Perjaka Untuk Janda

Perjaka Untuk Janda
Dia terlalu egois ...


__ADS_3

Berbeda dengan pemikiran Lyra saat ini. Dia akan mencari informasi mengenai obat untuk menggugurkan kandungannya, demi menyelamatkan kejiwaan Kesy dalam menghadapi tekanan yang ternyata semakin tidak masuk akal sehatnya.


Setelah mereka menghabiskan waktu di luar rumah hingga sore, Lyra bergegas lari menuju ke dalam kamar, dan turun kembali menuju apotik rumah sakit milik keluarga suaminya.


Dalam langkahnya, timbul rasa takut dan keraguan yang teramat besar, karena akan berdampak pada kesehatan dan keselamatan nyawanya sendiri.


'Tapi aku harus melakukan semua ini sebelum semua terlambat. Kesy membutuhkan aku! Dan aku tidak ingin terjadi sesuatu pada kejiwaannya ...!'


Lyra mencari keberadaan orang kepercayaan dalam meracik obat, setelah memalsukan tanda tangan Zul.


Beberapa kali karyawan sedikit ragu, karena merasa tidak percaya bahwa Dokter Zul akan mengugurkan kandungan istrinya sendiri.


"Hmm Bu Lyra, saya tidak berani melakukan hal ini! Karena Dokter Zul akan memecat saya selaku orang kepercayaan Dokter Ahmad yang mempersiapkan resep untuk pasien ..." bisiknya pelan.


Lyra menggelengkan kepalanya, "Ini Dokter Zul yang sudah menandatangani, bantu saya untuk melakukan ini!" geramnya.


Petugas apoteker tetap menolak, "Begini saja Bu, minta Dokter Zul yang menghubungi saya. Karena ini menyangkut nyawa janin yang Ibu kandung. Dan itu merupakan harapan bagi Keluarga Ahmad, kan Bu?"


Lyra menunduk, dia memilih meninggalkan ruangan apotik, menangis sendiri pojokan kursi yang kosong, menggenggam segelas air mineral.


"Kenapa aku sebodoh ini? Kenapa aku tidak memikirkan perasaan Keluarga Zul? Tapi aku tidak ingin Kesy seperti saat ini! Dia selalu merasa sendiri, bahkan sangat menyedihkan. Aku harus bagaimana, Tuhan ..." tangisnya.


30 menit berlalu ... Zul baru mendapatkan telepon dari pihak apoteker rumah sakit, bergegas mencari keberadaan Lyra. "Apa-apaan dia! Kenapa dia memalsukan tanda tangan ku? Apakah dia ingin melakukan hal gila ini?" kesalnya.


Zul berlari mencari Lyra di tiap-tiap lorong rumah sakit, namun tidak menemukan keberadaan istrinya di sana.


Zul bertanya pada salah seorang karyawan apoteker, "Dimana Ibu Lyra?"


Gadis itu menunjuk kearah pojokan ruang tunggu, melihat sosok Lyra yang tengah menangis di sana.


Tanpa pikir panjang, Zul mendekati istrinya, melihat telapak tangan yang berkeringat dan wajah yang memucat sambil terus terisak menangisi diri sendiri.

__ADS_1


"Sayang, ada apa dengan kamu? Kita pulang, yah? Jangan lakukan hal bodoh! Aku sangat mencintaimu, please. Semua akan baik-baik saja, Lyra!"


Lyra mengangkat kepalanya, dengan wajah yang masih menangisi kebodohan nya lagi ...


"Tapi aku sudah melakukannya, Zul!" tangisnya.


Zul melepaskan tangannya, dia tidak mengerti apa maksud Lyra saat ini. "Apa yang kamu lakukan? Apa!?" bentaknya dengan suara keras.


Lyra menangis sejadi-jadinya, tak kuasa menahan reaksi obat yang dia ambil secara diam-diam, dan meminumnya di sudut kursi ruang tunggu dengan menggenggam air mineral gelas. Dua butir obat penggugur kandungan telah melesat masuk ke dalam tubuhnya.


Penyesalan selalu datang terlambat, saat merasakan jantungnya berdegup kencang, dan suhu tubuhnya seketika memanas ...


Wajah Zul merah padam, buah hati yang ada di dalam rahim istrinya kini terancam. Bayi kembar yang menjadi harapannya pupus sudah setelah melihat dua pembungkus obat kecil ada dalam genggamannya.


"Lyra, apa yang kamu lakukan? Kamu membunuh anak kita? Anak ku, Lyra!!"


Melihat kondisi istrinya yang tidak stabil, dengan cepat Zul menggendong tubuh istrinya, untuk membawa ke ruang tindakan yang tidak begitu jauh dari sana.


"Hubungi Dokter Ahmad segera! Pasien mengkonsumsi mifepristone 'Korlym' serta misoprostol 'Cytotec', tanpa anjuran dokter! Cepat!!" teriak Zul memberi perintah.


"Apa yang terjadi? Apakah Ibu Lyra mengambil obat tanpa sepengetahuan aku?" tanyanya panik pada seorang rekan kerjanya.


Rekan kerjanya hanya menaikkan kedua bahunya, menepuk pundak wanita yang tengah panik dan ketakutan tersebut.


"Seharusnya kita memberitahu mereka sejak Ibu Lyra ada di sini! Habis lah kita ..."


Perawat segera menghubungi Dokter Ahmad yang masih berada di rumah bermain dengan Kesy cucu kesayangan nya. Namun dia harus menelan pil pahit setelah menerima panggilan telepon dari perawat rumah sakit yang menyampaikan kondisi menantu nya saat ini.


Ahmad sebagai pria tenang, bergegas dia menuju ruang tindakan yang ada di dalam rumah sakit. Dia melihat Lyra yang tengah meringis kesakitan meremas kuat tangan Zul.


Wajah pucat, menahan rasa sakit yang teramat sangat setelah 30 menit mengkonsumsi obat penggugur kandungan dalam dosis yang tidak biasa. Riwayat Lyra yang memiliki alergi terhadap obat-obatan keras membuat Ahmad selaku mertua mengambil tindakan cepat.

__ADS_1


Jika di tanyakan pada hati sang mertua tentu kecewa sangat dalam, setelah mengetahui menantu kesayangannya, menggugurkan kandungan yang merupakan cucu Keluarga Ahmad. Bayi kembar yang akan menjadi harapan Eni dan Ahmad terancam pupus, karena kebodohan Lyra.


Ahmad masih melakukan tindakan terhadap Lyra, tanpa perasaan takut ataupun khawatir. Baginya kali ini Lyra adalah pasien yang harus segera mendapatkan tindakan cepat.


Zul yang sejak awal berdiri di samping Ahmad mendampingi suster, setelah melakukan pemeriksaan bagian dalam, bertanya dengan wajah khawatir, "Bagaimana Lyra, Pa? Apakah bayi kami bisa di selamatkan?"


Ahmad menggelengkan kepalanya, "Kita tunggu kontraksi nya saja, tipis sekali harapannya. Karena saat ini dia mengalami pendarahan," jelasnya.


Zul benar-benar berang, amarahnya membuncah di kepala melihat kelakuan wanita yang dia yakini mampu menjadi Ibu yang baik untuk anaknya.


'Kenapa kamu tega sama aku, Lyra? Dia anak ku, aku sangat mencintaimu tapi kamu lakukan hal yang tidak pernah aku bayangkan. Ini anak kita Lyra! Anak kita ...!!' geramnya.


BHUUUUG ...!


Zul memukul dinding ruangan rumah sakit, membuat perawat yang ada di ruangan tersebut tak bergeming.


Lyra masih meringkuk, merintih kesakitan, perutnya seperti di remas-remas, bahkan lebih dahsyat sakitnya.


Namun kali ini Zul memilih meninggalkan istrinya di ruangan tindakan, berbisik pelan pada salah satu perawat yang berada di sana.


"Jaga Ibu Lyra! Saya ada urusan!" perintahnya ...


Kali ini Zul tidak ingin mendengar rintihan Lyra. Hatinya terasa sakit, dia gagal menjadi pria yang selalu ada untuk wanita itu.


"Kenapa dia tidak pernah menghargai aku! Kenapa dia terus menerus ingin menyakiti aku! Kenapa!? Kenapa ...!?"


Kini Zul sedang berperang melawan perasaannya sendiri. Esok merupakan hari terakhirnya di kota kecil tersebut, namun harus di hadapkan dengan permasalahan seperti ini.


Zul meninggalkan kediaman keluarganya. Menuju apartemen untuk menenangkan pikiran dari Lyra juga keluarga. Dia terus menangis, bayi kembar yang akan menjadi penerus keluarga, harus hilang dalam hitungan hari.


"Ada apa dengan Lyra? Dia dewasa, namun bodoh dalam bertindak! Apa dia masih mencintai mantan suaminya yang sudah mati ...? Tuhan, bantu aku untuk memaafkan istri seperti dia! Rasanya pantas saja Dony menceraikan nya! Ternyata dia terlalu egois dan tidak pernah memperdulikan perasaan orang lain! Kenapa? Kenapa mesti aku yang kamu siksa, Lyra ...!!"

__ADS_1


BHUUUUG ...!


BHUUUUG ...!


__ADS_2