Perjaka Untuk Janda

Perjaka Untuk Janda
Gagal dalam mendidik


__ADS_3

Sesaat namanya di panggil, Zul menggeram, menghentikan langkahnya, menoleh kearah Kanza. Menatap wanita itu dengan penuh perasaan kasihan ...


"Apa lagi? Aku sudah menikah', kamu juga tahu kalau aku memiliki tiga putri juga satu putra. Aku menghargai mu, Kanza! Please ... Jangan hancurkan harga diri mu sebagai wanita yang pintar hanya untuk menjadi pemuas nafsu pria yang sudah beristri!"


Mendengar penuturan Zul sebagai 'pemuas nafsu', Kanza tersenyum sumringah. Matanya berbinar-binar, mendekati pria yang berdiri tidak begitu jauh dari tempat duduk meja mereka.


Kanza memberanikan diri berdiri dan berjalan pelan mendekati Zul. Perlahan tangan halus itu mengusap lembut dada Zul, dia tidak perduli dengan tanggapan orang yang berada di restoran. Saat ini dia tidak ingin melepaskan pria yang ada di hadapannya ...


Zul menarik nafas dalam-dalam, memejamkan matanya, mengepalkan kedua tangannya, dengan rahang yang semakin menggeram.


Tanpa menunggu lama, Zul menghentikan tangan wanita itu yang berusaha untuk menggoda nya, bahkan mampu menemukan titik kelemahannya sebagai seorang pria normal.


"Lepaskan tangan mu dari tubuh ku! Ingat, kita ini hanya sebagai partner dalam bekerja. Jangan rendahkan martabat mu sebagai orang terpandang, karena itu akan menghancurkan seluruh harapan keluarga serta masa depan mu!" tegasnya ...


Kanza terdiam, wajahnya merah padam. Baru kali ini dia di perlakukan kasar oleh pria yang dia kagumi selam ini.


"Zul ... Aku bisa melakukan apapun untuk mu! Bahkan merahasiakan semua ini. Aku benar-benar mencintai mu, Zul ..."


Zul menggelengkan kepalanya, dia menarik nafas panjang, "Maaf aku tidak ingin menghabiskan waktu ku ..."


Zul berlalu meninggalkan restoran, kali ini dia sangat mengetahui bagaimana seorang wanita kaya mempermainkan perasaannya, sebagai wanita murahan yang tidak sekali dia temui.


Luna, yang kala itu memiliki hubungan dengan Zul sebagai kekasih, jelas-jelas sudah bertunangan dengannya kala itu, lebih memilih menjadi simpanan pria bernama Bara yang telah memiliki istri. Saat itu pula, dia menanamkan dalam hatinya untuk selalu menjaga komitmen setelah menikah.


Bukan tidak banyak wanita yang menjadi mahasiswi nya, menawarkan keindahan surga semalam jika malam menjelang, bahkan menghabiskan waktu di toilet untuk menggoda seorang pria bernama Zulmaeta, yang terkenal dingin jika tengah di hadapankan dengan beberapa mahasiswinya.


Hanya komitmen, yang selalu dia jaga, hingga tidak memberikan peluang pada wanita manapun untuk terus menggodanya, termasuk Kanza saat ini.


Jika didelik ke belakang beberapa tahun lalu, Kanza merupakan gadis belia yang sangat baik dan menggemaskan. Di dukung dengan kecerdasan yang dapat memahami semua materi yang Zul berikan padanya. Nilai yang tinggi, mendekati cumlaude membuat pria gagah itu berdecak kagum.

__ADS_1


Sehingga membuat Lyra sedikit curiga bahkan terbakar api cemburu, melihat kedekatan mereka berdua kala itu.


.


Di tempat yang berbeda Lyra tengah menghubungi Mama Lince, untuk memberi kabar tentang pernikahan putrinya yang merupakan cucu perempuan pertama di keluarga mereka, melalui panggilan telepon.


Lyra merebahkan tubuhnya di sofa ruangan keluarga ...


["Ma ... Ini sudah menjadi keputusan aku dan Zul. Lagian aku sudah menceritakan status Adi sama Mama, kan? Bahwasanya Adi bukan anak kandung dari Papa Ahmad juga Mama Eni. Aku yakin ini hal yang biasa, Ma ..."]


["Ini yang sejak dulu Mama bahas dengan Papa kamu, Lyra! Apa tanggapan keluarga Dony, jika mengetahui keponakan mereka menikah dengan adik suami kamu? Walau itu bukan anak kandung Keluarga Ahmad, tapi dia juga besar di tangan keluarga itu. Kamu harus tahu dampak baik juga buruknya! Apa kita mesti berkembang di sana saja?!"]


Lyra memijat pelipisnya, sesekali menghembuskan nafas panjang ...


["Bagaimana jika kami menikahkan Kesy dan Adi di sini? Aku tidak mau dia terlalu lama berdua-duaan seperti beberapa waktu lalu. Jika terjadi sesuatu, aku yang akan jadi bulan-bulanan Mama dan Papa. Lebih baik aku jujur sama Mama."]


Lyra semakin menutup wajahnya, dengan telapak tangan yang sejak tadi menggeram kesal, lagi-lagi Mamanya sendiri mengingatkan nya akan kejadian beberapa tahun silam.


["Ma ... Aku tahu aku salah waktu itu! Jangan di ungkit lagi! Sekarang aku hanya ingin berkeluh kesah sama Mama. Karena Mama sebagai orang tua ku, yang masih mau mendengarkan penjelasan aku! Mama sangat berbeda dengan Papa. Aku takut menjelaskan semua ini sama Papa, Ma! Mama tahu sendiri bagaimana Papa sama Kesy."]


Hanya suara dengusan Lince yang terdengar di seberang sana di telinga Lyra.


["Nanti Mama kasih tahu sama Papa. Mama kecewa sama kamu! Mengurus anak saja tidak becus! Bagaimana dengan Hana dan Hani? Kamu masih punya tanggung jawab tiga lagi pada Tuhan! Terserah kamu, mau bagaimana menyikapi Kesy dan Adi. Sejak awal, Mama sudah menasehati kamu, tapi kamu tidak mengindahkan semua ucapan Mama. Mama benar-benar sudah muak sama kamu!"]


["Ma ..."]


Lince menutup telfonnya, tanpa menghiraukan panggilan putrinya lagi.


Lyra terdiam, wajahnya memerah, hatinya semakin terasa sakit dan tertampar setelah mendengar celotehan sang Mama.

__ADS_1


Sejenak Lyra merebahkan tubuhnya di sofa, meremas kuat handphone yang masih berada dalam genggamannya.


"Apa yang harus aku lakukan Tuhan? Kenapa Mama tidak pernah melupakan bayi kembar ku yang telah tiada? Atau hanya sekedar memaafkan aku! Aku sudah tidak kuat, untuk mendengarkan semua omongan pedas dari orang tua juga mertua ku. Mereka akan menyalahkan aku habis-habisan, termasuk keluarga Dony. Aaagh ..."


Sesalnya memukul keras sofa yang tengah ia duduki.


Saat pikirannya masih berkecamuk, seketika handphone milik Lyra kembali berdering.


Jantungnya seketika berdesir hebat, saat melihat nama 'Mama Eni' tertulis di layar pipih yang ada dalam genggamannya.


Perlahan Lyra menarik nafas dalam-dalam, merubah posisi duduknya.


["Ya Ma ..."]


["Zul mana, Nak? Sejak tadi Mama menghubungi nya tidak ada jawaban."]


Seketika Lyra semakin gugup untuk menjawab pertanyaan mertuanya.


["Eee, i-i-itu Ma, tadi ada tindakan. Mungkin sebentar lagi dia pulang ..."]


["Hmm, Mama sudah mendengar penjelasan semua tentang Kesy dari Adi. Kenapa kalian terlalu ceroboh? Apa yang kalian lakukan hingga membuat semua masalah seperti ini? Kamu sebagai Ibu Kesy, seharusnya paham bagaimana putri mu, Lyra! Jujur Mama kecewa sama kamu! Kamu tahu sendiri Adi mencintai Laura! Bahkan dia akan bertunangan! Kenapa kamu malah membiarkan Kesy dan Adi berduaan?"]


Lyra terhenyak mendengar ucapan Eni di seberang sana ...


["Ma ..."]


["Sudahlah, Mama dan Papa akan berangkat dua hari lagi. Mungkin akan membawa Mama dan Papa kamu juga! Ingat Lyra, Mama enggak mau kamu gagal dalam mendidik ketiga cucu Mama! Boleh sibuk, berkarir, tapi jangan pernah melupakan kodrat kamu sebagai istri serta ibu dari anak-anak kamu!"]


["Ma ..."]

__ADS_1


__ADS_2