
Sepanjang perjalanan menuju kediaman Keluarga Ahmad Maeta, Zul hanya diam tanpa mau bicara sepatah katapun. Hatinya masih terasa sakit karena cemburu.
"Zul ..."
"Hmm ..."
"Bicaralah ... Jangan buat aku salah tingkah, aku salah apa? Kenapa kamu memukul Dony dengan sangat keras?"
Zul mengehentikan mobilnya di kiri ruas jalan yang masih tampak ramai oleh pedagang. Wajahnya semakin memerah saat Lyra masih bertanya kenapa. Dia meremas kuat stir kemudi, tak ingin menyakiti ataupun melukai hati seorang Lyra.
Zul memejamkan matanya, masih mengatur nafas agar tetap tenang, perlahan dia menoleh kearah Lyra.
"Dengar sayang ... Apapun yang terjadi padamu saat ini, merupakan tanggung jawab ku untuk tetap melindungi mu. Aku mohon, lupakan laki-laki brengsek itu. Tidak perlu kamu ungkit dia dengan siapapun, Lyra. Karena aku tak ingin melihat kamu seperti ini. Menangis, galau, dan menyebut nama pria itu lagi. Aku mencintaimu Lyra. Please ... Mengerti akan perasaan ku saat ini!" ucap Zul mengecup lembut punggung tangan istrinya.
Lyra terdiam, mengangguk mengerti akan apa yang dirasakan oleh Zul saat ini.
Lyra memberanikan diri untuk bertanya, "Hmm ... Maafkan aku, hun. Aku tidak memahami bagaimana perasaan mu, dengan semua kejadian tadi. Aldo kah yang memberi kabar padamu? Bahwa aku tengah di serang keluarga mereka?"
Zul menarik nafas panjang, "Aku tidak mempermasalahkan keributan kalian. Aku hanya memikirkan, bagaimana caranya membahagiakan mu? Tanpa harus aku mendengar dari bibir mungil mu, tentang kamu mencintai pria lain selain aku."
Lyra terhenyak, mendengar ucapan Zul yang ternyata kejujuran hatinya lah yang membuat Zul tersulut emosi sehingga memukul Dony.
"Zul ..."
"Hmm ..."
Lyra mengalungkan tangannya dilengan pria muda itu dengan manja. Mengecup lembut bibir Zul yang terasa sangat kering lebih agresif.
Tentu Zul yang merasakan kepalanya seperti mau meledak karena perasaan cemburu yang membuncah, menerima dengan lembut perlakuan istrinya.
"Hmmfh ..."
Perlahan Zul melepaskan safety belt, menekan tombol switch power window, agar tak terlihat dari luar kemesraan pasangan suami istri tersebut.
Lyra tampak lebih agresif saat menaikkan rok panjangnya dan duduk di pangkuan suaminya.
__ADS_1
"Sayang ... Are you crazy!?" tanya Zul menyambut bagian kenyal istrinya yang bulat dengan telapak tangannya dipaha.
"Apa kamu keberatan kita melakukannya disini?" bisik Lyra masih mengecup bibir Zul dengan sedikit liar.
Zul tertawa kecil, menatap mata indah sang istri tercinta, "Kamu sangat menggoda, sayang. Kita lakukan di rumah. Jangan di mobil, bisa kenak mental nanti para pedagang, karena dagangan mereka sepi, setelah kita melakukannya disini."
Lyra merengut, wajah seksinya berubah menjadi lebih manja, dan mendekap Zul, "Aku ingin melupakan semua tentang Dony. Tapi masih sulit karena ada Kesy. Oya hun ... Aku datang bulan kali ini hanya tiga hari. Kemaren keluar sedikit, hari ini sudah bersih saja. Apa itu tanda-tanda aku sudah monopouse?"
Zul semakin tertawa terbahak-bahak, mendengar celotehan Lyra yang sama sekali tidak masuk akal.
"Usia kamu berapa?"
"32 tahun ..."
"Jika kamu manopouse diusia 32 tahun, aku tidak akan menikahi wanita setua kamu, sayang," goda Zul pada puncak hidung Lyra.
"Terus ..."
"Ada dua faktor, bisa jadi karena ada pembuahan yang pertama. Yang kedua karena stress memikirkan aku dan mantan suami kamu," ucap Zul seraya berbisik.
"Maafkan aku, hun ... Aku mencintaimu sejak awal kita melakukan itu by phone," kecup Lyra pada leher Zul sehingga meninggalkan jejak merah disana.
Zul mengusap lembut kepala istrinya, "Aku mencintai mu, sejak kamu menghindari aku selama dua bulan. Aku uring-uringan memikirkan kamu disini. Entahlah ... Jika kamu tahu bagaimana aku disana memikirkan kamu, mungkin kamu tidak percaya Lyra."
Lyra tersenyum bahagia, merasakan hatinya berbunga-bunga. Bagaimana mungkin pria muda uring-uringan hanya karena memikirkannya.
"Apa kamu tengah menggoda ku, hun?"
"Sepertinya ... Aku pikir tadi kamu hanya bohong bahwa kamu sudah bersih. Aku sudah rindu berada didalam hangatnya punya kamu, sayang ..."
Mereka tertawa kecil, saling mengetahui apa yang membuat hati keduanya kembali berbunga-bunga.
"Ternyata tidak ada sulitnya menikah dengan seorang janda," ungkap Zul jujur.
Lyra melirik kearah suaminya, "Maksudnya ...?"
__ADS_1
"Kalau aku ngambek, kamu duduk dipangkuan aku saja sudah membuat anu ku berdiri. Meminta dan memohon minta tolong untuk diperhatikan," tawa Zul. "Memang janda tiada duanya!" tambahnya dengan tawa yang semakin lama semakin membuat Lyra tampak seperti berharga dimata Zul.
Lyra memeluk lengan Zul yang kekar, sesekali melirik kearah jakun yang tampak naik turun, memperlihatkan kegagahannya sebagai sosok pria idaman.
Zul kembali menggoda Lyra yang terlihat manja di lengannya, "Kamu mau berapa kali siang ini?"
"Hmm, aku ikut kamu saja. Yang penting aku akan memberikan service yang sangat memuaskan untuk kamu. Agar bisa melupakan semua kejadian hari ini, tapi tidak untuk kegiatan sama kamu," jelas Lyra manja.
Zul mengangguk setuju, "Kali ini aku sebagai nahkodanya. Kamu cukup menikmati keindahan permainan ku, karena dua malam ini kamu hanya melatih otot bibir mu yang mampu membuat aku terbang melayang, sayang. Aaagh ... Lyra! Mengingatnya saja timun Netherland ku terasa sangat sesak dan sakit. Aku ingin kita bermain sebentar, langsung action. Karena pukul 16.00 aku melakukan tindakan lagi sayang. Selesai tindakan kita langsung ke rumah Mama Lince."
Lyra mengangguk setuju, mengusap lembut bagian yang terasa bergerak-gerak dari balutan benang yang terasa sudah sangat basah milik Lyra.
"Zul ... Aku pengen sekarang ..."
Rengekan manja yang keluar dari bibir sang istri, membuat Zul menekan pedal gas, agar segera tiba di kediamannya.
Benar saja, setibanya dikediaman Keluarga. Zul yang tidak menyadari kehadiran sang mertua, tanpa pikir panjang menggendong tubuh ramping istrinya, membawa ke paviliun yang berada di lantai dua parkiran mobil.
Lantai dua yang didesain keluarga ini untuk tempat beristirahat kala malam, kini diubah menjadi sebuah kamar yang sangat indah dan megah.
Ciuman keduanya yang saling bertautan, tanpa menyadari beberapa pasang mata melihat adegan tersebut dari balik jendela ruang tamu kediamannya.
Dengan mudah Zul menekan password kamar, meletakkan istrinya dengan penuh perasaan cinta diatas ranjang peraduan mereka.
Perlahan namun pasti, keduanya melepaskan semua penghalang yang menempel di kulit halus pasangan romantis itu, menikmati setiap sentuhan yang membuat Lyra tak kuasa membuka mata.
Bibir yang saling mengerang bahkan mellumat dalam saat milik Zul berhasil memasuki lembah gelap yang semakin menggenggam hangat.
Lyra tak kuasa menahan perasaan bahagia saat Zul, bermain dengan sangat lembut di atas tubuh indahnya. Bibir Zul mellumat bagian kenyal yang terasa sangat padat dan menjadi candu bagi pria muda penuh gairah cinta.
"Honeyhh ..."
"Aku akan membawamu menembus nirwana sayang, nikmati lah ... Milik mu sungguh membuat aku mabuk kepayang, sayang ..."
'Hmm ... Permasalahan rumah tangga, cukup diselesaikan secara musyawarah diranjang peraduan ...'
__ADS_1