Perjaka Untuk Janda

Perjaka Untuk Janda
'Perjaka untuk Janda'


__ADS_3

Hari demi hari Lyra lalui bersama Zul di rumah sakit untuk mendampingi Kesy putri kesayangannya. Berbagai macam alasan yang dia sampaikan pada Lela dan juga atasannya Pak Sardi dalam meminta izin karena suatu hal urusan keluarga.


Namun, semua itu hanyalah inginnya Lyra. Tidak untuk Aldo sahabat Zul, yang tanpa sengaja menceritakan pada Lela tentang kondisi Kesy putri kesayangan sahabatnya.


Hari menunjukkan pukul 16.00 waktu setempat, Lyra dan Zul tengah sibuk bercerita panjang lebar tentang ilmu kedokteran. Bagaimana dalam menangani wanita yang melahirkan normal juga caesar. Berbagai macam yang dua insan ini bicarakan dengan penuh tawa canda saat Kesy tengah terlelap.


Zul mendekati Lyra tengah berdiri didepan kulkas, saat akan mengambil sekaleng minuman segar yang berhadapan dengan pintu masuk.


"Sayang.....!" bisik Zul.


Lyra menoleh dengan wajah sedikit kaget, karena tidak menyadari pria muda itu sudah berada dibelakang nya.


Lyra menahan dada Zul yang semakin mendekat ke wajahnya, "Hmm.... Zul! Ada Kesy, aku enggak mau dia melihat yang tidak-tidak." tahannya berbisik.


Zul menaikkan kedua alisnya, menoleh kearah Kesy, kemudian kembali menatapnya, "Sayang pikir aku mau ngapain? Aku melihat diwajah kamu ada bekas coklat, makanya aku mau bersihin....!"


Lyra menahan malu dan senyuman seakan meledak, wajahnya memanas bahkan ingin rasanya dia berlari keluar kamar, untuk menarik nafas panjang karena merasa aneh pada diri sendiri.


"Iiighs..... kesel aaagh!" Dorong Lyra pada tubuh kekar yang semakin mendekat.


Zul hanya mengecup kening wanita itu dengan kecupan sayang, "Makasih yah?" ucapnya lembut.


Lyra hanya mendehem, namun saat mereka saling bertatapan, hadir rekan kerjanya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


Lyra tampak gugup bahkan salah tingkah, saat Pak Sardi dan Lela masuk berbondong-bondong membawa sekeranjang buah dan boneka bear berukuran sedang untuk Kesy.

__ADS_1


Lela menatap lekat mata Lyra, "Hebat yah...! Anak sakit, enggak ngasih tahu aku! Kamu anggap aku siapa, hmm....!? Aku justru tahu dari pemilik restoran yang nganterin makanan ke kantor! Tega kamu, Lyra! Kamu anggap aku sahabat atau enggak siih.....?"


Lela tak memperdulikan Zul yang tersenyum bahagia menyambut rekan kerja Lyra dengan sangat baik.


Lyra tertunduk, dia hanya tersenyum memeluk Lela, "Maaf banget.... aku enggak tega mau ngasih tahu bagaimana kondisi Kesy. Takutnya kalian akan bicara kemana-mana, karena aku menutupi semua ini."


"Ck.... aku kecewa sama kamu. Oya, emang Kesy kenapa siih? Beneran karena Dony? Iiighs.... kenapa enggak bakar aja tuh orang hidup-hidup! Udah enggak sayang sama kamu, malah menyiksa anak begini." Celoteh Lela saat mendekati Kesy yang masih terlelap.


Pak Sardi hanya berbincang-bincang ringan dengan Zul, tanpa mengetahui siapa pria muda yang ada di dalam ruangan itu.


Mereka hanya mengetahui nama, namun tidak mengenal wajah Zul sebagai anak dari pemilik rumah sakit ibu dan anak terbesar dikota tersebut.


Ke-duanya menganggap bahwa pria muda itu merupakan keluarga Lyra yang datang dari Manado untuk menemaninya, tapi disaat mereka tengah berbincang-bincang penuh tawa canda, Mama Eni bersama Mama Lince masuk kedalam kamar Kesy.


Tentu Pak Sardi dan Lela yang mengenal wanita paruh baya tersebut, menunduk hormat, bahkan menyalami punggung tangan Eni.


Pak Sardi menjawab dengan senyuman lebar, "Baik Bu Eni. Ibu apa kabar?"


Eni mengusap lembut lengan Pak Sardi, "Baik Pak. Oya.... sudah kenal sama anak saya? Kenalan dulu dong.....! Ini anak muda yang akan menikah dengan Lyra. Mungkin setelah perceraian, masa idah selesai yah menikah. Mungkin juga mereka akan stay di Berlin untuk beberapa waktu yah, Zul?"


Zul mengangguk membenarkan.


Lince mengusap lembut punggung Lyra, karena dia mengetahui bagaimana putri kesayangannya yang belum bisa sepenuhnya menerima rencana ini.


Eni menatap putranya dengan tatapan yang mengagumi sosok Zulmaeta. Membuat tubuh Lela dan Pak Sardi lunglai seketika. Menatap Lyra yang tidak sanggup membantah, apalagi mengatakan tidak.

__ADS_1


Lela bergumam dalam hati, "Kapan Lyra menjalin hubungan dengan anak keluarga ini? Bukankah Lyra selalu jujur sama aku? Ooogh, ternyata dia menganggap aku sebagai sahabat yang tidak berguna!"


Lela menarik tangan Lyra, membawanya meninggalkan ruang rawat inap dengan wajah garang, dia berbisik pelan meremas tangan sahabatnya penuh perasaan kesal, "Kamu anggap aku apa siih? Bukankah, kamu bilang enggak mau menikah? Kenapa enggak cerita.... haaah? Kenapa enggak cerita! Udah anak sakit nggak ngasih tahu, emang temen durhaka kamu itu!"


Lyra menarik nafasnya panjang, "Aku belum pasti akan menikah sama dia, sayang! Aku masih pendekatan. Kamu pikir gampang apa, cerai terus nikah? Dia harus benar-benar sayang sama Kesy! Harus peduli dengan aku! Kamu tahu aku trauma sekali jika sudah membahas masalah pernikahan. Makanya aku diam saja!"


Lela membulatkan bibirnya, mengangguk setuju, jujur dia sangat kasihan pada Lyra semenjak menikah dengan Dony. Menjadi mesin ATM, bahkan selalu menjadi bahan gunjingan keluarga Dony.


"Ya.... enggak ada salahnya siih kamu dekat dulu. Aku pikir kamu ketok palu, langsung maried. Kan, bingung jadinya," gerutu Lela.


Lyra tersenyum tipis pada Lela, mengusap lembut lengan sahabatnya, "Besok aku akan ke pengadilan, mau menanda tangani sesuatu kata pengacara ku! Tapi, kok perasaan aku enggak enak yah? Apa aku minta temanin sama Zul, bagaimana? Jadi dia bisa ambil tindakan jika ada apa-apa. Aku menganggap pengacara ku yang sekarang, kurang greget. Kemaren dia bilang akan mengurus semuanya dalam jangka waktu dua hari. Ini sudah lebih dari dua bulan, lhoo.... aku takut dia memanfaatkan keadaan, atau bahkan dia berpihak pada Dony. Karena kemaren ada nomor lain yang menghubungi aku!"


Lela menatap wajah Lyra, setelah mendengar curhatan sahabatnya, "Aku rasa, lebih baik kamu cari pengacara baru. Atau bisa minta tolong sama pengacara handal keluarga ini."


Lyra meng'iya'kan ucapan Lela, "Kemaren dia menyebut nama Om Iqbal, tapi aku, kan enggak kenal. Makanya aku nunggu saja instruksi dari mereka. Aku juga bingung, sayang! Mama dan Papa tampak senang saat melihat Kesy bermain dengan Zul. Aku takut jatuh hati....!!"


Lela mengusap air mata yang mengalir dari sudut mata sahabatnya, dia dapat merasakan apa yang tengah dipikirkan seorang Lyra, "Dengar sayang, kamu itu wanita hebat. Pasti bertemu dengan pria yang hebat. Jangan terlalu larut sama masalah mu, semua akan selesai, kamu berdoa, jalin hubungan yang baik, selalu berpikir positif dan hal-hal baik. Walau terkadang aku juga selalu berpikir negatif, bahkan kesetanan, tapi aku yakin pria muda itu sangat pantas untuk kamu, Lyra!"


"Seorang 'Perjaka untuk Janda' yang terlihat sangat pantas. Daripada kamu bertahan sama Dony, sudah nyusahin, enggak punya apa-apa. Enak sama pemilik rumah sakit, kamu melahirkan tinggal buka kaki lebar-lebar, disambut suami. Enggak bayar, enggak repot-repot mesti USG atau apalah...!!" Lela berbicara dengan gerakan yang sangat menggelitik, bahkan mampu membuat Lyra tertawa kecil.


Lyra mengangguk membenarkan perkataan sahabatnya. Dia tidak ragu pada, Zul. Namun, dia meragukan menjadi pendamping seorang dokter kandungan. Dimana, akan melihat berbagai macam jenis kue apem saat membantu mereka dalam persalinan.


"Iiighs.... aku pikirin apa seeh....!!" gerutu Lyra pada diri sendiri tertawa kecil setelah mendengar celotehan Lela.


Keduanya tengah asik bercerita didepan pintu kamar ruangan, malah kembali dikejutkan dengan seseorang.

__ADS_1


"Ooogh......!!!"


__ADS_2