
Di ruangan yang masih bercampur aduk aromanya, antara obat-obatan juga pengharum ruangan, hingga muntah yang menyeruak tak sanggup di ungkapkan dengan kata-kata aroma yang menebar diruangan itu ... Membuat Kesy harus berusaha kuat duduk di samping Claire.
Tangan halus Kesy menggenggam erat jemari Claire yang masih menggenggam hanya untuk menahan rasa sakit.
Claire membuka matanya perlahan, melihat sosok Kesy yang tampak tenang dengan balutan masker penutup wajah cantiknya.
"Maafkan a-a-aku. A-a-a-aku tidak bisa memberi kabar pada mu. Karena kondisi ku, tidak bersahabat."
Kesy tersenyum, air mata yang akan mengalir, terpaksa ia bendung, agar tidak terlihat lemah oleh pria yang sangat dikaguminya.
Perlahan tangan Kesy, mengusap lembut kepala Claire yang masih mengeluarkan keringat dingin, bertanya dengan penuh kelembutan, "Aku harus bagaimana Claire? Apa yang harus aku lakukan untuk mu?"
Claire berusaha tersenyum, walau sejujurnya kali ini dia belum kuasa untuk tertawa bersama wanita cantik yang ada dihadapannya.
Kesy terus mengusap lembut kepala Claire, dia mengecup lembut bibir yang mengering, tanpa perasaan sungkan, sambil mendekap tubuh yang terasa dingin seperti mayat.
"Kuat Claire, aku akan selalu ada disini untuk mu. Kamu harus kuat ... Apapun akan aku lakukan untuk mu, aku janji sama kamu ..."
Claire meraih tubuh ramping Kesy agar tidur diranjang yang sama, hanya untuk memeluk tubuh itu, tanpa menghiraukan obat yang masih bekerja di dalam tubuhnya.
Kali ini Claire hanya ingin mendekap tubuh wanita yang dia cintai. Dihadapan Zul, juga kembarannya dan sahabat yang masih berada diluar kamar.
Zul terdiam, saat melihat putrinya semakin meringkuk didekat Claire, dan mengusap kepala itu dengan penuh perasaan sayang.
Zul menoleh kearah suster agar memberi ruang untuk pasangan itu, karena tidak ingin mengecewakan Claire yang memang sangat membutuhkan Kesy sebagai wanita yang diinginkannya.
Saat tiba di luar ruangan, Zul menoleh kearah Jack, menyapa pria itu setelah menyaksikan Kesy yang tengah bermesraan dengan Claire, hanya untuk menguatkan ...
"Bagaimana kabar mu, Jack?"
"Baik Paman, bisakah aku masuk untuk memberikan kekuatan pada Claire?"
__ADS_1
Zul menoleh kearah suster, yang diangguki setuju oleh pihak rumah sakit.
"Tapi jangan berisik yah? Karena Claire masih dalam penanganan medis, silahkan pakai masker mu," tepuk Zul pada pundak Jack.
Jack bersemangat untuk masuk kedalam ruangan, melihat sahabat sekaligus partner bisnisnya.
Saat memasuki ruangan, Jack berbisik ketelinga Claire yang masih mendekap tubuh ramping Kesy, "Aku selalu ada disini untuk mu, Claire ... Berjuanglah, kami selalu ada disini. Aku yakin kita akan terus bersama sampai kapan pun. Kamu punya mimpi, begitu juga aku, dan kita akan selalu bersama, kamu ingat janji kita ..."
Claire membuka matanya perlahan, menatap kearah Jack, hanya tersenyum tipis, "Aku kuat Jack ... Tapi rasa mual nya, membuat aku kalah, keluar lah. Jangan menggangguku, karena aku ingin menikmati hangatnya memiliki kekasih walau tidak akan lama ..."
Jack yang melihat dari jarak dekat wajah Kesy yang tak bergeming, hanya tersenyum, mengusap lembut kepala janda cantik itu, dengan perasaan bercampur aduk.
"Berarti Kesy lebih mencintai Claire," batinnya dalam hati, memilih duduk di kursi yang tersedia, sambil melihat Kesy yang membelakanginya.
Jack sengaja membuat Kesy menjadi serba salah. Dia tidak ingin beranjak, karena masih merasa penasaran dengan wanita unik itu, yang selalu mengacuhkan, bahkan lebih cendrung tidak memberi kesempatan padanya.
Claire yang menyadari kehadiran Jack semakin mengganggu kemesraannya menghulurkan tangan yang bergetar, sambil tersenyum melihat pria yang masih menatap dengan tatapan kasihan, membuat ia semakin mendekap tubuh Kesy.
Bagaimana tidak, perjalanan dinas Claire bersama Jack beberapa waktu lalu, membuka kejujuran pria blesteran itu pada partnernya selama masa makan siang mereka.
Claire memperlihatkan wajah cantik Kesy, yang ada di handphone miliknya, dengan tersenyum sumringah, "Cantik bukan? Tumbuh dari keluarga yang hebat, serta sangat hangat dan ceria. Tapi statusnya janda," jelasnya penuh semangat.
Jack mengkerut kan keningnya, saat melihat foto Kesy yang meringkuk di dekapan Claire sambil mencium pipi pria itu ...
"Ini Kesy bukan? Bukankah dia anak Dokter Zulmaeta? Dan hmm ..."
Jack tidak meneruskan ucapannya, karena tidak ingin membahas tentang perasaannya pada Kesy dihadapan Claire.
Namun Jack harus mendengar celotehan Claire yang terus menerus membicarakan tentang Kesy, sehingga membuat dia merasa sedikit kesal.
Bagaimana tidak, Kesy memblokir semua akses untuk komunikasi dengan Jack, namun menjalin hubungan dengan Claire.
__ADS_1
"Apakah semua wanita seperti itu? Dia tidak ingin di cintai, tapi memberi harapan pada orang lain, yang ternyata juga menyukainya ... Aaagh, aku akan membahas tentang ini dengan Kesy. Apakah dia benar-benar mencintai Claire ...?" geramnya dalam hati kala itu.
Kabar sakitnya Claire, ia terima dari Clive, yang mengetahui keberadaan Jack masih berada di Berlin. Maka dari itu ia hadir, namun kembali dipertemukan dalam kondisi seperti ini dengan Kesy.
Clive tidak mengetahui tentang Jack dan Kesy, namun dia dapat merasakan adanya cinta segi tiga antara mereka bertiga yang tidak diketahui Claire.
Rasa cinta Kesy pada Claire, tak menyulutkan niat Jack untuk terus mendekati wanita itu.
Rumit, kali ini Jack berada dalam situasi yang sangat rumit untuk meminta kejujuran Kesy saat ini, karena Kesy sama sekali tidak pernah meninggalkan Claire yang ternyata sangat berharap pada janda cantik itu.
Jack mengusap lembut lengan Claire, sesekali melirik kearah Kesy yang tanpa sengaja melirik kearahnya, membuat pria itu tertawa kecil melihat Kesy yang serba salah.
"Temani lah Claire, aku menunggu di luar. Jangan lama-lama, karena Papi mu masih menunggu di luar gadis keras kepala!" godanya mengusap lembut kepala Kesy.
Kesy menggigit bibir bawahnya, namun dapat merasakan hangatnya tangan Jack, yang membuat dia semakin serba salah.
Claire menatap sendu kearah Jack yang akan berlalu, namun lagi-lagi ia merasakan mual saat akan duduk di kasur rumah sakit, membuat rasa yang tidak enak itu semakin bergejolak untuk segera di keluarkan ...
Dengan sigap Kesy mengambil baskom yang sudah tersedia, memberikan tepat dihadapan Claire ...
"Uek ... Uek ..."
Kesy memijat pelan pundak Claire, meraih botol air mineral, memberikan pada pria itu dengan penuh perasaan kasihan.
Lagi-lagi Kesy mengusap lembut kepala Claire, sambil berkata, "Bertahanlah sayang ... Aku akan selalu disini untuk mu."
Claire menghempaskan tubuhnya di ranjang, merasa sangat frustasi, "Kenapa aku menghadapi sakit ini, Kes! Aku ingin hidup lebih lama, aku ingin menikah dengan mu, tapi kali ini aku tidak kuasa untuk melakukannya. Temani aku, Kes ... Aku mohon jangan tinggalkan aku, hingga aku pergi untuk selamanya. Aku sudah tidak sanggup menahan rasa sakit ini," tangisnya.
Kesy yang mendengar penuturan Claire seperti itu, hanya bisa terdiam, dia tak mampu untuk berkata-kata, ataupun menjawab permintaan Claire kali ini. Dimatanya, baru kali ini ia melihat pria itu pasrah menghadapi kenyataan.
Sementara Jack yang mendengar ucapan Claire, hanya bisa menahan rasa yang tidak pernah ia rasakan, "Bertahanlah Claire ..."
__ADS_1