
Mengenang semua kejadian yang cukup memberatkan bagi Dony, bergegas dia meninggalkan toko yang terletak sangat jauh dari kediamannya. Dalam benak pria bertubuh kurus itu, hanya berfikir bagaimana untuk kembali pada Lyra, berharap materi yang akan di berikan istrinya kapan dia membutuhkannya dengan berbagai macam kebohongan yang dia ciptakan.
Dony berkali-kali menghubungi Lyra melalui handphone miliknya, namun tidak ada jawaban, sehingga dia mendapatkan pengejaran dari pihak kepolisian karena telah menerobos lampu merah saat berada di persimpangan jalan.
"Aaaagh sial... duit lagi nggak ada, malah di stop polisi lagi!" geramnya saat menghentikan kendaraan di jalur kiri.
Dony menghela nafas panjang, mengusap kasar wajahnya yang tampak gusar, saat merogoh kocek hanya tersisa uang pecahan 20.000.
Dony semakin menggerutu, "Bagaimana ini...? Pajak mobil mati lagi...! Aaagh... shiiit....!!"
Dua orang polisi mendekati kendaraan Dony mengetuk kaca mobil, menunggunya untuk segera keluar dari mobil.
Dony keluar dengan wajah kusut, membayangkan semua yang akan terjadi, penilangan, bisa jadi mobil miliknya akan di tarik dan dibawa ke kantor polisi.
"Selamat siang Pak," hormat polisi bertuliskan nama Imran di dada kanannya.
Dony tersenyum tipis, menjawab sedikit gugup, "Ya Pak, selamat siang."
Polisi tersenyum, "Silahkan tunjukkan SIM dan STNK," pintanya.
Bergegas Dony mencari keberadaan STNK dan SIM-nya, di dalam dashboard mobil, namun tidak menemukan apa-apa.
"Aaagh.... jangan bilang STNK masih berada di toko," geramnya saat mengingat kembali letak STNK berikut SIM yang sengaja dia letakkan di laci toko karena memperbaiki mobil yang di hancurkan Lyra beberapa hari lalu di ketok magic milik sahabatnya.
"Ini semua karena Lyra. Wanita murahan itu sengaja membuat aku jadi seperti ini. Aku akan meminta uang pada mu perempuan sial...!!" berkali-kali Dony hanya bisa menyalahkan Lyra sebagai penyebab kesialannya.
Dony kembali keluar dari mobil, karena tidak mendapatkan apa-apa yang bisa dia berikan kepada pihak kepolisian.
"Hmm, a-a-anu Pak, i-i-itu... hmm, surat-surat saya tertinggal di toko. Jadi saya lupa mengambilnya. Tapi SIM dan STNK saya semua lengkap. Karena mobil ini memang milik saya," tawanya tampak gugup.
Ke-dua polisi menaikkan kedua alisnya, kembali menatap kearah Dony, "Begini saja Pak, silahkan ikut kami ke kantor. Karena bapak terlalu banyak melakukan pelanggaran-pelanggaran."
Dony tentu mengelak, tidak ingin dibawa ke kantor polisi karena kondisi keuangan, dan berfikir siapa yang akan menebus mobilnya, jika di tahan kepolisian.
__ADS_1
Dengan berbagai cara, rayuan maut dan memelas agar terlepas dari kedua polisi yang masih menahannya. Dari penawaran menarik berupa akan memberi kedua polisi tersebut makan siang, sehingga janji-janji manisnya sebagai orang biasa yang tampak seperti tengah memelas belas kasih.
"Mohon saya Pak, saya hanya seorang penjaga toko. Kehidupan juga pas-pasan, bahkan ini saja kendaraan milik istri saya. Saya mohon jangan bawa kendaraan saya, Pak!" Dony menautkan kedua tangannya, menyembah-nyembah agar mobilnya terlepas dari penahanan kepolisian.
Entah memang kebetulan, atau Lyra memang wanita yang di ciptakan sebagai tulang rusuk Dony, namun sekuat tenaga berusaha menjadi tulang punggung bagi pria yang tidak memiliki perasaan tersebut.
Kesy melihat sang Papa yang tengah berdiri di pinggir jalan bersama dua orang polisi saat kendaraan mereka melewati jalan yang sama.
Kesy berteriak pada Lyra, "Ma, itu Papa.... Papa ngapain ditangkap polisi, Ma?" tanyanya masih melihat disisi kiri jalan.
Lyra kemudian menyalakan lampu sen, memilih berhenti dan memarkirkan mobilnya tepat di depan kendaraan pihak kepolisian.
Bergegas Lyra turun dari kendaraan, disusul oleh Kesy, karena merasa khawatir dengan keselamatan Dony.
Lyra melihat Dony yang tengah bersimpuh memohon pada pihak kepolisian, dan belum menyadari kehadiran wanita yang sudah menjadikannya sebagai mantan istri.
"Selamat siang Pak! Ada apa yah?" tanya Lyra pada kedua polisi tersebut.
Dony mendongakkan kepalanya karena mendengar suara wanita yang dia kenal. Matanya berbinar-binar melihat kehadiran dewi penyelamat telah berdiri di hadapannya, "Lyra.... please bantu aku...!!" mohon nya.
Lyra kembali mengalihkan pandangannya pada kedua polisi muda tersebut. Wajah tertutup masker, dan kaca mata, kembali bertanya, "Bisa jelaskan pada saya, Pak?"
Polisi tersenyum, "Pak Dony ini melanggar lampu merah, dan dia tidak membawa surat-suratnya Bu Lyra," jawab Imran membuka masker dan kaca matanya.
Lyra terkejut, karena dia mengenal dekat laki-laki yang sedang berdiri tegap dihadapan suaminya, sementara dia berdiri disisi kanan kedua polisi tersebut sambil menggandeng tangan Kesy.
"Aaaagh.... Imran! Aduh, tidak menyangka kita akan bertemu dalam situasi seperti ini!" tawa Lyra ramah tanpa memperdulikan Dony yang ternganga mendengar, bahwa mantan istrinya lebih banyak mengenal orang-orang hebat di kota kelahirannya sendiri.
Dony tersenyum lega, menghampiri Lyra tanpa ada perasaan malu ataupun bersalah. Dia justru mendekap bahu mantan istrinya, menegaskan kepada kedua polisi tersebut bahwa Lyra adalah istrinya.
Namun Lyra menepis tangan Dony dari bahunya, karena tidak ingin berpura-pura lagi seperti pemain sinetron.
Imran menyambut tangan Lyra, "Jadi ini mobil siapa, Lyra?" tanyanya melirik kearah Dony yang berkali-kali berusaha meraih bahu mantan istrinya tanpa rasa canggung.
__ADS_1
Lyra menggenggam erat tangan Kesy, tidak ingin memperdulikan perasaan Dony lagi, "Ini mobil saya yang masih di pakai mantan suami saya, Imran!" jelasnya dengan wajah tersenyum dan menegaskan pada Dony.
Sontak jawaban itu membuat Dony semakin menggerutu, bahkan kini wajahnya tampak memanas dan memerah. Dia benar-benar tidak menyangka, bahwa Lyra akan menjatuhkan nya seperti ini.
Dony mengambil sapu tangan yang ada di kantong belakang celananya, menyeka keringat yang mengalir deras saat mendengar penjelasan Lyra yang mampu menoreh luka namun tidak berdarah.
Dulu Lyra sangat mengelu-elukannya sebagai suami yang baik, dan terhormat. Kini justru malah sebaliknya.
Imran mengangguk mengerti, "Begini saja Lyra, mobil ini karena tidak memiliki surat-surat resmi, kami bawa saja yah. Yang penting saya sudah mengetahui, bahwa pemiliknya adalah sahabat saya sendiri," ucapnya.
Lyra mengangguk setuju, "Silahkan Pak Imran, mungkin lusa saya akan ke kantor Anda untuk mengurusnya. Kalau hari ini saya tidak bisa, karena saya sedang ada urusan. Oke saya tinggal, yah! Terimakasih sebelumnya Pak Imran."
Lyra berlalu meninggalkan Dony dan kedua orang polisi tersebut, tanpa mau memperdulikan mantan suaminya yang tampak bodoh, bahkan seperti di tampar oleh wanita itu dihadapan temannya.
Dony kembali mengejar Lyra, memohon bahkan bersujud di kaki mantan istrinya.
Namun, Lyra kembali pada pendiriannya melambaikan tangan pada Imran, "Silahkan bawa saja mobilnya Pak Imran, karena saya sendiri yang akan mengambil mobil itu ke kantor kalian!" tegasnya.
Ucapan terakhir Lyra tersebut, membuat Dony semakin berang. Bahkan dia tidak sungkan meremas kuat lengan mantan istrinya di pinggir jalan menatap nanar mata kecoklatan milik Lyra dihadapan Kesy.
"Kau kejam..... sangat kejam!! Aku akan membalas mu, Lyra!!"
Lyra melepas kasar genggaman Dony, menantang penuh dendam, "Silahkan.... panggil Rita, Riche, atau semua keluarga mu untuk menginjak-injak harga diri ku! Jika itu terjadi, kau akan tahu akibatnya. Nikmati kemiskinan mu, Dony!"
Lyra menyeringai, memilih pergi meninggalkan Dony tanpa mau berbasa-basi ataupun peduli pada pria yang telah menyakiti perasaannya.
_______
Hati-hati reader mulai geram....
Jangan lupa like and komen yah...
Siapkan juga, makanan kecil, agar tidak lelah membaca Dony dan Lyra... 🔥😂🥰
__ADS_1
Silahkan tinggalkan jejak untuk othor pemes kayak saya.🤣😂ðŸ¤ðŸŒ¹ðŸŒ¹