
Sore semakin ramai, beberapa kendaraan lalu lalang dihadapan Lyra yang masih menunggu kedatangan Dony untuk mengambil putri kecil mereka. Sesekali dia memejamkan mata, melirik kearah Kesy yang tengah bernyanyi kecil dengan mimik wajah sangat bahagia.
Kesy memeluk lengan Lyra, sedikit mengusap lembut perut ramping sang Mama. Sesekali dia hanya ingin melihat Lyra kembali tersenyum selama kepergian putri kesayangan bersama Dony nantinya.
"Aku pergi sama Papa cuma tiga hari, Mama keluar saja sama Tante Lela."
Ucapan Kesy membuat Lyra sedikit tertawa, dia mendekap gemas tubuh mungil putrinya, mencium puncak kepala berkali-kali. Dia membuka laci dashboard, mengambil kunci rumah memberikan pada Kesy.
"Ingat, jangan sampai ini di duplikat sama Papa kamu! Tapi sudah lah, Mama juga malas berdebat." Lyra mengalihkan pandangannya, melihat Dony sudah turun dari mobilnya dan mendekati mereka.
Lyra memandang wajah Dony yang semakin tua, namun entah kenapa perasaan cinta itu hilang seketika. Jangankan untuk menyapa, melihatnya saja Lyra sudah tidak mau, apa karena terlalu sering menyakiti. Atau kah karena sering mengecewakan dan menghina Lyra sebagai seorang istri.
Lyra melirik kearah Kesy sembari berkata, "Mama ngomong dulu sama Papa yah, sayang!? Kamu disini saja."
Kesy mengangguk patuh.
Lyra turun dari mobil, tanpa mau berbasa-basi dia memberikan tas sekolah Kesy sambil berkata, "Hari minggu antar kan Kesy ke rumah Mama. Tolong bantu dia mengerjakan tugas sekolah, dan jangan sampai kamu tinggal kan Kesy dirumah Kakak mu! Aku tidak ingin terjadi sesuatu pada Kesy!" tegasnya dengan nada ketus.
Dony menerima tas Kesy, mengangguk mengerti. Dia sangat memahami bagaimana seorang Lyra jika anaknya terancam. Namun, dia masih membela diri sedikit memohon.
"Tapi saat ini aku tidak memiliki uang, bisa aku meminta uang? Karena toko masih saja sepi, dan hari ini hanya tersisa 100 ribu," kata Dony memelas.
Lyra menautkan kedua alisnya, menatap lekat wajah Dony yang sangat tidak tahu malu. Beraninya dia meminta Kesy tapi tidak memiliki uang untuk membelikan apapun untuk sang putri. Laki-laki seperti apa dia?
Lyra menghela nafas panjang, membuka pintu mobil, merogoh uang 100 ribuan beberapa lembar, menutup pintu mobil kembali. Dia memberikan uang ke tangan Dony antara ikhlas namun tak rela.
"Nih..... aku hanya bisa kasih kamu 500 ribu. Jangan pernah meminta uang lagi pada ku! Ingat, ini untuk Kesy, bukan buat selingkuhan mu!"
Lyra memasuki mobil, mengatur nafasnya yang masih kesal teramat sangat. Menahan amarahnya demi seorang Kesy yang masih melihatnya.
Dony membuka pintu penumpang, dimana Kesy tengah menanti sang Papa, atas izin Lyra sebagai Mama. Wajah bingung saat melihat kedua orang tuanya, yang tampak enggan bersahabat karena beberapa pertikaian, namun dia selaku anak yang menjadi korban hanya bisa pasrah pada keadaan.
Kesy menarik lengan Lyra, "Ma, aku pergi sama Papa yah? Sampai ketemu hari minggu."
Lyra menoleh, membendung air matanya mengecup kening putrinya, dengan mata melirik tajam kearah Dony.
"Kamu inget pesan Mama, kan?" tanya Lyra lembut.
Kesy mengangguk tersenyum, wajah cantiknya terlihat semakin menggemaskan. Rasa sayang Kesy terhadap Dony sangat terlihat saat pria yang sudah berumur matang itu menyambutnya dengan pelukan hangat.
__ADS_1
Dony yang tampak senang setelah dua bulan lebih tidak bertemu dengan putri kesayangan nya, membawa Kesy dengan penuh perasaan bahagia.
Mereka berlalu, namun Lyra seperti kehilangan sesuatu yang sangat berharga dalam hidupnya. Dia menunduk kan kepala, kembali menangis sejadi-jadinya.
Apa yang Lyra rasakan saat ini seperti tidak bisa menerima kenyataan bahwa dia telah berpisah dari suami tercinta. Walau dia di jadikan sapi perah oleh seorang suami, namun perasaan sayang yang dia miliki pada pria itu, tak lebih dari seorang Papa yang baik buat putrinya.
Kenapa semua enggan bersahabat? Sementara Lyra tahu, Kesy tidak akan pernah menggantikan posisi Dony dengan pria manapun untuk memanggil mereka dengan sebutan 'Papa'.
Lyra mengusap lembut wajahnya, menyeka mata yang basah dengan selembar tisu yang tersedia di samping kiri nya.
Bergegas Lyra menginjak pedal gas, membelah jalanan yang penuh kemacetan, hingga terdengar suara panggilan telepon dari dalam tas miliknya.
Lyra meletakkan handphone di spidometer agar melihat siapa yang menghubungi melalui video call.
"Zul!?" Lyra berbisik dalam hati.
["Ya halo, Zul."]
["Hai.... kamu dimana? Kok sendiri? Anak kita Kesy mana, sayang?"]
Pertanyaan Zul seakan-akan dialah Papa sambung yang pantas untuk gadis kecil secantik Kesy.
["Hmm.... baru diambil Papa-nya. Kebetulan ada keluarga mereka yang berulang tahun besok. Jadi Kesy mau menghadiri acara mereka."]
["Acaranya dimana? Biar aku pesankan sebuah kado tanpa nama mewakili Kesy."]
Zul berujar seperti Lyra benar-benar kekasihnya.
Lyra menggelengkan kepalanya, menolak penawaran Zul, karena tidak ingin memberikan apapun kepada Rey anak mantan iparnya.
["Enggak..... aaagh! Ngapain ngasih mereka. Mending kasih anak panti asuhan saja. Tadi aku udah kasih uang pada Kesy untuk memberikan kado biasa saja. Rey anaknya Rita juga masih kelas enam sekolah dasar. Jadi nggak perlu kasih kado mahal-mahal."]
Zul tertawa, mengangguk mengerti apa yang ada di pikiran wanita dewasa seperti Lyra kekasih maya-nya.
["Oke, nanti malam kamu mau kemana? Bisa kita ngobrol buat menghibur kesepian hatimu?"]
Lyra tersipu-sipu malu.
["Hmm.... ngobrol apa seeh, Zul? Kamu pikir aku janda kesepian yang membutuhkan kehangatan gitu?"]
__ADS_1
Zul tertawa lepas, wajahnya memandangi Lyra yang masih fokus dengan stir kemudi.
["Leher kamu mulus banget, sayang! Kalau deket dengan aku, pasti aku sudah menciumnya dengan penuh kelembutan."]
Lyra menautkan kedua alisnya, membulatkan kedua bola mata, menatap penuh harap atas apa yang di sampaikan Zul.
["Hmm, emang kalau dekat kita mau ngapain? Masak kita mau berhubungan sebelum menikah? Kalau hamil bagaimana? Aku nggak mau. Nanti di kira aku janda perusak perjaka anak orang."]
Zul tertawa terbahak-bahak mendengar celotehan Lyra yang tampak menggemaskan gendang telinganya sebagai seorang pria muda yang memiliki hasrat.
["Emang enggak boleh? Disini biasa saja.... justru teman-teman ku juga banyak yang tinggal bersama di satu apartemen. Mereka menikmatinya. Dari pada melakukan hal-hal yang tidak sehat, seperti menyewa wanita yang kurang beruntung, tapi yaah.... itu pilihan, kan sayang."]
["Hmm.... jadi kamu sudah tinggal bareng dengan kekasihmu? Atau kamu memang suka tinggal bareng tanpa ikatan pernikahan? Kasihannya, tapi itu pilihan siih, Zul. Mungkin karena aku hidup dari keluarga yang agak ketat, apa lagi Papa. Makanya, mereka memilih menemani aku di sini untuk beberapa waktu, dari pada membiarkan aku sendiri."]
Zul menggelengkan kepalanya, namun sangat mengerti bahwa Lyra tidak akan mempercayai begitu saja. Dia hanya gencar merayu wanita dewasa di sebrang sana, yang sejak tadi tampak gelisah namun penuh tawa.
["Kalau kamu memang harus di jaga buat aku. Karena aku tidak ingin siapapun yang mendekati mu. Aku serius Lyra? Aku jatuh hati padamu. Apalagi setelah Aldo memuji keaslian wajah mu, dan menceritakan kebenaran tentang mu. Kamu wanita yang sangat menggairahkan. Ramah, dan penuh pesona."]
Lyra balik menggelengkan kepalanya, tersenyum bahagia karena sudah lama tidak di puji pria seperti Zul memujinya. Dia menggigit bibir bawahnya, bergumam dalam hati, "Aaagh Zul, jika kamu ada di hadapan ku mungkin aku yang akan menyerang mu," tawanya membayangkan hal-hal indah selaku wanita kesepian.
Zul masih memandangi Lyra, yang dengan sengaja membuka kancing baju bagian atasnya. Mempertontonkan gundukan yang sangat menggoda pria muda di seberang sana.
["Aaagh.... sayang, kamu sengaja menggoda aku....!?"]
______
Curhatan Author Pemes sedikit....
"Kenapa yah, statistiknya naik.... tapi like and komentar sedikit..." tanya othor.
"Karena kami pembaca yang hanya menikmati tulisan Kakak saja." Jawab reader.
"Ooogh..... berarti aku hanya berharap, namun tak di anggap. Aku hanya seperti author yang kesepian tanpa vote dan hadiah yang tidak begitu banyak. Padahal aku selalu berusaha untuk update dan memperbaiki tulisanku sebagai pengangguran propesional yang produktif! Aaagh... ini hanya menjadi curhatan Author Pemes seperti aku."
Reader.... jika kalian memang mencintai karya ku, tunjukkan wujud kalian sebagai penyemangat aku sebagai penulis pemula yang tidak mengharapkan apa-apa.
Aku hanya manusia biasa yang memiliki satu impian yang luar biasa, seperti othor pemes lainnya.
Terimakasih mau mampir di karya ku, terimakasih mau membaca tulisan ku yang terkadang memuakkan mata kalian. Tapi hiburlah aku, dengan kalimat penyemangat dari kalian.
__ADS_1
Salam hangat Author Pemes...
Tya Calysta....😘🥰❤️