Perjaka Untuk Janda

Perjaka Untuk Janda
Jangan sampai dia tahu ...


__ADS_3

Suasana pusat perbelanjaan ternama di kota kecil tersebut masih tampak memperhatikan tiga insan yang masih berada dalam pikiran masing-masing.


Zul yang sama sekali tidak ingin melihat istrinya senantiasa menangis hanya untuk seorang pecundang seperti Dony, dengan cepat dia menghampiri pria yang masih duduk di lantai tersebut.


Tanpa disangka-sangka oleh Lyra, Zul melayangkan kaki kanan yang menggunakan sepatu both berwarna hitam itu tepat di dadanya. Membuat pria bertubuh kurus itu semakin terjerembab.


BHUUUUG ...!


Kaki Zul sudah berada di dadanya, tentu di teriakan oleh para pengunjung yang menyaksikan kejadian tersebut.


"Berapa kali mesti aku peringatkan padamu? Agar kau tidak menggangu istri ku! Satu hal lagi, aku peringatkan padamu! Lyra binti Boy Charles itu istri ku, dan kau mantan suami yang tidak berguna. Sekali lagi kau mengikuti dia! Aku jamin besok pagi kau tidak akan melihat sinar mentari pagi!!" tegas Zul, menghentakkan kakinya dengan keras, membuat Dony meringis kesakitan nya.


Namun, Dony yang sudah tidak peduli dengan keadaan, dia berteriak keras memanggil nama Lyra mantan istrinya, yang di rangkul oleh Zul meninggalkan tempat tersebut. 


"Lyra! Lyra! I love you, Lyra!" teriak Dony seperti orang gila menangis keras meratapi kepergian mantan istrinya, yang tidak memperdulikannya lagi.


"Lyra!!!!!!!"


Semua pengunjung ada yang merasa iba, bahkan menangis melihat rintihan seorang pria seperti Dony. Namun, bagi mereka yang melihat kejadian itu dari awal malah mentertawakan pria bodoh seperti Dony.


Lyra memasuk lift, menghubungi Kenny yang ternyata sudah di jemput oleh Bima, membawa mobil yang mereka bawa saat awal tiba. 


Zul tampak tenang, merangkul bahu istrinya, dengan tatapan matanya membuat Lyra enggan untuk berbicara.


Saat ini, Zul merasa kesal pada pria yang tidak memiliki harga diri. 'Dia yang menceraikan, dia pula yang menangis menjerit! Ada pria aneh seperti itu? Dimana letak harga dirinya?' sesalnya.


Lyra meringkuk dalam memeluk Zul dengan manja, membuat pria muda nan dewasa tersebut, dengan mudah mencium puncak kepalanya yang berada tepat di dagunya.


"Zul ..."


"Hmm ..."


"Kita pulang yah? Kesy nginap di rumah Mama, aku kangen sama kamu," ucap Lyra dengan nada suara manja.


Mendengar permintaan istrinya yang sangat menggugah selera, tersenyum sumringah mengangguk setuju.


"Kamu mau belanja apa? Mau beli makanan?" tanya Zul sebelum meninggal pusat perbelanjaan.

__ADS_1


Lyra menggeleng pelan, mengusap lembut dada pria yang sangat dia cintai, dan mampu menenangkan jiwa dan perasaannya yang hampa saat ini.


.


Sudah hampir dua bulan Lyra dan Dony tidak bertemu. Jika di tanya dalam hati dia memang sudah melupakan mantan suaminya atas permintaan Zul dan Kesy.


Kesy yang melihat kejadian terakhir kali itu, memang tidak ingin bertemu lagi dengan sang Papa.


Hal lebih menghancurkan perasaan kembali terjadi. Dony sengaja datang ke sekolah putrinya, hanya untuk memberikan uang belanja, namun yang terjadi sangatlah miris seperti hari ini.


"Selamat siang Pak, maaf mau bertemu siapa?" sapa security sekolah Kesy di depan pintu gerbang yang melihat pria berusia 40 tahun itu ada di sana ...


Dony tampak salah tingkah, penampilannya sangat lah berantakan, bahkan datang hanya menggunakan motor butut yang di dapatkan dari pihak keluarganya, dan mengeluarkan sejumlah uang.


Kulit hitam karena panas-panasan setelah mobil miliknya, di masukkan ke dalam gudang rongsokan di gudang mobil rumah sakit, tentunya setelah dapat persetujuan dari Lyra.


"Hmm ... Pak security, bisakah saya bertemu dengan Kesy?" tanya Dony penuh harap.


Security melihat jam tangan yang ada di pergelangan tangan, membalikkan tubuhnya memasuki ruangan pos security, menghubungi salah satu rekan mereka yang ada di dalam sekolah.


Setelah cukup lama security berada di dalam pos, Dony masih menanti penuh harap, security sekolah kembali kehadapan Dony.


Dony tertegun sejenak, air mata penyesalan kembali berlinang, 'Beginikah orang kaya memperlakukan aku? Kenapa begitu kejam mereka pada ku? Aku juga berhak untuk menemui putri ku,' sesalnya.


Dengan sangat terpaksa, Dony mengeluarkan uang pecahan 100 ribu, meminta amplop pada security, memasukkan uang ke dalam amplop sebanyak sepuluh lembar.


Itulah uang terakhir yang Dony miliki dan iya dapat dari hasil dagangannya selama dua hari berada di toko.


Dony menuliskan sepucuk surat untuk Kesy, dan memberikan pada security.


Dony memanggil security kembali, memberikan amplop panjang tersebut sambil mengusap wajahnya yang semakin berantakan.


"Tolong berikan ini pada Kesy. Saya permisi ..."


"Ooogh ... Baik Pak."


Kali ini Dony hanya bisa menangis sendiri. Hanya toko yang dia miliki saat ini, setelah Luna mantan kekasih Zul dan Bara meninggalkan nya, karena alasan yang tidak jelas.

__ADS_1


Yang pasti sejak pertikaian mereka di restoran milik Aldo, Dony seperti kehilangan secercah harapan karena ditinggal semua orang terdekatnya termasuk keluarga sendiri.


Dony hanya bisa pasrah, meratapi nasibnya sendiri setelah ditinggal orang-orang dalam kesengsaraan.


Nela yang tak pernah menampakkan puncak hidungnya, bahkan hanya menghindari saat berpapasan, membuat perasaan Dony semakin hancur berkeping-keping.


Dony melangkah mendekati motor butut yang dia miliki, iya beli dari sisa uang pemberian Zul menatap gedung sekolah dengan linangan air mata.


Dony pergi membawa asa yang tersisa, kembali menangis sejadi-jadinya sepanjang perjalanan.


'Beginikah pembalasan mu, Lyra ... Kau bahagia dengan semua kekayaan mu. Sementara aku, kau biar kan menderita. Kau ambil mobil ku, hanya untuk membalaskan sakit hati mu, Lyra ...!!'


BRAAAK ...!


Dony menabrak sebuah mobil membuat tubuhnya terpelanting dan bahunya terhempas ke pembatas jalan trotoar sehingga melepaskan helm yang iya kenakan. Membuat tubuhnya tak sadarkan diri kemudian di larikan warga setempat ke rumah sakit umum.


Pihak rumah sakit tidak dapat menemukan identitas diri Dony, namun Zul melihat Dony terbaring di bangkar rumah sakit masih di bantu alat pernapasan dan penditeksi jantung yang menempel di dadanya.


Zul menghampiri suster yang dengan sigap memberikan pertolongan pada Dony. Bertanya karena memang mengenalinya, "Kenapa pasien ini?"


Suster melihat kehadiran Zul diruang unit gawat darurat, hanya bisa menjawab, "Pasien kecelakaan Dok ... Dia mengalami retak di pada bahu, dan kami masih menunggu pihak keluarga pasien," jelasnya.


Zul mengangguk mengerti, hanya bisa pasrah tanpa mau perduli awalnya. Tapi dia selaku orang yang mengenal Dony, hanya bisa melanjutkan ucapannya, "Lakukan tindakan operasi, semua saya yang tanggung. Kabari saya jika ada apa-apa. Saya permisi karena masih ada kelas dengan mahasiswa lainnya."


Suster menoleh kearah Zul yang akan berbalik, memberikan beberapa lembar kertas untuk di tandatangani sebagai penjamin terhadap pasien.


Zul menandatangani semua berkas degan tangan kirinya, sedikit berbisik ketelinga suster, "Jangan sampai dia tahu bahwa saya yang menjamin laki-laki ini."


"Baik Dok ..." tunduk suster, menghubungi semua team medis untuk melakukan tindakan sesuai yang telah dia terima dari Zul.


Zul melakukan aktivitasnya seperti biasa, menghubungi Lyra sang istri yang masih berada di kantor.


["Sayang ... Kamu makan siang di mana? Aku sudah selesai dari rumah sakit umum. Kita makan di suatu tempat? Menjemput Kesy, karena aku ingin kita menghabiskan siang ini dengan melihat pemandangan yang indah."]


["Hmm ... Terserah kamu saja hun, ke kantor dulu yah, aku tunggu."]


["Ya."]

__ADS_1


Zul menutup telfonnya, meremas kuat handphone dalam genggaman. Ingin sekali dia memberi kabar tentang Dony pada Lyra, namun enggan dilakukan, karena tak ingin istrinya kembali menangis.


"Maaf kan aku sayang ..."


__ADS_2