
Suasana malam semakin terasa sangat sejuk, perubahan iklim dikota kecil tersebut membuat penurunan kondisi tubuh Lyra menurun seperti saat ini.
Zul yang berhasil lolos dari penyerangan orang yang tidak dikenal, membuat dia berfikir sepanjang jalan, "Siapa mereka ...!?"
Kap mobil depan terlihat baret, namun tak menyulutkan niatnya untuk segera tiba dikediaman kekasih hatinya.
Setibanya di kediaman Lyra, Zul disambut baik oleh Kesy karena membawa banyak makanan untuknya.
"Terimakasih Papi ....!" kecup Kesy pada pipi Zul, dan melihat memar disudut bibir tipis calon Ayah sambungnya, saat pria muda itu berjongkok di hadapannya.
Kesy mengusap lembut sudut bibir Zul, "Ini kenapa Pi ....?" tanyanya penuh selidik.
Zul hanya tersenyum, memilih berdiri, mencari keberadaan Lyra.
"Mama mana sayang ....? Udah tidur ....?" usap Zul mengacak rambut putri kecil yang sangat menggemaskan itu.
Kesy menggandeng tangan Zul, membawa pria muda itu ke kamar Lyra setelah diberi izin oleh Boy yang tengah asik menonton televisi bersama Lince.
Kesy sengaja menutup pintu kamar, agar tidak menggangu privasi kedua insan dewasa itu untuk saling bercerita dan berkeluh kesah, karena kode mata dari Lince dan Boy.
Zul masuk kedalam kamar, membawakan jus alpukat sesuai permintaan Lyra. Perlahan dia duduk dipinggir ranjang, berdekatan dengan tubuh kekasihnya yang tengah terlihat lemah.
Perlahan Zul meraba kening Lyra, memeriksa kondisi wanita dewasa tersebut dengan sepenuh hati.
Lyra merasakan tangan kekar seorang pria yang selama ini memanjakannya, perlahan dia membuka mata melihat kehadiran Zul dengan pandangan semakin kliyengan.
"Zul .... kepala ku sakit sekali. Pusing ....!" rengek Lyra memeluk paha Zul yang ada di sampingnya.
Zul mengusap lembut punggung wanita yang semakin tampak lemah tersebut, mengeluarkan beberapa obat yang dia bawa dari rumah sakit milik keluarga.
__ADS_1
"Kamu sudah makan, sayang ....?" tanya Zul sedikit khawatir.
Lyra menggelengkan kepalanya, tanpa bisa membuka mata hanya mengangguk pasrah saat pria muda itu memaksa untuk segera makan, mengisi perutnya yang kosong.
Zul, beranjak menuju pintu kamar, membuka pintu pelan, ternyata kedua orang tua Lyra tengah berada di balik pintu sedang menguping pembicaraan dua insan di dalam kamar.
Zul .... tersenyum geli melihat kelakuan calon mertuanya yang sangat kocak, karena merasa khawatir kalau-kalau melakukan perbuatan tidak senonoh pada putri kesayangan mereka.
"Ma .... bisa ambilin nasi sedikit saja? Biar Zul, suapin agar makan obat. Kasihan perutnya kembung karena kosong ...." ungkap Zul sopan.
Lince yang merasa malu karena ide konyol suami tercinta dihadapan Kesy, bergegas mengambil makan malam untuk Lyra sambil menggerutu, "Giliran kekasih datang .... suruh makan, langsung 'iya'! Tadi Mama suruh makan, enggak mau ....! Rupanya nungguin Dokter brondong ...." tawanya geli.
Boy justru kembali ke sofa sambil bersiul, menemani Kesy yang tengah asik menyantap makanan yang dibawakan oleh Papi Zul dengan lahap.
Kesy memberikan satu cup cream soup untuk Lyra, dan satu potong ayam bagian paha kesukaan sang Mama.
Zul membantu Lyra agar duduk bersandar pada bantal yang sudah diatur oleh pria lembut tersebut.
Lyra hanya bisa menahan rasa mual, yang timbul karena rasa sakit di kepalanya.
"Kamu, aku bawa kerumah sakit saja yah ....? Aku khawatir, Lyra ...." ucap Zul lembut.
Lyra menggelengkan kepalanya, dia enggan merepotkan Zul yang terlalu baik memberi perhatian kepadanya selama ini.
Zul tersenyum, "Kalau enggak mau ke rumah sakit, kamu harus makan, dan minum obat yang aku bawa, terus istirahat ....! Jangan membantah ....!" tegasnya.
"Hmm ....!!"
Zul dengan sabar menyuap makanan ke mulut Lyra dengan penuh kasih sayang, tanpa mau terjadi sesuatu pada pujaan hatinya.
__ADS_1
Seketika, saat perut Lyra kembali terisi, kepalanya mulai terasa lebih ringan, matanya tertuju pada bibir Zul yang terlihat memar. Dia mengusap bibir pria yang ada di hadapannya lembut, memberanikan diri untuk bertanya, "Kamu habis berantem, yah ....?"
Zul mendelik, berusaha menghindar, menutupi apa yang dia alami sebelum menuju ke kediaman Lyra agar wanita cantik itu tidak merasa khawatir, karena akan mengganggu pemulihan kekasih hatinya.
"Hmm .... hanya pegel sedikit saja. Enggak tahu siapa pelakunya. Sudah .... jangan dipikirkan. Aku baik-baik saja. Yang penting kamu sembuh dulu, agar bisa aktif kerja lagi ....!" jelas Zul mengecup kepala wanita yang terlihat mendekatinya.
Zul menatap lekat wajah Lyra, jika diikutkan perasaannya saat ini, ingin sekali dia mencium dan memeluk wanita di hadapannya memohon agar menerima dirinya seperti rencana awal untuk segera menikah dengannya. Tapi bukankah pernikahan itu merupakan dua insan yang sama-sama saling mencintai, bukan bertepuk sebelah tangan. Seperti yang dialami Zul saat ini.
Lyra memeluk tubuh Zul, kali ini hanya pria itu yang mampu memberikan kenyamanan bagi seorang janda seperti dirinya.
"Zul .... maafkan aku, karena aku belum bisa sepenuhnya menerima kehadiran mu. Sabar lah ....! Semoga aku bisa merasakan cinta itu kembali. Kamu sangat menyayangi aku, jangan pernah tinggalkan aku," ucap Lyra memohon.
Zul menghela nafas dalam, terasa berat, namun harus dia mengerti, karena tidak semudah itu mengganti kan posisi Dony yang lebih dulu mengisi kehidupan Lyra selama delapan tahun, dibandingkan dirinya yang baru dua bulan menghabiskan waktu bersama.
Zul melepas pelukannya, menangkup wajah cantik Lyra, "Apa aku kurang sabar selama ini ....? Apa aku tidak berarti untuk kamu ....? Jika tidak berarti, jujur Lyra. Mungkin aku akan pergi meninggalkan kota ini untuk selamanya, dan tidak akan pernah kembali. Yang melakukan kesalahan itu Dony ....! Bukan aku ....! Please .... buka hatimu untuk aku ....! Ternyata sulit membuat kamu jatuh cinta di dunia nyata, dibandingkan dunia maya ....!!" sesalnya.
Lyra terdiam, wajahnya memerah. Melepas tangan Zul dari wajahnya, memberikan pertanyaan yang tidak masuk akal bagi Zul, "Kenapa kamu jatuh hati pada seorang wanita yang berstatus janda seperti aku ....? Kenapa kamu tidak mencari wanita lain, lebih muda, bahkan lebih cantik dari aku, Zul ....! Aku hanya seorang wanita yang tidak seseksi pikiran mu. Lihat wajah ku, terlihat tidak segar, bahkan tampak tua ....! Aku rasa mata kamu udah buta, jatuh cinta sama aku ....!!"
Zul tertawa kecil mendengar penuturan Lyra yang semakin lucu, "Kamu pikir cari wanita baik itu semudah membalikkan telapak tangan ....? Atau tinggal tunjuk seperti rumah makan Padang ....!? Lyra, aku mencintaimu tulus .... benar-benar tulus sama kamu! Aku enggak pernah terpikir untuk mencari wanita lain. Trust me Lyra .... I love you so much ....! Aku justru telah mempersiapkan rumah untuk kita di Berlin. Come on .... kita menikah, dan hidup disana. Aku rasa cukup kamu menangis selama ini. Terima pinangan aku, Lyra ....."
Lyra terdiam, dia kembali menguji kemampuan Zul, "Aku akan menikah dengan mu .... jika aku berhasil lolos menghadapi test minggu depan dalam bersaing untuk posisi pindah kesana ....! Sabar dong .... masih juga dua bulan kita dekat, belum kenal banget ....!" rungutnya.
Zul memeluk tubuh Lyra yang semakin terasa kurus, "Katakan kamu mencintaiku ....!?" geramnya.
"No ....!"
"Please .... katakan cinta sama aku ....!!"
"No ....!"
__ADS_1