Perjaka Untuk Janda

Perjaka Untuk Janda
Kebahagiaan Lyra, kesedihan Kesy ...


__ADS_3

Siang menjelang sore, sebuah pesan masuk melalui email di laptop yang masih menyala di ruangan sejuk milk Lyra. Wanita cantik itu menatap penuh harap di layar yang masih terang dengan dada berdebar-debar.


Bagaimana tidak, Lyra telah mengikuti ujian untuk mengambil posisi sebagai perwakilan keuangan negara dalam naungan Pemerintahan Republik Indonesia, sesuai harapannya untuk menjadi wanita karir di negara panser tersebut untuk menemani sang suami tercinta.


Benar saja, nama Lyra berada di peringkat ke delapan sebagai perwakilan untuk menetap di Berlin selama tiga tahun.


"Oooogh my God ... This is real?" sorak hati Lyra penuh kebahagiaan.


Air matanya tak tertahankan untuk mengalir bebas membasahi pipi mulusnya. Sontak dia berteriak keras, berucap syukur atas prestasi yang dia raih selama mengikuti ujian dan tes kesehatan selama satu minggu di Jakarta kala itu.


Bergegas Lyra mengambil handphone miliknya, mencari nomor telepon suami tercinta, agar dapat memberikan kabar bahagia tersebut.


["Hun ... Kamu dimana?"]


["Hmm ... Aku masih di hatimu sayang,"]


["Ck ... Aku serius, sore ini aku ingin mentraktir kamu makan sore time pulang kantor."]


["Really ...?"]


["Ya ..."]


["Ok, dua detik lagi aku tiba dihadapan mu, sayang ..."]


Zul menutup telfon Lyra, mengetuk ruangan istrinya yang tampak mengejutkan sang pujaan hati.


Sontak pemandangan itu membuat Lyra berlari mengejar suaminya, untuk memberikan pelukan hangat pada pria yang selama ini mensupport penuh dunia pekerjaannya.


"Aaaagh ..." pekik Lyra, saat tubuhnya diangkat dengan mudahnya oleh sang suami.


Zul mendekap erat tubuh ramping istrinya, mengecup lembut bibir itu berkali-kali.

__ADS_1


"Kamu terlihat bahagia sekali, ada apa? Udah time pulang kerja, kan?" tanya Zul tanpa melepaskan tangannya dari pinggul ramping sang istri.


Lyra menggelengkan kepalanya, "Masih ada satu jam lagi untuk pulang kantor. Jangan korupsi waktu," tawanya penuh kebahagiaan.


"Ya-ya-ya ... Ada apa sayang?" Zul mengikuti langkah Lyra yang menggandeng tangannya untuk melihat langsung ke layar laptop yang menyala.


"Close your eyes," pinta Lyra menutup mata Zul dengan sedikit menjinjitkan kaki jenjangnya.


Zul mengikuti semua perintah Lyra, hanya untuk mendapatkan berita yang sebenarnya sudah dia ketahui dari sang Mama.


Lyra mendudukkan Zul di kursi kebanggaannya, membuka mata suami perlahan, memperbesar layar laptop agar terlihat jelas namanya tercantum di sana.


"Kamu lihat, aku berhasil Zul! Aku berhasil untuk mengikuti jejak mu!" teriak Lyra memeluk dan mencium wajah itu dengan penuh perasaan bahagia dan cinta.


Berkali-kali Lyra mencubit pipi Zul agar semua tahu, bahwa saat ini dia menjadi orang yang paling beruntung dan bahagia.


"Ini kebahagiaan aku, hun ... Kebahagiaan Lyra yang selama ini terzolimi. Awalnya aku enggak percaya diri, karena yang ikut test orang hebat yang bergelar S2 dan S3. Aku hanya S1, ternyata aku mampu. Makasih yah hun ... Kamu memang suami terbaik. Selalulah ada setiap aku butuhkan," peluk Lyra pada tubuh Zul yang masih menikmati perlakuan istrinya.


Bagi Zul saat ini, dia hanya ingin menjadi orang pertama yang ada dalam kehidupan Lyra. Laki-laki yang selalu ada dalam suka dan duka.


Lyra lagi-lagi memeluk tubuh kekar suami tercinta sehingga, tanpa dia sadari sebuah pesta kecil di adakan oleh rekan kerjanya, memberi surprise pada wanita cantik tersebut.


Tanpa mengetuk pintu ruangan, mereka memasuki ruang kepala keuangan tersebut sambil bertepuk tangan dan berteriak bahagia.


"Selamat Ibu Lyra!!! Surprise!!" teriak Lela juga rekan lainnya.


Lyra melirik kearah Zul, melepas tangannya dari pundak suaminya. Mata indah itu kembali berkaca-kaca, melihat para sahabat hadir di hadapannya.


"Oooogh ... Aaaagh ... Terimakasih ..." ucap Lyra pelan.


Zul berdiri, memeluk tubuh Lyra, memberi ruang pada sang istri agar dapat berbagi kebahagiaan bersama rekan kerjanya.

__ADS_1


Namun, Lyra menahan tangan Zul agar tidak meninggalkannya diruangan itu, "Kita disini dulu, hun ... Aku butuh kamu," pintanya pelan.


Zul mengangguk, memilih duduk dekat Pak Sardi, selaku atasan istrinya yang mengenal dekat Keluarga Ahmad Maeta.


Mereka saling bercerita, tertawa hangat. Bagaimanapun Lyra merupakan orang yang tidak banyak bicara dan tetap profesional dalam keadaan apapun.


Sekali lagi Lela mengusap lembut punggung sahabatnya, memeluk Lyra karena akan berjauhan dengan sahabat karibnya.


"Enggak ada lagi yang bakal mentraktir aku kalau Mas Ferdy lupa ngasih uang jajan," isak Lela di bahu Lyra.


Lyra mencubit kecil lengan sahabatnya, "Makanya jangan suka habisin uang jajan, lagian ada Pak Sardi yang bisa di jadikan tempat mengadu jika akhir bulan," tawanya.


Pak Sardi menepis pembicaraan dua wanita yang selalu mengerjainya saat mereka makan siang bersama, "Kalau enggak ada Ibu Lyra, saya mau jarang keluar kantor. Mending bawa bekal dari rumah," senyumnya.


"Iiighs Bapak!" teriak dua wanita itu bersamaan.


Hari itu merupakan hari terindah untuk Lyra, juga Zul yang telah sabar menemaninya selama berada di kota kecil tersebut, hanya untuk menghalalkan seorang janda.


.


Sangat berbeda di situasi sekolah Kesy. Gadis kecil itu tengah membaca sebuah surat kecil dari sang Papa, yang dia dapat dari security dan melihat isi amplop tersebut.


Kesy menggenggam erat uang satu juta yang di berikan Dony padanya. Wajah mungil itu membuka surat dari Papa tercinta.


'Hai Kesy ... Ini Papa. Maafkan Papa sudah membuat kamu kecewa, tapi Papa berusaha keras untuk mencarikan uang jajan kamu. Belajar yang giat yah, Nak. Papa sangat menyayangi mu. Jika kelak kamu menjadi orang sukses, contohlah Mama. Orang yang selalu berjuang untuk kita. Sekali lagi, Papa minta maaf pada Kesy. Mungkin Papa akan sering menitipkan uang jajan untuk kamu sama security. Hanya segini dulu Papa bisa memberikan padamu. Yang penting, tanggung jawab Papa akan selalu ada untuk kamu hingga kamu dewasa. Salam sayang ... Papa Kesy.'


Kesy menundukkan kepalanya, meremas kuat kertas yang ada dalam genggaman. Air matanya jatuh tak tertahankan. Apa yang selama ini dia harapkan, hanya menabur kesedihan untuk pria yang sedang bersusah payah berjuang menjadi orang tua yang baik.


Kesy duduk di taman sekolah, menuliskan sebuah surat balasan, jikalau Dony hadir di sekolahnya kembali, security akan memberikan surat itu pada sang Papa.


'Pa ... Kesy juga sayang sama Papa. Papa baik-baik yah, jaga kesehatan, jangan sakiti Mama lagi. Bagaimanapun, Kesy selalu sayang sama Papa. Makasih uangnya. Semoga Papa selalu dalam lindungan Tuhan. Oya, hari ini Kesy dapat nilai 80 ... Karena Kesy tidak suka pelajaran berhitung. Biasanya ada Papa yang mengajarkan Kesy. Jika Papa ada waktu, bawa bekal makan siang, kita makan bersama di kantin sekolah. Salam hangat, Kesy yang selalu sayang sama Papa ...'

__ADS_1


Kesy melipat kertas yang telah dia tulis, mencari amplop merah muda layaknya anak kecil perempuan yang selalu dibekali warna cerah oleh sang Mama. Menuliskan nama, dan kembali menitipkan pada security sekolah.


Pihak security menerima baik amplop dari siswa sekolah dasar tersebut, hanya dapat tersenyum, namun meneteskan air mata yang jatuh ke dalam jiwa seorang Ayah, "Kenapa anak selalu menjadi korban perceraian ...?" gumamnya meletakkan surat Kesy di sebuah buku besar.


__ADS_2