
Perpisahan ... Hal itu yang sangat ditakutkan bagi seorang Kesy, saat memutuskan menikah diusia 18 tahun, namun harus kandas dua minggu setelah menikah dan bulan madu.
Dua tahun berlalu, ia menjalani kehidupan sebagai seorang janda yang tak di ketahui oleh sahabat kuliahnya.
Kini Kesy telah menyelesaikan kuliah, sebagai sarjana manajemen bisnis diusia muda dengan status janda. Dalam kurun waktu tiga tahun lebih dua bulan, sambil menikmati sebagai baby sitter sang Mama.
Ya ... Selama Kesy kembali ke Berlin bersama keluarganya, ia hanya sibuk dengan keluarganya dan ketiga adik kembarnya. Ditambah kelahiran adik baru, yang di beri nama Harvin Maeta kini berusia dua tahun.
Kesy tengah mempersiapkan sarapan untuk keempat adiknya dengan sangat terampil, ditemani sang Mama juga Betris.
Mansion mewah yang dimiliki Zul dan Lyra, sesuai keinginan mereka, memiliki delapan kamar, serta dilengkapi kolam renang selayaknya kediaman elite di negara panser tersebut.
Keluarga itu tampak bahagia, dan tidak pernah memiliki masalah besar seperti beberapa waktu lalu ... Membuat mereka tumbuh dalam damai dan ketenangan, walau acap kali berdebat, dan berselisih paham, namun dapat di selesaikan dengan kepala dingin.
Pagi ini, Kesy tampak bersemangat. Ia akan menghadiri wawancara di sebuah perusahaan besar, seperti yang ia sampaikan pada Lyra juga Zul tadi malam.
"Morgen darling ..."
Zul memberi kecupan manis pada kelima buah hatinya, serta Lyra yang sudah sering mendapatkan perlakuan manis seperti itu dari sang suami setiap pagi dalam memulai hari baru.
"Morgen Papi ..." sapa keempat anak Zul dengan serempak, namun berbeda dengan Harvin yang masih sibuk menepuk-nepuk meja makannya.
"Mam mam mam mam--" hanya kata-kata itu yang keluar dari bibir mungil Harvin selaku baby paling kecil dikediaman keluarga tersebut.
Lyra mempersiapkan semua sarapan anak juga suaminya, kemudian duduk di meja bersama-sama sambil menyuapkan baby boy yang tampak sehat juga ceria tersebut.
Zul menoleh kearah Kesy, "Kamu pergi sendiri saja yah, sayang? Papi ada pertemuan hari ini. Semoga kamu diterima di perusahaan itu. Seingat Papi perusahaan itu memiliki dua owner kembar. Tapi Papi lupa-lupa ingat, karena tidak mengikuti trend produk mereka," jelasnya.
Kesy yang tengah menikmati nasi goreng buatan Lyra, hanya mengangguk ... Baginya kali ini, dia ingin memiliki pekerjaan tetap setelah menyelesaikan kuliahnya selama tiga tahun, namun belum ada keinginan untuk melanjutkan S2 sesuai permintaan Zul.
Kesy hanya kuliah di manajemen bisnis, dia tidak begitu menyukai hal lain. Perusahaan yang akan melakukan sesi wawancara ini merupakan perusahaan multinasional yang bergerak di bidang komunikasi dan perbankan.
__ADS_1
Kesy hanya menjawab singkat, "Ya ..." Hanya kata itu yang ia jawab saat Zul tidak bisa mengantarkannya ke perusahaan raksasa tersebut.
Kesy bergegas berlari ke kamar, sejak tadi dia sedikit gugup, karena ini merupakan hal yang baru baginya melamar pekerjaan di usia 20 tahun.
"Oogh ... Semoga saja aku diterima di sana. Tapi bagaimana dengan Harvin yang sangat dekat dengan ku ..." rundungnya saat menatap wajah cantik itu di depan cermin.
Namun, pikiran itu hanya sesaat ... Baginya kali ini masa depannya yang harus ia tata, walau berstatuskan seorang janda.
Kesy berpamitan lebih dulu pada Lyra serta Zul, dan keempat adiknya, membuat dirinya kembali menoleh saat Harvin menangis saat dirinya akan berlalu.
"Ma ... Ini ni yang buat Kesy sedih," sungutnya mendekati Harvin, dan menggendong adik kecil yang tumbuh campur tangannya.
"Sabar yah, Kakak pergi dulu. Kamu sama Betris. Nanti dia akan mengajarkan mu bahasa planet disini," kecupnya dan memeluk tubuh mungil Harvin.
Harvin hanya tertawa kecil, mengacak rambut Kesy yang tergerai, mencium wajah halus itu dengan meninggalkan air ludahnya.
Lyra mengambil anak bungsunya, dari dekapan Kesy, membiarkan putri kesayangan pergi dengan hati gembira.
Pesan kerinduan pada almarhum Dony masih tersimpan, namun kini Zul lebih terbuka pada Lyra, agar tidak lepas memperhatikan wanita cantik itu dalam kesepian hatinya.
Zul sangat memahami, bagaimana perasaan menjadi seorang janda. Ditambah dia hanya sibuk mengurus adik-adiknya untuk mengisi waktu di sela-sela kuliah kala itu.
Kini kuliah telah selesai, namun Kesy masih menjadi orang yang lebih tertutup dalam berteman, dan hanya menghabiskan waktu di rumah bersama keempat adiknya, tanpa mau mengenal sosok pria atau orang asing lainnya.
Dalam benak Kesy, hanya ada Zul, Ahmad, Boy juga Bima dan Rey, yang mengerti akan dirinya. Selain itu tidak pernah ada, bahkan dia tidak pernah ingin mengingat Adi, yang telah menghancurkan hidupnya.
Dua tahun, bukan waktu sebentar untuk menyembuhkan rasa trauma seorang Kesy, bahkan Zul sengaja mendatangkan Caroline dari Hawaii untuk membantunya membangkitkan kepercayaan diri Kesy kembali seperti dulu, walau belum sepenuhnya.
Kesy melajukan mobilnya, membelah jalan yang sedikit macet, sambil mendengarkan audio music yang mengalunkan lagu ...
'Pagi ku cerah ku ... Matahari bersinar ... Ku gendong tas merah ku, di pun-dak ...
__ADS_1
Selamat pagi semua ... Ku nantikan diri mu, didepan kelas ku, menantikan kami ...'
Hanya lagu anak Indonesia itu, yang menjadi best song bagi Kesy untuk didengarkan pada ketiga adik kembarnya, jika mengantarkan mereka ke sekolah, yang tidak begitu jauh dari rumah keluarga.
Kesy memarkirkan mobilnya asal, karena dia merasa terlambat, saat melihat jam di pergelangan tangannya.
Tanpa Kesy sadari mobil yang terparkir disebelah nya, tidak dapat membuka pintu mobil yang sangat mepet dan hanya berjarak beberapa centi.
Kesy melenggang, namun ia mendengar suara teriakan dari arah belakang ...
"Hey gnädige Frau! Kannst du lernen, wie man sein Auto einparkt? Ich muss gleich nach oben, bitte parken Sie Ihr Auto richtig!" teriaknya dengan lantang.
(Hei Nona bodoh! Bisakah kau belajar memarkirkan mobil mu? Aku harus segera naik keatas, tolong parkirkan mobil mu dengan baik)
Kesy mengkerut kan keningnya, dia tampak kebingungan dan membalikkan badannya, mencari keberadaan suara tersebut, karena berkali-kali dia melihat tidak ada orang, namun terus terdengar suara yang mengeluarkan kalimat umpatan.
"Aaagh ... Menggangu konsentrasi orang yang mau wawancara saja ..."
Kesy berlalu, meninggalkan parkiran, menuju lobby gedung, tak menghiraukan umpatan pria tersebut.
Akan tetapi, seorang security menghampirinya, sedikit berbisik supaya Kesy memberikan kunci mobil kepadanya.
Security itu menunjuk kearah mobil mewah yang terparkir disamping mobilnya, menjelaskan pada Kesy ...
"Das nächste Mal, Miss! Parken Sie das Auto nicht dort, okay? Bitte folgen Sie der Linie, um anderen nicht in die Quere zu kommen."
(Lain kali, Nona! Parkir mobil jangan disitu, yah? Tolong ikut garis agar tidak menghalangi jalan orang lain.)
Kesy menutup wajahnya, dia mengangguk kikuk, hanya bisa berkata, "Verzeihung ..." (Maaf)
Kemudian Kesy menyerahkan kunci mobil pada security, dan berhamburan masuk lift, agar tidak bertemu dengan pemilik mobil tersebut. Tubuhnya merinding, saat membayangkan ...
__ADS_1
"Mati aku ... Jangan bilang dia orang yang akan mewawancarai aku! Bisa dipecat sebelum bekerja ... Aaagh, bodoh, bodoh, bodoh! Mudah-mudahan dia hanya seorang karyawan biasa, yang berasal dari keluarga kaya dan terpandang seperti aku. Tuhan, jangan siksa aku ... Aku hanya ingin melamar pekerjaan diperusahaan ini ..." sesalnya merutuki diri sendiri.