Perjaka Untuk Janda

Perjaka Untuk Janda
Berpisah bukan solusi


__ADS_3

Kedua-nya masih termenung, di ruangan yang tampak tenang. Zul mendongakkan kepalanya, rasa sesak di dadanya semakin terasa sangat memilukan saat Lyra meminta cerai.


Masih terngiang-ngiang di telinga Zul, saat semua itu terlepas dari bibir sang istri.


Sementara Dokter Teddy tengah berpikir sejenak, bagaimana caranya untuk mengatakan yang sesungguhnya, hanya karena ia merupakan orang luar dari Keluarga Ahmad Maeta.


Kedua mata mereka sama-sama mengalihkan pandangannya ke satu titik pintu ruangan yang di ketuk kemudian terbuka lebar ...


"Lyra ..."


"Ooogh Lyra ... Masuklah!" sambut Dokter Teddy berdiri, menyambut wanita cantik walau sudah memasuki kepala empat.


Teddy merangkul tubuh ramping istri Zul, sementara pria yang menjadi suami wanita itu, menyambut kehadiran sang istri agar duduk di dekatnya.


"Santai saja, bagaimana Kesy? Apakah dia sudah siuman?" tanya Dokter Teddy, sembari menekan tombol agar asistennya kembali ke ruangan.


Lyra melirik kearah Zul, tersenyum tipis kembali mengalihkan pandangannya pada Dokter Teddy.


"Hmm, baik Dok. Tadi Adi masuk menemani Kesy, karena hanya itu yang menjadi permintaannya ..." jelasnya dengan suara pelan.


Zul mengusap lembut punggung istrinya, mengambil jemari halus itu dari paha Lyra, agar tetap menggenggam ruas jari yang masih terasa sangat halus tersebut.


Dokter Teddy yang menyaksikan pemandangan romantis itu tersenyum, kemudian melanjutkan perkataannya.


"Jangan pernah kalian berpikir untuk berpisah hanya karena berbeda dalam prinsip," jelasnya pelan.


Lyra menunduk, ia tahu kemana arah pembicaraan mereka barusan, sebelum dia hadir di ruangan itu. Ia tak mampu menyembunyikan kesedihannya, hanya bisa menunduk malu.

__ADS_1


Sejak dulu Lyra enggan untuk bercerita, bahkan membuka aib rumah tangganya pada siapapun termasuk sahabatnya Lela. Ia lebih memilih diam, untuk menutupi semua permasalahan nya sendiri.


Itulah mengapa, mantan suaminya selalu mengatakan Lyra terlalu banyak rahasia, dan sangat tertutup.


Semua kepedihannya selama ini dia simpan sendiri, dan menjadi pemberontak jika merasa terancam seperti saat ini.


Pergi ... Hanya itu yang ada di kepalanya sebelum mengetahui putri kesayangannya sakit seperti saat ini.


Dokter Teddy menatap kearah Lyra dan Zul bergantian, "Apakah kalian sudah tidak saling menyayangi? Jika cinta yang saya tanya, mungkin kalian akan sulit menjawab di usia pernikahan yang sudah lebih dari 10 tahun. Tapi rasa sayang, saling membutuhkan, itu pasti ada. Jangan hanya karena masalah Kesy kalian memilih berpisah!"


Zul melirik kearah Lyra, dia hanya ingin melihat istrinya saat ini. Wanita egois yang selalu berbeda pendapat dengannya jika telah menyangkut tentang Kesy.


Lyra hanya bisa menangis tersedu-sedu, hatinya seketika hancur bercampur aduk tanpa bisa untuk memilah apa yang dia rasa saat ini.


Zul memberikan tisu, tanpa mau membujuk wanita yang masih di rundung kesedihan itu.


Lyra semakin menangis sejadi-jadinya, tubuhnya bergetar hebat, membuat dia tersadar bahwa ketiga buah hatinya juga membutuhkannya saat ini.


Zul beringsut mendekati Lyra, merangkul bahu istrinya agar bisa memeluk tubuh yang semakin ringkih karena beban pikiran yang ia pikul sendiri tanpa mau berbagi dengan suami.


Lyra mengusap lembut wajah Zul, merasakan kehangatan dan halusnya kulit yang selalu sabar menemani serta menerima dia apa adanya.


"Hun ..." tangisnya semakin keras.


Dokter Teddy hanya tersenyum tipis melihat dua insan suami istri itu masih saling menyayangi.


Beliau melanjutkan penjelasannya untuk hubungan Kesy juga Adi ...

__ADS_1


"Untuk Kesy, biarkan dia memilih jalan hidupnya. Usianya sudah cukup, hal yang wajar dia mencintai Adi, karena Pak pilot itu sangat baik padanya ..."


"Tapi Om ..." sanggah Lyra saat mendengar nama Adi dan Kesy di sebut.


Teddy tersenyum sumringah, menjawab, "Tapi apa? Apa kalian pikir Adi adik kandung Zul?"


Kedua bola mata Zul dan Lyra saling menatap, perlahan mereka saling melepaskan dekapannya.


Mata Zul menatap lekat mata Dokter Teddy, "Maksudnya, Adi bukan anak kandung Mama dan Papa? Tapi kenapa mereka memperlakukan Adi seperti anak kandung? Bahkan mereka menyekolahkan Adi sesuai permintaannya. Bahkan semua apa yang menjadi keinginan Adi mereka wujudkan ..."


Teddy menaikkan kedua alisnya, mengehela nafas dalam-dalam, sedikit mengusap-usap wajahnya.


"Adi itu anak yang di tinggalkan keluarganya di rumah sakit kalian. Mamanya meninggal saat melahirkannya, dan Papanya meninggal saat di jalan karena tengah sibuk mencari uang untuk membayar biaya rumah sakit kala itu. Setahu saya begitu. Saat Papa kamu melanjutkan spesialis kandungan di Singapura, Mama mu membawa kamu dan Adi. Sehingga Papa kamu mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan di Berlin dan tinggal di sini selama tiga tahun. Kalau saya enggak salah, saat itu usia kamu dua tahun, Adi berapa bulan," jelas Teddy mengenang perjuangan Ahmad Maeta juga Eni.


Zul terdiam sejenak, matanya berembun terasa sangat panas. Mata berkaca-kaca, membayangkan wajah kedua orang tuanya selama merintis rumah sakit mereka.


Lyra yang sangat mengetahui bagaimana perasaan Zul, kembali mendekap tubuh suaminya, agar dapat menenangkan perasaan suaminya yang tengah di rundung kesedihan, karena cerita masa lalu yang mereka dengar.


Zul mengusap lembut punggung Lyra, mengecup lembut puncak kepala yang meringkuk di bawah dagunya.


Zul tersenyum tipis, kembali bertanya pada Dokter Teddy, "Kenapa Papa tidak pernah bicara pada kami, Dok? Bukankah ini menjadi rahasia untuk aku dan Adi. Saat ini, mereka juga tidak tahu tentang Kesy dan Adi. Aku bingung mau mulai dari mana. Dokter tahu bagaimana Mama sama Adi. Adi susah di atur, kini harus di hadapkan dengan situasi seperti ini."


Dokter Teddy tertawa kecil mendengar penuturan Zul. Dia menganggukkan kepalanya, sangat mengerti bagaimana Eni yang tidak begitu mempersulit anak-anak mereka jika telah memutuskan satu keputusan.


"Saya rasa, Mama kamu lebih bijaksana. Sama halnya dengan Papa kamu. Mereka pasti sudah mengetahui bagaimana Kesy terhadap Adi. Kita tidak bisa melarang seseorang untuk jatuh hati. Sama halnya, kamu jatuh hati pada Lyra yang usia kalian sangat jauh, bahkan dengan status yang berbeda. Coba renungkan, hanya untuk sekedar mengenang masa indah kalian berdua. Berpisah bukan solusi, apalagi jika kalian berpisah karena hubungan Kesy dan Adi. Itu tidak akan baik untuk kalian berdua, juga keempat anak kalian. Kesy pasti akan membenci Lyra, bahkan memilih kabur dari kalian. Ini cinta Kesy untuk Adi. Tolong pahami ..." jelasnya santai.


Lyra berkali-kali menutup matanya, dia bingung, bagaimana caranya untuk bicara dengan keluarga besar, juga keluarga mantan suaminya ...

__ADS_1


"Aaagh entahlah ..."


__ADS_2