
Malam semakin larut, Lyra masih enggan untuk melakukannya secepat itu walau ke-duanya sudah menjadi pasangan halal. Perasaan was-was dan trauma pada diri wanita cantik itu, membuat Zul hanya bisa pasrah menahan rasa yang membuatnya semakin penasaran.
Zul merangkul perut ramping istrinya yang sejak tadi duduk dipinggir ranjang, membawanya dalam dekapan hangat seorang pria muda yang tampan.
"Kenapa kamu sepertinya gugup, sayang? Apa kamu tidak ingin kita melakukannya malam ini?" tanya Zul lembut mengecup puncak kepala Lyra.
Lyra mereguk ludahnya sendiri, mencium aroma maskulin dari tubuh suami tercinta yang semakin membuat dadanya semakin bergetar, "Aku akan meminta padamu jika aku sudah siap, Zul. Kamu enggak marah kan? Jujur aku masih shock karena pernikahan kita terlalu terburu-buru ...! Aku takut gagal lagi, Zul ..."
Zul menghela nafasnya panjang, hatinya sedikit gusar karena gagal untuk melabuhkan terong importnya gagal total. Ketidaksiapan Lyra membuat dia sedikit penasaran ingin mengetahui semua permasalahan istrinya dan Dony.
"Apa sesungguhnya yang menjadi pemicu kalian berpisah, sayang? Kenapa kamu begitu banyak rahasia?" tanya Zul sedikit berbisik.
Lyra memainkan jemarinya diatas dada bidang Zul, yang ditumbuhi bulu-bulu halus menghiasi tubuh sispack suaminya begitu memukau. Berkali-kali wanita itu tak kuasa menahan hasratnya yang semakin membuat dirinya sedikit melirik kebawah, hanya sekedar melihat reaksi tubuh kekar itu.
"Hmm ... kamu kan sudah tahu bagaimana Papa Kesy padaku, Zul. Dia sudah dua tahun lebih tidak menyentuh ku. Rasanya aku menjadi istri rasa janda yang tidak pernah merasakan kehangatan seorang suami," ucap Lyra pelan.
Zul tersenyum sumringah, merasakan kebahagiaan akan berpihak padanya, "Terus ... Bagaimana jika kita melakukannya tanpa memikirkan masa lalu. Saat ini kita memikirkan masa depan. Malam ini aku suami mu, dan aku berhak atas dirimu dan tubuh indah mu! Oya, selama dua tahun kamu tidak disentuh, apa kamu tidak merasa kesepian?"
Lyra merenggangkan pelukan mereka, memilih meletakkan kepalanya diatas bantal, menatap wajah Zul yang juga menatapnya.
Zul menyematkan anak rambut yang menutup wajah cantiknya di daun telinga sang istri ...
"Kamu cantik Lyra, aku benar-benar terbius oleh pesona janda mu. Kamu sangat elegan dan berkelas. Tidak banyak wanita yang memiliki kesempurnaan seperti mu, Papa dan Mama ku mengakuinya dan sangat mengagumi mu ..." jelas Zul jujur.
Lyra menutup wajah dengan kedua tangannya, hati dan perasaan dibuat melayang terbang oleh pujian seorang suami yang tak pernah dia dapatkan dari Dony. "Apakah ini yang dinamakan keindahan pernikahan kedua, Zul? Kamu terlalu banyak memuji ku, membuat aku terbang melayang!" tawanya menyeringai kecil.
__ADS_1
Zul tertawa, baru kali ini dia melihat wanita itu tersenyum malu saat pujian tak membuatnya terbang tinggi ke awan.
"Wait ... Tadi aku sempat mampir disalah satu toko perhiasan. Aku rasa kamu sama seperti Mama ku, tidak suka memakai perhiasan yang terlalu glamor ... Jadi aku berniat untuk memberi mu sesuatu," ucap Zul mengambil paper bag yang terletak dinakas samping ranjang miliknya.
Kedua bola mata Lyra membulat sempurna, dia semakin salah tingkah saat Zul membuka satu kotak perhiasan indah.
"Zul ... Apa ini? Semua yang kamu berikan sudah sangat cukup! Jangan membuat aku semakin merasa bersalah, karena belum mampu membahagiakan mu," ucap Lyra mengusap sudut matanya yang sudah hampir basah.
Zul mendekati Lyra, menyematkan kalung mewah dengan liontin kunci dan hati.
Tak menghiraukan ketidaksiapan pada Lyra, Zul terus memberanikan diri memulai lebih dulu. Dia mengecup lembut leher jenjang istrinya yang sangat putih dan bersih. Aroma wangi parfum dengan balutan piyama berwarna putih yang menutup tubuh istrinya hanya sebatas paha, membuat pria muda itu sedikit lebih agresif untuk memulai semuanya lebih dulu.
"Hmmfh ... Terimakasih Zul ..." Lyra menikmati sentuhan bibir Zul yang sudah mulai membasahi leher indah itu dengan salivanya.
Zul memberanikan diri untuk menyentuh dua benda kenyal yang terasa padat dan tidak mengenakan penyangga dari balik benang yang masih menutup. Dia sedikit berbisik pelan, "Nikmati sayang, aku tidak akan menyakiti mu ..."
Zul mengecup lembut bibir istrinya, menopang tengkuk Lyra untuk merebahkan tubuh wanita dewasa itu diatas ranjang berbalut sprei berwarna putih.
"Aku tidak menyangka, ternyata kamu lebih indah sayang. Kamu benar-benar wanita yang sempurna untuk ku. Bersuara Lyra, sebut nama ku," bisiknya saat melihat Lyra mengalungkan tangan mulusnya dileher kekar Zul.
Jendela yang ditutupi gorden tipis demi mendapatkan suasana malam yang lebih romantis agar Lyra dapat merasakan keindahan malam yang berbeda. Cahaya lampu masih menyinari malam, dihiasi sinar bintang yang bertaburan dilangit pekatnya malam.
Zul tak kuasa menahan gejolak yang semakin lama semakin membuncah, bahkan saat kedua matanya melihat secara nyata bagian kenyal wanita itu yang sudah terbuka lebar di hadapannya.
"Indah ..." hanya kalimat itu yang keluar dari bibir Zul saat mulai tenggelam untuk mencicipi puncak berwarna coklat muda itu.
__ADS_1
Lyra hanya bisa pasrah, malam ini bibirnya terkunci rapat. Walau awal dia mengatakan tidak siap, namun tubuhnya merespon dengan cepat dan beberapa kali dia mendessah. Bulu tangan halus yang meremang, membuat dia tak kuasa untuk berkata 'tidak'...
Zul tersenyum sumringah, sengaja dia kembali mencium bibir basah yang ternganga itu dengan lembut, kembali tangan nakalnya melepaskan semua benang yang menghalangi mereka.
Kini bagian mulus yang awal tertutup piyama, kini hanya tersisa underware berwarna merah muda yang cukup menutupi bagian kenyal yang berbeda dibawah sana.
Bibir Lyra bergetar, kembali mendessah saat jemari Zul menyentuh bagian yang masih terbalut benang berbahan sutra itu.
Kepala Lyra mendongak keatas, bibirnya mendessah hebat, meremas kuat lengan Zul dengan nafas tersengal-sengal, "Zulhh ... do it now ... I want you tonight ..."
Zul yang sangat mengetahui bagian mana yang menjadi area sensitif seorang wanita, karena dia merupakan seorang dokter kandungan, memulai aksinya untuk membahagiakan wanita yang sudah menjadi istri sah-nya.
Zul ingin merasakan bagaimana rasanya terong import miliknya berada didalam lembah gelap yang sangat memukau pandangan sejak terbuka. Bagaimana mungkin seorang wanita yang sudah memiliki anak masih terlihat segar dalam balutan kemerahan yang sangat mempesona dengan aroma yang sangat membius mata hati seorang pria berstatuskan suami.
Perlahan Zul menatap lekat mata Lyra meminta persetujuan akan apa yang akan menjadi tujuannya malam ini, mengecup mata indah yang berharap penuh harap. Entah kenapa Lyra seperti akan melepas masa lajangnya, karena sedikit merintih saat berulang kali Zul salah sasaran untuk penyatuan cinta mereka melepaskan semua hasrat yang terpendam.
"Sayang ... Bisakah kamu menuntun ku, untuk mengunjungi lembah surga mu?"
____
Pesan Author Pemes ...
Please komentar dung ...
Othor pen clezy up .... butuh suport, dan dukungan hadiah untuk menyelesaikan cerita ini lebih baik lagi.
__ADS_1
Terimakasih banyak atas kunjungannya para reader...๐นโค๏ธ๐