Perjaka Untuk Janda

Perjaka Untuk Janda
Tidak akan pernah menceraikan


__ADS_3

Pihak kepolisian membawa Adi menuju rumah sakit, untuk mengeluarkan timah panas yang bersarang agar tidak infeksi.


Akan tetapi, malang tak dapat di tolak, untung tak mampu di raih, pepatah itulah yang pantas untuk anak tiri Keluarga Ahmad tersebut. Adi harus mengalami amputasi kaki tiga centimeter dari bawah lutut.


Entahlah, kini dia hanya bisa pasrah ... Dendam terhadap Kesy sudah pasti semakin besar ingin menyakiti gadis itu. Karir yang takkan mampu lagi ia raih, bahkan untuk menjadi pilot terbaik kembali tak akan ada harapan karena kelumpuhan yang di sebabkan oleh orangtuanya Ahmad Maeta.


"Kenapa Papa lebih kejam dari Bang Zul ...? Ternyata hanya Mama yang sangat menyayangi aku, hingga dia mau melakukan apa saja untuk ku ..."


Lagi-lagi, pikiran picik kembali menari-nari di benak pria berstatus suami bagi Kesy.


"Sampai kapanpun Abang tidak akan pernah menceraikan mu, Kesy! Abang akan pergi meninggalkan kota ini, dan mengikuti kemana kamu pergi! Abang yakin, kamu tidak akan menolak Abang, karena kamu sangat mencintai Abang ..."


Mata Adi perlahan tertutup rapat, saat melihat cahaya sinar putih, yang telah membawanya masuk kedalam dunia alam bawah sadarnya, untuk melakukan tindakan operasi amputasi kaki sebelah kiri, yang terkena tembakan dari jarak dekat oleh Papa Ahmad.


.


Sudah lebih dari satu minggu Kesy meringkuk di ranjang rumah sakit. Tubuh rampingnya, semakin terlihat lebih kurus dan masih pucat, walau sudah menjalani transfusi darah beberapa waktu lalu.


Mata indah itu masih terlihat sembab, membuat Lyra juga Zul harus bekerja ekstra dalam mengembalikan psikologis putri kesayangan mereka dari pihak luar termasuk keluarga saat ini.


Sudah lebih satu minggu juga mereka menutupi semua tentang Kesy, dari keluarga Lyra.


Zul tengah mempersiapkan semua berkas untuk memindahkan semua data dirinya sebagai dokter spesialis kandungan dari kota kecil itu, yang sudah di angkat menjadi Aparatur Sipil Negara Kedokteran ke Berlin tempat ia menetap saat ini.


Lyra justru tengah membukakan buah jeruk dan pear untuk Kesy.


Kesy menoleh kearah Zul, memanggilnya sang Papi untuk mendekat padanya, "Pi ..."


"Hmm ..."


"Sini ..."


"Ngomong saja. Papi lagi ada kerjaan!"


Kesy mengembung kan pipinya, dia sama sekali tidak menyukai jika Zul sibuk seperti saat ini.

__ADS_1


"Papi ..." rengeknya.


Lyra menghela nafas panjang, mengusap lembut punggung Zul yang duduk di sebelah suaminya, agar mendekati putri kesayangan mereka.


Mau tidak mau, terpaksa atau bahkan sibuk sekalipun, Zul menghampiri Kesy yang sangat manja padanya.


Zul memeluk tubuh mungil putrinya, mencium puncak kepala gadis kecil yang tidak akan pernah mereka anggap dewasa ...


"Pi kita pindah ke Hamburg saja, enggak usah di Berlin. Kesy enggak mau lagi sama Bang Adi. Kesy takut ketemu dia. Kesy mau kok, kerja sama Papi atau Mama, buat bantuin kalian. Kesy enggak mau nikah lagi. Kesy takut ..."


Zul mengalihkan pandangannya kearah Lyra. Kali ini dia tidak menyangka, bahwasanya trauma saat ini lebih menorehkan luka sangat dalam daripada masa kecilnya.


Saat ini Lyra hanya memikirkan anak-anak mereka. Berjuang untuk melindungi dan menjaga kesehatan mental keempat buah hati titipan Tuhan itu sebaik-baiknya.


Ketika mereka tengah berpikir dengan pikiran masing-masing, terdengar suara ketukan pintu dari arah luar ruang perawatan kamar Kesy.


Zul melepas pelukannya dari Kesy, berdiri mendekati pintu.


Tak di sangka-sangka oleh mereka bertiga, ternyata Rey keponakan Lyra nongol didepan pintu kamar rumah sakit.


Zul menoleh kearah Lyra, bertanya dengan suara pelan pada sang istri, "Siapa yang memberitahukan kejadian ini pada Rey keponakan mu?"


"Aku enggak pernah bicara sama Rey, justru aku mau membahas tentang Rey, kenapa dia berhenti bekerja dari sini? Tapi karena kita memiliki masalah, aku masih belum mau membahas tentang ini," jelasnya.


Zul meminta Lyra untuk menemani Kesy di ranjang, kemudian membuka pintu sedikit lebar.


Zul menyapa dengan sangat sopan, "Hai Rey! Apa kabar?"


Rey melongokkan kepalanya, memeluk Zul yang telah membuka tangan untuknya.


"Baik Om. Siapa yang sakit? Apakah Tante Lyra atau?"


Rey melihat kearah Kesy, sepupu paling baik walau memiliki watak keras kepala.


"Kesy, lagi demam biasa. Kamu ngapain hmm?"

__ADS_1


Rey melepaskan pelukannya, tersenyum tipis dan menunduk, "Istri Rey melahirkan tadi subuh sama Dokter Diki. Kata mereka Dokter Ahmad dan Dokter Zul masih ada kegiatan, jadi tidak bisa di ganggu. Ternyata pas Rey mau masuk ke kamar sebelah, melihat Tante Lyra. Makanya mau memastikan, bener apa enggak kalian sudah kembali ke sini."


Zul mengangguk mengerti, "Masuklah, selamat yah? Kamu sudah bisa jadi Ayah sekaligus suami. Sekali lagi selamat, Om memang tidak menerima pasien, karena mungkin lusa juga sudah kembali ke Berlin."


Rey tersenyum, dengan membawa satu plastik hitam dengan benda yang tak tampak seperti buah tangan untuk orang sakit.


Rey berjalan mendekati Kesy juga Lyra. Tatapan kerinduan sangat terpancar di mata mereka. Bagaimana tidak, sudah lebih 10 tahun tidak bertemu, hanya mengirim pesan dan laporan uang toko milik almarhum Dony, yang lama kelamaan habis tidak ada kabar sama sekali.


Namun, Rey merupakan keponakan Lyra yang sangat pandai berterima kasih. Dia ingin menemui wanita itu hanya untuk memberikan tanggung jawabnya selama ini tentang toko yang masih berjalan hingga saat ini.


Rey meletakkan plastik hitam tersebut di atas meja, berisikan uang tunai sebesar 750 juta.


Sontak aksi Rey membuat Lyra tampak terkejut dan menoleh kearah Zul.


"A-a-apa ini Rey?" tanya Lyra tampak kebingungan, saat melihat keponakannya itu membuka kantong plastik tersebut, dan membuat mulutnya benar-benar ternganga.


"Maaf Tante, uang ini sengaja Rey putar selama fokus mengembangkan usaha Om Dony. Makanya Rey keluar dari rumah sakit, karena merasa lebih menguntungkan untuk mengembangkan bisnis sendiri. Alhamdulillah saat ini ruko tiga lantai itu sudah menjadi milik Rey. Walaupun di bantu sama istri Rey, tapi dia sangat baik dan mau bekerja sama untuk mengembangkan bisnis kami," jelasnya.


Lyra langsung menutup mulutnya rapat-rapat. Selama ini dia selalu menganggap bahwa keponakannya itu tidak pernah lagi melaporkan keuangan dan menganggap bahwa toko almarhum mantan suaminya tersebut sudah bangkrut atau apalah ...


Tapi ternyata pikiran Lyra sangat jauh, Rey benar-benar menjaga amanah yang ia berikannya.


Zul hanya bisa tersenyum, dia mendekati Kesy, kembali mengusap lembut kepala putrinya yang kembali mendekap.


Pemandangan itu membuat Rey kembali bertanya, "Mana Om Adi, Tante? Kenapa istrinya sakit dia tidak terlihat?"


Lyra mengalihkan perhatian Rey, agar tidak membahas Adi dihadapan Kesy.


"Jadi ini berapa, Rey? Kamu hebat yah? Baru Tante mau bertanya sama Om Zul, kamu kemana ... Ternyata sudah jadi pebisnis handal. Oya, siapa istri kamu? Pasti dia sangat beruntung memiliki suami penyayang seperti mu."


Mendengar pertanyaan Lyra, Rey hanya bisa menundukkan kepalanya kemudian menjawab pelan ...


"Luna, Tante. Hmm ... Mungkin Om dan Tante kenal sama Luna. Rey di buang sama Mami, karena tidak boleh menikah dengan wanita itu. Tapi Rey suka dengan wanita dewasa. Dia lebih baik, dan mau merubah seluruh hidupnya demi menjalani rumah tangga biasa yang bahagia. Kegagalan dia sama Om Aldo karena kekerasan pasca sebelum menikah. Kalau enggak salah, Om Aldo teman Om Zul, kan? Dia pindah ke Singapura sekarang. Dan sudah menetap di sana. Karena Luna memergokinya sama wanita lain, tapi mereka sudah menikah," jelasnya panjang lebar.


Zul yang mendengar nama Luna di sebut, dia hanya tersenyum. Tak ingin banyak bertanya karena dia mengetahui bagaimana Aldo, dan Luna.

__ADS_1


Kekerasan bukan berasal dari Aldo saja. Melainkan Luna lah yang memulai lebih dulu ...


"Aaaagh entahlah ... Ternyata kejadian di kota kecil ini terlalu sangat mengerikan. Lebih baik pergi meninggalkan kota ini, dan kembali ke Berlin ..."


__ADS_2