
Hari berganti hari, waktu terus berputar, kehidupan terus berjalan ...
Kini Lyra tengah menggunakan gaun pengantin yang mewah di salah satu kamar hotel yang jauh dari keramaian kota. Dengan beberapa kerabat keluarga dan handai taulan kedua keluarga.
3500 undangan tersebar di seluruh kota kecil tersebut, dari kerabat dekat hingga kerabat jauh yang mengenali Keluarga Ahmad.
Tidak lupa pula Boy Charles yang sangat menyukai pesta mengundang kerabatnya yang berada di kota besar. Tentu untuk menghadiri sebuah acara resepsi pernikahan putri kesayangannya, serta pengesahan pernikahan secara resmi di negara.
Lyra masih di bantu pelayan untuk mengenakan gaun putih, dengan rambut yang panjang masih tetap tergerai yang sengaja di kriwilkan atas permintaan wanita cantik itu.
Memutuskan menikah secara sirih dalam waktu singkat dengan Zul, hanya berjarak satu bulan lebih pasca bercerai dari Dony, menjadi satu keputusan yang instan bagi seorang wanita yang tidak pernah terjamah selama dua tahun lebih.
Namun, Zul mampu memberikan kenyamanan dan perhatian lebih pada Lyra, sehingga tidak ragu bagi pria muda itu untuk membawa hubungannya ke jenjang pernikahan membina rumah tangga secara perlahan dapat saling mengenal, sesuai yang di anjurkan kedua orang tua mereka.
Entah ini merupakan satu kebetulan, atau keberuntungan bagi Lyra? Yang pasti pernikahan kedua-nya menjadi hal yang sangat mengejutkan untuk kerabat dekat, yang tidak pernah mengetahui wanita itu dekat dengan pria seperti apa, pasca perceraian dan kematian Dony.
Terdengar suara ketukan pintu dari luar, memberi perintah pada para pelayan untuk segera membukakan pintu kamar.
Lyra menoleh kearah pintu, siapa yang ingin menemuinya sebelum acara santai namun hikmat itu ...
'Bukankah Zul berada di kamar Papa-nya sama Kesy ...?'
Pintu terbuka sedikit, Lyra melihat sosok wanita cantik masuk ke dalam kamar membawa satu paper bag kecil kedalam kamar, yang merupakan kamar Papa Boy dan Mama Lince.
Sementara kamar malam indah mereka berada di lantai yang berbeda agar tidak menjadi bahan ledekan bagi kerabat Zul yang jauh-jauh datang dari luar kota juga luar negeri.
Lyra yang telah selesai dengan dandanannya, meminta pelayan agar menunggu di luar.
"Kalian keluar dulu, yah? Saya ada urusan sama wanita ini," jelas Lyra.
Pelayan mengangguk, berlalu meninggalkan kamar, kemudian menutup pintu kamar dengan rapat.
Lyra tersenyum bahagia menyapa Luna hanya sebagai teman.
"Duduklah ..."
__ADS_1
"Oooogh ... Ya, terimakasih ..."
Luna duduk dipinggir ranjang sedikit salah tingkah, menatap Lyra yang sangat elegan bahkan sangat wajar berdampingan dengan seorang dokter kandungan seperti, Zul.
"Maaf ... Aku kesini hanya untuk menemui mu dan memastikan dengan siapa calon suami ku dulu itu menikah. Jujur aku stress menghadapi masalah yang tak kunjung usai. Kamu mungkin sudah mendengar semua cerita tentang keluarga mantan suami mu, yang melakukan tindakan kejahatan hingga melanggar hukum, dan di kenakan 20 tahun penjara," jelas Luna panjang lebar.
Lyra hanya mendehem tanpa menjawab, namun dia hanya bertanya, "Apakah kamu kesini untuk memberi kabar yang tidak penting ini?"
Luna menatap lekat wajah Lyra, "Jujur di awal, aku sangat membenci mu. Namun setelah kepergian Dony dan Mas Bara dari hidup ku, aku sadar ... Tuhan akan memberikan suatu kebahagiaan untuk ku suatu saat nanti, walau separoh hidup ku sudah hancur. Aku kesini hanya ingin mengagumi kecantikan mu, dan beruntungnya Zul mendapatkan kamu, Lyra."
Senyuman tipis itu menyeringai kecil dari bibir Luna, dengan mata berkaca-kaca, dia melanjutkan pembicaraannya.
"Zul pernah mencintai aku, tapi saat dia melakukan koas di salah satu kota yang cukup jauh dari sini, membuat aku salah langkah karena kehampaan ku sebagai wanita yang sudah tidak suci, Lyra. Aku pernah melakukan hubungan itu dengan mantan kekasih ku sebelum Zul, dan dia telah menikah. Karena aku menganggap Zul main-main kala itu, aku memutuskan untuk menjalin hubungan dengan Mas Bara. Kami memiliki anak perempuan yang di asuh oleh, Mas ...," tunduk Luna.
Tenggorokan Lyra tercekat seketika, seperti ada tulang yang menempel mendengar kejujuran seorang gadis cantik sesempurna Luna, namun hancur di dalam lubuk hatinya.
"Hmm ... Maaf, jujur aku tidak mengetahui tentang masa lalu mu dengan, Zul. Sekali lagi maaf, aku doakan ... Semoga kamu mendapatkan pria yang baik ..."
"Seperti Dony ...?"
"Ya ... Dony laki-laki baik, sehingga Tuhan lebih menyayangi dia dari pada kita ..."
Lyra menundukkan kepala, bahunya bergetar karena menangis mengenang almarhum mantan suaminya.
Luna yang melihat Lyra menangis, mengusap lembut sudut matanya karena menangisi pria yang sama.
"Dony kecelakaan karena menabrak mobil kekasih Riche adiknya. Tapi pria brengsek itu enggan menyelamatkan Dony. Dia meninggalkan Dony kala itu, yang masing meregang nyawa di pinggir jalan. Tapi menurut warga setempat, Dony masih bernafas saat di bawa ke rumah sakit. Yah ... Takdir berkata lain, Tuhan lebih menyayangi dia dari pada kita."
Lyra mengangguk membenarkan, menutup matanya pelan dan menangis lagi ...
"Dony ..."
Luna mengusap lembut baju Lyra yang bergetar, "Setidaknya setiap Dony bersama ku, dia selalu mengatakan bahwa kamu adalah wanita hebat dan sangat baik. Kamu pantas menjadi pendamping hidup Zul."
Lyra mengusap lembut wajahnya, "Terimakasih. Jujur aku tidak memiliki teman di sini. Ada ... hanya sekedar teman kerja. Aku yakin kamu akan mendapatkan pria baik jika kamu berubah menjadi baik dalam menjaga sikap dan juga dirimu sendiri."
__ADS_1
Luna mengangguk setuju, memberikan jari kelingkingnya, untuk menjadi sahabat baik Lyra selama hayat masih di kandung badan.
Luna memeluk Lyra pertama kalinya, mengusap lembut wajah cantik yang basah dengan derasnya air mata kesedihan bercampur bahagia.
"Mungkin aku akan menjadi sahabat dekat Aldo dalam sebuah bisnis. Tapi belum tentu bisa mencintai pria itu karena memang dia sahabat, Zul!" jujur Luna.
"Really ...? Aaagh ... kamu kenali dulu dia, jika bisa menerima mu apa adanya kamu itu hal yang luar biasa. Aldo tampan, sama seperti Zul." Peluk Lyra pada pinggul Luna yang berdiri di sampingnya.
Luna lagi-lagi memeluk Lyra.
Lyra meraih sebuah box perhiasan yang terletak di meja rias kamar hotel, membukanya, dan mengambil salah satu koleksi yang dia kumpulkan selama ini. Dia mengambil salah satu gelang indah, yang dibalut mas putih bertahtakan permata berwarna merah muda, bertuliskan inisial 'L'.
Perlahan Lyra mengambil tangan kanan Luna, dan menyematkan gelang indah itu di pergelangan gadis cantik tersebut.
"Jagalah dirimu sebaik-baiknya. Ingat pesan ku sebagai seorang Kakak. Jangan pernah mengganggu rumah tangga siapapun, jadikan masa lalu mu menjadi sebuah pelajaran yang berharga. Sayangilah dirimu sendiri untuk menjadi wanita terhormat dan terhebat," ucap Lyra mengusap lembut tangan halus milik Luna.
Luna mengangguk dan menangis, dia juga melepaskan kalung emas putih yang selama ini di kenakan, menyematkan di leher wanita cantik tersebut.
"Makasih yah? Setidaknya aku sudah menjadi wanita hebat seperti mu," kecup Luna pada kepala Lyra yang menggunakan mahkota indah di kepalanya.
Lyra melihat ke cermin, mengagumi kalung indah yang bertahtakan berlian mahal, "Hei ... Ini mahal sekali. Aku tidak mau menerimanya. Aku tahu harga perhiasan ini ratusan juta."
Luna tertawa, meletakkan satu kotak kecil yang di balut pita berwarna pink dan mewah, "Kamu pantas menerima semua ini. Aku juga ingin memberikan ini untuk kamu."
Lyra menggeleng, "Jangan terlalu berlebihan, aku tidak menyukai kemewahan," rungutnya.
"Buka lah, aku yakin kamu pasti senang ..."
Lyra membuka kotak yang di berikan Luna. Betapa terkejut nya wanita cantik itu, yang tak menyangka akan mendapatkan kado pesta pernikahan seperti ini ...
"Oooogh, are you crazy girls ...?"
Luna lagi-lagi memeluk tubuh ramping Lyra, "Terima yah? Aku menunggu kalian di pelaminan, have fun dan kasih aku keponakan yang banyak ..."
"Aaaagh!"
__ADS_1