Perjaka Untuk Janda

Perjaka Untuk Janda
Jahatnya mereka ...


__ADS_3

Cuaca yang sejuk, membuat Lyra enggan untuk bangkit dari tidurnya. Tubuh yang masih tertutup selimut tebal, namun tidak menggunakan sehelai benangpun, membuat Zul sedikit berbisik ketelinga istri tercinta.


"Kok tumben, enggak mau bangun pagi, sayang? Kamu nggak masuk kantor?"


"Hmm, aku masih pengen tidur sampai jam 12 siang. Aku lelah banget, tadi malam kamu enggak kasih aku nafas, hun ..." rengeknya manja.


Zul tertawa kecil, mendengar celotehan istrinya, "Habis kamu ngegemesin banget. Gimana aku enggak ketagihan. Salah sendiri, mancing mulu. Udah bangun, kita sarapan di bawah. Enggak enak sama Mama dan Papa, nanti di kira ngamar terus ampe nggak inget istri lagi hamil muda," kecupnya.


Lyra meringkuk di paha suaminya. Menciumi paha yang sudah terbalut celana jeans dengan geram, sesekali menggigit kecil paha sang suami.


"Aaauugh sakit sayang," rintih Zul.


"Kamu gemesin banget. Gangguin aku tidur aja! Udah aaagh, padahal aku udah izin sama Pak Sardi untuk datang siang," sungutnya.


Zul mengusap punggung telanjang Lyra, mencium lembut kepala yang manja setelah menikah dengannya.


"Kita antar Kesy pagi ini. Hari ini, hari terakhir dia di sekolah. Dan kita harus menemani nya sayang ..."


Lyra mengangguk setuju, bergegas dia beranjak dari ranjang peraduan, untuk membersihkan diri dari sisa percintaan mereka semalam.


.


Di ruang makan Keluarga Ahmad, Mama Eni tengah mempersiapkan hidangan sarapan pagi untuk anak menantunya, serta cucu kesayangan mereka yang baru.


Melihat Adi yang tengah sibuk bermain game di temani Kesy yang meringkuk di bawah ketiaknya.


Ahmad yang melihat Kesy sangat nyaman dengan Adi, sedikit berbisik pada Eni untuk bertanya, "Ma, kalau Kesy berjodoh sama Adi bagaimana ...?"


Eni menautkan kedua alisnya, "Hush, apa-apaan siih Papa! Anak-anak lebih baik tidak mengetahui tentang siapa mereka. Mama tidak menginginkan orang-orang berpikir kita gagal merawat mereka. Kesy adik Adi, keponakan nya. Jangan berpikir horor, karena Mama tidak akan memberi ruang pada mereka!" tegasnya.


Ahmad mengangguk meng'iya'kan, baginya lebih baik mereka tidak tahu siapa Adi, kecuali Zul yang harus mengetahui siapa adiknya selama ini.


Adi yang dia anggap sebagai adik kandung, namun kenyataannya sangat berbeda. Adi merupakan anak angkat keluarga ini, yang di asuh sejak bayi.

__ADS_1


Lyra dan Zul, turun dari paviliun. Di bantu suaminya dengan sangat hati-hati. Takut jika tergelincir hingga terjatuh dari tangga.


Mereka berkumpul di ruang makan dengan canda tawa layaknya anak menantu yang baik.


Namun Lyra lagi-lagi di kejutkan dengan kehadiran Rey. Keponakan nya, saat masih menjadi istri almarhum Dony.


Kesy yang mendengar suara Rey dari luar, bergegas membuka pintu utama, dengan menekan tombol untuk sepupunya bisa masuk dan berkumpul di kehangatan keluarga itu.


Akan tetapi, Rey menolak. Dia hanya ingin bertemu dengan Lyra di taman samping, sambil menikmati segelas teh hangat yang telah di hidangkan oleh pelayan.


Rey menunduk hormat pada Lyra saat melihat wanita cantik itu mendekatinya.


"Apa kabar Tante?"


Lyra mengangguk, memberi ruang pada Rey bersalaman dengannya, "Duduklah!"


Rey mengikuti perintah Lyra. Matanya tertuju pada mobil sport yang berjejer di halaman parkir, dan memandangi wajah cantik mantan Tante nya.


Lyra mengangguk mengerti. Sedikit mengerenyitkan keningnya, penasaran maksud dan tujuan Rey datang kekediaman Zul.


"Kamu sama siapa kesini? Ama Bunda Riche, yah?"


Rey menggelengkan kepalanya, dia mengeluarkan amplop coklat yang berisikan surat lamaran kerja.


"Rey kesini mau titip ini buat Om Zul. Kali saja mau membantu Rey. Tapi ijazah belum keluar, Nte. Kira-kira bisa Rey bekerja di rumah sakit ini?"


Lyra terdiam, wajahnya seketika berubah lega. Kekhawatiran akan hal buruk yang dia bayangkan ternyata di luar ekspektasi nya.


Lyra menghela nafas panjang, "Hmm, sebentar yah? Tante panggil Om dulu. Semoga saja bisa, tapi jangan berharap akan mendapatkan posisi yang baik. Maklum, Tante disini hanya pendatang ..."


Rey mengangguk mengerti, "Tidak masalah Tante. Rey hanya ingin menguji kemampuan untuk bekerja di rumah sakit. Mana tahu bisa, daripada pengangguran. Apalagi semenjak Mami masuk penjara, sama sekali kami tidak ada pemasukan dari toko. Jadi lebih baik makan gaji untuk meneruskan hidup ..."


Lyra mengusap lembut lengan Rey, "Sabar yah! Tante doakan kamu akan mendapatkan pekerjaan yang layak. Mumpung masih muda. Sebentar ..."

__ADS_1


Lyra menghampiri keluarga Ahmad yang tengah sarapan pagi, menarik tangan Zul, sedikit menjauh dari kedua orang tuanya.


"Hun ... Rey pengen kerja di rumah sakit. Emang bisa? Masih ada lowongan nggak?"


Zul melirik kearah Ahmad, juga Eni. Karena dia memang tidak mengetahui tentang lowongan atau apapun tentang rumah sakit. Dia hanya sebagai dokter pengganti selama berada di kota kecil tersebut.


Zul menatap Ahmad, memberanikan diri untuk bertanya, "Pa, masih ada lowongan enggak di rumah sakit?"


Adi menoleh kearah Eni dan Ahmad. Sejujurnya dia tidak setuju ada orang lain yang meminta pekerjaan dengan keluarganya, jika tidak memiliki pengalaman dan skill. Dia mendehem, memberi kode pada Eni juga dapat di mengerti oleh Zul.


Ahmad mengangguk-angguk, mengusap dagunya, mengingat apa yang di butuhkan.


"Hmm, kalau mau jadi sopir ambulans saja. Gaji UMR, tolong SIM dan semua surat-suratnya lengkap. Siapa yang mau melamar kerja pagi-pagi begini?" tanya Ahmad pura-pura tidak tahu.


Lyra menunduk hormat, merasa sungkan pada kedua mertuanya yang sangat baik selama ini padanya.


"Hmm itu Pa, anu ..." Lyra menggigit bibir bawahnya, sedikit gugup karena menjadi pusat perhatian keluarga.


Ahmad berdiri, melihat ke keluar, melalui jendela ruang keluarga, "Ooogh, suruh masuk dong! Nanti di kira kita membedakan keluarga. Bagaimana pun Rey adalah sepupu Kesy. Kesy, bawa Abang masuk! Biar Papa interview. Kalau cocok jadi sopir ambulans sekaligus sopir pribadi Papa. Buat ke kebun. Kalian besok udah berangkat, jadi Papa dan Mama enggak ada siapa-siapa di sini."


Kesy bergegas memanggil Rey. Yang dari awal menolak, mau tidak mau terpaksa masuk ke dalam rumah mewah itu.


Rey berdecak kagum, pada kemewahan yang ada di dalam rumah tersebut. Tidak menyangka bahwa kehidupan Tante yang selama ini di hina oleh Mami dan Bundanya berubah menjadi lebih baik bahkan sangat kaya.


"Beruntung sekali Tante Lyra, bisa jalan-jalan ke Eropa, dan menetap di sana. Sementara kami hanya bisa menunggu orang baik yang mengasihani kami ..." gumamnya dalam hati.


Ahmad membawa Rey duduk di ruang keluarga, sementara Lyra melanjutkan sarapannya bersama suami dan anak kesayangannya.


"Semoga Bang Rey di terima kerja oleh Opa yah, Ma? Kasihan sekali dia. Wajah lusuh begitu, kemejanya juga kebesaran. Kayak orang-orangan sawah," tawa Kesy berbisik pada Lyra.


Lyra mencubit bibir Kesy, "Hush, jangan begitu. Jika orang susah kita bantu sebisa kita. Jangan dijadikan bahan tertawaan. Kasihan dia ..."


Kesy cemberut, "Mama enggak tahu saja jahatnya mereka sama Kesy kalau datang ke rumah nya. Di kasih makanan basi, bahkan ngejelekin Mama!"

__ADS_1


__ADS_2