Perjaka Untuk Janda

Perjaka Untuk Janda
Merebut Hati


__ADS_3

Rumah tangga yang harmonis, merupakan harapan semua orang yang sudah menikah di seluruh penjuru dunia. Begitu juga harapan Zul dan Lyra dalam membina rumah tangga dengan problematika kehidupan yang sangat membingungkan.


Keegoisan, bahkan tidak mau mengalah antara keduanya membuat sulit untuk di cerna.


Mungkin, jika Zul tidak memiliki jiwa kepemimpinan dan mengingat masa depan anak-anaknya, sejak awal menikah dia telah meninggalkan Lyra untuk pergi menerima pinangan Kanza sebagai yang kedua.


Seperti pagi ini ... Setelah dua minggu kepulangan Kesy dari rumah sakit, serta Zul tengah mempersiapkan legalitas untuk pernikahan putri kesayangannya dengan Adi, suami Lyra itu tidak melupakan kewajibannya sebagai seorang dokter spesialis kandungan di rumah sakit tempat dia bekerja, sekaligus menjadi dosen bagi mahasiswa kedokteran semester akhir.


Sejak pagi sekali, Zul sudah berada di rumah sakit, untuk membantu persalinan prematur dengan cara caesar di rumah sakit yang sama dengan Kanza.


Setelah melakukan ritualnya, Zul melepas pakaian sterilnya, mencuci tangan saat pasien telah di ambil alih oleh anastesi untuk segera di bawa ke ruang pemulihan.


Saat Zul akan membuka pintu ruangan, melalui pintu yang berbeda dari pasien, dia di kejutkan dengan kehadiran Kanza yang hampir menabraknya ...


"Aaauugh ..."


"Hmm ..."


Zul melihat Kanza di hadapannya yang menatap sendu kearah nya.


Zul tersenyum tipis, kemudian berkata, "Morgen ..."


"Morgen Dok, wie gehts? Können wir das Frühstück in der Arztpraxis fortsetzen?" (Pagi Dok, apa kabar? Bisakah kita melanjutkan sarapan pagi di ruangan dokter ...?)


Kanza menatap penuh harap pada pria yang masih tampak tersenyum di hadapannya.


"Ja ... Ich bin zufällig sehr hungrig!" (Ya ... Kebetulan saya sangat lapar sekali!)


Zul melepaskan tangannya dari pintu yang sejak awal dia tahan.


Kanza tersenyum sumringah, dia merasa saat ini hatinya ingin kembali tertata dengan mengejar cinta pertamanya, setelah gagal dengan sang kekasih saat berada di Frankfurt.

__ADS_1


Zul bertanya hanya sekedar basa-basi, "Kenapa kamu bisa ada di Berlin? Bukankah saat lulus dan di terima sebagai dokter spesialis tetap di Frankfurt, kamu sudah menetap di sana. Bahkan saya dengar dari Dokter Teddy kamu akan segera menikah ..."


Kanza menggeleng malu, seolah-olah Zul selama ini mencari keberadaannya, "Hmm ... Saya memilih balik lagi kesini Dok. Karena ternyata saya harus menyelesaikan masa lalu yang belum terselesaikan."


Zul menautkan kedua alisnya, dia sangat memahami kemana arah pembicaraan mereka berdua sepanjang perjalanan di koridor, menuju ruang kerjanya.


Zul kembali bertanya hanya sekedar ingin tahu, "Berarti kamu belum menikah saat ini dengan kekasih mu itu?"


Kanza tersenyum, dia menghentikan langkahnya, membuat Zul menoleh dan mengerenyitkan keningnya ...


"Saya belum menikah dokter. Kami hanya menghabiskan waktu tinggal bersama selama tiga tahun. Tapi yaah, akhirnya dia lebih memilih wanita lebih dewasa dari saya. Sama seperti dokter, memilih menikahi wanita berstatus janda lebih tua dari pada gadis muda seperti saya ... Benar kan?"


Zul hanya mengangguk membenarkan, dihiasi senyuman tipis yang semakin menggoda hati seorang wanita bernama Kanza.


"Hmm boleh aku memanggil kamu dengan Bang, atau hmm sayang mungkin?"


Kanza mulai dengan cara yang lama menggoda pria sedingin Zul.


"Kamu cukup panggil nama saja, Zul."


Kanza tersenyum sumringah, menatap wajah tampan yang semakin mempesona bahkan masih terlihat sangat tenang saat dirinya terus menerus menggoda sejak dulu.


"Kita makan di restoran hotel keluarga, tempat saya menginap saja bagaimana? Apakah hari ini kamu masih ada jadwal tindakan?"


Zul tersenyum, dia menggelengkan kepalanya, "Lebih baik kita makan di restoran lantai bawah saja. Kebetulan hari ini saya ada keperluan!"


Kanza mengangguk mengerti, jujur di dalam hatinya saat ini, ingin sekali dia berbagi cerita dengan Zul. Kali ini dia hanya menjadi wanita rapuh, namun berusaha tegar di hadapan pria yang dia kagumi sejak dulu.


Mereka menuju restoran yang berada di lantai dasar. Bercerita sewajarnya, karena Kanza merupakan wanita yang ceria.


Entah mengapa, Kanza semakin penasaran terhadap Zul. Dari gaya bicara yang sangat lembut dan sopan, membuat wanita seumuran Adi adiknya itu semakin berbunga-bunga mendengar pujian yang di utarakan Zul padanya.

__ADS_1


Dari kecerdasan Kanza, sehingga mengagumi prestasi yang di raih wanita itu beberapa waktu lalu. Karena berhasil menyelamatkan bayi kembar yang berusia lima bulan untuk terus bertahan hingga sampai saat ini masih berada di rumah sakit tempat mereka bekerja. 


Tanpa perasaan sungkan, Kanza meraih jemari Zul yang berada di atas meja restoran, perlahan tapi pasti wanita itu menantikan respon dari pria yang duduk di samping kirinya.


"Hmm aku mengagumi kamu Zul. Setidaknya kamu semakin membuat aku merasa sangat di hargai, bahkan jarang sekali ada pria sesopan kamu memperlakukan wanita. Jujur, sampai saat ini aku masih berharap sama kamu ..."


Zul tertegun sejenak mendengar penuturan wanita secerdas Kanza. Dia meletakkan tangan kanannya diatas genggaman wanita itu, sedikit berkata ...


"Maaf, mungkin aku lebih menghargai kamu sebagai seorang dokter spesialis kandungan yang baik juga cerdas. Memiliki wajah yang cantik dan menawan. Jujur aku tertarik sama kamu, tapi sejak awal aku menikahi Lyra istri ku, hanya dia yang ada dalam hati ku. Terimakasih, tapi aku tidak ingin memberikan harapan apapun padamu ..."


Zul menepuk-nepuk punggung tangan Kanza pelan, kemudian menarik tangannya perlahan, agar wanita di hadapannya itu, tidak tersinggung.


Kanza, yang tidak pernah di perlakukan seperti itu oleh pria justru menawarkan sesuatu yang terdengar sangat menggiurkan bagi seorang pria normal.


"Zul ... Kita belum pernah mencobanya. Aku bisa merasakan, kalau kamu juga sangat menginginkan aku. Kamu juga merasakan hal yang sama dengan ku! Sungguh Zul, aku jatuh hati sama kamu, sejak beberapa tahun lalu. Sulit bagi aku untuk melupakan kamu. Please ... Aku akan menjaga rahasia ini, kita bisa tinggal bersama di hotel keluarga ku, jika kamu benar-benar banyak masalah dengan istri mu. Toh rumah tangga itu tidak semuanya bahagia, Zul. Pasti ada dititik terendah kamu, bahkan rasa bosan kamu dengan pasangan mu . Kenapa kamu tidak mencoba untuk sedikit mengalihkan perhatian kamu pada wanita yang benar-benar mencintai kamu ..."


Zul terdiam, wajahnya memerah karena mendengar penuturan Kanza yang benar-benar tampak penasaran padanya.


Hatinya berdecak kagum pada keberanian Kanza, yang benar-benar ingin menjadi yang kedua sejak dulu. Sejak wanita itu mengetahui bahwa Zul menikahi seorang janda beranak satu.


Wajah Kanza yang terlihat lebih anggun dengan rambut blonde tergerai indah. Bahkan semua tampak sempurna, dan lebih dewasa.


Kekaguman yang tersirat dari raut wajah Zul saat ini, merupakan kekaguman seorang pria normal pada wanita muda yang tampak lebih agresif mengejarnya. Namun, dia hanya bisa menjawab dengan suara lembut bahkan tidak menyakitkan wanita yang ada di hadapannya.


"Maaf Kanza ... Komitmen ku dengan istriku Lyra masih berlanjut hingga saat ini. Terimakasih atas kejujuran mu ..."


Zul beranjak dari duduknya, memilih berlalu meninggalkan wanita di hadapannya. Dia tidak ingin memberi harapan pada Kanza.


Kanza yang menatap punggung Zul berlalu meninggalkan nya, hanya bisa menghela nafas panjang ...


"Zul ... Zulmaeta ..."

__ADS_1


Tangannya mengepal kuat, merasa selalu tidak pernah berhasil untuk merebut hati dan perasaan Zul sejak dulu hingga kini.


__ADS_2