
Lyra masih enggan beranjak dari ranjang peraduannya, dia hanya ingin menikmati keindahan sebagai seorang istri dosen sekaligus dokter spesialis.
"Hun ..."
"Hmm ..."
"Aku hari ini libur dulu deh, kerjaan hanya sedikit. Kita masak-masak saja, karena hari ini Adi mau ke mampir ke sini, kan?" tanyanya manja.
Zul memiringkan tubuhnya, memeluk tubuh ramping istrinya, "Kamu sekarang agak gemukan. Sepertinya kamu bahagia berada disini."
Lyra mengangguk. Namun tiba-tiba dia duduk secara perlahan, merasakan ada sesuatu yang aneh pada dirinya ...
Uweeek ... Uweeek ... Uweeek ...
Lyra berhamburan ke wastafel kamar mandi yang berada di kamar apartemen mereka, dengan tubuh masih terlilit selimut.
"Sayang kamu kenapa?" tanya Zul sedikit panik, mengusap lembut punggung istrinya.
Lyra mengangkat tangannya, seketika tubuh mulus itu, mengeluarkan keringat dingin dan terlihat pucat.
Zul yang tampak khawatir melihat kondisi istrinya, membantu sang istri untuk membersihkan diri.
"Kamu bulan lalu periode nggak? Jangan-jangan kamu hamil, sayang?" tanya Zul memeluk tubuh ramping istrinya di bawah guyuran shower.
Lyra hanya bisa memeluk tubuh kekar itu, "Kayaknya udah dua bulan aku enggak periode, tapi aku lupa kapan aku beli pembalut, hun ..."
Zul mempercepat gerakannya untuk membantu Lyra membersihkan diri, menggendong tubuh istrinya ke kamar mereka hanya tertutup handuk.
Pria muda yang tampak semakin dewasa itu, bergegas mengambil peralatan medisnya, memeriksa kondisi istrinya.
Zul mengambil baju di dalam lemari, mengenakan pakaian rumah, untuk mereka berdua.
"Sebentar yah? Aku pasang celana dulu. Semua basah gara-gara kamu ngajakin mandi juga," ucapnya lembut.
Lyra mengangguk, meringkuk di ranjang setelah Zul mengenakan daster bertali satu tanpa penyangga. Zul sangat telaten merawat Lyra, yang tampak pucat.
Bergegas dia meminta bantuan maid apartemen, untuk mempersiapkan sarapan pagi mereka.
Kesy yang melihat Papi-nya tergesa-gesa kembali ke kamar, menghampiri kedua orang tuanya.
"Mama kenapa, Pi?" tanyanya penasaran, mengusap lembut rambut Lyra yang basah.
Zul tersenyum tipis, "Ini mau Papa periksa. Semoga saja Mama hamil lagi," jelasnya.
Kesy tersenyum sumringah mendengar penuturan sang Papi. Dia kembali keluar kamar, meminta maid agar segera memasakkan makanan Asia.
Maid yang biasa di sapa Betris itu, meminta Kesy agar membeli beberapa bahan-bahan Asia di supermarket apartemen.
Kesy memajukan bibirnya, dia tidak suka jika berbelanja sendirian, "Kamu ikut yuuk! Kasihan Mama," ucapnya mengajak Betris pergi bersama.
Tanpa banyak bicara, Betris meng'iya'kan dan segera meninggalkan apartemen mereka.
__ADS_1
Namun, saat mereka akan masuk lift, Kesy di kaget' kan dengan kehadiran Adi.
"Aaaagh Abang!" teriaknya memeluk Adi.
Betris hanya tersenyum, memilih pergi sendiri, karena tidak mau sang majikan terlalu lama menunggu.
Kesy melambaikan tangannya pada Betris, memilih menemani Adi untuk segera menemui Papi juga Mamanya.
Adi mengusap lembut punggung keponakan tirinya, "Kamu enggak sekolah hmm? Kebiasaan kalau orang tua libur, dia selalu ikut libur," sesalnya mencubit pipi Kesy.
"Habis enggak ada yang nganterin sekolah. Sudah dua hari Kesy pergi sama Betris melulu, kan pengennya sama Mama atau Papi," rungutnya.
Adi hanya menggelengkan kepalanya. 'Setidaknnya kamu lebih ceria saat ini di bandingkan dulu.'
"Oya Kes, kapan terakhir kamu bertemu dengan Dokter Heru?" tanyanya ingin tahu perkembangan keponakannya.
Kesy meletakkan tangan kecilnya di dagu, "Sepertinya minggu lalu. Tapi kami hanya terapi ringan saja. Saling cerita masalah pribadi saja. Kalau nunggu Abang, lama lagi bakal ketemu. Jadi curhatnya sama Dokter Heru atau sama Dokter Zulmaeta!" tawanya.
Adi tertawa kecil mendengar celotehan Kesy.
Membuka pintu kamar Zul, setelah mendengar suara Abangnya yang mengizinkan dia masuk ke kamar tersebut.
"Kak Lyra!? Kakak kenapa, Bang?" tanya Adi sedikit khawatir melihat kondisi Lyra yang pucat.
Zul tersenyum sumringah, "Kak Lyra hamil. Alhamdulillah, setelah dua tahun kami menunggu akhirnya Kakak mu hamil lagi!" ucapnya memeluk Adi.
Kesy langsung naik ke atas ranjang, mengusap wajah Mama-nya, yang kembali terlelap.
Zul mengangguk, "Ada tiga detak jantung, semoga saja kembar tiga. Barusan Papi sudah menghubungi Dokter Teddy, beliau sedang menuju ke sini."
Kesy berteriak riang gembira, dia mencari handphone milik Mamanya, untuk memberi kabar pada keluarga yang berada di Indo.
Sudah lebih dari dua tahun mereka tidak kembali ke kota kecil itu, ada setitik kerinduan di hati Kesy. Namun, karena aktivitasnya yang terasa sangat padat mampu mengikis semua perasaan rindu itu.
Tentu keluarga Zul dan Lyra merasa senang tak terkira. Dua tahun mereka menunggu kabar bahagia ini, baru kini dapat mereka rasakan.
Kesy mengusap-usap wajah sang Mama saat melakukan video call dengan Opa Boy dan Opa Ahmad.
"Nih Mama masih tidur, cantik kan Mama Kesy, walau lagi tidur?" tawa Kesy.
Zul membiarkan putri kesayangannya menemani Lyra di kamar, sementara dia membawa Adi untuk duduk di meja makan.
"Bagaimana kuliah kamu? Tahun ini kamu ikut test angkatan udara, kan?" tanya Zul menerima sarapan pagi yang telah di siapkan Betris di meja makan.
Adi memperlihatkan test akhirnya sebagai pilot komersil dari pesawat Lutfhansa.
Zul menaikkan kedua alisnya, sedikit mengerenyit masam, mengingat pesan sang Mama.
"Apa kamu yakin mengikuti penerbangan itu? Bukankah Mama meminta kamu masuk militer?" tanya Zul meyakinkan.
Adi menggeleng-gelengkan kepalanya, "Aku kurang suka militer, Bang. Kalau pilot komersil, aku bisa mendapatkan promosi sebagai pilot terbaik untuk penerbangan lainnya. Kali saja mendapatkan istri seorang pramugari, atau dari kalangan artis Hollywood," tawanya.
__ADS_1
PRAAANG ...!
Sesuatu yang berada di tangan Kesy terlepas saat mendengar kedua pria dewasa itu membicarakan tentang istri untuk Adi.
Membuat keduanya menoleh kearah gadis kecil yang berdiri dan mendengarkan pembicaraan Abang dan Adik itu.
"Kesy ...!"
"Kesy, sini baby ..." sapa Adi melambai kearah adik kecilnya yang menjatuhkan handphone milik Lyra.
Zul menghampiri putrinya, meraih handphone yang berada di lantai, melihat layar handphone masih menyala.
Zul menaikkan kedua alisnya, melihat nama 'Zee' yang tertera, "Hmm, ini siapa Kesy?"
Kesy menggelengkan kepalanya, dia berlari meninggalkan Zul juga Adi menuju kamar pribadinya.
Tentu Zul tampak kebingungan, begitu juga Adi.
Namun Zul tidak mengacuhkan Kesy karena harus mengangkat panggilan dari orang yang bernama Zee di seberang sana.
["Ya ..."]
["Kann ich mit Frau Lyra sprechen, Sir?"]
(Bisa saya bicara dengan Ibu Lyra, Pak?)
["Lyras Mutter geht es nicht gut, kannst du einfach eine Nachricht hinterlassen?"]
(Ibu Lyra sedang tidak enak badan, bisa meninggalkan pesan saja?)
["Oooh, alles klar. Ich bin ein Kollege, sagen Sie mir einfach, dass Frau Lyra morgen gebeten wird, offizielle Briefe an zwei Länder, die Schweiz und Italien, zu unterzeichnen. Weil dort ein Treffen ist."]
(Ooogh, baiklah. Saya rekan kerjanya, sampaikan saja bahwa besok Bu Lyra di minta untuk menandatangani surat dinas ke dua negara Swiss dan Italia. Karena ada rapat di sana.)
Zul berpikir sejenak, 'Saat ini kondisi Lyra tidak memungkinkan untuk berpergian. Aku tidak ingin terjadi sesuatu pada anak dan istri ku lagi ...'
["Tut mir leid, sieht so aus, als könnte Mrs. Lyra nicht am Gottesdienst außerhalb der Stadt teilnehmen. Wegen ihrer Schwangerschaft. Sind Sie Zee, die Sekretärin von Mrs. Lyra?"]
(Maaf, sepertinya Bu Lyra tidak dapat mengikuti dinas luar kota. Karena kehamilannya. Apakah kamu Zee secretaris Ibu Lyra?)
["Ja, ich bin Ihre Sekretärin, Sir! Okay, lassen Sie es mich unseren Vorgesetzten sagen. Danke ..."]
(Ya saya secretaris Ibu, Pak! Baik, coba saya sampaikan kepada atasan kami. Terimakasih ...)
___
Hai hai hai ...
Sudah lama tidak menyapa para reader, mumpung Lyra masih di Berlin, kita bicara bahasa Jerman yah... tenang, author selipkan endonesa nya kok ...
Lagi mencoba kemampuan saja, masih ingat apa tidak...😂🤣
__ADS_1
Terimakasih banyak reader, happy reading ...😘🥰