Perjaka Untuk Janda

Perjaka Untuk Janda
Malam terindah


__ADS_3

Suasana kota semakin larut, cahaya gemerlap lampu kota menghiasi kota kecil nan indah diiringi music house yang terdengar dari kejauhan menandakan bahwa kota itu selalu hidup 24 jam walau hari sudah berganti.


Tepat pukul 00.00 waktu setempat, kedua keluarga kembali ke lantai 18 yang merupakan tempat peristirahatan Ahmad dan Eni jika sedang bosan saat berada dirumah mereka.


Kedua dokter spesialis kandungan itu meliburkan diri dan mempersiapkan dokter pengganti terbaik bagi pasien mereka.


Sementara Kesy digendong kelantai yang sama oleh Bima dan keluarganya karena kelelahan diruangan yang berbeda.


Zul masih tinggal dilantai atas restoran tengah mempersiapkan malam terindah dengan Lyra sang istri, untuk menghabiskan malam terindah mereka sebagai suami istri yang sah secara agama.


Pria tampan itu, sengaja menutup mata Lyra menggunakan kain berwarna hitam yang telah disediakan oleh pelayan restoran.


Lyra yang merasa tidak nyaman dengan mata tertutup, sedikit berbisik, "Zul ... aku tidak suka dengan kejutan. Lebih baik, kamu katakan honey. Aku takut ...!" rengeknya.


Zul mengecup lembut kening Lyra, "Percayalah padaku, kita akan membuat malam ini menjadi kejutan yang sangat kamu sukai dan tidak akan pernah kamu lupakan, sayang. Aku mencintaimu ...!"


Lyra menarik nafasnya dalam. Dadanya seperti sedang berdendang oleh kemesraan Zul, sehingga membuatnya salah tingkah. Bagaimana mungkin seorang pria muda bisa sangat berpengalaman dalam menyenangkan hati wanita sepertinya.


"Apakah kamu seromantis ini dengan semua wanita yang dekat dengan mu, Zul?" tanya Lyra penasaran.


"Only you, never anyone else," jawabnya singkat.


Zul membawa Lyra dengan menggenggam erat jemari tangan wanita cantiknya, memasuki lift yang telah terbuka sedari tadi.


Lyra tampak gugup, bahkan ingin sekali dia membuka penutup matanya, karena tidak ingin berada dalam kegelapan terlalu lama, "Masih lama, Zul?" tanyanya semakin penasaran.


Zul mendekap tubuh ramping Lyra menanti lift berhenti dan terbuka lebar untuk segera membawa wanita itu kesebuah kamar yang telah dia persiapkan.


Saat pintu lift berbunyi, bergegas Zul menggendong tubuh ramping itu ala bridal. Membuat Lyra sedikit terpekik karena kaget.

__ADS_1


"Aaaagh, Zul! Aku takut jatuh!"


"Berpeganglah sayang ...!" bisik Zul


Tangannya mengalung erat dileher kekar Zul, karena perasaan takut akan terlepas dari gendongan pria gagah tersebut. Wajahnya menelusup didada bidang Zul, untuk mendengar detak jantung sang pria muda nan gagah perkasa.  


Seluruh pelayanan dilantai 30, telah mempersiapkan semua kebutuhan malam pengantin pasangan itu. Mereka menunggu Zul dan Lyra layaknya sepasang Romeo dan Juliet yang tengah dimabuk cinta dan gairah.


Pintu ruang apartemen terbuka lebar, ruangan yang dihiasi cahaya temaram, dengan jendela kaca yang terbuka lebar memperlihatkan kota kecil tersebut dengan pemandangan yang sangat luas. Terpampang jelas jembatan kota yang sangat indah, dari lantai tersebut.


Perlahan Zul membuka penutup mata Lyra, didepan meja kecil yang menunjukkan beberapa sertifikat rumah dan selembar SK yang tergadai disalah satu Bank pemerintah kala itu. Dihiasi bunga mawar dan black card unlimited menunjukkan bahwa satu kewajiban Zul untuk bertanggung jawab atas diri Lyra. 


Lyra menutup mulutnya yang masih ternganga. Dia tidak menyangka, akan dikejutkan dengan semua yang ada diatas meja, "Zul ... apa ini!? Apa kamu memalsukan tanda tangan ku? Kenapa kamu bisa menebus SK ku di bank itu? Hutang ku masih banyak, dan aku tidak memiliki uang cash sebanyak itu untuk menggantinya padamu!" kesalnya.


Zul memeluk tubuh Lyra dari belakang, "Dengar sayang, semua ini adalah tanggung jawab aku. Aku juga telah melunasi uang sekolah Kesy hingga semester depan, sampai kita pindah ke Berlin dan menetap disana. Kemungkinan Mama dan Papa juga akan ikut mengantar kita, sekalian berlibur karena Papa ingin melanjutkan hoby mereka," jelasnya.


Mama Eni telah mengatur semua dengan baik karena mengenal banyak orang pemerintahan, meminta pihak bank tersebut untuk memberikan SK Lyra yang menyisakan hutang tidak begitu banyak. Hanya seharga mobil sedan yang sudah diberikannya pada Dony sang mantan suami yang tidak memiliki akal dan pikiran yang sehat.


Zul memberikan sebuah istana megah dan mewah untuk Lyra yang merupakan perumahan elite di kota tersebut, membuat wanita itu semakin tidak kuasa untuk berkata-kata.


Zul membalikkan tubuh wanita cantik yang ada di hadapannya, "Setia lah bersama ku Lyra hingga kita dikaruniai anak yang banyak dan hidup bahagia bersama buah hati kita, Kesy. Aku akan selalu membahagiakan mu."


Kecupan Zul yang awalnya hanya sebuah kecupan lembut diseputaran wajah cantik itu, kini berlabuh di bibir manis janda yang baik seperti Lyra.


Lyra meremas jas putih yang dikenakan Zul, menyambut baik ciuman itu dengan penuh perasaan bahagia.


Jantung keduanya berdegup kencang, bahkan tak kuasa menahan hasrat yang selama ini terpendam.


Lyra menepuk dada Zul, sedikit berbisik ... "Apakah kita tidak mengganti pakaian dulu? Aku pengen pipis, Zul."

__ADS_1


Zul mengehentikan ciumannya, memberi ruang pada wanita yang tampak gugup sedari tadi saat tiba didalam kamar yang luas apartemen milik keluarganya.


Lyra bergegas menuju kamar mandi, yang beraroma wangi parfum mewah sebuah apartemen yang indah, aroma mawar yang sangat khas dihiasi lukisan abstrak bernuansa etnik Eropa klasik. Sementara Zul, memilih membuka jas putih dan meletakkannya dikursi yang tersedia.


.


Dikamar yang berbeda, di club' malam masih terlilit selimut sepasang pasangan yang baru saja menghabiskan malam dengan cara yang berbeda.


Ya ... Dony yang tak mampu mendengar suara dessahan Luna, memutuskan untuk memberi kepuasaan pada wanita yang terus mengeerang memohon tersebut.


Dony hanya mampu membantu Luna untuk mencapai puncak kebahagiaan wanita itu dengan jarinya. Walau sejujurnya dia tak kuasa untuk menahan hingga meminta pada Luna agar melakukan hal yang sama pada miliknya.


Keduanya masih saling merasa tidak senyaman dalam penyatuan, membuat keduanya terlelap dalam rasa yang aneh bahkan semakin penasaran.


Namun Dony sudah berjanji pada diri sendiri untuk tidak melakukan hal itu pada wanita yang sudah memiliki komitmen dengan pasangan mereka. Kali ini hanya sebuah keharusan untuk menyelamatkan wanita itu dari kejahatan pria hidung belang yang ada dalam club' malam.


Luna berbisik pada Dony saat mereka merasa cukup bermain-main, "Kenapa Abang enggak mau memasuki lembah gelap ku? Apakah Abang tidak normal?"


Dony menghela nafas panjang, menjawab asal pertanyaan Luna, "Kamu masih memiliki hubungan dengan pria lain. Aku tidak ingin masuk penjara lagi hanya karena urusan lembah, trauma ...!"


Luna menelentangkan tubuhnya, menatap langit-langit kamar yang masih remang-remang, "Pria itu masih mencintai istrinya, Bang. Dia hanya menjadikan aku mesin ATM otomatisnya saja. Sekarang aku kehilangan segalanya, aku memiliki uang tapi tidak dengan kebahagiaan. Mas Bara juga yang memberi kabar, bahwa janda mu telah menjadi istri sah Zul. Mereka pasti tengah menikmati keindahan yang sangat luar biasa. Aku menyesal, Bang! Sangat menyesal ...!" tangisnya terdengar serak.


Dony yang mendengar celotehan wanita dalam pengaruh obat haram itu, hanya bisa menenangkan hati dan pikirannya.


"Bagaimana jika kita merencanakan sesuatu untuk merebut kembali hati putri kesayangan ku! Aku rasa, hanya itu cara terbaik kita untuk membalas rasa sakit hati pada mereka berdua!" ucapan Dony disambut anggukan oleh Luna.


"Aku setuju ...! Lusa aku akan menemanimu, tapi malam ini kamu harus menyempurnakan hasrat ku, Bang! Aku ingin punya mu, menelusup kedalam milik ku," usap Luna lembut pada terong ungu milik Dony.


"Hmmfh ...!!"

__ADS_1


__ADS_2