
Ingin sekali Lyra tertidur lama, tanpa mau membuka matanya kembali. Dadanya terasa semakin sesak, sehingga tak mampu menopang tubuhnya sendiri. Air mata jatuh dari sudut mata membuat Zul bertindak cepat sebagai seorang suami.
Zul menggendong tubuh Lyra, meminta Adi ikut dengan mereka ke kamar ...
"Kita bicara di kamar! Bagaimanapun masalah ini harus selesai!" tegasnya.
Zul kembali menoleh kearah Betris yang tampak memegang gelas berisikan air putih, dengan tangan bergetar kemudian menundukkan wajahnya.
"Betris, tolong kamu jemput anak-anak!" perintahnya ...
Betris hanya mengangguk, dia mengerti apa yang di katakan Zul, tapi dia tidak bisa menjawab menggunakan bahasa Indo.
Zul membawa Lyra ke kamar, meletakkan istrinya dengan sangat baik di atas ranjang, dia ambil kursi agar Adi bisa duduk dekat dengan kakak iparnya.
Mereka berdua hanya diam tanpa banyak bicara. Zul tidak ingin meminta Lyra untuk bangun lebih cepat, tapi dia terus mengusapkan minyak angin, sesekali melirik kearah Adi.
Tak lama Lyra terjaga, menyentuh kepalanya yang terasa sedikit pusing bahkan berputar-putar, membuat dia semakin tersadar, bahwa yang dia dengar barusan tentang Kesy bukan sekedar mimpi atau halusinasinya. Inilah realita kehidupan yang harus dia terima saat ini.
Berat di awal dia menghadapi perceraiannya dengan Dony, dengan segala penghinaan yang dia terima dari Rita juga Riche, yang hingga kini tak kunjung usai.
Lebih berat yang di hadapi Lyra saat pengkhianatan adik iparnya, yang tega meniduri anak perempuan sekaligus keponakan nya sendiri.
Lyra menoleh kearah Zul. Dia berusaha tenang, tidak arogan, ataupun emosi dalam menghadapi ini semua, untuk membuktikan bahwa ucapannya tidak salah.
Berkali-kali air matanya mengalir, hatinya semakin sakit saat melihat Adi ada di hadapannya.
__ADS_1
Perlahan Lyra berkata, "Bisa tinggalkan kamar kakak sebentar, Di? Kakak mau bicara dengan Abang, mu!"
Adi mengangguk setuju, "Baik Kak! Adi tunggu di luar."
Adi berlalu meninggalkan kamar Abangnya, tanpa mau menoleh kearah dua insan yang tidak tahu akan bicara apa, tapi membuat Adi sedikit penasaran, dan menguping pembicaraan mereka dari balik pintu yang tertutup walau hanya samar-samar.
Terdengar Lyra bertanya pada Zul ...
"Sejak kapan kamu mengetahui semua ini, Zul?"
"Lyra ..."
"Jawab aku, sejak kapan? Apakah Kesy menghilang dan dini hari itu kamu menyalahkan ku, ternyata mereka menghabiskan waktu berdua? Jawab aku, Zul!"
Zul mengambil handphone miliknya, membuka beberapa pesan yang dikirim oleh Kesy ke nomor Dony beberapa waktu lalu.
Air mata Lyra kembali mengalir, tidak menyangka putrinya akan seberani ini pada Adi.
Jika di balik ke belakang, tidak sepenuhnya semua kesalahan Adi, akan tetapi semua sudah terjadi. Dan tidak dapat di putar kembali. Waktu begitu cepat dan terasa kejam sehingga enggan berpihak padanya, hanya itu yang ada di pikiran Lyra saat ini.
Lyra menarik nafas dalam-dalam, dia mengusap wajahnya yang pucat.
"12 tahun kita bersama, aku pikir kesalahan terbesar ku adalah menggugurkan kandungan ku. Hingga kamu pergi meninggalkan aku selama seminggu, bahkan kamu memberi peluang pada wanita bernama Kanza untuk dekat dengan mu ... Kini aku menyesali semua perbuatan ku. Kamu tahu Zul, aku rasa ini karma karena aku telah membuang bayi kembar kita waktu itu. Sakit Zul ... Sakit banget ...!"
Air matanya tak henti-hentinya mengalir. Lyra terus melanjutkan apa yang ada di hatinya saat ini ...
__ADS_1
"Mungkin jika aku tidak terlalu keras pada Kesy, ini juga tidak terjadi. Tapi aku keras karena aku melihat bagaimana mereka berciuman. Aku lihat dengan mata ku!! Ini yang aku takutkan, dan semua sudah terjadi ..."
"Aku tidak menyalahkan mu, walau Adi adik mu, tapi aku menyalahkan diriku sendiri, karena aku telah gagal menjaga putri ku."
"Lyra ..."
"Ssssht jangan bicara apapun saat ini! Aku menikah di usia 23 tahun, dengan kondisi hati terluka, bercerai pertama kali di usia 30an. Dan menikah dengan pemuda tampan, berprofesi sebagai dokter spesialis kandungan lebih muda dari aku 9 tahun. Tapi sayang, kita gagal Zul untuk mempertahankan semua ini ..."
Lyra menutup wajah sembab itu dengan kedua telapak tangannya. Dia kembali terisak meratapi nasibnya sendiri saat ini.
Perlahan dia menatap lekat wajah Zul yang juga menatapnya, "Terimakasih sudah menjaga aku selama ini, memberikan hadiah yang manis kepada anak-anak kita, walau di sana tidak tercantum nama ku ... Awal aku berpikir kamu tidak akan menganggap aku adalah belahan jiwa mu! Yah, mungkin kamu ingin menghabiskan waktu bersama anak-anak di Indo. Silahkan Zul, aku tidak melarang kamu berlibur dengan mereka. Aku senang kamu bisa memberikan hadiah untuk anak-anak kita," senyumnya tipis, mengusap lembut wajah Zul dengan jemari tangan bergetar.
"Beri aku waktu, izinkan aku menenangkan diri selama dua bulan di Bali bersama Bima juga Kenny. Sudah lama aku tidak bertemu dengan mereka. Mungkin jika kamu ada waktu, susul saja aku kesana. Aku bukan lari dari semua permasalahan, tapi saat ini aku belum bisa menerima kenyataan ..."
"Lyra, jangan lakukan ini pada ku! Kasihan anak-anak, kasihan Kesy! Aku tahu aku salah padamu, aku terlalu kesal dan egois. Tapi apakah kita berpisah karena Adi? Aku memang berencana pulang ke Indo membawa anak-anak. Karena aku tahu kesibukan mu beberapa hari ini, setelah melihat jadwal mu yang kamu pajang di dinding kulkas, tapi aku tidak akan melupakan mu! Dua bulan itu waktu yang lama Lyra. Jujur dua minggu saja aku tak bisa menahan hasrat ku! Apalagi dua bulan! Tolong pikirkan perasaan aku, Lyra."
Lyra tertawa kecil dengan wajah menangis.
"Dua minggu kamu enggak kuat? Aku dua tahun enggak di sentuh, kuat kok!"
"Beda, perempuan bisa menyembunyikan hasratnya. Laki-laki? Apa yang harus aku lakukan jika kamu jauh dari aku selama dua bulan. Tidak Lyra, aku tidak mau berpisah selama itu!" tegasnya.
Lyra menatap sinis pada Zul, "Terus kamu mau pergi membawa anak-anak ke Indo tanpa aku selama dua minggu apa itu adil? Tanpa memberitahu pada ku! Aaagh, sudahlah! Tidak ada gunanya untuk aku berdebat dengan mu! Aku serahkan semua keputusan pada mu sebagai kepala keluarga untuk Kesy dan Adi. Satu hal yang perlu aku ingatkan pada mu, cerai kan aku!"
Sontak permintaan Lyra yang sangat spontan membuat kedua bola mata Zul membulat. Dia tak menyangka istrinya berani mengucapkan kalimat itu padanya. Selama menikah, tak pernah dia mengucapkan kata 'cerai', tapi kali ini semua keluar dari bibir tipisnya.
__ADS_1
"Apa ...?"
"Ceraikan aku, Zul! Ceraikan aku ..."