Perjaka Untuk Janda

Perjaka Untuk Janda
'Kesy sedang tidak baik-baik saja ...'


__ADS_3

Kesy terus berceloteh tentang keluarga almarhum Papa-nya yang sangat memperlakukan nya dengan sangat buruk. Dia terus saja bercerita panjang lebar tanpa memikirkan Rey akan mendengar suara gadis kecil itu.


Lyra menggelengkan kepalanya, agar Kesy tidak melanjutkan celotehannya. Namun lagi-lagi dia gagal, luka yang tertoreh di hati Kesy sangat lah dalam.


Kesy berbisik pada Lyra, "Mama tahu enggak? Kalau yang meminta Papa berselingkuh itu, adalah Bunda Riche dan Mami Rita. Mereka yang menghasut Papa. Sekarang Kesy tanya sama Mama, toko yang Papa jalan kan sebelum meninggal, apa masih ada atau sudah di ambil sama keluarga mereka? Jika masih ada, kan bisa Bang Rey jaga di sana. Daripada harus ngemis-ngemis nyusahin kita. Kesy enggak suka ..."


Lyra mengusap lembut punggung putrinya, "Jujur Mama belum tahu bagaimana toko Papa. Yah, jika ada waktu kita mampir ke sana. Kalau Rey mau, kenapa tidak? Biar bisa berdiri di kaki sendiri. Mama juga enggak mau membantu dengan uang lagi ..."


Kesy mengangguk setuju, dia mencium lembut pipi Lyra menerima suapan dari tangan sang Mama.


Ceritanya Kesy pagi ini, sangat terdengar jelas oleh ketiga keluarga yang ada di ruang makan. Namun, tidak dapat di dengar Ahmad juga Rey yang sedang asik berbincang-bincang.


Zul melihat jam di dinding, menunjukkan pukul 06.45 waktu setempat.


"Girl, kita jalan sekarang? Sekalian ada yang mau Papi urus setelah dari sekolah Kesy," ucapnya.


Lyra mengangguk, "Kita jalan saja." Dia menoleh kearah Rey sedikit berteriak untuk memberitahu bahwa mereka akan segera berangkat, "Rey, Tante jalan dulu, yah? Ngobrol dulu sama Opa. Ada Adi juga," jelasnya lagi.


Rey menoleh kearah Lyra, mengangguk memberi isyarat jempol.


Pemandangan itu membuat Eni dan Adi saling berpandangan, "Kasihan Kesy, selama ini dia mesti mendengar omongan yang tidak baik dari keluarga almarhum Papa-nya. Padahal menurut Mama, Lyra sangat baik dan pekerja keras," rundungnya.


Adi mengangguk membenarkan ucapan Eni, "Ya! Bang Zul beruntung dapat Kak Lyra. Cantik, pintar, aparatur negara, bahkan bisa bersaing untuk menjadi badan keuangan di Berlin. Aku bangga punya kakak ipar seperti itu ..."


Eni tersenyum bahagia, "Untung Mama jadi mak comblangnya. Daripada Abang kamu kepincut bule, lebih bagus Lyra. Jelas asal-usulnya, bibit, bebet, keluarganya. Setidaknya keluarga mereka tidak matre seperti Keluarga Luna."

__ADS_1


Adi mengangguk setuju.


Mereka berpisah. Adi bertemu dengan beberapa teman sekolahnya. Sementara Eni dan Ahmad masih sibuk berbincang-bincang dengan Rey.


Ahmad menyetujui Rey untuk bekerja di rumah sakit. Tentu dengan posisi sebagai sopir. Mau itu sopir pribadi keluarganya juga sopir ambulans.


Dengan hati gembira, Rey menyalami kedua orang tua yang sangat baik padanya, tanpa melihat sosok keluarganya seperti apa kepada menantu baru mereka.


"Terimakasih Pak, Bu. Setidaknya Rey bisa mengabdi di sini untuk menebus kesalahan keluarga Rey selama ini. Semoga kebaikan Bapak dan Ibu, memberi kebaikan buat Rey ke depannya," jelasnya dengan mata berkaca-kaca.


Ahmad tertawa kecil, mendengar penuturan Rey, "Jangan panggil Bapak. Panggil saja Opa, selayaknya Kesy memanggil saya."


Rey menunduk hormat, apa yang telah di lakukan keluarga nya pada Lyra, sangat tidak berbanding yang dia dapatkan dalam situasi sulit seperti saat ini.


Eni hanya bisa tersenyum tipis, "Setidaknya kami senang bisa mempekerjakan anak muda yang berprestasi seperti kamu. Bahasa English kamu lancar, wajah tampan, bisa kuliah juga. Nanti Oma yang mencarikan tempat kuliah yang baik. Jadi kamu bisa kerja siang, malam kuliah. Bagaimana pun, pendidikan nomor satu!"


"Terimakasih Oma. Terimakasih banget. Rey janji akan bekerja semangat dan mendedikasikan diri untuk perusahaan Oma dan Opa," ucapnya sungkan.


Ahmad menutup pertemuan mereka, "Baik, silahkan bawa surat lamaran kamu ke lantai dua rumah sakit. Temuin Bu Dewi yang akan mengurus administrasi dan baju seragam. Selamat bekerja. Maaf, Opa hanya bisa memberi mu gaji selayaknya karyawan biasa!"


Rey tersenyum sumringah, menatap wajah Ahmad dan Eni bergantian, "Berapapun saat ini, yang pasti Rey sangat senang bekerja di sini. Dan sesekali bisa membawa Kesy untuk jalan-jalan atau menjemput nya sekolah."


Eny hanya bisa tersenyum, "Sayang sekali Rey, Tante Lyra dan Kesy besok sudah berangkat. Mungkin tahun depan mereka kembali ke sini. Yang pasti, kamu tetap harus semangat, yah?"


Rey mengangguk. Dia hanya bisa menahan kesedihannya di dalam hati. Tidak ada yang dapat dia lakukan untuk menahan dua orang yang sangat baik padanya, agar tidak meninggalkan kota kecil tersebut.

__ADS_1


.


Suasana sekolah Kesy cukup tenang. Lyra dan Zul tengah berada di hadapan guru walikelasnya, dan teman sekelas putri kesayangan mereka.


Tentu untuk memberikan sovenir berupa gantungan kunci, untuk para teman-teman Kesy.


Tak sedikit dari mereka yang bersedih mendengar kepindahan sahabatnya itu, mereka memeluk tubuh Kesy yang sangat baik walau menjadi siswa pindahan.


"Sampai jumpa Kesy, jangan lupakan kami! Kami sangat senang berteman dengan mu!" teriak mereka saat akan melepaskan Kesy, yang akan meninggalkan ruang kelas.


Kesy menangis sesenggukan, Zul memilih menggendong putri kesayangannya, agar tidak berlarut-larut dalam kesedihan karena harus berpisah dengan para sahabat.


Kepala sekolah Kesy memberikan kado kecil untuk siswa terbaik mereka, walau sering melihat siswi nya itu duduk sendiri di taman sekolah.


"Ini Ibu berikan, karena Kesy sering menulis, dan Ibu pernah melihat Kesy mengirimkan surat buat Papa-nya. Sekali lagi Ibu ucapkan selamat jalan untuk Kesy, semoga menjadi siswi yang baik di Berlin seperti Papi dan Mama nya," ucap Ibu sekolah mengusap lembut punggung Kesy yang ada di gendongan Zul.


Lyra tersenyum tipis, dalam hatinya hanya bisa menahan tangis karena mendengar Kesy masih suka menulis surat untuk almarhum Papa Dony.


Namun, apalah daya. Takdir berkata lain, telah mengambil Dony untuk selamanya.


Zul membawa Kesy ke parkiran. Meminta Lyra dan putrinya masuk ke dalam mobil lebih dulu. Dia berniat untuk mencari security dan menanyakan siapa saja yang sering menemui Kesy selama di sekolah.


Security mengeluarkan beberapa lembar surat dari Kesy untuk Dony. Ada 10 surat yang masih rutin gadis itu titipkan, berharap Dony datang menjemput nya.


Security menepuk pundak Zul, "Saya mau ngasih tahu bahwa Papa-nya sudah tidak ada lagi di dunia ini, enggak tega, Pak. Di tambah Kesy selalu menanyakan Papa-nya sama saya. Saya harap, Kesy dapat menerima kenyataan. Walau sesungguhnya pahit yang harus dia terima ..."

__ADS_1


Zul mengangguk, sebagai seorang dokter yang mengerti akan psikologi anak kecil, dia berpikir 'Kesy sedang tidak baik-baik saja ...'


__ADS_2