
Rumah sakit yang terletak di tengah kota Berlin, tidak begitu jauh dari apartemen keluarga Ahmad, membuat Lyra juga Zul menanti ketiga buah hati mereka di rumah sakit.
Lyra beranjak dari ruangan Dokter Teddy, untuk menunggu buah hatinya setelah mendengar wejangan dari pria paruh baya itu, cukup menenangkan hati dan perasaannya sebagai orang tua.
Perlahan langkahnya terhenti, saat lengannya di tahan oleh suaminya dan langsung memeluk tubuh ramping itu.
Zul mendekap erat tubuh Lyra, "Aku sangat mencintai kamu, sayang ... Please jangan tinggalkan aku, demi anak-anak, demi kita," kecupnya lembut pada kepala masih tercium aroma wangi.
Lyra tersenyum bahagia, apa yang Zul rasakan, itu juga yang dapat ia rasakan saat ini. Demi Haris, Hana, juga Hani.
"Aku juga sangat mencintai kamu, hun ..." pelukan itu semakin erat.
Jarak yang beberapa waktu semakin terasa, kini tembok pemisah itu sedikit demi sedikit roboh walau belum seutuhnya, di kalahkan dengan perasaan sayang yang semakin dalam.
Saat mereka tengah menikmati kehangatan pelukan dua insan suami istri yang telah mencair dari kebekuan beberapa waktu lalu, kedua-nya di kejutkan dengan suara seorang wanita di belakang mereka berdua.
"Ehem ... Mesra terus dua pasangan ini. Buat saya cemburu saja ..."
Mata yang tertutup, kembali terbuka, membuat Zul tersadar Kanza tengah berdiri di belakang istrinya.
"Kanza ...! Sorry, tadi aku enggak sengaja menabrak kamu," jelasnya merenggangkan pelukannya dari Lyra.
Lyra menoleh kearah wanita yang selalu tampak berusaha mengejar suaminya sejak dulu.
"Katanya sudah pindah ke Frankfurt, Dokter Kanza? Kok, ada di sini?" tanya Lyra sedikit ingin tahu.
Kanza tersenyum tipis, "Kebetulan kami sedang ada uji laboratorium dan pelatihan kompetensi bareng Dokter Zul. Karena materi yang akan kami berikan untuk kompetensi itu, yang memiliki kelanjutannya hanya ya hmm, eee ... Suami Mba Lyra ... Dokter Zulmaeta."
Lyra membulatkan bibirnya, "Ooogh ..."
Lyra tersenyum lirih, sedikit kaku karena merasa terkejut, selama ini Zul tidak pernah menceritakan wanita yang ada di hadapan mereka.
Zul mengusap lembut bahu Lyra, "Kita ke ruangan Kesy?"
Lyra mengangguk, kembali menatap kearah Kanza, "Kami permisi yah?"
Kanza yang tampak seperti memikirkan sesuatu mengangguk sedikit salah tingkah.
__ADS_1
Zul menundukkan kepalanya kepada Kanza, tanda menghargai wanita yang ada di hadapannya ...
Mereka berlalu, meninggalkan Kanza dalam kesendirian nya.
"Zul ... Kenapa kamu enggak pernah memandang aku ...? Aku banyak berharap pada mu! Aku rela menemani mu semalam saja ..." gumam Kanza dalam hati berlalu meninggalkan koridor rumah sakit.
Sementara di ruangan pemulihan, langkah kedua orang tua Kesy terhenti. Saat mereka menyaksikan kemesraan dua insan yang tampak sangat bahagia.
Dari cara Adi memperlakukan Kesy, tak tersirat dia akan menyakiti gadis kecil yang terus memeluk tubuh kekar Bang pilot yang ada di sampingnya.
"Bang ..."
"Hmm ..." kecup Adi pada punggung tangan Kesy tanpa sungkan.
Dengan penuh cinta, Kesy hanya bisa mengungkapkan perasaannya.
"Bawa Kesy kemana saja Abang mau, Kesy siap menjadi bagian hidup Abang ..."
Tangan halus nan lembut, yang sudah dapat merasakan sentuhan dari pria yang dia cintai memeluk erat tubuh Adi tanpa rasa malu.
Inilah cinta Kesy untuk Adi, yang sejak kecil dia pupuk hingga waktu itu tiba. Rasa cinta, kemesraan Adi padanya membuat semua mata tersadar bahwa gadis kecil yang dulu mengagumi, kini ingin memiliki pria itu seutuhnya.
"Tapi bagaimana dengan Laura? Mama dan semua keluarga ...?" batin Adi saat merengkuh tubuh mungil yang menaruh banyak harapan padanya.
Zul mengurungkan niatnya untuk masuk, begitu juga dengan Lyra. Walau sepenuhnya belum percaya dengan apa yang di katakan Dokter Teddy, sebelum mendengar dari bibir Mama mertuanya, wanita dewasa itu hanya bisa menerka-nerka.
"Hun ..."
"Ya sayang ..."
Zul membawa Lyra untuk duduk di depan kamar ruang perawatan, sambil menunggu ketiga buah hatinya.
"Apa benar yang di katakan Om Teddy? Aku takut kita salah, hun ... Bagaimanapun kita tidak bisa melihat mereka seperti ini. Aku bingung harus bagaimana ..."
Lyra menutup wajah dengan kedua telapak tangannya, kini hatinya bingung juga bimbang. Ingin dia membawa Kesy pergi meninggalkan Berlin, tapi apa hendak di kata. Semua tidak akan mungkin dapat merubah keadaan yang telah terjadi. Kesy tidak akan bisa di pisahkan dari Adi.
"Nikah! Hanya itu jalan satu-satunya yang harus kita persiapkan. Menikahkan mereka, agar Adi bisa ter-arah, begitu juga Kesy. Kuliah dia masih baru. Aku yakin kita bisa menjaga mereka ..."
__ADS_1
Lyra tak dapat membayangkan, menikahkan putrinya di usia 18 tahun.
"Secepat itu? Apa mereka yakin? Bukankah di sini banyak yang tinggal bareng tanpa menikah?" jelas Lyra sedikit panik.
"Toh ... Ada beberapa temanku yang tinggal sesama jenis, bahkan sangat menyeramkan melihat mereka. Tapi bagaimana pernikahan mereka tidak di restui keluarga Dony, hun ..." tambah Lyra.
Zul mengerenyit keningnya, menoleh kearah Lyra memperbaiki posisi duduknya, agar bisa menatap lekat mata istrinya yang sangat-sangat memiliki pemikiran sendiri.
"Sayang dengar kan aku ..."
Zul menarik nafas dalam-dalam, mengecup lembut punggung tangan yang masih ada dalam genggamannya.
"Kamu yakin enggak mau menikahkan Kesy dan Adi? Karena kamu takut akan di tanyakan oleh Mama dan Papa atau keluarga Dony, bla bla bla?"
Lyra mengangguk.
Zul melanjutkan ucapannya, "Jika Kesy hamil dan melahirkan anak, apa mau kita jawab? Lebih baik, kita nikahkan dia di sini, kita ngomong sama Mama dan Papa pelan-pelan, kita tenang, sayang ...! Bersetan dengan keluarga Dony! Mereka tahu apa tentang Kesy? Yang merawat Kesy selama ini kita, Lyra! Kita! Berapa bulan duit toko kamu yang di setor Rey? Hanya berapa tahun yang kamu terima? Jika mereka mengatakan kamu tidak pantas mendidik Kesy, aku yang beli otak mereka! Kamu tidak sendiri sayang, ada aku, Mama, Papa, bahkan semua orang sangat menyayangi kita ... Anak-anak yang tidak bisa berbahasa Indonesia, kamu bayangkan kehebatan kita, walau sebenarnya kita gagal saat ini. Tapi aku yakin kita mampu untuk kembali menata rumah tangga kita ..."
Lyra terdiam, wajahnya memerah, matanya berembun mendengar penuturan Zul yang sangat besar berperan dalam tumbuh kembang Kesy putrinya juga rumah tangga.
Lyra memeluk tubuh Zul, dia hanya bisa pasrah, "Terimakasih hun, terimakasih selama 12 tahun ini kamu terlalu sabar untuk aku. Terimakasih sayang. Jika kita mau menikahkan Kesy, apa perlu kita minta keluarga untuk kesini? Kebetulan uang tabungan aku ada sedikit, agar kita bisa berkumpul dengan Mama dan Papa," pintanya lembut.
Zul menggelengkan kepalanya, "Aku ingin kita pulang. Tapi jika kondisi seperti ini, mungkin pelan-pelan aku akan bicara dengan Mama dan Papa. Untuk biaya tidak usah kamu pikirkan, aku masih bisa kok. Sebenarnya aku mau pulang itu untuk mengurus kepindahan masa dinas aku ke sini. Walau sebenarnya bisa secara online, dan kita sudah di nyatakan warga Berlin, tapi keabsahan ASN ku juga harus di ambil."
Lyra menautkan kedua alisnya, menatap penuh selidik, tertawa kecil mendengar status suaminya telah di resmikan sebagai ASN kedokteran.
"Kamu serius? Aku berhenti, kamu malah sibuk, dong. Kok enggak cerita sama aku?" rungutnya.
Zul mengalihkan pandangannya, "Gimana mau cerita, kita berantem saja. Sampai-sampai lupa mau obrolin masalah kerjaan, karena sibuk ngurusin Kesy ..." godanya di puncak hidung Lyra.
Lyra lagi-lagi memeluk Zul, merasa geram, kesal, bercampur aduk.
"Maafkan aku, hun ..."
Zul hanya menyunggingkan bibirnya sedikit, "Maaf gampang, berubah yang susah ..."
"Hun!"
__ADS_1
"Tuh kan ..."