Perjaka Untuk Janda

Perjaka Untuk Janda
Mengawasi


__ADS_3

Mendengar penuturan adiknya, Zul menggeleng cepat, dia tidak ingin melihat putri kesayangannya sakit hati, atau bahkan semakin dalam memendam kecewa hanya karena Adi bertemu dengan Laura sebelum pernikahan mereka.


"Jangan! Wanita itu sangat licik, Abang tahu maksud dia!"


Adi terdiam, tak bisa menahan amarahnya mengingat kejadian kala itu.


"Hmm ... Coba aku hubungi dia! Abang bisa menemani Kesy di ruang makan? Takutnya, Kesy mendengarkan obrolan kita!"


Zul mengangguk, dia mengerti dengan privasi sang adik. Dia meninggalkan ruangan kerjanya menunju ruang makan, untuk menemani buah hatinya.


Sementara Adi tinggal diruang kerja Zul untuk menghubungi Laura, karena tidak ingin mendengar berita yang sangat mengejutkan di keluarganya nanti.


["Adi ..."]


Terdengar isak tangis Laura di seberang sana, membuat pria muda itu sedikit merasa iba dan kasihan.


["Hmm, kenapa kamu menemui keluarga ku kemaren? Ada apa? Bukankah kita sudah selesai? Aku dengar, kamu hamil. Apa benar?"]


Laura semakin menangis sejadi-jadinya, dia tak mampu berkata-kata hanya untuk menjawab pertanyaan Adi mantan tunangannya.


["Iya ... Ini anak kita Di ..."]


Seketika Adi mengerutkan keningnya.


["Anak kita? Apa kamu yakin? Bukankah terakhir kamu melakukannya dengan Zidan? Lagian kita selalu aman dalam melakukan hal itu. Bahkan bisa di hitung pakai jari. Karena aku tidak pernah mau merusak karir mu yang masih kontrak, sesuai dengan permintaan kamu, kan?"]


["Adi, temuin aku saat ini! Aku membutuhkan kamu. Jangan tinggalkan aku, pria itu justru mengkhianati aku! Dia tidak pernah serius dengan ku!"]


Adi terdiam, wajahnya menggeram kesal. Jika di balik kebelakang, ingin sekali dia meremas Laura yang telah tega mengkhianatinya selama ini.


["Hmm ... Ternyata Kesy benar, Laura. Kamu merupakan wanita dewasa yang hanya terbuai oleh rayuan pria seperti Zidan. Bagaimanapun, aku tidak mungkin akan membatalkan pernikahan ku hanya untuk hidup bersama mu! Kita sudah berpisah, bahkan sudah hampir satu bulan kita berpisah. Lupakan aku, lupakan semua tentang kita!"]


["Adi ..."]


Hanya tangis Laura yang dapat Adi dengar diakhir percakapan mereka.


Adi menghempaskan tubuhnya disofa ruang kerja Zul. Tanpa mengetuk gadis lugu itu menyusulnya  dengan wajah tanpa berdosa.


Wajah polos gadis yang sangat mencintainya, seketika mampu memberikan kenyamanan pada pilot yang tengah berada di kegundahan hati.


"Abang ngapain disini? Mama sama Papi pergi ke sekolah Haris, terus kita ngapain?"

__ADS_1


Kesy meringkuk ditubuh Adi tanpa perasaan canggung.


Adi yang dalam kondisi tidak stabil, sedikit berpikir nakal, kemudian berbisik ketelinga kanan gadis belia itu, "Kita kekamar kamu saja bagaimana?"


Kesy bergidik ngeri, melepaskan pelukannya, menatap wajah Adi yang ada di hadapannya.


"Mau ngapain? Nanti Mama marah, aku enggak mau aaagh ... Kan ada Betris! Nanti dia laporan sama Papi, baru tahu rasa!"


Adi tersenyum nakal, menyandarkan kepalanya didada gadis cantik itu, "Abang pengen peluk kamu saja. Lagi pusing banget nih ... Yuuk ..."


Kesy menelan ludahnya susah payah. Dia berfikir sejenak, semenjak kejadian di Dusseldorf beberapa waktu lalu, dia tidak pernah melakukan hal itu lagi dengan Adi.


Wajah cantik itu kini bersemu kemerahan, telinganya memanas, bahkan tidak terpikir olehnya, Adi akan meminta dengan cara seperti ini.


"Banghh ... Jangan cium-cium ..."


Rengekan Kesy membuat Adi semakin geram dengan gadis cantik yang tengah menikmati kecupan manis dari bibirnya, yang mengenai leher indah gadis kecil tersebut.


Kesy tak kuasa menolak, dengan wajah pasrah, dia memeluk tubuh pria yang sedikit buas menciumi leher putih dan mulus itu.


"Banghh ... Kalau kita lakukan ini, sakit kayak kemaren enggak? Kesy enggak kuat kalau sakitnya masih kayak pertama," rengeknya lembut juga manja.


Mendengar rengekan gadis kecil itu membuat Adi tak kuasa menahan hasratnya. Jujur kali ini dia sangat menginginkan hal itu hanya untuk menghilangkan rasa kesalnya pada Laura.


Secepat kilat, mereka masuk kedalam kamar, agar tidak terlihat oleh wanita dewasa yang memiliki usia jauh di atas Zul. 


Mereka berdua tertawa terbahak-bahak, begitu tiba di dalam kamar yang luas milik Kesy. Entah mengapa, Adi membuat kehidupan gadis kecil itu tampak lebih seru dari kebiasaan sehari-harinya bersama Mama juga Papi-nya.


Adi membawa Kesy dalam pelukannya, "Ajarkan Abang untuk menjadi yang terbaik buat kamu. Abang enggak bisa janji akan membuat kamu bahagia, tapi setidaknya Abang akan selalu ada buat kamu."


Kesy yang tengah tertawa, tampak gugup saat Adi menatap lekat iris mata indah yang sangat menawan, bahkan persis wajah gadis belia oriental.


Wajah almarhum Dony yang lebih dominan, membuat Lyra sang Mama selalu merasa kesal, jika melihat Kesy yang sedikit berbeda dari ketiga buah hati kembarnya.


Sikap cuek dan keras kepala Kesy, menjadikan Lyra acap kali berbeda pendapat. Ditambah putri kesayangannya itu, lebih manja dan selalu merengek pada Zul, jika keinginannya tidak dipenuhi sang Mama.


Perbedaan-perbedaan itulah yang membuat Kesy menjadi pemberontak, bahkan lebih berani dalam bertindak.


Saat keduanya tengah berpelukan mesra, terdengar suara ketukan pintu dari arah luar, dibarengi dengan suara Betris memanggil dua insan yang tengah menikmati pelukan hangat antara mereka berdua.


"Kesy ..."

__ADS_1


"Ya!"


"Bist du allein mit Adi?"


(Apakah kamu sedang berduaan dengan Adi?)


"Ja ... Oogh nein!"


(Ya ... Oogh tidak!)


Kesy melepaskan pelukannya dari Adi, membuka pintu kamarnya agar Betris percaya padanya.


"Baaaghh ..." kejutnya, membuat asisten rumah tangga itu tertawa kecil.


Betris melihat kedalam kamar, hanya sekedar mengawasi gadis kecil itu, atas perintah Zul juga Lyra.


Kesy menautkan kedua alisnya, bertanya penasaran, "Brauchst du mich, Betris? Weil ich einen Job habe ..."


(Apakah kamu membutuhkan aku, Betris? Karena aku ada pekerjaan ...)


Betris menjawab dengan wajah penuh curiga, "Hmm ... Nein, ich suche nach Adis Aufenthaltsort. Um Herrn Ahmad in Frankfurt abzuholen. Nicht vergessen!"


(Hmm ... Tidak, aku tengah mencari keberadaan Adi. Agar menjemput Tuan Ahmad di Frankfurt. Jangan lupa!)


Kesy menganggukkan kepalanya, memberi kode pada Adi agar tidak iseng terhadapnya.


Namun saat mereka tengah bersenda gurau dibalik pintu, justru Adi terbatuk-batuk karena tak kuasa menahan rasa geli, disebabkan ulah tangan Kesy.


Betris membelalakkan kedua bola mata birunya, menggeram kesal mendorong pintu kamar Kesy agar terbuka lebar, "Hmm, lügst du Kesy? Ich werde dich bei Mama melden!"


(Hmm, kamu berbohong Kesy? saya akan melaporkan kamu pada Mama!)


Kesy berhambur memeluk tubuh Betris, memberi kode pada Adi agar segera keluar dari kamarnya ...


"Bitte, sag nichts zu Mama! Weil ich nicht will, dass Mama mich ausschimpft. Ich mache sowieso nichts im Raum," rengek Kesy.


(Tolong, jangan katakan apapun pada Mama! Karena aku tidak ingin Mama memarahi aku. Lagian aku enggak ngapa-ngapain di dalam kamar.)


Betris hanya tertawa, menarik tangan Kesy agar keluar dari kamar.


"Ich führe nur die Befehle des kleinen Mädchens aus. Bis du rechtmäßig bist!" godanya pada puncak hidung Kesy.

__ADS_1


(Saya hanya menjalankan perintah gadis kecil. Hingga kalian halal!)


__ADS_2