
Keduanya berjalan menuju ruang ICU rumah sakit, yang terletak tidak jauh dari tempat mereka bertemu pertama kali di kamar VVIP.
Zul, kembali ke Indonesia karena ingin mendampingi Lyra untuk menghadapi semua permasalahan yang rumit. Sebagai pahlawan kesiangan bisa jadi. Namum bagi pria muda itu dia ingin bertemu Kesy yang masih terbaring lemah, karena mendapatkan perlakuan kasar dari orang yang sama sekali tidak dia kenal.
Tentu semua ini, menjadi kejutan luar biasa bagi Lyra, dia berusaha bangkit walau hatinya masih di rundung kesedihan atas perlakuan Dony dan Nela pada putrinya.
Ditambah keluarga pria tua itu sama sekali tidak pernah menjawab panggilan telepon dari Lyra, karena berfikir akan meminta bantuan dana untuk biaya rumah sakit Kesy yang mereka ketahui dari Dony tentang kondisi keponakannya tersebut.
Lyra menangis melihat kondisi putri kecilnya. Dia berdiri di samping Zul, menatap lekat wajah Kesy yang tertidur panjang selama tiga hari lebih.
Zul, melihat kepolosan gadis kecil yang tak berdosa itu dengan perasaan iba. Bagaimana mungkin, gadis sekecil ini harus mendapatkan perlakuan kasar dari orang dewasa, ditambah lagi terekam bekas memar di leher belakang Kesy.
Suster mendekati Zul, memberitahu kondisi Kesy, "Menurut hasil CT scan terjadi benturan di belakang kepala, Dok. Tapi menurut Ibu Lyra dia tidak tahu apa yang terjadi pada putrinya," jelasnya.
Zul menghelat nafas panjang, "Tolong berikan suntikan yang saya bawa itu, cukup tiga kali. Semoga hari ini anak saya siuman."
Suster mengangguk mengerti, tersenyum sumringah melirik kearah Lyra.
Lyra hanya diam, enggan untuk membantah. Baginya, kali ini pria muda yang ada di hadapannya hadir membawa sebuah mukjizat untuk kesadaran Kesy.
"Zul....!" panggil Lyra lembut.
"Ya sayang! Kamu lapar? Atau mau aku pesankan makanan di restoran Aldo?" tanya Zul mengusap lembut punggung janda satu anak itu.
__ADS_1
Lyra menggelengkan kepalanya, dia tertunduk malu. Perasaannya seketika bercampur aduk. Berharap apa yang dia rasakan saat ini jangan cepat berakhir. Dia menatap lekat mata kecoklatan milik Zul, sesungguhnya perasaan nyaman yang sangat berbeda dapat dia rasakan saat ini.
"Kamu kembali hanya untuk aku? Bagaimana kalau Mama dan Papa mu mengetahui hal ini?" Lyra menunduk hormat dan takut. Dia tidak ingin terjadi sesuatu di saat-saat seperti ini.
Zul hanya tersenyum, "Sayang, Mama dan Papa tidak pernah mempermasalahkan hal ini. Mereka tahu aku kembali untuk mu! Bahkan, mereka yang memberikan ruang pada ku untuk mengenalmu lebih dekat. Mereka ingin aku segera menikah, Lyra!"
Ucapan Zul terlalu jujur bahkan sangat mengejutkan bagi Lyra, membuat wanita yang masih berdiri di hadapannya tidak mampu untuk berucap. Dia menggelengkan kepalanya, tak ingin berharap banyak pada pria tampan itu.
Ini tidak mungkin, Lyra. Jangan berharap banyak pada seorang pangeran. Dia sangat menginginkan seorang gadis, bukan janda seperti mu, pikirannya berkecamuk bercampur aduk. Bahkan jantungnya semakin berdegup kencang.
Tak selang berapa lama mereka saling menatap, Dokter Ahmad Maeta yang merupakan Papa dari Zul, masuk untuk melihat kondisi Kesy yang belum siuman. Disusul dengan kehadiran Eni yang merupakan Notaris ternama di kota itu.
Lyra semakin gugup, jantungnya semakin berdegup kencang, tangannya bergetar dan terasa dingin saat melihat kedua orang yang sangat disegani dikota itu, berdiri dihadapan mereka untuk melihat langsung kondisi Kesy.
Lyra mengangguk, berusaha tersenyum walau hatinya semakin kacau, "I-i-iya, Pak! Saya, Mama-nya Kesy. Perkenalkan nama saya Lyra." Senyumnya mendekati kedua orang tua Zul menyalami punggung tangan, menunduk hormat pada mereka.
Ahmad mengangguk, "Jika tidak kunjung siuman, kita bawa ke Singapura malam ini juga. Karena sudah lebih dari tiga hari. Kamu tenang yah, Nak! Tuhan itu tidak tidur, semoga apa yang terjadi pada putrimu memberikan pelajaran pada orang yang tega menyakitinya."
Lyra mengangguk, kembali menangis. Dia tidak ingin kebahagiaannya kali ini berdampak pada hubungannya dengan Zul, yang harus dipaksa berakhir karena tidak memiliki restu dari keluarga terpandang itu.
Namun, apa yang ada dalam benak Lyra.... tidak sesuai dengan apa yang di lontarkan Eni pada Lyra dan Zul.
"Mama sudah meminta Om Iqbal untuk mengurus semuanya. Semoga saja dapat membantu permasalahan calon istri kamu untuk menghadapi kejadian ini. Lyra, kamu jangan takut.... Zul kesini untuk melihat kondisi Kesy dan kamu. Sekarang, kamu bisa bernafas lega, karena ada kami selaku orang tua mu disini," jelas Eni sangat santai.
__ADS_1
Lyra menyentuh dadanya, seakan-akan apa yang dia dengar hari ini merupakan mimpi seperti di cerita dongeng. Dia membulatkan matanya, tubuhnya semakin kaku, bahkan sulit untuk menarik nafas, berkali-kali dia menampar wajahnya, mencubit tangannya, berharap ini semua yang dia dengar ini benar-benar nyata.
Lyra kembali menoleh kearah Zul, meminta jawaban dari pria yang masih berdiri kokoh di sampingnya, "Bisa jelaskan maksudnya apa? Calon istri? Aku belum resmi berpisah. Dan itu butuh proses panjang, Zul!" jelasnya berbisik dengan suara serak terbata-bata.
Eni dan Ahmad tertawa kecil, "Sudah, fokus pada kesembuhan Kesy! Nanti Mama dan Papa yang akan menemui keluarga kamu. Mungkin Zul juga akan lama berada disini. Ya.... bisa jadi kita akan ke Singapura, atau ke Berlin untuk berlibur setelah Kesy sembuh."
Ungkapan yang terlontar tanpa ada penghalang itu sontak saja membuat Lyra hampir tumbang. Bagaimana mungkin seorang perjaka tampan akan membawanya pergi bahkan menikahinya. "Ooogh.... Tuhan, apa ini? Apakah ini hukuman? Atau hadiah atas yang aku alami....!?"
Lyra tumbang, kakinya tak mampu berdiri tegak, menopang tubuhnya sendiri. Dengan sigap Zul menyambut punggung hangat dari wanita cantik yang tidak bersolek selama berada dirumah sakit.
Zul yang tampak tenang, membawa Lyra untuk duduk dikursi yang tersedia, "Suster..... tolong siapkan makan siang untuk Ibu Lyra, sekalian untuk kami bertiga. Kita makan bersama yah, Ma? Semoga Kesy cepat siuman, karena tadi Dokter Kris sudah menyuntikkan cairan yang Zul bawa dari Berlin!"
Ahmad mengangguk. Dia memilih duduk santai di kursi yang sudah di persiapkan suster. Matanya hanya tersenyum melihat Kesy, gadis kecil yang cantik dan sangat terawat. Kulit bersih, seperti anak bule yang karena memiliki rambut tebal kecoklatan.
"Ma, kita bisa jalan-jalan bawa Kesy kalau dia sembuh. Papa bulan depan ada pelatihan, semoga saja Kesy bisa ikut kita. Sementara Zul masih disini untuk menemani Lyra, kan?" Ahmad menatap Eni juga Zul, membuat Lyra semakin salah tingkah.
Tubuh Lyra semakin tidak bertulang, badannya melemah seketika, perasaan bahagia semakin terasa menyelimuti jiwanya. Bagaimana mungkin orang yang baru dia kenal, bisa menganggap putrinya yang bukan darah daging mereka seperti saat ini, bahkan akan memanjakan seorang Kesy seperti darah daging sendiri.
"Tuhan.... inikah caramu untuk mengangkat derajat ku yang terzolimi selama ini...?"
Air mata Lyra semakin mengalir deras membasahi wajah cantiknya, membuat keluarga terpandang itu tampak bingung dan saling berpandangan.
"Nak, kamu baik-baik saja?"
__ADS_1