
Sementara di seberang sana, Adi tengah menunggu Zul yang sedang memberi kuliah pada beberapa mahasiswinya.
Kini usia Adi sudah berusia 28 tahun, dia duduk di kursi cafetaria rumah sakit, menunggu Zul yang tengah ada kegiatan pekerjaannya. Wajah tampannya menggeram seketika, saat menyadari bahwa handphone pribadinya tertinggal di kamar Kesy.
Adi mengusap kasar wajahnya, seakan-akan tidak percaya atas apa yang dia dengar dari bibir mungil keponakannya.
'Aaaagh, gadis labil mana pernah merasakan jatuh cinta. Kesy ... Kesy ... Pintar banget buat drama. Jelas-jelas aku dan Laura akan menikah. Apa kata dunia jika aku benar-benar mencintai keponakan ku sendiri. Itu enggak mungkin. Lagian ciuman tadi hanya sekedar saja. Agar Kesy tidak merasa penasaran lagi, tapi berciuman dengannya ada perasaan aneh. Mungkin karena memang dekat sejak kecil, jadi manja begitu. Besok-besok enggak mau sedekat itu lagi, takut tambah baper ..."
Di waktu yang sama, Kesy mengeluarkan kepalanya dari balik pintu kamar, untuk menyelinap keluar dari kamar pribadi yang sangat luas. Dia menyesiasati sekelilingnya, celingak-celinguk mencari keberadaan Lyra yang tidak terdengar lagi suaranya.
Perlahan Kesy mengendap-endap bak seorang maling. Akan tetapi langkahnya kembali terhenti. Suara mendehem sang Mama kembali terdengar dari arah belakang. Dia membalikkan tubuhnya, tersenyum tipis menggaruk tengkuk yang tak gatal.
"Ma ..." tunduknya pelan.
"Mau kemana hah? Mama sudah bilang, kamu di kamar saja! Papi sebentar lagi pulang! Jangan macam-macam kamu!" tegasnya.
"Ma! Bang Adi enggak salah apa-apa! Kesy yang salah!" sesalnya.
Lyra menautkan kedua alisnya, "Jangan pernah membela orang lain demi menyelamatkan dia, Kes! Mama kecewa sama kamu! Sudah berapa sering kalian melakukan itu? Ingat Kes, jika kamu berani macam-macam, Mama akan mengirim kamu ke keluarga Papa!" ancamnya.
Kesy terdiam, bibirnya seketika terkunci, kembali teringat akan almarhum Papa-nya. Dia menghentakkan kedua kakinya berjalan menuju kamar kemudian membanting pintu dengan sangat keras.
"Mama jahat! Mama egois! Mama enggak gaul ..." sesalnya menghempaskan tubuh ramping itu ke ranjang.
Seketika Kesy menyentuh bibirnya lembut, mengusap wajah sendiri, membayangkan tangan Adi yang mengelus lembut seperti pertama kali mereka berciuman.
Gadis cantik itu terus memanggil nama almarhum Papa Dony di dalam kamar, berteriak keras seperti biasa kala dia di marahi Lyra.
Sementara Lyra tengah menunggu ketiga adik kembar Kesy yang baru pulang dari sekolahnya, Haris, Hana, dan Hani. Ketiganya menggunakan nama Maeta di belakang nya.
'Haris Maeta ...'
__ADS_1
'Hana Maeta ...'
'Hani Maeta ...'
Ketiganya berlarian mendekati Lyra saat pintu lift apartemen terbuka lebar, memeluk sang Mama di susul Betris yang kini menjadi asisten rumah tangga keluarga Zul, semenjak Lyra memutuskan untuk menjadi consultant accounting perusahaan swasta, setelah mendapatkan permintaan dari dua perusahaan ternama.
"Mama, wo ist Sis Kesy? Ist sie auf dem College?"
(Ma, dimana Kak Kesy? Apakah dia sedang kuliah?)
Lyra menggelengkan kepalanya, "Nein, er ist in seinem Zimmer. Du ziehst dich um und wir essen zusammen zu Mittag. Papi ist bald wieder da ..."
(Tidak, dia sedang ada di kamarnya. Kalian ganti pakaian dan kita makan siang bersama. sebentar lagi Papi akan kembali ...)
Ketiganya mengangguk patuh, mereka berlari kencang menuju kamar mereka masing-masing.
Haris memiliki kamar sendiri, sementara Hana dan Hani kamar berdua hingga usia mereka beranjak 15 tahun nantinya.
Sementara di dalam kamar Kesy masih terus memikirkan bagaimana caranya untuk keluar dari apartemen keluarga nya, tanpa menghiraukan teriakan ketiga adik kembarnya.
Perlahan dia membaca surat dari almarhum Papa Dony ...
'Hai Kesy ... Ini Papa. Maafkan Papa sudah membuat kamu kecewa, tapi Papa berusaha keras untuk mencarikan uang jajan kamu. Belajar yang giat yah, Nak. Papa sangat menyayangi mu. Jika kelak kamu menjadi orang sukses, contohlah Mama. Orang yang selalu berjuang untuk kita. Sekali lagi, Papa minta maaf pada Kesy. Mungkin Papa akan sering menitipkan uang jajan untuk kamu sama security. Hanya segini dulu Papa bisa memberikan padamu. Yang penting, tanggung jawab Papa akan selalu ada untuk kamu hingga kamu dewasa. Salam sayang ... Papa Kesy ...'
Kesy menangis, seolah-olah surat itulah pengobat kerinduan Kesy terhadap Dony. Dia menangis membayangkan wajah sang Papa yang selalu ada di dalam hatinya.
'Pa, coba Papa masih hidup ... Pasti kita akan sering bertemu dan saling menghibur walau jarak memisahkan kita ...'
Kesy mencoba menghubungi nomor handphone Papa Dony yang kini ada di tangan Zul, setelah menemukan telepon genggam lipat kecil, dan meminta izin pada Lyra untuk selalu memakai nomor itu, agar tahu perkembangan putri tirinya.
Kesy menuliskan sebuah pesan melalu SMS seperti biasa, karena nomor itu tidak menggunakan whatsApp.
__ADS_1
["Pa ... Sudah lama kita tidak saling menyapa. Papa apa kabar? Mama sering marah-marah sama Kesy. Padahal Kesy hanya menyukai sosok pria yang penyayang seperti adik Papi Zul, Bang Adi. Emang salah yah, Pa? Kalau Kesy jatuh cinta sama Bang Adi? Cinta kan boleh sama siapa saja ... Tapi Mama terlalu memiliki pikiran yang masih saja kampungan. Padahal, kami sudah hampir 12 tahun lebih ada di Berlin, dan belum pernah kembali ke kota kecil itu. Jujur Kesy rindu sama Papa, pengen banget ziarah ke makam Papa ..."]
Selayaknya orang yang belum bisa move on, Kesy kembali down atas sikap Lyra yang terlalu keras dalam bertindak tanpa mau mendengar penjelasan dari Adi sang adik ipar.
Di tempat yang berbeda, Zul tengah berjalan menuju kantin, untuk menemui Adi di cafetaria rumah sakit yang berada di dekat parkiran.
Zul merasa getaran handphone yang ada dalam saku celananya, bergegas dia merogoh kocek, dan melihat pesan yang sudah lama tidak dia baca.
Langkahnya terhenti. Zul memilih duduk di kursi koridor rumah sakit yang tersedia, menatap lekat layar lebar itu dengan penuh seksama.
'Kesy jatuh hati pada Adi? Apakah Kesy ribut lagi dengan Lyra? Aaaagh ...! Ini akan menjadi masalah rumit bagi rumah tangga ku! Jika memang Kesy jatuh hati pada Adi, secepatnya Adi harus menikah dengan Laura, agar tidak menjadi beban pikiran Lyra. Kasihan sekali istri ku! Harus kembali menghadapi masalah pelik seperti ini ...'
Zul bergegas menuju cafetaria, hanya sekedar menyapa Adi dan membawanya kembali ke apartemen mereka.
"Bang tunggu! Kak Lyra sudah mengusir ku! Aku tidak berani untuk balik ke apartemen. Bilang saja sama Kesy aku menunggu nya di basemen apartemen," tahan Adi pada lengan Zul.
Zul menaikkan kedua alisnya, sedikit mengerenyit masam, karena tidak menyangka akan menerima jawaban adiknya seperti itu.
"Warum bist du so ein schuldiger Mensch? Hast du was falsch gemacht?"
(Kenapa kamu seperti orang bersalah? Apakah kamu melakukan kesalahan?)
Adi menggeleng-gelengkan kepalanya, sedikit takut untuk jujur pada Zul. Karena jika Abang-nya mengetahui apa yang sudah di lakukan nya pada Kesy, Zul akan murka bahkan lebih parah dari Kakak iparnya.
"Nein, ich mag Schwester Lyra einfach nicht. Vielleicht war er sehr beleidigt von meiner einstellung ..." ucapnya pelan dengan wajah menunduk.
(Tidak, aku hanya tidak enak sama Kak Lyra. Mungkin dia sudah sangat tersinggung dengan sikap ku ...)
Zul tidak perduli dengan alasan Adi, dia menarik lengan adiknya, agar segera ikut dengan nya.
"Bruder egal! Laufen Sie nicht vor allen Problemen davon. Bruder, ich bin sicher, du hast etwas getan!"
__ADS_1
(Abang tidak peduli! Jangan menghindar dari semua permasalahan. Abang yakin kamu melakukan sesuatu!)