjaka Untuk Janda

Perjaka Untuk Janda
Berpikir jernih ...


__ADS_3

Kedua insan itu langsung saling melepaskan penyatuan mereka, Lyra memunggungi Zul, begitu juga pria yang merasa sedikit lega tersebut ...


Mereka berdua memiliki pemikiran masing-masing. Tidak ada kata maaf, ataupun kata cinta yang biasa mereka ucapkan setelah habis bercinta.


Kini terasa hambar, permainan ranjang hanya untuk sebuah kebutuhan pokok selayaknya suami pada istri begitu juga sebaliknya.


Sejak awal menikah, Zul memang tidak suka membuka hati ataupun bermain api, karena dia memiliki prinsip, tidak akan pernah menghadirkan pihak ketiga, apapun yang terjadi.


Tidak sedikit mahasiswi yang rela memberikan tubuhnya secara cuma-cuma di ruangan pelatihan kedokteran spesialis kandungan.


Contohnya saja Kanza, gadis yang berusaha merebut hati Zul kala itu. Dia harus bersaing dengan kehadiran Lyra setiap harinya di rumah sakit ketika jam pulang kerja, hanya karena merasa cemburu dan terlalu posesif.


Malam ini, semua perasaan posesif dan cemburu itu hilang seketika. Lyra kembali di hadapkan dengan masa lalu.


Kegagalan rumah tangganya yang pertama dengan almarhum Dony kini kembali terulang lagi hanya karena Kesy ...


"Apa benar ada anak yang membawa petaka atau kesialan bagi keluarga ...?" gumam Lyra dalam hati.


Kesy yang sejak kecil hanya di sibukkan dengan dunia sinetron sambil menunggu kepulangan sang Mama dari kantor, membuat dia terkadang hanya tertidur di depan televisi tanpa teman. Dia hanya sibuk dengan semua makanan ringan yang selalu tersedia di dalam kulkas, jika Dony kembali ke tokonya kala itu.


Air mata Lyra kembali membasahi bantal, untuk kesekian kalinya. Perasaan bercampur aduk membuat dia semakin tidak percaya akan indahnya pernikahan.


Lyra sedikit menoleh ke arah Zul, mengusap lembut punggung yang terbuka lebar.


Zul merasa kaget, karena merasa tangan halus itu menyentuh punggungnya. Ada getaran seperti sengatan listrik yang membuat dia sedikit terkejut dan membalikkan tubuhnya menoleh kearah Lyra.


Lyra tersenyum tipis, hanya bertanya sekedarnya ...


"Kamu belum tidur ...?"


Zul hanya memandang wajah cantik istrinya ...


"Zul ..."


"Hmm ..."


"Apa benar kamu mau menceraikan aku?"


Zul terhenyak mendengar pertanyaan istrinya, tapi dia harus terlihat lebih dingin dari Lyra.

__ADS_1


"Kenapa? Kenapa mesti bahas itu? Apa kamu sudah menemukan tambatan hati yang lain ...?"


Lyra menggeleng, "Kamu aneh, aku cuma bertanya. Kalau memang kita mau pisah, kenapa kita harus menikah? Kenapa kita harus ada di sini? Toh kita ternyata enggak cocok! Andai saja waktu bisa di putar kembali, mungkin aku masih akan tetap berada di kota kecil itu ..." pikirnya sendiri.


Zul hanya memejamkan matanya, tanpa mau menjawab pertanyaan bodoh istrinya ...


"Tidurlah, aku hanya ingin menikmati indahnya malam ini ..."


Zul membawa Lyra dalam dekapannya. Ingin sekali dia mengatakan yang sejujurnya tentang Kesy saat ini. Tapi ini bukan waktu yang tepat ...


"Tuhan, kenapa aku mesti di hadapkan dengan situasi seperti ini! Aku tahu ketakutan Lyra, dan inilah jawabannya. Bagaimana aku harus membela diri ku! Jika Lyra tahu semua tentang Adi dan Kesy? Apa kami akan benar-benar berpisah. Aaagh ... Aku takut jika anak-anak ku akan tumbuh sama seperti Kesy ..." isak tangis Zul di dalam hati.


.


Pagi menyinari kota Berlin. Zul telah mempersiapkan satu kotak kecil untuk keempat buah hatinya di meja makan.


Ruangan yang biasanya hangat dengan tangan terampil Lyra menyediakan sarapan pagi, kini hampa terasa ...


Keharmonisan yang dulu terlihat, kini benar-benar hanya sebuah drama rumah tangga yang sangat dingin, tanpa suara.


Hanya terdengar teriakan-teriakan Hana dan Hani yang selalu memperebutkan ikat rambut juga perlengkapan sekolah yang menjadi bahan agar mendapatkan perhatian dari Lyra ataupun Zul.


"Sayang ..." panggil Zul hanya sekedar saja, agar anak-anak tidak curiga dan bertanya-tanya.


"Hmm, sebentar lagi! Aku masih sibuk dengan analisa ...!" jawabnya singkat.


Zul hanya bisa tersenyum pada keempat buah hati mereka yang menoleh kearah Lyra secara bersamaan.


Zul kembali memberi kode pada Lyra dengan jentikan jari, "Sayang! Please ... Kita sarapan bersama!"


Lyra mengehela nafas dalam, wajahnya tampak kaku dan kesal. Dia enggan berdebat, untuk menjaga perasaan anak-anak mereka.


Kesy yang mulai berubah karena dinginnya sifat sang Mama, hanya diam tak bergeming saat Lyra mulai mendekat.


Zul tersenyum lirih, walau sejujurnya dia tidak ingin melanjutkan drama ini di hadapan buah hati mereka.


Kesy menoleh kearah Zul, sedikit bertanya, "Pi, Kesy numpang ke kampus yah? Mau menyerahkan tugas," jelasnya.


Zul mengangguk meng'iya'kan. Dia menoleh kearah Lyra agar mengambil kendali untuk mengantarkan ketiga buah hati mereka pagi ini. Karena arah yang berlawanan membuat Zul harus meminta Lyra mengambil alih.

__ADS_1


Tanpa banyak basa-basi, Lyra menjawab dengan anggukan tanpa suara.


Anak-anak mereka tampak bingung. Hana yang lebih peka melihat Mama dan Papi yang hanya diam, sedikit berbisik pada Hani ...


"Ich bin mir sicher, dass Mama und Papi immer noch im Krieg sind. Wie wir sie heute Nachmittag dazu bringen, zusammen zu Abend zu essen, und wir bitten Sis Kesy, einen Platz zur Verfügung zu stellen ..."


(Aku yakin Mama dan Papi masih perang dingin. Bagaimana sore ini, kita buat mereka menghabiskan makan malam bersama, dan kita minta Kak Kesy untuk menyediakan sebuah tempat ...)


Hani mengangguk setuju, dia berbisik-bisik pada Kesy juga Haris.


Akan tetapi, Zul dan Lyra masih tetap sama ... 'Tidak peduli'.


Mereka berpisah melakukan aktivitas seperti biasa, tanpa mau menyapa, ataupun memberikan pelukan seperti biasa.


Zul yang membawa Kesy bersamanya, hanya terdiam. Kini pikirannya kacau karena pesan singkat dari putrinya malam itu. Dengan sedikit penasaran, dia selaku orang tua harus bertanya perlahan pada Kesy ...


Zul menghela nafas berat, menoleh kearah Kesy yang asik dengan handphone pintarnya.


"Hmm, bagaimana dengan hubungan Adi dan Laura, Kesy? Apakah Adi masih tetap akan melanjutkan pernikahan nya?"


Tanpa berpikir Kesy menjawab, "Mereka sudah pisah, Pi! Dan Bang Adi saat ini ada di-- ... Hmm, eee, eee, hmm, anu, Bang Adi ada di Munich, yah di Munich ..." senyumnya tampak seperti orang gugup.


Zul mengangguk, dia tidak ingin melanjutkan obrolannya tentang Adi. Tapi dia memperhatikan pakaian Kesy saat ini. Dia hanya ingin memastikan, apakah gadis ini akan pergi kuliah atau bagaimana ...


Zul menurunkan putrinya di gerbang kampus, mencium pipi putrinya, mengusap lembut punggung Kesy agar kuliah dengan baik.


Namun, seketika hatinya sedikit resah. Zul memilih menunggu Kesy dan melihat satu mobil sedan menunggu tepat dua mobil dari tempat Zul terparkir.


Zul sengaja menjaga jarak, karena mobil yang berjejer terlihat sama, sehingga sulit sekali untuk membedakannya.


Benar saja, Kesy keluar dari gerbang kampus, berlari kecil menuju mobil sedan putih yang dia tahu itu milik keluarganya.


Tanpa berpikir panjang, Zul mengikuti arah kendaraan mereka, yang menuju satu hotel di perbatasan kota Berlin.


Zul menghentikan kendaraannya, melihat Adi memeluk tubuh mungil Kesy sesekali mencium bibir gadis belia itu.


Dia enggan untuk menghampiri, karena semua telah terlambat. Akan tetapi, otaknya kembali berpikir jernih ...


"Ini tidak bisa di biarkan ...!" geramnya.

__ADS_1


__ADS_2