
Mereka terhanyut dalam rayuan yang memberi isyarat bahwa saat ini Lyra milik Zul seutuhnya, tanpa harus mengungkapkan kita 'jadian' seperti anak baru gede jaman now.
["Kamu janji akan menunggu aku disana, sayang?"]
Pertanyaan Zul seolah-olah Lyra wanita yang paling berharga dalam hidupnya, tapi mampu melukiskan bahwa kini keduanya memiliki komitmen walau hanya rayuan melalui dunia maya.
["Hmm.... ya-ya-ya.... aku akan menunggu mu disini, hingga kamu benar-benar nyata dihadapan aku. Zul, aku sudah sampai rumah. Nanti begitu santai kita video call lagi."]
["Hmm, ya. Bye Lyra....!"]
["Bye Zul...!"]
Lyra menutup telfonnya, memasukkan kedalam tas, mematikan mesin mobil, bergegas turun dari mobil karena Boy sudah tidak sabar untuk bertemu cucu kesayangan, Kesy.
Lyra turun dari mobil, dibantu Boy untuk membantunya membawa beberapa tas yang menjadi beban putri kesayangannya.
Boy mencari keberadaan Kesy, celingak-celinguk merasa Lyra tidak membawa cucu terbaiknya bersama.
Boy menatap kearah Lyra, bertanya karena penasaran, "Kesy mana, Nak? Kok nggak pulang sama kamu?"
Lyra menautkan kedua alisnya, "Dia sama Dony, Pa.... sampe hari minggu. Udah, jangan bahas dulu yah? Aku capek enggak mau debat."
Lyra berlalu masuk kedalam rumah meninggalkan Boy yang tampak kecewa, karena kehilangan cucu selama beberapa hari.
Boy menyusul Lyra kembali, untuk menyerahkan tas yang berisikan laptopnya, sedikit memberitahu bahwa malam ini dia dan Lince akan bertemu dengan salah seorang kerabat yang tengah berkunjung ke kota kecil tersebut.
Tentu Lyra semakin kesepian, dia hanya mengiyakan ucapan Boy, dan menutup pintu kamar dengan menguncinya.
__ADS_1
Wajah Lyra tampak sangat lelah. Memilih melepaskan pakaian, bergegas membersihkan diri untuk melanjutkan makan malam bersama kedua orang tuanya.
Namun, saat dia setelah melakukan ritualnya membersihkan diri, tidak terdengar suara siapapun diluar sana. Biasanya, terdengar suara Boy yang memetik gitar kesayangannya yang di bawa kemanapun sang Papa pergi.
Lyra menautkan kedua alisnya, mencari keberadaan kedua orang tuanya, tapi tidak menemukan Lince ataupun Boy. Dia mendengus kesal karena Mama Lince pergi tidak membuatkan makanan untuk makan malam.
"Hmm...... Mama kebiasaan!" kesalnya mengintip kearah jendela yang tidak terlihat mobil miliknya terparkir di sana.
Lyra masuk kedalam kamar, mencari handphone miliknya memesan makanan siap saji melalui aplikasi. Dia mencari-cari restoran yang sangat pas di lidahnya selain yang terkenal.
Mataya mengarah pada restoran sahabat Zul, memesan beberapa makanan untuk malamnya. Tentu saja Lyra membalas beberapa pesan dengan pemilik restoran untuk memastikan orderannya, sebelum di jemput oleh driver ojek online.
Setelah memesan beberapa makanan, dia menghubungi Kesy yang ternyata tengah jalan-jalan berdua Dony. Entah apa yang ada dalam benak Lyra, yang pasti malam ini dia tampak sangat kesepian. Tanpa Kesy, tanpa Boy dan Lince.
Lyra merebahkan tubuhnya di kasur, sesekali melirik handphone sambil menikmati siaran televisi.
Selama menikah dengan Dony hingga delapan tahun, dua tahun dia benar-benar di lupakan oleh suami sendiri. Dia berfikir, jika dirinya memang tidak cantik kenapa pria lain malah tertarik dengan, apalagi Zul sudah sangat menggemaskan akhir-akhir ini.
Kedekatannya Lyra dengan Zul, memberikan kesan yang berbeda bahkan membuat jiwa mudanya kembali menyala, bagaikan bara api yang berkobar mampu membangkitkan dan semakin bergairah. Dia menatap ponsel yang berdering, menandakan bahwa orang yang mengantar pesanannya telah ada di luar rumah.
Bergegas Lyra membuka pintu kamar, berlari ke depan rumah ternyata saat dia membuka pintu melihat kedatangan Bara sang mantan pacar masa lalu yang dia anggap sebagai tukang ojek pembawa makan malam untuknya.
"Selamat malam Lyra....!!" sapa Bara sudah berdiri didepan pintu rumah yang terbuka lebar dengan senyuman manisnya.
Jantung Lyra seakan hampir berhenti berdetak, karena melihat sosok tamu yang tak diundang muncul di hadapannya, "Bara.....!?" kedua bola matanya sedikit liar menyesiasati situasi, karena tidak ingin menjadi bahan ghibah para tetangga.
"Ngapain kamu kesini? Udah malam, dan aku nggak mau terima tamu. Aku mau istirahat karena kesibukan ku di kantor sangat melelahkan." Jelas Lyra masih enggan menyuruh Bara duduk di kursi teras.
__ADS_1
Bara tampak salah tingkah, namun dari awal dia ingin bertemu dengan Lyra karena perasaannya yang masih sama sejak awal dia memeluk Lyra pertama kali di Pengadilan Agama terhadap mantan kekasihnya masa lalu.
"Lyra, jangan buat aku tampak seperti pria bodoh saat ini. Please understand. Appreciate my presence this time, just this once. I want to atone for all my mistakes." (Tolong mengertilah. Hargai kehadiran ku kali ini, kali ini saja. Aku ingin menebus semua kesalahanku) mohon Bara di hadapan mantan kekasihnya.
Lyra menautkan kedua alisnya tidak mengerti apa yang di maksud Bara, dia justru menganggap hubungan mereka sudah berakhir, "Maaf Bara! Aku tidak ada waktu, aku lelah! Aku tegaskan sekali lagi, jangan pernah menemui ku, karena aku tidak memiliki waktu untuk mu!!"
Bara tampak sangat emosi setelah mendengar ucapan Lyra yang sungguh menyebalkan, dia seperti berharap pada wanita yang berstatus gadis, "Dengar Lyra.... kamu janda! Jangan begitu sombong! Dan satu hal lagi, aku ingin menyelamatkan status mu. Mungkin setelah kamu berpisah dari siapa nama suamimu? Dony.... ya Dony itu, pasti kamu juga akan kesepian. Aku lihat kamu juga tidak pernah berteman dengan pria. Jangan munafik Lyra, toh kita dulu pernah ciuman bahkan hampir melakukannya. Apa kamu lupa!?" Kenangnya.
Lyra menggeleng, tertawa sinis bahkan dia menyadari dirinya tengah terhina oleh adik ipar Bima, Abang kandungnya.
Lyra memangku tangannya angkuh, menantang Bara yang masih berdiri tegak di hadapannya, "Jadi kalau aku janda kenapa? Kamu pikir, mentang-mentang status ku seorang single parents akan kembali sama mantan? Ooogh.... come on, Bar! Aku tidak pernah tertarik dengan namanya mantan. Setahuku mantan itu tidak akan pernah menjadi prioritas, melainkan masa lalu yang tidak akan bisa di bawa ke masa depan."
Lyra mundur dan menutup pintu utama dengan sangat keras.
BRAAAK....!!
Bara yang berdiri di depan pintu tampak terkejut karena wanita yang baru dia hina masuk ke dalam rumah, tanpa mau mendengarkan nya.
"Lyra.... Lyra.... aku minta maaf Lyra! Aku hanya ingin berteman denganmu seperti dulu, please open the door....!" teriaknya dari arah luar.
Sementara Lyra memilih masuk ke kamar tanpa menghiraukan Bara yang memanggilnya, "Dasar, laki-laki brengsek! Bukankah dia sudah menikah? Kenapa dia malah mengejar-ngejar aku, sampe mengungkit masa lalu! Dia pikir aku tertarik, buat balik sama dia!? Dasar laki-laki..... nggak bisa lihat janda. Aaagh....!!"
Bara masih menggedor pintu utama kediaman Lyra, hingga seorang pengantar makanan menitipkan makan malam wanita yang tidak ingin keluar tersebut pada pria yang masih berdiri tegak di luar.
Lyra mau menahan rasa laparnya, karena merasa khawatir dan takut, jika Bara akan berani melakukan hal tidak senonoh padanya, hanya karena mengingat masa indah kebersamaan mereka menurut pria tersebut.
__ADS_1