Perjaka Untuk Janda

Perjaka Untuk Janda
Sebelum menikah


__ADS_3

Adi tengah meringkuk di pelukan Eni yang sejak dulu memang sangat menyayangi nya selayak anak kandung dari mereka.


Di ruang kerja, yang menjadi tempat privasi bagi Zul, jika tengah dilanda kegundahan yang tak biasa.


Zul duduk dihadapan Adi dan Eni, sementara Ahmad duduk ditengah keluarganya.


"Bagaimana Di? Apa kamu yakin akan menikahi Kesy? Ingat, Kesy itu wanita spesial. Dia manja bahkan menjadi putri kesayangan Abang mu. Tapi Papa mau memberitahu kamu tentang ini ..."


Ahmad menyodorkan sebuah amplop coklat berisikan semua identitas Adi dari bayi hingga ia berusia 17 tahun.


"Apa ini Pa?"


"Buka saja, kamu akan mengetahui semuanya di sana ..." jelas Ahmad dengan suara pelan.


Perlahan Adi beringsut mendekati meja yang ada di hadapannya, mengambil amplop coklat pemberian Ahmad.


Wajah tampan itu berubah seketika, saat melihat foto semasa kecilnya, hingga saat dia tumbuh remaja.


Disana tercantum nama kedua orangtuanya, yang bertuliskan 'Bayi Kamila dan Riswandi'.


Adi menoleh kearah Eni yang duduk tepat di sampingnya.


"Ma ... Apa benar Adi bukan anak Mama?" tanyanya dengan suara bergetar.


Dada Adi bergemuruh bahkan terasa semakin berat untuk menerima kenyataan bahwa dia bukan darah daging Keluarga Ahmad, yang selama ini menjaganya dengan sangat baik.


Eni mengangguk pelan, "Tapi Mama selalu menyayangi kamu layaknya Bang Zul. Mama ingin kamu bahagia bersama Kesy. Bagaimanapun, saat kamu menikah membutuhkan nama Ayah kamu walau mereka sudah tiada."


Adi menangis sejadi-jadinya, memeluk erat tubuh Eni yang selalu dia kecewakan.


"Maafkan Adi, Ma. Maafkan Adi karena telah mengecewakan Mama tidak menjadi militer. Adi justru membuat keputusan yang mengecewakan Mama berkali-kali. Jika tahu semua ini sejak awal, Adi akan mengikuti semua perintah Mama ..."

__ADS_1


Eni tersenyum bahagia, mengusap lembut punggung putra yang sangat dia cintai hingga saat ini.


"Mama selalu bangga dengan semua keputusan kamu, walau kecewa, tapi Mama ingin anak-anak hebat yang sudah tumbuh dewasa, menikah juga memiliki anak yang menggemaskan. Menikahlah dengan Kesy, Mama dan Papa sudah ikhlas. Walau sejujurnya kami tidak merestui hubungan kalian. Tapi Mama yakin Kesy akan bahagia sama kamu ..."


Eni mengusap lembut wajah Adi yang tampan, mengecup lembut kening putra kesayangannya.


Adi kembali memeluk tubuh Eni, mencium bahu wanita terhebat yang pernah dia miliki selama ini.


"Makasih Ma! Makasih banget, setidaknya Adi mengerti perjuangan Mama dan Papa juga Abang dalam merawat aku selama ini. Mungkin jika Adi besar dan tumbuh di tangan orang yang salah, aku enggak akan menjadi seperti ini," isaknya dalam pelukan Eni.


Ahmad dan Zul hanya bisa merasakan cinta Eni yang tulus dalam merawat Adi, memberikan kebahagiaan dan materi yang berlimpah tanpa membedakan antara Zul dan dirinya.


Adi beranjak mendekati Ahmad sang Papa. Pria terhebat yang dengan sangat telaten telah menjadikannya pria tampan seperti saat sekarang, tanpa berdebat ataupun tidak menyayangi nya.


Adi tumbuh dalam keluarga yang sangat baik. Walau dia terus bertentangan dengan Eni dalam mengambil keputusan untuk sekolahnya sejak dulu, membuat kedua orangtuanya memberikan pilihan untuk melanjutkan sekolah kala itu.


Keinginan Ahmad menjadikan Adi seorang Dokter, namun di tolak oleh anak keduanya. Dengan alasan, dia lebih menyukai dunia penerbangan, tanpa mau melanjutkan kedokteran seperti keinginan Eni juga Ahmad kala itu.


"Hanya satu pesan Abang untuk kamu! Sayangilah anak tiri ku, jangan pernah kamu kecewakan dia, karena aku tidak mau Lyra mengalami kesedihan ..."


Adi mengangguk patuh. Menikahi Kesy bukanlah satu beban baginya, karena gadis muda itu sangat menggemaskan juga manja padanya. Walau sesungguhnya perasaan cinta itu belum tumbuh seutuhnya.


.


Di ruangan yang berbeda, Kesy justru tengah bermanja-manja dengan Lince juga Boy di dalam kamar miliknya.


Lince berkali-kali berpesan pada Kesy, memberikan wejangan karena pernikahan bukanlah hal yang mudah.


"Kamu harus patuh kepada suami. Jangan terlalu banyak membantah, karena pernikahan itu manisnya hanya setahun, dua tahun, bahkan tiga tahun. Di tahun keempat dan kelima itu akan menjadi ujian yang silih berganti dalam menguji kesabaran dan kesetiaan kamu pada suami, begitu juga sebaliknya. Ingat, kita ini keluarga yang di persatukan dari Mama kamu! Oma tidak mau, Mama dan Papi kamu berpisah bahkan bercerai. Kamu ingat pesan Oma?" jelas Lince panjang lebar.


Kesy meringkuk di pangkuan Lince, mengangguk mengerti, tanpa perasaan sungkan untuk terus bertanya tentang pernikahan.

__ADS_1


"Kemaren Papi juga sudah menasehati Kesy, Oma! Maafkan Kesy telah mengecewakan kalian, tapi Kesy enggak mau Bang Adi menikah dengan Laura ..." rungutnya.


Lince mengangguk mengerti, "Oya, adik-adik kamu kenapa tidak di ajarkan bahasa Indo. Jadi Oma bingung bicara sama mereka!"


Kesy tertawa terbahak-bahak, mendengar celotehan Lince yang tampak kebingungan menghadapi ketiga anak kembar Lyra dan Zul.


"Mereka itu biasa sama Betris, Oma! Betris tidak bisa menggunakan bahasa Inggris, jadi dia menggunakan bahasa Jerman, membuat mereka lebih terbiasa. Tapi akhir-akhir ini, Mama sudah mengajarkan mereka bahasa Indo kok. Apalagi sekolah mereka khusus anak-anak Jerman, jadi lebih nasional, bukan internasional ..."


Lince mengangguk mengerti, "Oya, Om Bima akan menyusul kesini. Dia ingin melihat acara pernikahan kamu, mungkin sama Tante Kenny juga. Mereka hanya cuti seminggu apa dua mingguan. Jadi kita bisa berkumpul di sini semua. Sekaligus Mama mau bawa adik-adik kamu pulang ke Indo, kalau lagi libur sekolah."


Kesy mengerenyitkan keningnya, kemudian berkata, "Belum libur deh Oma, lebih baik Oma sama Opa saja yang di sini menemani Mama. Aku kan mau bulan madu sama Bang Adi ke Hawaii."


Boy menautkan kedua alisnya, menatap lekat wajah cantik cucu yang sangat menggemaskan.


"Bulan madu ke Hawaii? Yah ... Opa kesini mau menemani kamu, tapi kamu malah pergi meninggalkan kami ..." rungutnya mencium kepala Kesy.


Pelukan Kesy yang hangat seketika mendamaikan hati Lince juga Boy selaku cucu tertua dari kedua insan paruh baya itu.


"Jangan sedih dong, Kesy menikah juga karena sejak dulu jatuh hati pada Bang Adi ..." tunduknya malu.


Lince menatap Boy, sebagai pembelaan dirinya akan cinta yang terlihat dari Kesy sejak kecil untuk pria bernama Adi.


Tak lama mereka saling melepaskan kerinduan, Lyra mengetuk pintu kamar Kesy, membawa ketiga buah hatinya agar bergabung dengan Lince dan Boy ...


"Hai ..." sapa Haris tersenyum berhamburan memeluk Boy.


Boy tersenyum sumringah, dia merasakan sesuatu saat Haris memeluknya.


Selama ini Boy selalu merindukan keempat cucu-cucunya yang berada di negara panser tersebut, karena Bima dan Kenny tak kunjung di berikan keturunan semenjak mengugurkan kandungan nya sebelum menikah.


"Abang kamu masih belum memberikan Papa cucu, Lyra. Jujur Papa menyesal telah keras pada Abang kamu kala itu ... Maafkan Papa yah, Nak!"

__ADS_1


Lyra hanya bisa tersenyum lirih, "Sabar yah Pa ..."


__ADS_2