Perjaka Untuk Janda

Perjaka Untuk Janda
Memenuhi kebutuhan


__ADS_3

Zul hanya bisa termenung di ruang kerja yang berada di apartemen. Sudah lebih dari dua minggu di enggan membawa Lyra berbicara.


Apalagi saat melihat sejak kepulangan Kesy menghilang tiga hari, sama sekali Lyra menutup bibirnya rapat tidak mau bicara. Termasuk dengan tiga anak kembar mereka berdua.


Zul menghubungi pihak villa keluarga di Dusseldorf, menyampaikan bahwa mereka akan berlibur akan berlibur kesana.


Tak menunggu lama, Zul sudah mendapatkan jawaban dari pihak penjaga villa.


"Aku akan membawa anak-anak ku berlibur ... Aku sudah tidak peduli dengan Lyra ..."


Saat Zul akan beranjak, saat itu juga satu pesan dari handphone Kesy masuk ke nomor Dony.


Rasa penasaran Zul membuncah seketika, jantungnya berdegup kencang, saat melihat ...


["Bang, Kesy kangen ... Sudah lebih dari dua minggu kita enggak ketemu. Kok, bayangan tentang hal itu masih terasa. Benar kata Abang, pertama emang sakit, pas sekarang justru pengen banget. Kesy baca di gogle, ternyata memang membuat candu. Cepat pulang yah, Bang ... I love you ..."]


Dada Zul seperti mau rontok mendapatkan pesan seperti itu. Sesak, bahkan tak bisa berfikir secara waras.


Gadis belia yang dia ketahui masih polos dan lugu, kini harus menelan pil pahit di usia yang sebentar lagi menginjak 18 tahun.


Zul meremas kuat handphone di tangannya. Seketika bulu tangannya meremang. "Benar kata Lyra, Adi pernah melakukan hal ini dengan Laura, pasti mereka ada masalah lain sehingga berani melakukan hal ini. Tapi kenapa Adi tidak berpikir bahwa Kesy adalah keponakan nya ...!! Walau tidak putri kandung ku ..."


Perlahan Zul menghela nafas panjang, mengusap wajah tampannya dengan lembut, dia melihat jam dinding pukul 00.00 waktu Berlin.


Zul tersenyum, dia mencari nomor telepon Eni sang Mama. Sedikit rindu dan ingin bercerita sebagai anak juga ibu ...


["Mama apa kabar ..."]


["Baik nak. Kamu apa kabar? Anak-anak bagaimana? Pulang dong, sebentar saja. Mama kangen banget sama cucu-cucu Mama, sama Lyra, sama kamu sama cucu tertua Mama. Pasti sudah tumbuh menjadi anak-anak hebat kayak Mama dan Papa-nya. Bagaimana kerjaan kamu? Lancar? Bagaimana keadaan Kesy? Apakah masih sering bertemu dengan Dokter Heru?"]


Zul tertegun sejenak, mendengar pertanyaan-pertanyaan sang Mama.


["Semua baik. Sampai saat ini Kesy masih terus dapat pengarahan Dokter Heru, Ma ...! Semua baik-baik saja. Cuma hanya si kembar yang agak sulit berinteraksi menggunakan bahasa Indo, tapi Zul sedang melatih mereka. Apa mungkin, orang tua dua-duanya Indo, anak susah bicara Indo ..."]


Tawa Zul membuat Eni terhibur di seberang sana.

__ADS_1


["Zul ..."]


["Ya Ma ... Ada apa?"]


["Hmm, Adi memutuskan pertunangan nya dengan Laura. Karena gadis itu tidak setia. Dia enggak tahu mau bicara sama siapa, karena kesibukan kamu dan Lyra beberapa waktu lalu. Mama sudah bilang, dia bisa cerita sama kamu, tapi dia malah menangis ..."]


Sheeer ... Darah Zul seketika mendidih, dia memejamkan matanya, membuat wajah tampan itu terasa sangat panas.


["Ooogh yah! Beberapa hari ini Zul memang sedikit lelah, Ma ..."]


["Kalau bisa pulang yah? Seminggu, atau dua minggu. Oya, ASN kedokteran kamu di setujui untuk di tempatkan disini ...! Kamu sudah resmi jadi ASN ..."]


Zul tertawa terbahak-bahak mendengar celotehan sang Mama ...


["Lyra mengambil pensiun demi mengasuh keempat anak kami, Zul malah masuk jadi ASN. Enggak apa-apa deh Ma ... Coba nanti Zul bicara sama rumah sakit di sini, karena sudah lebih dari dua tahun kami belum berlibur. Terakhir yang kita ketemu di Singapura saja, saat Adi dan Laura tunangan. Boleh deh, Zul bawa anak-anak pulang ke Indo ..."]


["Lyra ...?"]


Zul menelan ludahnya sendiri ...


Terdengar Eni mengehela nafas dalam ...


["Mama tidak ingin kamu memiliki pemikiran 'berpisah lebih baik'. Boleh menghindar atau menghilang sejenak. Tapi jangan lama-lama. Suami istri itu saling membutuhkan. Ingat, penuhi kebutuhan biologis kamu juga istrimu. Mama tidak setuju kalian berpisah, kasihan anak-anak. Pikirkan matang-matang, pikirkan Haris, Hana juga Hani ... Apalagi Kesy membutuhkan perhatian ekstra dari kamu selaku Papi sambung. Mama dapat memahami kalian, tapi Mama hanya bisa berdoa yang terbaik untuk kalian. Salam buat Lyra dan anak-anak yah, nak?"]


["Ya Ma! I love you, Ma ..."]


["I love you too ..."]


Zul meletakkan handphone diatas meja. Kepalanya sedikit berdenyut setelah membaca pesan Kesy untuk pria yang dia sebut 'Abang'.


"Aaagh, siapa lagi kalau bukan Adi pria ini ... Atau jangan-jangan saat hilang itu mereka di villa berduaan ...? Ooogh Tuhan ...!!"


Zul beranjak menuju kamarnya, melihat Lyra yang tengah menyusun semua baju-baju mereka di dalam lemari.


Entah kenapa, kali ini yang ada dalam pikiran Zul hanyalah kebutuhan dia saja.

__ADS_1


Tanpa banyak basa-basi, Zul memeluk perut ramping istrinya yang tengah berjinjit untuk menaruh lipatan baju.


Tangan Lyra terhenti, dia terdiam tapi enggan bicara ataupun bertanya.


Zul hanya berbisik ketelinga Lyra, "Aku menginginkan mu malam ini ..."


Tanpa ada penolakan Lyra mengangguk. Setelah pertengkaran mereka dua minggu lalu tidak saling bicara, kini mereka berbicara di atas peraduan hanya untuk menikmati segelas air kala dahaga itu mulai terasa, tanpa membicarakan apapun.


Keduanya hanya saling menutup mata, karena sudah tahu titik-titik sensitif kedua insan yang masih perang dingin tersebut.


Dessahan serta errangan enggan terdengar, keduanya hanya saling menikmati lummatan tiap lummatan yang saling memberikan untuk kepuasan batin suami dan istri.


Lyra yang memang suka memegang kendali saat berada diatas tubuh Zul hanya bergerak sesuai ritme permainan yang Zul gerakkan. Pinggulnya menghentak dengan cepat, membuat tubuh istrinya lebih menikmati tanpa mau menatap seperti biasanya.


Zul membalikkan tubuhnya, saat ini dia yang merasa geram ...


Dengan hentakan sambil memainkan jemarinya dibagian bawah agar wanita egois itu membuka matanya, dan menyebut namanya ...


"Mendessah Lyra! Aku sedang bercinta dengan istri ku! Bukan dengan mayat istri ku ..." geramnya dalam hati.


Benar saja, sesaat Zul meletakkan jemarinya di bagian yang terbuka, Lyra menggigit bibir bawahnya, dengan mata terbuka dan kepala mendongak keatas, hingga tubuh meliuk-liuk tanpa sadar karena reaksi jemari Zul tepat pada titik sensitif nya ...


"Aaagh hunhh ... Aaagh ... Terus hunhh ..."


Lyra akhirnya bersuara, membuat Zul tersenyum sumringah, menatap wajah cantik yang terlihat lelah karena pikiran itu, dengan sedikit perasaan bersalah ...


Namun, malam ini Zul hanya ingin menyaksikan kekalahan Lyra jika dia bertindak tegas, sama halnya memberi nafkah dalam posisi hati yang masih terluka.


Lyra meremaas kuat lengan Zul, kembali merintih seraya memohon agar suaminya terus melakukan hal yang tadi di lakukan nya untuk terus memberikan kebahagiaan dalam waktu yang tidak cukup lama.


"Aaagh hunhh ... Ini hmmfh ..."


Hentakan tiap hentakan, Zul mampu memenuhi kebutuhan biologis istrinya tanpa harus membiarkan sang istri kesepian dalam kesendirian nya.


Tapi jangan mengira setelah ini, hubungan keduanya akan terasa baik ...

__ADS_1


__ADS_2